Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Lamaran


__ADS_3

🌺 hem.. 🌺


* * *


'' Siapa nama mu ? '' tanya Natasya saat Siti baru saja meletakkan tasnya di kamar yang akan ia tempati. Rencananya Natasya akan menginap mulai malam ini hingga selesai acara lamaran nanti.


'' Si-Siti ''


Natasya menatapnya seperti tengah di suguhkan makanan yang sama sekali tak menggugah selera.


'' Bisa-bisanya ngambil pembantu kurang gizi kaya gini '' Natasya menggeleng.


" Bi Gani mana ? "


" ke- ke pasar '' ucap Siti terbata, karena berusaha menyembunyikan logatnya.


'' Susan ? ''


'' Ke-supermarket ''


'' ck-ck-ck. Mana gagap lagi '' Natasya menggeleng lagi seraya menghela nafas.


" Tadi menantu saya nelpon. Katanya uda di gerbang tol. Mungkin sebelum tengah hari nyampe.


Kamu tolong buatkan saya jus jeruk.


Terus nanti kalau Bi Gani uda pulang , kalian langsung masak makan siang ! "


Siti mengangguk.


Ia lalu pamit keluar kamar sambil menahan tawa.


Tak berselang lama Siti kembali dengan membawa segelas jus jeruk sesuai permintaan Natasya.


" Ya, sudah sana kerja.


Saya mau istirahat "


Kembali Siti mengangguk dan keluar kamar.


Dan ketika sudah berada di dapur, Siti pun melepaskan tawa yang sejak tadi ia tahan.


* * *


'' Mak '' sapa Susan yang mengagetkannya.


Seperti halnya Nana dan Bian . Siti pun meminta pada para assisten rumah tangga untuk memanggilnya dengan sebutan yang sama.


Siti yang masih cekikikan seketika menoleh.


'' Eh, dah balek ? ''


Susan mengangguk. Ia tadi masuk melalui pintu belakang yang biasa digunakannya dan juga Bi Gani .


Dan tentu saja dengan kunci pintu yang masing-masing mereka miliki.


Susan meletakkan dua buah tas belanjanya di atas meja dapur dan mulai mengeluarkan isinya.


Siti pun mendekat, meneliti tiap barang yang tengah Susan kemaskan.


'' Kicap, saos tomat, saos tiram, em.. mentega , lada, em.. '' guman-guman Siti.


Susan yang mendengarnya tersenyum.


Tingkah Siti selalu membuatnya geli. Belum lagi dengan bahasa dan logatnya yang khas dan campur aduk.


Bukan hanya dia saja yang merasa demikian. Bi Gani dan pak Tole pun sama.


Siti seolah menjadi primadona dan majikan favorit di rumah ini.


Bagi mereka, Siti begitu menggemaskan dan selalu membuat mereka terhibur. Ditambah lagi dengan sikapnya yang ramah dan rendah hati.


Siti bahkan tak sungkan makan melantai bersamanya dan Bi Gani ketika makan dengan menu lalapan.


''Sedapnye '' Siti dengan polosnya berucap.


Susan tertawa mengingat momen yang baru terjadi kemarin sore.


Tak berselang lama, Bi Gani datang dengan membawa dua keranjang penuh berisi sayur dan lauk pauknya mentah , hasil berkeliling selama tiga jam di pasar.


Ketiga perempuan itupun mulai sibuk bekerja sama membereskan belanjaan dan lanjut mempersiapkan makan siang .


Mereka bekerja dengan diselingi obrolan.


Dan entah apa yang mereka bicarakan hingga tertawa dan suara mereka menggelegar .


Membuat seseorang yang tadinya tengah beristirahat terjaga karena merasa terganggu.


Karena asik dengan kedua pembantunya, Siti jadi lupa pada Natasya .


'' apa kalian selalu berisik begini kalau lagi kerja ?! '' tegur Natasya membuat Susan, dan Bi Gani yang tengah menyusun masakan hasil olahan tangan Siti tersentak.


Mereka nampak begitu terkejut karena ternyata ada orang lain di rumah ini selain mereka bertiga.


Susan dan Bi Gani saling lirik.


" Nah, lo ? kapan bu Natasya datang ?"

__ADS_1


Karena tadi masuk melalui pintu belakang, mereka tak melihat mobil Natasya yang terparkir di halaman depan rumah. Sebab itu mereka tak tau jika Natasya sudah ada sejak tadi.


" E-e- selamat si-ang bu Natasya '' Bi Gani mencoba menyapa. Namun melihat tampang sangar yang dipasang Natasya membuat nyalinya ciut seketika.


Begitupun dengan Susan.


Kedua asisten rumah tangga itupun tertunduk.


'' Eh, Susan.. Bi Gani.. Saye nak mandi. Kau due kemaskan dapur ye '' ucapan Siti yang muncul dari balik dinding pemisahan antar ruang makan dan dapur.


Siti yang baru saja melepas celemeknya terkejut. Melihat siapa yang tengah berhadapan dengan Sudan dan Bi Gani .


