
🌺 hem...🌺
Maaf jika ceritanya terlalu bertele-tele.
Karena memang saya nulis gak pernah pake rencana. Jadi alurnya berjalan begitu saja 😁
Selamat membaca....
* * *
Awalnya Nana melambaikan tangan dengan penuh semangat. Namun semakin perlahan seiring dengan semakin jauh mobil dari pandangannya.
Untuk beberapa saat Nana mematung ditempatnya berpijak.
Hingga akhirnya ia teringat jika hari ini ada banyak hal yang harus ia lakukan.
Nana berbalik, langsung mengambil langkah masuk kedalam rumah dan naik ke lantai dua.
Tak berselang lama lama, ia keluar dari kamarnya dan turun dengan menenteng tas.
'' mau kemana kamu ? '' suara yang membuat langkah Nana terhenti tepat setelah menuruni anak tangga terakhir.
'' baru aja suami tinggal pergi, kamu uda siap-siap mau keluyuran '' kalimat mengatai yang sudah sebulan tak terdengar kini kembali dilontarkan lagi .
Nana menarik nafas ,memejamkan matanya sesaat lalu melanjutkan langkah. Ia abaikan Natasya dengan melewatinya begitu saja.
Natasya menatap tak percaya.
Disusulnya Nana yang sudah keluar rumah dan terlihat sudah masuk kedalam taksi online yang memang sudah dipesan Nana sejak sepuluh menit lalu.
* * *
Dan disinilah Nana sekarang.
Berhadapan dengan dokter Murni untuk sesi konsultasi usai melakukan pengecekan kandungannya.
'' tidak ada keluhan ? '' tanya dokter Murni sambil membenarkan posisi kacamata yang terturun.
Nana menggeleng sambil tersenyum tipis.
Ia merasa lega setelah mendengar dokter Murni membacakan hasil USG yang baru saja dilakukan.
Kondisi dan perkembangan janin nya normal dan baik-baik saja.
'' oke. Untuk saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kontrol sebulan lagi.
Dan kalau ada keluhan , segera datang kembali ''
Nana mengangguk paham.
'' emmm..anu, dok ''
'' ya ? Ada lagi ? ''
'' saya mau minta surat layak terbang , dok ? ''
Dokter Murni mengerutkan kening.
'' usia kandung anda masih di trimester pertama, baru memasuki minggu ke sepuluh.
Sangat rentan jika harus menempuh perjalanan jauh '' dengan raut wajah yang menunjukkan keseriusan, Dokter Murni mencoba untuk mengingatkan .
'' gak jauh, kok dok. Saya cuma ke Malaysia.
Saya ada keperluan mendesak di sana.
Ja- - jadi, bisa gak , dok ? ''
Dokter Murni nampak berpikir sejenak. Jarak tempuh Indonesia-Malaysia memang tak begitu memakan banyak waktu.
Namun tetap saja segala kemungkinan itu ada.
Tapi karena desakan pasiennya, Dokter Murni pun menyetujuinya.
Namun sekali lagi ia mengingatkan, jika yang dilakukan ini memiliki resiko dan itu harus ditanggung sendiri oleh Nana.
Nana mengangguk . Ia meyakinkan sang dokter, jika ia pasti akan menjaga dirinya dan kandungannya sebaik mungkin .
Setelah dokter memberikan amplop putih berisi surat keterangan layak terbang , Nana pun pergi dari pusat kesehatan itu.
Tujuan berikutnya adalah ke tempat penjualan tiket pesawat terbang.
Nana membeli tiket dengan jadwal keberangkatan paling awal. Besok pagi pukul 9, waktu yang tertera di tiketnya.
Nana tersenyum ,namun hatinya di rundung pilu.
" kau tak punya pilihan lain, Nana.. hanya ini jalan terbaik yang kau punya " Nana berbisik pada dirinya sendiri. Meyakinkan jika ia tak bisa bertahan lebih lama lagi. Maka ia pun harus segera pergi.
