
🌺 hem... 🌺
* * *
Adit masih bergeming. Bukan hanya tubuhnya saja yang tak bergerak. Mulutnya pun tertutup begitu rapat. Seolah sengaja ia kunci agar tak bicara.
Ekspresinya datar dengan pandangan mengarah pada Nana dan Bian. Sebuah tatapan kosong yang tak bisa di artikan .
'' Saya rasa sebaiknya kalian pulang saja.
Percuma menunggu. Karena sepertinya dia akan terus seperti itu '' saran pak Polisi yang berdiri satu langkah di samping Bian.
Bian menatap Nana, istrinya itu mengangguk.
Isyarat yang mengatakan jika ia sependapat dengan apa yang dikatakan pak Polisi.
'' Kalau begitu kami permisi dulu, pak.
Terima kasih untuk semuanya ''
Bian dan Nana berbalik. Begitupun dengan pak Polisi.
'' Apa keluarganya sudah diberitahu ,pak ? '' tanya Bian di sela-sela langkah maju kaki mereka.
'' Ya, sudah. Kami menyita hapenya dan sudah mengubungi keluarganya ''
'' Jadi keluarga sudah dibertahu.. Lalu, kapan mereka akan datang ?''
Langkah mereka berhenti tepat di selasar bagian paling depan bangunan.
'' Kalau itu tidak tau. Karena mereka tidak bisa memastikan apakah bisa datang atau tidak '' pak Polisi menggeleng seraya mengingat percakapan singkat yang pihaknya lakukan dalam sambung telpon internasional beberapa saat tadi.
Ida, ibu Adit yang menyambut panggilan itu tak banyak bicara ketika mengetahui siapa yang menelponnya.
Terlebih saat polisi menjelaskan alasan kenapa ia dihubungi , adalah untuk memberitahukan bahwa Adit terlibat tindakan kriminal.
" I- iya, pak. Baik. Saya mengerti.
Jika berkemungkinan, saya akan usahakan kesana.
Tapi jika tidak. Saya serahkan dan percayakan pada pihak kepolisian. Jadi, silahkan di proses saja sebagaimana mestinya " Pak polisi menirukan ucapan ibu Adit.
Adit dan Nana terdiam sejenak untuk berpikir.
Keduanya lalu urung pulang dan kembali ke ruang penyidik untuk melakukan sesuatu.
Adit dan Nana sepakat untuk menarik laporan atas apa yang telah Adit lakukan pada Nana dan Conor.
Mereka ingin memberi Adit kesempatan.
Namun hal tersebut tak lantas bisa membuat Adit bebas begitu saja.
Proses hukumnya akan tetap berjalan ,mengingat perbuatan yang Adit lakukan bukan hanya telah membahayakan Nana dan melukai Conor saja . Tapi juga mengancam ke selamatan publik karena membawa senjata tajam ilegal di tempat umum.
Nana dan Bian tak lantas menyerah begitu saja. Sebagai sahabat, mereka berniat untuk ada dan harus bisa memberi dukungan pada Adit. Tak akan mereka biarkan Adit menjalaninya seorang diri.
Mereka kemudian menawarkan diri sebagai wali Adit yang siap datang kapan saja jika dipanggil.
'' Baiklah, jika itu keputusan kalian.
Kami tentu tidak akan keberatan.
Dan justru merasa terbantu . Karena dengan demikian ,maka akan lebih cepat bagi kami untuk memproses kasusnya ''
Bian dan Nana berdiri, berhadapan dengan pak polisi yang juga berdiri.
Mereka saling berjabat tangan sebagai tanda jika sebuah kerja sama telah terjalin.
'' Kami akan segera mengabari kalian jika nanti hasil pemeriksaannya sudah keluar ''
'' Baik, pak. Kapanpun itu kami pasti akan datang '' Bian menyanggupi dengan penuh keyakinan.
Setelah pamit , keduanya pun pergi meninggalkan kantor polisi .