'' Ai, mak. Aku lupe la ada besan ''


Namun bukannya cemas, rasa menggelitik itu justru kembali menghampiri.


Siti pun berusaha untuk menahan tawa yang ingin meledak lagi.


' tit '


Suara klakson yang membuat mereka semua menoleh kerah luar rumah.


'' Itu pasti mereka. Sana, Siti kamu buka pagar ! '' perintah Natasya pada Siti .


Mendengar itu Bi Gani dan Susan langsung menegakkan kepala dan bergegas menghampiri Siti yang sepertinya akan melakukan apa yang tadi Natasya perintahkan.


'' Hei, kalian berdua mau kemana ? Biarkan dia yang membuka pagar. Kalian lanjutkan saja kerjaan kalian ! ''


Langkah Susan dan Bi Gani sontak terhenti.


Mereka melihat Siti yang tengah tersenyum seraya menganggukkan kepala. Isyarat jika ia tak keberatan sama sekali untuk melakukannya.


Lalu pandangan mereka beralih pada Natasya yang melototkan kedua matanya.


Keduanya bergidik ngeri.


Susan dan Bi Gani tertunduk pasrah.


Mereka tak mengerti sama sekali apa yang terjadi pada para ibu majikan mereka ini.


* * *


'' Lho, kok mak yang buka pagar '' Pak Tole terkejut ketika sosok yang muncul dari balik pagar adalah Siti.


Nana yang mengetahui itupun segera keluar. Sementara Dion tertidur dipangkuan Cecillia.


Ia bantu Siti membuka lebar kedua pagar .


Dan setelah mobil masuk, ia yang mengambil alih menutup pagar hingga tertutup rapat seperti sebelumnya.


'' Kok, emak yang buka pagar ? Bi Gani sama Susan mana ? '' tanya Nana yang berjalan bersamaan dengan Siti.


Nana kemudian menyuruh Cecillia menunggu sebentar, Ia akan masuk kedalam untuk memanggil Susan.


Sedangkan Siti akan ke kamar menyiapkan tempat tidur untuk sang cucu .


- -


'' Mami '' sapa Nana mendapati sang mertua yang tengah berjalan kearahnya.


Natasya mengukir senyum. Ia dan Nana lalu sama-sama merentangkan tangan dan berpelukan seraya berbalas kecupan di pipi.


Sebuah sambutan dan sapaan yang nampak begitu hangat. Hingga tak akan ada yang mengira jika hubungan mereka kemarin berbanding jauh dari yang terlihat saat ini.


'' Mana Dion ? '' tanya Natasya yang tak sabar ingin bertemu dan menimang sang cucu.


'' Masih di mobil sama kak Cecil. Tadi di perjalanan dia tidur. Ini mau manggil Susan buat angkat dia kedalam ''


'' Mamaaaa '' panggil Dion membuat keduanya serempak menoleh ke asal suara..Cecillia terlihat mengekor di belakangnya


Natasha tersenyum sumringah melihat sang cucu .


Dion yang tadinya setengah berlari tiba-tiba langkahnya melambat saat menyadari siapa yang ada bersama Nana.


Dia yang sang mama perkenalkan dan dipanggil dengan sebutan Oma. Dion pun masih ingat akan penjelasan mamanya. Jika sang Oma adalah ibu dari papanya. Sama seperti neneknya , Siti.


Namun tetap saja, kesan pertama saat bertemu begitu membekas dan terlanjur membuatnya takut pada Natasya.


Dion menghentikan langkahnya saat melihat sosok lain yang muncul dari balik pintu kamar yang terbuka. Kamar yang letaknya tak jauh dari berdirinya Nana dan Natasya.


'' Nenek '' serunya yang langsung tersenyum girang dan berlari melewati Nan dan Natasya.


'' Eh, cucu nenek dah bangon '' Siti dengan sigap menekuk lututnya sambil merentangkan tangan,


menyambut Dion dan langsung memeluknya.


Ia kecup pipi Dion seraya bertanya kabar pada si kecil yang kini semakin lancar bicara.


Natasya dan Nana pun serempak membalikkan badan.


'' Nenek ? '' Natasya membelalakan mata. Tak percaya dengan sebutan Dion pada wanita yang ia kira si pembantu baru.


'' Iya, ini emak Nana mi '' ucap Nana berjalan mendekati Siti dan Dion.


Nana lalu memperkenalkan Siti pada Natasya.


Wajah Natasya seketika berubah pias. Ia pun menyalami Siti dan memperkenalkan diri dengan gagap. Berbeda dengan Siti yang bersikap seperti tak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Nana nampak memperhatikan dua wanita yang dihadapannya ini.


Sikap Natasya aneh. Ia terlihat canggung.


Tapi bukan itu yang membuatnya heran.


Bukankah seharusnya mereka sudah saling kenal ? Kan Natasya sudah sejak tadi tiba di rumah dan juga pasti sudah bertemu Siti.


Nana lalu memancing matanya pada sang emak. Siti yang tau tengah disorot , hanya tersenyum saja.


