Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Hujan


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


Kita sudah di penghujung cerita.


Trims buat yang selalu setia like n komen, hadiah dan votenya.


Jangan lupa tinggal kan kesannya di episode terakhir, ya.


Selamat membaca.


* * *


Seperti biasa. Setelah makan malam mereka berkumpul diruang keluarga. Mereka semua nampak asik bercengkrama. Ngobrol dan menonton acara televisi sambil menikmati coklat hangat dan pisang keju sebagai pelengkap kebersamaan itu.


Nana dan Susan berbincang prihal acara televisi yang tengah menayangkan acara wisata kuliner.


Mereka teringat pada almarhum Elisabeth yang sangat senang menyaksikan acara berkeliling tempat wisata seperti yang mereka simak saat ini.


Sedangkan Siti, Bi Gani dan pak Tole tengah membahas rencana mereka besok.


Setiap penghujung minggu, Bi Gani biasanya akan ke pasar untuk berbelanja kebutuhan dapur.


'' besok saye nak ikut bole tak ? '' Siti dengan sorot mata penuh harapan.


Bi Gani dan pak Tole hanya terkekeh menanggapinya. Mereka tak berani mengiyakan sebab mereka harus bertanya dulu pada nyonya mister.


Hanya Bian yang tak terlihat ada diantara mereka karena ia harus menelpon untuk menyelesaikan urusan pekerjaan yang tadi ia tunda.


Jam dinding sudah berada diangkat delapan.


Nana menatap keluar jendela yang tirainya sedikit tersibak dan terlihat menghela nafas.


Sejak sore, hujan tak kunjung berhenti dan tetap turun dengan derasnya.


Membuat hawa terasa begitu dingin menusuk.


'' kayanya Oma gak jadi datang '' ucap Nana sembari mengelus kepala Dion yang duduk di pangkuannya.


Dion mengangguk paham dengan pandangan menatap kerah yang sama.


Yang mereka maksud adalah Natasya mungkin tak bisa datang karena hujan.


Suara langkah kaki terdengar mendekat. Sontak membuat semua mata melihat kearah datangnya sosok yang memasuki ruangan dan langsung mendudukkan diri di samping Nana.


'' aku besok harus ke Bandung '' ucapnya sambil menghela nafas berat.


'' kok tiba-tiba ? '' Nana mengernyit.


'' em. Ada yang gak beres di sana ''.


'' maksudnya ? ''


'' laporan yang kuterima dari Han dan kak Cecil berbeda.


Anehnya, saat ku telpon keduanya juga tak tahu menahu kenapa bisa begitu.


Rasanya gak masuk akal . Karena ini belum pernah terjadi sebelumnya.


Mereka kan kerja bersama . Jadi, bagaimana mungkin laporannya bisa berbeda.


Jadi aku harus ke sana memastikan sendiri dan mengeceknya langsung '' Bian menyandarkan duduknya.


'' aku ikut ya, sayang ''


'' tapi, aku gak tau akan berapa lama di sana.


Soalnya ada yang mau kutemui juga ''


'' siapa ? ''


'' ada pasangan lansia yang tertarik dan berencana untuk tinggal di DSL Bandung ''


'' memangnya mereka gak punya anak atau keluarga ? ''


'' em '' Bian mengangguk lalu menyambung ucapannya.


'' mereka gak punya anak.


Kalau keluarga, aku kurang tau.


Karena sikap Han dan Cecil lagi gak bener, jadi aku gak bisa percaya ini sama mereka ''


'' hem.. '' Nana manggut-manggut bukan karena paham. Namun karena penasaran.


Nana jadi semakin ingin ikut.


'' jadi tetap mau ikut ? ''


Nana mengangguk penuh antusias. Ia tak sabar ingin bertemu lalu menghujani Han dengan pertanyaan yang sedang memenuhi isi kepalanya saat ini.


'' kita ke Bandung nemuin anti... '' Nana berbisik, mengabari Dion tentang rencana mereka ke Bandung besok.


'' pak Tole, besok siap-siap kita ke Bandung ya pak '' titah Bian yang langsung dijawab sigap oleh pria yang duduk melantai bersama Siti dan Bi Gani.


'' mak ikut, ya ''


Siti menggeleng.


'' tak nak. Mak nak dirumah je.

__ADS_1


Esok mak nak ikot bi Gani ke pasar .


Lepas tu mak nak cube masak dari resep baru ''


Nana mengangguk pasrah dengan senyuman.


Ia senang. Karena sekarang Siti selalu terlihat bersemangat karena telah menemukan hal yang membuat kesehariannya begitu menyenangkan.


* * *


Keesokan pagi, ditempat lainnya.


Sejak pagi hingga waktu telah beralih ke siang hari, gerimis masih setia melembabkan seisi Kota.