Hampir disepanjang perjalanan pulang, Bian dan Nana tak berbicara karena begitu kepikiran tentang Adit.
Perasaan mereka sama. Seperti ada yang mengganjal. Mereka prihatin.
Tak menyangka , kenapa dan bagaimana bisa Adit jadi seperti ini.
Lama bungkam, Bian akhirnya memecah diam di antara mereka.
Ia mengatakan jika apapun yang terjadi, ia dan Nana harus bisa meluangkan waktu untuk menjenguk Adit sampai keluarganya datang.
Nana mengangguk tanda setuju.
Mereka sepakat untuk ada dan tak akan membiarkan Adit menjalaninya sendirian.
Setibanya dirumah, fajar mulai menyingsing. Pertanda waktu menanjak senja.
Ternyata mereka sudah menghabiskan waktu cukup lama di kantor polisi .
Begitu keluar dari mobil, mereka disambut susana ramai yang ada di halaman rumah .
Selain Siti, Susan, dan Dion, terlihat pula Cecilia dan Han .
Padahal mereka seharusnya masih di hotel dan menghabiskan dua malam lagi di sana.
Mungkin karena kejadian tadi, mereka memutuskan untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga.
Pasangan pengantin baru itu terlihat sedang asik bermain bersama Dion .
Nana dan Bian tersenyum.
__ADS_1
Sejenak mereka lupakan masalah Adit ketika melihat senyum yang merekah di wajah-wajah orang tercinta.
Terutama pada Cicilia dan Han.
Tak seperti beberapa saat yang lalu. Mereka kini terlihat seperti layaknya pasangan yang tengah berbahagia.
Nana dan Bian menghela nafas lega .
Tak lantas masuk ke rumah, suami istri yang baru saja pulang itu memilih bergabung bersama mereka.
- -
Malam telah datang.
Usai makan malam, Bian, Cecilia dan Han pergi ke rumah sakit.
Nana tak ikut , sebab tak tega jika harus meninggalkan Dion lagi.
Pun besok Conor sudah diperbolehkan pulang .
Dokter mengatakan berdasarkan hasil serangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan , kondisi Conor tak begitu serius hingga harus begitu dikhawatirkan .
Conor hanya mengalami gegar otak dan cedera leher ringan . Tak dibutuhkan perawatan khusus . Yang itu berarti ia bisa pulang dan dapat memulihkan diri dengan istirahat dirumah .
Hari berganti.
Conor pulang dari rumah sakit. Sedangkan Han dan Cecilia sudah berangkat ke Bandung sebab harus mengurus syarat menyurat Han.
Pasangan pengantin baru itu berencana akan berbulan madu dengan mengunjungi keluarga yang ada di Kanada.
Mereka akan pergi setelah kondisi Conor benar-benar pulih.
Bian dan Nana sebenar juga ingin ikut pergi.
Mereka berpikir, pasti akan sangat menyenangkan jika membawa Dion untuk menambah susana ramai di sana .
Tapi rencana itu urung mereka lakukan karena saat ini mereka memiliki hal yang lebih penting dan harus didahulukan.
Tanggung jawab mereka terhadap Adit.
Hari berganti lagi dan lagi.
Kondisi Conor berangsur-angsur sudah jauh lebih baik.
Ia pun dinyatakan sudah bisa melakukan perjalanan untuk pulang.
Tinggal menghitung hari saja, Conor berserta anak dan menantu laki-lakinya akan mengudara ke Kanada.
Sementara itu, Nana dan Bian tak pernah sekalipun absen mengunjungi Adit.
Jika Bian tengah sibuk hingga tak bisa meluangkan waktu , maka Nana lah yang pergi ke kantor polisi dengan di temani pak Tole.
Namun lebih sering mereka pergi bersama .
Setiap kali mereka datang, Adit masih bersikap sama .
Jangankan mau diajak berbicara, ia bahkan tak menyahut ketika namanya disebut .
