
^^^Ikhlas itu bahasa lainnya adalah keterpaksaan, lalu menjadi kebiasaan_Anonim^^^
...***...
Dalam kehidupan atau bahkan di dunia ini tidak ada yang abadi. Baik luka, maupun bahagia. Suatu ketika kita akan ada pada fase menyesal, bersedih ataupun menertawakan rasa yang dulu, entah ketika kita dibuat senang, disakiti atau menyakiti. Atau bahkan menangisi rasa yang dulu.
Pada kenyataannya, kita menjadi tahu mengapa orang lebih suka senja dari pada fajar...
Karena kebanyakan kita lebih suka meratapi kepergian dari pada menyambut yang awalnya mau datang untuk tinggal.
Akan ada banyak pahit yang kita temui dalam hidup. Semoga masih kuat dan mampu berjejak pada alur hidup ini. Karena akan ada beberapa momen dimana hidup akan lebih pekat dari saat ini yang kita tahu.
Sama halnya, untuk mengikhlaskan. Bagiku tidak ada kata ikhlas yang benar-benar di alami selain keterpaksaan yang menjadi terbiasa pada akhirnya.
Begitulah aku ketika ia pergi dan menghilang dari pandangan ku saat itu. Aku sadar sepenuhnya. Dia begitu baik, sangat baik tapi sungguh malang.
Maka aku pun membenarkan bahwa orang baik memang ditakdirkan untuk disakiti menurut kata orang itu adalah benar dari apa yang sudah terjadi di hari kemarin.
Bahkan tak ada maaf untuk kuucapkan sebelum kepergiannya. Kini aku hanya akan menghabiskan waktu untuk menunggunya saja. Tidak ada yang mau ku lakukan selain itu.
Karena aku belum siap kehilangan.
"Jeno ya,,, kau ingin makan apa?" Bayu fokus pada buku menu yang di pegangnya.
"Gw samain ajalah sama Lo!" Tambah Leo yang fokus ke ponselnya.
"Gw minum aja. Makannya ntar bareng Ivan!" jawab Jeno sambil memandang ke arah parkiran dari dalam ruangan yang dibatasi kaca.
"Tuh anak masih kemana coba? Belum muncul juga dari tadi!" Sewot Bayu malas.
"Urusan kampus kali," ujar Leo.
"Mana ada. Orang dianya udah skripsian juga kemarin." Jelas Bayu.
"Kok gue gak tahu!" seru Leo kaget.
"Lo aja bang. Kita mah di kasih tahu ya!" Ejek Jeno cengir.
"Oh, mainnya gitu sekarang!" Leo angguk-angguk kepala.
"Gini ya bang. Gimana mau ngasih tahu, kalo Abang sendiri gak di Indo Minggu lalu!" Seru Jeno malas.
"Oh, ia ya." Cengir Leo.
"Ih, ii yi.." ulang Bayu.
"Haiii bang!!! Sorry telat!" Sapa Ivan yang sudah duduk di depan mereka sekarang.
"Titisan siapa Lo?" Ujar Bayu sok heran.
"Nyari siapa disini?" tambah Jeno.
__ADS_1
"Sorry! Udah banyak proposal kegiatan organisasi yang gw sumbangan hari ini. Gak nerima lagi!" sambung Leo.
"Ya elah bang. Gw sadar gw masih warga kampus. Tapi gak ngemis gini juga kali caranya!" Sewot Ivan kesal, baru datang udah di nistain.
"Masih kemana aja Lo? Udah tahu janjian makan. Cacing gw udah pada ngambekan baru nongol!" Kesal Bayu.
"Tau tuh. Gw malas!" Tambah Leo.
"Heii bang! Sejak kapan kalian kalo mau makan make acara nunggu dulu? Bukannya biasa sebelum gw sampe udah seporsi dan pas barengan tuh yg ketiga kalinya!" ujar Ivan sumringah.
"Pantasan gak laku mulu lo. Mana ada cewek yg mau sama lo. Diulurin mulu waktu Lo!" Sambung Jeno.
"Sadar bang! Lo lebih parah dari gw mah!" Ucap Ivan menohok.
"Gw, bukan gak laku ya. Cuma sedang menunggu kepulangannya saja! Catat itu, biar gak salah paham lagi."
"Nunggu sampe karatan tau rasa Lo!" Tambah Bayu.
"Gw doain, biar dianya gak balik lagi!" Sambung Leo.
"Udahlah abang-abangku tercinta. Aku sudah lapar dan sepertinya makanan akan dingin seperti sikapnya jika kita tidak makan sekarang" ujar Ivan menengahi.
"Saa aae lo bocah. Kenal cinta aja belum lo!" Ujar Leo.