Karena sudah memperoleh semua yang ia butuhkan , sekarang ia hanya perlu berkemas dan mempersiapkan dirinya untuk penerbangan besok pagi.
Nana yang baru saja keluar dari kantor travel, terlihat memperhatikan sekelilingnya sejenak.
Ia mungkin akan merindukan runyamnya suasana ini.
Ketika tak sengaja melihat sebuah taksi yang akan melintas, Nana reflex mengulurkan tangan kanannya.
Taksi berhenti tepat dihadapannya dan Nana pun segera masuk kedalamnya.
'' kemana, neng ? ''
'' jalan aja, pak ''
Sebenarnya Nana pun tak tau pasti kemana arah tujuannya sekarang. Meski urusannya telah selesai, tapi ia tak berkeinginan untuk langsung pulang .
Lima menit setelah taksi kembali ke jalanan , nada panggilan yang berasal dari ponselnya terdengar.
Nana merogoh isi tas selempangnya dan mengeluarkan ponselnya.
'' ya, Bi ''
'' kamu keluar kok gak ngabarin aku ? ''
Nana menghela nafas. Seseorang pasti mengadukannya. Kalau bukan Natasya,ya pasti Oma.
__ADS_1
'' tadinya juga gak ada rencana mau keluar .
Tapi tiba-tiba aja jadi pengen keluar cari hiburan.
Habis , bosan dirumah terus. Apalagi gak ada kamu ''
'' kan uda aku bilang dari kemarin. Ikut aku.
Terus, sekarang kamu di mana ? ''
'' aku lagi dijalan ''
'' mau kemana ? ''
'' gak tau.. pokoknya jalan aja ''
Diam beberapa detik.
'' ya, uda . Pokoknya jaga diri baik-baik dan kabarin aku kalau ada apa-apa.
Nanti aku telpon lagi ''
Panggilan berakhir.
Nana menyandarkan duduknya, memalingkan wajahnya ke jendela mobil dimana hiruk pikuk jalanan yang dipadati kendaraan diluar sana.
Dan tanpa sadar ia sudah melayangkan pikirannya kemana-mana.
Tentang apa yang akan ia hadapi saat ia pulang nanti, bagaimana perjalanan besok dan apa yang akan terjadi setelahnya.
'' mau kemana, neng ? '' tanya si supir taksi untuk yang ketiga kalinya. Sebab sudah lebih dari satu jam berkeliling tanpa tujuan pasti .
Terukir jelas mimik was-was dari wajah si supir setiap kali melihat angka dimonitor dimana tertera tarif perjalanan yang jumlahnya semakin naik .
Takut jika si penumpang tak sanggup membayarnya.
Nana tersenyum singkat, ia tau apa yang di cemaskan si pengemudi ini.
Ia keluarkan beberapa lembar rupiah berwarna merah, melebihi dari jumlah yang tertera.
'' tolong ke restoran terdekat, pak ''
'' siap, neng '' seru si supir seraya mengangguk. Ia nampak begitu girang.
Selain mendapat bayaran yang jumlahnya melebihi dari yang seharusnya ia terima, ia juga lega karena akhirnya bisa mengemudi dengan tujuan pasti.
Lima belas menit kemudian, Nana turun dari taksi setelah diantar ke depan sebuah restoran seafood .
Baru saja tiga langkah berjalan , ponselnya kembali berdering. Nana melihat di layar yang menunjukkan jika si pemanggilan masih dari orang yang beberapa saat lalu menelponnya.
Bian menanyakan mengapa dirinya belum pulang padahal sudah lewat tengah hari.
Pasti diadukan lagi. Pikir Nana.
Ia kemudian mengalihkan panggilan suara ke sambung vidio call untuk menunjukkan dimana ia berada.
Setelah panggilan berakhir, Nana pun melanjutkan langkah masuk kedalam restoran dan langsung memesan beberapa menu andalan untuk memanjakan perutnya .