Nampak Han baru saja memarkirkan scoopy miliknya diparkiran tempat kerjanya.


Damai Senior Living Bandung.


Setelah membuka jas hujan dan meletakkannya di atas kendaraan roda dua itu, Han pun bergegas memasuki bangunan berlantai dua yang keseluruhannya didominasi warna putih.


Han naik ke lantai dua, dan berhenti didepan sebuah ruangan yang dulu nya kosong namun kini telah menjadi tempat tinggal Cecilia.


'' Cecil '' panggil Han yang berdiri didepan pintu yang tertutup rapat.


Ia sengaja datang dihari seharusnya ia libur untuk bertemu dan bicara dengan Cecilia .


Bukan tanpa alasan Han datang di saat ia seharusnya berada di rumah. Itu karena Cecilia yang menolak bicara dan mengangkat telponnya.


Bahkan membalas pesannya pun Cecilia tak mau.


Sudah sebulan sejak Han menyatakan perasannya dan menunggu jawaban Cecilia .


Namun Cecilia sama sekali bergeming.


Ia tak memberi respon apalagi jawaban seperti yang Han tagih padanya berkali-kali.


'' Cecili '' Han menaikan sedikit volume suaranya sambil kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan.


Ia lakukan untuk memastikan keadaan disekitarnya. Karena tempat ini selalu ada petugas yang 24 jam menjaganya .Entah itu petugas keamanan maupun petugas yang memang selalu standby dengan bergantian shif.


Saat masuk tadi saja, ia sudah berpapasan dengan beberapa diantaranya.


Han sebenarnya tak nyaman terlihat menyambangi Cecilia seperti ini.


Bahkan ia sendiri pun heran. Kenapa ia jadi bisa senekat ini. Tapi, Cecilialah yang memaksanya .


Sepuluh menit, lima belas, dua puluh, tiga puluh, dan enam puluh menit berlalu. Han masih berdiri ditempatnya menunggu.


Hingga akhirnya Cecilia yang sejak tadi mengintip dari celah jendela, membuka pintu.


'' Han, jhangan sepherti ini.. '' Cecilia dengan raut wajahnya yang menunjukkan ketidak sukaan dengan apa yang tengah Han lakukan.


Han menggigil kedinginan sebab air hujan yang berhasil lolos menyentuhnya ditambah lagi sudah satu jam ia merasakan sapuan angin yang terus menjamah permukaan kulitnya .


Menyadari itu, Cecilia pun membuka pintunya dengan lebar lalu menarik tangan Han agar masuk kedalam.


Cecilia menyuruhnya duduk . Ia tinggalkan Hanya ke dapur.


Samar terdengar suara sendok dan gelas beradu yang berasal dari dalam sana. Cecilia tengah mengaduk minuman .


Tak berselang lama , wanita blasteran itu keluar dengan membawa cangkir berisi minuman hangat dan juga selimut .


'tak ' bunyi cangkir keramik berwarna coklat diletakkan di atas meja.


Cecilia lalu merentangkan selimut yang biasa ia gunakan ketika tidur dan membalutkanya di tubuh Han .


Pria itu diam dan hanya memperhatikannya saja.


'' minumlah '' Cecilia menyodorkan minuman yang ia buat tadi.


Han menerima dan memegangnya dengan kedua tangannya. Berharap hangatnya minum dapat meredakan dingin yang menusuk hingga ke tulangnya.


Cecilia menghela nafas. Ia menggeleng, menatap tak percaya jika Han akan berbuat sampai sejauh ini.


Beberapa menit berlalu tanpa sepatah katapun terdengar dari mulut mereka berdua.


Han berangsur tak lagi terlihat pucat dan bergetar setelah ia meneguk habis isi dari cangkir yang masih menggantung ditangannya.


'' sudha tahu hujhan taphi masih shaja nekhat khemari ''


Han tersenyum. Ia merasa sudah tak begitu kedinginan lagi.


'' kau mengkhawatirkan ku ?'' senyum yang menunjukkan betapa hatinya senang sebab apa yang Cecilia lakukan ini seolah membuktikan jika perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.


'' ... ''


'' Cecili, aku tau kau memiliki perasaan yang sama denganku.


Karena jika tidak, kau pasti langsung menolak ku ?


Tapi aku tak mengerti, kenapa kau tak mau mau menanggapi pernyataan cintaku ?


Setidaknya berilah aku jawaban.


Ya atau tidak ''


Cecilia bergeming , menatapnya dengan begitu lekat.


'' berhentilah bersikhap sheperti ini, Han. Aku thak nyaman ''

__ADS_1


" tak nyaman ?'' Han mengernyit.


" sudha setahun kitha bhekerja bhersama.


Lalu tibha-tibha khau bilang sukha padaku.