Lalu Susan dan Bi Gani datang menghampiri mereka. Keduanya tertunduk saat melihat tatapan tajam dari Natasya.


" Kenapa kalian gak ngasi tau kalau dia itu emaknya Nana, HAH ?! "


* * *


'' maaf karena tadi sudah salah paham .


Saya juga sudah tidak sopan menyuruh-nyuruh anda '' ucap Natasya dengan raut wajah penuh penyesalan.


'' tak payah risau, mak Bian.


Saye tadi pun cume gurau 'je ''


Kedua besan itu lalu lanjut ngobrol ke ruang tengah. Sementara Susan mengambil alih Dion dan mengikuti Nana ke kamar atas.


Waktu menjelang malam.


Cecillia terlihat masuk ke kamar Natasya .


Ada hal yang harus Cecillia bicarakan dengan sang mami, mengenai lamaran dan pernikahannya nanti.


Sementara itu, Nana, Siti, Dion dan ketiga assisten rumah tangga mereka sedang di halaman depan rumah.


Mereka sedang bersiap untuk makan malam dengan suasana berbeda.


Nampak Siti yang baru saja selesai membumbui ikan dan udang yang akan dipanggang.


Ia kemudian menyerahkan sisanya pada Bi Gani yang langsung membawanya ke Pak Tole yang berdiri didepan pemanggang dengan arang menyala.


Keduanya pun bekerja sama memanggang menu yang akan jadi santapan mereka malam ini.


Tak jauh dari tempat memanggang, terlihat Susan dan Dion yang tengah asik bermain di atas tikar yang digelar di rumput halaman.


Sementara Nana asik berteleponan dengan sang suami.


Sejam kemudian, tiga ekor ikan kakap berukuran besar sudah selesai dipanggang. Begitupun dengan udang yang ditusuk menyerupai sate. Dan sebagai pelengkap, Siti pun membuat sambal dan juga lalapan.


Mencium aroma yang begitu menggugah selera, dua orang yang sudah selesai dengan pembicaraan mereka keluar dan langsung bergabung .


Sambil menikmati setiap suapan yang masuk kedalam mulut, obrolan pun menjadi selingan ditengah kebersamaan itu.


Hanya Bi Gani dan Susan yang terlihat tak begitu banyak bicara. Tak seperti biasanya dimana mereka leluasa saat bersama sang majikan.


Itu karena setiap kali mereka tak sengaja melihat pada Natasya, mereka mendapati tatapan tajam. Seperti seseorang yang tengah dipenuhi hasrat balas dendam.


* * *


Hari yang ditunggu tiba.


Sepintas , keadaan rumah memang terlihat seperti biasa.


Karena memang acara tersebut hanya dihadiri oleh keluarga dari kedua belah pihak yang tak seberapa.


Selain pak Janu, tak ada lagi kerabat yang bisa mereka undangan untuk hadir .


Menjelang tengah hari, dua buah mobil memasuki pekarangan rumah.


Bian menjadi orang pertama yang keluar dari dalam mobil. Ia terlihat berbeda dengan mengenakan batik berwarna emas.


Bian pun bergegas ke teras dan langsung bergabung diantara para anggota keluarganya yang berdiri , bersiap menyambut keluarga pelamar.


Sama seperti Bian, anggota keluarganya pun mengenakan batik berwarna senada.


Han, Ratih, ibunya dan adiknya Laras yang kini sedang berbadan dua , keponakannya Riska yang seumuran Dion dan juga adik iparnya yang bernama Hadiman , keluar secara bersamaan.


Mereka yang juga berseragam kan batik berwarna coklat keemasan itupun melangkah dengan menenteng bingkisan seserahan.


Hanya Han yang terlihat mengenakan pakaian dengan warna berbeda , batik berwarna putih dengan corak keemasan.


Setelah disambut, saling sapa, keluarga dari pihak perempuan pun mempersilahkan tamu mereka masuk.


Didalam, mereka semua pun disuguhi ruangan yang didekorasi dengan tirai-tirai bergelombang warna putih , yang ditata dan diatur sedemikian apik . Sesuai dengan suasana yang penuh suka cita.


Dan acara pun dimulai. Keluarga Bian menerima lamaran Han.


Keluarga Han pun lega seraya berulang kali mengucapkan kata syukur.


Kedua calon mempelai lalu menyematkan cincin tanda pertunangan.


Sama seperti Bian, karena paras bulenya yang begitu dominan, Cecillia nampak begitu berbeda dalam balutan kebaya putih .


Jika diperhatikan ia dan Han jauh dari kata serasi.


Cecillia berkulit putih dengan wajahnya yang khas orang barat. Sementara Han berkulit coklat dengan ketampanannya yang khas pribumi.


Tapi tak ada yang tau dengan siapa seseorang akan berjodoh bukan ?

__ADS_1


Asal , ras, perbedaan budaya, yang mana itu semua mempengaruhi cara pikir dan lokasi hidup ,nyatanya tak menjadi penghalang jika memang sudah ditakdirkan untuk bersama.


Dan hal itulah yang terjadi di keluarga ini.


__ADS_2