"Bang! Adek lo buat gw ajalah. Puji Tuhan gw bakal jaga sebaik-baiknya!" Ujar Ivan merayu.
"Gw gak rela adek gw ke lo. Nanti ketularan liar!" Jawab Bayu tegas.
"Wah, belum juga pendekatan udah dipasangin batas tembok Cina, panjang tak berujung. Aiing melemah, gak ada harapan!" Ujar Ivan lebay.
"Gini-gini aja. Makan + ke kantor + balik + tidur. Gitu terus tiap harinya." Jawab Leo dengan tampang pengen di tampol.
"Sudahi sajalah. Unfaedah banget gw nanya ke Rita warga kontrakan rempong yang lagi viral itu.
"Udah gak nyambung. Beda ranah pula!" Sambung Ivan disela makannya.
"Maksud Lo?" Tanya Leo.
"Gak bang. Rita kontrakan rempong maksud gw!" Ivan membenarkan ucapannya sebelum dinistain.
"Gw ketemu Rey kemarin!!" Ujar Jeno tiba-tiba yang membuat semua orang hampir tersedak dengan makanan mereka.
"Bercanda lo ngebunuh gw anjing!" Tegas Bayu.
"Mana ada? Udah bertahun-tahun tuh gak pernah muncul. Masih hidup dia?" Ivan tidak percaya.
"Dimana?" Cuma Leo yang waras pemirsa.
"Di mall pas belanja hadiah ulang tahun Mama" ujar Jeno datar.
"Dia ngeliat Lo?" Tanya Leo penasaran.
__ADS_1
"Gak. Gw liat dia sekilas doang." Jawab Jeno.
"Salah liat kali!" Ujar Ivan meyakinkan.
"Mata gw masih normal dua-duanya. Dan itu benaran dia." Bantah Jeno.
"Saingan balik tuh!" Ujar Bayu tenang.
"Pasti ada sesuatu yang membuatnya kembali. Kita menikmati waktu kita aja. Daripada membicarakan orang gak baik" ujar Ivan.
"Tumben otak lo encer!" Jawab Bayu.
"Eh, btw. Om Reza Minggu ini balik! Kemarin dia nelpon gw" ujar Ivan yang menambah aktivitas kerja jantung dari ketiga orang di sampingnya.
"Jangan ngada-ngada lo bocah!" Ujar Jeno.
"Seriusan gw. Sumpah!" Ujar Ivan.
"Masih bocah jangan main sumpah-sumpahan!" Pukul Bayu ke kepalanya.
"Berarti Sena-" jeda Jeno.
"Dia tahunya Sena lagi di indo!" Ujar Ivan menjurus ke pertanyaan Jeno.
"Kenapa lo seyakin itu?" Tanya Leo.
"Karena dia gak nanyain kak Sena waktu telpon! Dia pun bicara seakan-akan Sena lagi bareng sama gw!" Jawab Ivan polos.
"Bakal tambah panjang urusannya!" Ucap Bayu.
"Semoga tidak terjadi apa-apa!" Ujar Leo.
"Dan yang gw denger sih. Om Reza kantor pusatnya di pindahin ke Indo. Makanya dia memutuskan untuk pulang!" Ujar Ivan lagi.
"Hentikan! Kita hanya perlu mengikuti alurnya saja!" Ujar Leo.
"Tapi Sena," gantung Jeno.
"Udahlah dia akan baik-baik aja!" Tambah Leo.
"Baik gimana. Ini masalah serius bang!" Jeno menatap serius.
"Terus lo mau ngapain kalo emang bakal seserius itu? Lo bukan siapa-siapa ya, jangan lupa!" Leo menjawab seperti mencubit ginjalnya.
"Ya, sedikit tidaknya kita punya jawaban pasti dan bisa dipercaya kalau nanti kita di tanyai," ujar Jeno pelan.
"Lo benar bang. Gue sepertinya akan sedikit susah untuk yang satu ini. Bahkan gw gak tahu harus bertindak seperti apa saat om Reza kembali nanti." ujar Ivan gusar.
"Mari kita berbicara seadanya. Kita gak bisa mengelakkan fakta. Yang terjadi memang seperti itu, kita hanya perlu menyampaikan seadanya." ujar Leo membenarkan kekhawatiran Jeno.
"Om Reza pasti sudah menduganya. Makanya ia tidak bertanya banyak pada Ivan" tambah Bayu.
__ADS_1
"Semoga keadaan saat itu. Baik-baik saja!" ujar Jeno berharap.
Bagaimanapun keadaannya. Kita tidak akan bisa mengelak terhadap kenyataan yang ada. Mari menikmatinya sambil terus membenahi diri dari banyak pengalaman yang cukup rasional.