Seminggu berselang , kasus Adit telah selesai diproses. Ia lalu dipindah ke tahanan yang sebenarnya , sambil menunggu tanggal yang telah ditetapkan dimana ia akan di hadapkan ke meja hijau.
Dan selama itu pula Nana dan Bian selalu setia mengunjunginya.
* * *
'' Beberapa kasus yang kurang lebih serupa yang pernah saya tangani, jika alasannya bukan hanya karena didasari sakit hati dan dendam.
Tapi juga karena kejiwaan pelaku yang bermasalah. Maka biasanya, selain vonis penjara, tak jarang hakim memutuskan agar sebaiknya mereka di tempatkan di rumah sakit jiwa untuk mendapatkan perawatan dan pemulihan mental '' jelas pengacara yang Bian sewa khusus untuk menangani kasus Adit.
Nana dan Bian tertunduk usai mendengarnya.
Adit bisa saja terbebas dari jerat jeruji besi. Tapi kecil kemungkinan ia bisa mengelak jika hakim memutuskan demikian.
Berdasarkan laporan keseharian Adit selama proses tunggu sidangnya , yang terlampir kemudian dibacakan oleh jaksa penuntut.
Selama berada di sel tahanan, sikap Adit tak karuan.
Terkadang ia menangis tengah malam. Menganggu waktu istirahat tahanan yang satu ruangan dengannya. Menyebabkannya harus beberapa kali berurusan dengan tahanan yang kesal karena tingkah lakunya yang di nilai semakin hari semakin tak wajar.
Adit pun kerap kali menjadi bual-bualan para tahanan lainnya.
Dikerjai, bahkan sering di pukul tanpa sebab yang pasti.
Dan hal tersebut memperparah kondisi mentalnya .
Nana bersedekap. Ketika hakim telah menarik kesimpulan , bahwa Adit dinyatakan memiliki gangguan jiwa.
- -
Sidang putus baru saja selesai di gelar .
Nana dan Bian keluar secara bersamaan.
Sementara Adit digiring melalui pintu khusus tahanan.
Adit tak divonis penjara.
Namun ia harus mendekam di salah satu rumah sakit jiwa milik negara.
Nana menitikan air mata, ketika ia dan Bian mengikuti semua proses pemindahan Adit dari pengadilan - ke sel tahanan . Dan berlanjut menuju rumah sakit jiwa yang letaknya jauh dari pusat keramaian dan tempat tinggal penduduk.
Atas ijin kepolisian jugalah mereka bisa ikut mengantar dan memastikan dimana Adit akan tinggal dan di rawat untuk mengobati gangguan mentalnya.
Sejak pagi, hingga menjelang senja.
__ADS_1
Nana dan Bian tak sedetikpun melewatkan seperti apa saja prosedur yang harus Adit jalani.
Tak mereka hiraukan haus dan lapar karena seharian berada di sana.
Sebab itu tak seberapa dibanding dengan apa yang harus Adit hadapi saat ini.
Nana pun terlihat beberapa kali menghapus air mata yang lolos tak tertahankan.
Adit baru saja berpindah tangan,dari petugas kepolisian beralih diserahkan pada dua orang laki-laki petugas rumah sakit.
Nana dan Bian masih mengikuti.
Mereka mengekor beberapa langkah dibelakang saat Adit digiring masuk ke sebuah ruangan.
Ketika Nana dan Bian hendak masuk, seorang perawat yang bertugas diruangan tersebut menahan.
Dijelaskan jika ruangan tersebut adalah tempat dimana Adit akan diperiksa secara keseluruhan dan pakaiannya akan diganti dengan pakaian khusus pasien.
Keluarga pasien diperbolehkan masuk , dengan ketentuan jika si pasien adalah laki-laki maka yang diijinkan masuk tentu saja hanya laki-laki saja.
Dan begitu pun sebaliknya.
Akhirnya Bian lah yang masuk, sedangkan Nana menunggu dengan berdiri didepan pintu yang di tutup rapat.
Sementara itu didalam .
Adit menolak ketika dua orang petugas perawat laki-laki membujuk dan berusaha mengganti pakaiannya.