Sebab jika sudah berada di sana nanti , ia belum tentu bisa mencicipi masakan khas nusantara lagi.
'' Nana kamu belum pulang ? '' lagi.
Ini kali ketiga Bian menelponnya.
Nana yang tengah di perjalanan menuju ke suatu tempat pun mulai gusar. Padahal ia ingin menikmati sisa harinya dengan tenang.
Tapi jelas ada yang tak suka dan tak terima jika saat ini ia tengah bersenang-senang.
'' aku mau nonton ke bioskop.
Ni bentar lagi nyampe di mall '' tungkas Nana singkat.
Bian tak berdaya untuk melarangnya.
Sebab setiap kali bertanya dimana, Nana langsung menunjukkan dimana ia sedang berada dengan mengiriminya foto atau melakukan vidio call saat itu juga.
Puas berkeliling dengan mendatangi satu tempat dan berpindah ke tempat lainnya, Nana yang lelah memutuskan untuk menyudahi harinya .
Namun sebelum itu ,ia lebih dulu singgah ke sebuah restoran khas masakan Chinese .
Ia harus pulang setelah kenyang. Karena belum tentu ada makanan untuknya dirumah nanti.
Lagipula ia pun tak ingin makan dirumah .
Diperjalanan menuju rumah, perhatian Nana tiba-tiba saja tertuju pada deretan mesin ATM yang ada ditepi kiri jalan.
Nana lalu teringat pada ATM yang tadi pagi Bian masukan disalah satu selipan dalam dompetnya.
Nana meminta taksi menepi.
Ia lalu turun dan masuk kedalam salah satu ruangan yang bertuliskan nama bank ternama.
" maaf, Bi. Aku merampokmu bukan untuk ku.
Tapi untuk anakmu "
Nana berucap dalam hati dengan telunjuk yang sibuk memencet layar touchscreen mesin uang tersebut.
* * *
Nana tiba dirumah ketika waktu sudah menanjak tengah malam. Nana memencet bel rumah, tak berselang lama Bi Gani muncul membukakannya pagar .
" darimana aja, si Non. Dari tadi uda ditungguin ibu sama Oma " Bi Gani setengah berbisik. Ia nampak khawatir melihat majikan mudanya ini baru saja kembali setelah seharian keluar rumah.
Nana hanya membalas dengan senyuman.
Dan benar, saja. Begitu ia memasuki rumah, nampak Natasya berdiri di ruang tamu dengan tatapan mengarah padanya.
Natasya pun langsung melontarkan cercaan , berbagai pertanyaan dengan ekspresi yang menunjukkan kekesalannya, sebab sikap sang menantu yang bukannya berubah justru bertambah menjadi jadi. Nana sadar, jika ia telah menambah kadar ketidak sukaan Natasya padanya.
Namun ia sama sekali tak menghiraukan apapun yang di ocehkan mertuanya itu.
Begitupun saat ia melihat sekilas pada Elisabeth.
__ADS_1
Tatapan wanita yang baru saja keluar dari rumah sakit itu begitu dingin .Tajam menusuk.
Nana memalingkan wajahnya. Ia tak mau sampai terpancing.
Alasan mengapa selama ini ia memilih diam adalah karena ia tak ingin membenci.
Ia tak ingin anaknya nanti mewarisi sifat mereka.
Sering ia dengar jika membenci seseorang ketika sedang hamil, bisa jadi ketika lahir nanti sang anak akan seperti orang yang dibenci.
" amit-amit '' gumamnya setiap kali berhadapan dan teringat akan sang mertua.
Nana mengambil langkah cepat menuju tangga dan langsung menaikinya.
Natasya yang melihat sang menantu mengacuhkannya kian meradang .
Ia susul Nana dengan naik ke lantai dua.
Namun kalah cepat sebab Nana sudah masuk dan mengunci pintunya dari dalam.
