
David Albert benar-benar muncul di sekolah keesokan harinya, dan orang-orang mulai sibuk lagi membicarakan pemuda itu dan ayahnya. Tapi tentu saja, seorang FannyParanata mencoba untuk tidak peduli. Walaupun dia membeberkan fakta yang dia ketahui tentang David semalam, orang-orang tetap tidak akan berempati pada
pemuda itu. Lagi pula, itu bukan urusannya. Sudah cukup buruk baginya semalam tertangkap basah mencuri dengar. Untung saja David tidak menganggap itu sebagai sebuah masalah.
Dengan menghembuskan napas berat, Fanny mengatur buku-buku paketnya ke dalam tas dan mulai berjalan
keluar kelas. Demian dan Sara sebenarnya sudah menunggunya di lab komputer, tetapi dia harus ke ruang bimbingan konseling terlebih dahulu untuk menyerahkan surat dari rumah sakit tempat dirinya menjalankan terapi. Surat itu ditujukan sebagai pelengkap biodatanya sebagai murid baru di sekolah ini, jadi mereka benar-benar tahu bagaimana riwayat kesehatan semua siswanya.
Setelah dia selesai menyerahkan surat itu dan keluar dari ruangan, entah mengapa dia merasa sinar
matahari menyengatnya tanpa ampun. Telapak tangannya mulai berkeringat dan napasnya semakin berat.
“Kamu keliatan pucat banget. Kamu baik-baik aja ‘kan?” suara berat yang sama seperti semalam membuat
__ADS_1
tubuh Fanny tiba-tiba menggigil. Dia menemukan pemuda itu tengah menatapnya dengan serius. Keningnya mengerut sedikit. Dari kejauhan, terlihat jelas dua orang perempuan tengah bergosip ria tentangnya.
“Ya,” jawab Fanny. Gadis itu terlihat bingung dengan kemunculan David yang tiba-tiba di depan ruang bimbingan konseling.
“Kita belum resmi kenalan semalam. Siapa namamu?” tanya pemuda itu dengan serius, membuat jantung Fanny berdegup kencang. Seharusnya dia sudah menduga dari awal kalau David tidak mungkin menganggap kejadian semalam itu bukan apa-apa.
“Fa-Fanny,” ucap gadis itu terbata-bata. David hanya mengangguk. Lalu tiba-tiba dia bergerak terlalu cepat memasuki ruangan bimbingan konseling hingga membuat Fanny hampir saja kehilangan keseimbangannya. Apa dia beneran manusia? Gadis itu menggerutu dalam diam. Sambil berjalan menginggalkan ruangan itu, dia lagi-lagi merasakan dilema. Apakah dia harus menceritakan ke Demian dan Sara jika dia bertemu David di ruang bk atau tidak.
Rambut Sara tidak lurus lagi, melainkan ditata bergelombang mengikuti gaya Camila Cabello. Dia juga memakai cicncin silver di jari telunjuk kanannya. Demian lain lagi. Dia mewarnai rambutnya menjadi cokelat gelap, sekilas hampir terlihat seperti warna rambut aslinya, tapi mata Fanny sangat jeli. Rambut Demian juga dibiarkan berantakan, mungkin supaya terlihat seperti Shawn Mendes. Pemuda itu tampak tidak menggunakan pomade sama sekali hari ini.
Fanny ingin menngomentari penampilan kedua sahabatnya itu, tapi dia merasa terlalu banyak telinga yang mendengar di sini.
“Fanny, apa kamu sudah pernah ketemu dengan David?” tanya Sara tiba-tiba. Fanny seperti kaku untuk beberapa detik. Dia lalu mengangkat bahunya, menyibukkan dirinya dengan memakan nasi goreng yang dia pesan.
__ADS_1
“Dia ikut kelas tambahan Bahasa Inggris dengan aku. Sepertinya dia mau ikut olimpiade juga,” Sara menggumam. “Dia ternyata orangnya gak seperti yang aku bayangin,” ujar Sara. Demian mendengus.
“Ya, aku juga kira dia bakalan putih, bersih, seperti ayahnya. Ternyata dia lebih mirip petinju,” ucap Demian.
Tiba-tiba mata Fanny menemukan sosok David sedang ikut mengantri dengan murid-murid lain untuk memesan makan siangnya. Mata gadis itu dan David terkunci satu sama lain untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Fanny berhasil mengalihkan pandangannya.
“Aku sebenernya gak mau rasis, tapi aku rasa semua orang juga ngira kalau dia itu bakalan putih bersih, seperti ayahnya, bukannya malah kebakar matahari seperti itu kulitnya,” ucap Sara dingin. “Aku tetap gak suka sama dia. Dia mungkin sudah mainin banyak cewek juga seperti ayahnya.”
Sara baru berhenti bicara setelah David berjalan melewatinya dan mengambil tempat duduk di salah satu sudut kantin.
Fanny dan Demian menatap Sara tidak suka. “Kamu memang gak punya filter ya, kalau ngomong?” Fanny menggelengkan kepalanya ke Sara, tapi gadis itu malah menyeringai.
“Ya, mungkin kita harus lebih hati-hati lagi kalau gosipin orang,” ucap Sara. Fanny memutar matanya, dan Demian tertawa.
__ADS_1