Melihat Adit yang terus-terusan memberontak dan membuat para petugas kewalahan, Bian yang berdiri dipojokan akhirnya ikut membantu memegangi tubuh Adit.
Sontak tubuh Adit pun berhenti bergerak . Bukan hanya karena karena kuatnya tenaga Bian, tapi juga ia masih memiliki kesadaran dan ingatan siapa pria yang tengah memegang kuat kedua lengannya.
'' Bi-Bian- - tolong aku, Bi..?
Bilang ke mereka kalau aku gak gila '' pinta Adit dengan sorot mata memelas . Adit menangis.
Bian bergeming.
Seorang petugas mulai membuka satu persatu pakaian Adit . Dan seorang lagi bersiap dengan memegang pakaian ganti.
Bian masih bungkam. Ia lalu memalingkan wajahnya ketika tubuh Adit telah berhasil ditelanjangi.
Ia tak sanggup melihatnya.
Bibir Bian terlihat bergetar menahan sesuatu yang membuat hatinya berdenyut pilu.
Beruntung kedua petugas bekerja dengan begitu cekatan dan cepat.
'' Biiii... Aku gak mau disini.. Bawa aku pergi dari sini. Biii... plissss Biii... '' Adit kembali memelas dan perlahan tubuhnya mulai berhenti memberontak.
Bian mengendurkan pegangannya saat petugas satunya akan memasukkan tangan Adit ke celah baju.
'' Bi.. kok kamu tega si lihat aku diperlakukan kaya gini sama mereka.
Biii... Aku janji, kalau kamu bisa ngeluarin aku dari sini aku gak akan pernah lagi ganggu hidup rumah tanggamu..
Bi.. hiks.. '' Adit terisak.
Bian menatap sekilas wajah yang telah dibanjiri air mata.
Ia tak sanggup dan kembali memalingkan pandangannya.
Bian menangis dalam hati. Hatinya berdenyut perih mendengar Adit yang tak berhenti memohon. Di tambah lagi dengan suara isaknya.
Bian memejamkan matanya yang sudah memerah kuat-kuat.
Hingga ia merasa Adit benar-benar berhenti bergerak. Mulut yang sejak tadi mengoceh itupun tiba-tiba diam.
Dilihatnya seorang perawat baru saja menarik jarum suntik di lengan Adit.
Adit yang tak lagi histeris itupun diambil alih untuk di dudukan di kursi roda.
Adit didorong keluar.
Mengenakkan pakaian berwarna putih , kedua tangan Adit diikat dengan lengan bajunya yang memang dirancang panjang dan diikat kebelakang.
'' Sayang '' Nana menghampiri Bian yang keluar setelah lebih dulu perawat dan juga Adit berjalan melewatinya.
'' Adit tadi ngamuk waktu disuruh ganti baju.
Karena terus-terusan berontak jadi mereka terpaksa memakaikan pakaian seperti itu.
Adit juga akan dimasukkan ke ruangan khusus ''
'' Adit '' air mata Nana kembali berlinang.
Satu tangannya meremas lengan baju Bian .
'' Sudah waktunya kita harus pulang '' ucap Bian meraih tangan dan menggenggamnya.
'' Tap-tapi Adit... '' Nana masih enggan beranjak.
Matanya masih tertuju pada punggung Adit yang terhalang oleh perawat yang mendorong kursi rodanya.
'' Jam besuk sudah selesai, sayang... '' Bian merangkul pundak Nana, memaksa tubuh istrinya untuk berbalik .
Nana memutar leher.
Masih menatap Adit yang kini di bawa berbelok menuju setelah melewati sebuah pintu berpagar besi.
'' Sayang.. '' Bian mencoba menyadarkan Nana jika hari ini cukup sampai disini.
Tak ada lagi yang bisa mereka lakukan lebih dari ini.
__ADS_1
Selebihnya ,mereka hanya bisa pasrah dan mempercayakan Adit ditangan para medis dirumah sakit ini.