Ithu membhuat ku terkejut dhan merasa thak nyaman "


Han mendekat. Ia raih tangan Cecilia dan menggenggamnya . Mereka saling menatap.


" katakan saja . Iya atau tidak ? "


Cecilia menggeleng. Entah menolak atau tidak mau menjawabnya. Han bingung dan mulai kehabisan kesabaran.


" baiklah, aku tidak akan pulang sampai kau memberiku jawaban . Jika kau menolak,sertakan juga alasannya ! " tegas Han seraya melepaskan balutan tangannya.


Cecilia menatap kosong pada tangan yang baru saja dilepaskan . Ada rasa tak rela Han menarik tangan yang tadi menggenggam jemarinya .


Ia perhatian pria yang tengah membuka selimut dan melipatnya, kemudian disodorkan padanya.


" trima kasih.


Aku sudah tak kedinginan lagi.


Tapi aku akan tetap disini "


Han menegakkan duduk dan memalingkan wajahnya.


Cecilia yang tak tau harus berbuat apa lantas beranjak sambil membawa cangkir dan selimut kedalam.


Beberapa saat kemudian.


Cecilia keluar hanya untuk memastikan keberadaan Han.


Seperti yang pria itu tadi katakan. Han masih di tempatnya. Duduk di sofa sambil memainkan ponselanya.


Han melirik nya sesaat lalu kembali menatap layar alat komunikasinya itu.


" kenapa ? Sudah memutuskan akan memberiku jawaban apa?


Atau kau berniat mengusir ku? "


Cecilia mendekat lalu duduk tepat di samping Han. Sangat dekat hingga bahu mereka bertemu.


Hampir saja Han berlonjak karena kaget.


'' iyha. Akhu jugha memhang sukha kamu.


Taphi.. '' kalimat Cecilia tertahan.


Ia tak sanggup meneruskannya.


Han memang telah menyatakan cinta padanya.


Dan tentu saja hal itu membuatnya senang karena ia bisa melihat kesungguhan dan ketulusan dari sorot mata Han saat mengatakannya.


Tapi ia tak bisa melupakan ucapan Bian yang memberitahukannya jika Han pernah menyukai Nana . Dan itu selalu memicu cemburu hingga hampir meledak karena frustasi.


'' lalu apa masalahnya ? '' tanya Han mendekati wajah Cecilia yang merah padam.


Cecilia menggeleng. Mengakui jika ia memang memiliki perasaan yang sama saja ia harus mengerahkan segenap keberanian.


Ditambah jika harus mengakui kecemburuannya juga, rasanya ia tak akan sanggup .


Han semakin mendekat. Hingga nafasnya terasa memantul di permukaan kulit pucat Cecilia.


Wanita itu diam saja sebab memang tak berniat sedikitpun menolak pada apa yang akan Han lakukan.


Dan benar saja, Han semakin mendekat hingga wajah mereka bertemu . Tanpa Ragu,Han lantas menyentuh bibir polos Cecilia.


Awalnya hanya sapuan biasa. Namun begitu mata mereka saling bertemu, Han tiba-tiba merasakan sebuah desakan untuk menginginkannya dan inginkan lebih dari sekedar kecupan.


Begitupun dengan Cecilia.


Ia menyambut kala bibir itu mendarat lagi , bahkan tanpa ragu membuka mulutnya untuk mempertemukan lidah dan saling bertukar rasa didalam sana.


Ini adalah ciuman pertama bagi mereka berdua.


Perlahan bibir yang mulai saling bertautan itu berubah menjadi saling ******* dan meremas hingga mengigit dengan gemasnya.


Nafas keduanya mulai memburu. Getaran aneh terasa menjalar ke seluruh tubuh.


Sebuah rasa yang baru pertama kali mereka rasakan.


Keduanya lagi dan lagi mengulangi hingga tak tau berapa kali mereka menautkan bibir lalu melepasnya untuk mengambil nafas. Kemudian kembali lagi saling mengecap dan terus mengulanginya lagi.


Tubuh mereka semakin merapat. Begtu pun dengan tangan-tangan yang sudah bergerilya kemana-mana.


Satu tangan Han di tengkuk Cecilia, menahan agar wajah itu tak menarik diri.


Sedang tangan satunya mulai menyusup kedalam kaos yang Cecilia kenakan.


Mata Cecilia membelalak saat merasa telapak tangan Han menyentuh sesuatu yang selama ini belum pernah di jamah oleh siapapun.


'' katakan jika kau tak menginginkannya .Maka, aku akan berhenti sekarang juga '' bisik Han yang telah dikuasai nafsu.


Cecilia menggeleng tanda tak keberatan.


Dan tanpa mereka sadari jika bisingnya hujan diluar sana telah menyamarkan suara langkah kaki yang tengah mendekat dan hampir sampai didepan pintu.

__ADS_1


__ADS_2