Natasya menatap marah pada pintu kamar yang tertutup rapat. Dengan nafas yang masih memburu, Natasya memutuskan berbalik dan turun. Percuma juga ia memaksa Nana untuk membukakannya pintu atau berteriak sekalipun. Karena sudah pasti Nana tak akan mau memperdulikannya.
Sedangkan Nana masih bersandar dipermukaan pintu dengan sia-sia rasa dag-dig-dug nya.
Ingin rasanya ia menangis namun ia sebisa mungkin ia tahan .
Nana menunduk, mengelus perutnya sembari mencoba untuk mengurangi senyum dan terus mempertahankannya hingga perlahan ia pun mulai merasa tenang.
* * *
Sementara itu.
Di waktu yang bersamaan, seseorang di tempat yang berbeda nampak gelisah.
Sejak pagi ibu dan Omanya silih berganti menghubunginya untuk melaporkan tentang istrinya yang keluar rumah tanpa pamit.
Alhasil seharian ini iapun tak tenang dan tak bisa fokus pada pekerjaannya.
Bolak-balik ia menghubungi Nana.
Merasa heran dan penasaran sebab tak biasanya Nana pergi tanpa mengabarinya terlebih dahulu.
Terlebih saat ia mendapat SMS banking. Sebuah pemberitahuan jika telah terjadi transaksi penarikan uang dalam jumlah yang terbilang besar.
Ia ingin bertanya, namun urung ia lakukan sebab tak ingin Nana tersinggung. Toh besok juga ia pulang dan akan menanyakannya langsung.
* * *
'trrrrrtttttttt '
'' Huft... Pasti diadukan lagi '' Nana menatap kesal pada nama yang tertera dilayar ponselnya.
" ya, Bi " menjawab dengan malas. Pun ia juga sebenarnya sudah lelah dengan apa yang sudah ia lalui hari ini.
" kamu baru pulang ? "
'' em '' mengangguk perlahan.
'' kok malam benget,sih Na.
Kan aku sama orang rumah jadi khawatir ''
'' kan aku uda bilang tadi ke kamu kalau aku pergi nonton ''
'' ... '' Bian terdengar menghela nafas.
'' ya, uda besok aku pulang ''
'' kok ? Bukannya kamu di sana sampai acara pembukaannya selesai ? ''
'' gak mesti sampai selesai juga. Aku cuma perlu hadir di acara intinya aja, kok ''
'' ... ''
'' Nana ''
'' em... ''
'' aku tau kamu pasti gak nyaman dengan suasana rumah kan ?
Jadi pulang nanti, aku janji. Aku bakal temanin kemanapun kamu mau pergi.
Jadi, jangan ke mana-mana lagi tanpaku, hem ? ''
" maaf, Bi.
Tapi aku uda gak bisa bertahan lebih lama lagi disini " Nana menggigit bibirnya kuat.
Nana tak menjawab.
Bian menyerah, pun malam sudah begitu larut. Sudah waktunya bagi mereka untuk beristirahat.
Apalagi Nana yang sudah seharian ini keluar rumah. Dia pasti lelah.
Bian pun mengakhiri sambungan telponnya dengan ucapan 'selamat malam dan aku merindukanmu ''.
Membuat yang mendengarnya terenyuh hingga menitikan air mata.
" sama, Bi.
Aku juga pasti nanti akan sangat merindukanmu "
Dengan langkah gontai, Nana berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah melewati malam ini, maka semuanya benar-benar akan berakhir.
Besok ia akan pergi dengan harapan jika suatu saat kembali ,ia tak ingin bertemu apalagi berhubungan dengan mereka lagi. Bahkan pada Bian sekalipun.
Ia ingin menutup lembaran hidupnya yang sekarang dan bertekad untuk menjadikannya kenangan tanpa berniat untuk mengulanginya lagi.
* * *
Jangan lupa tinggalin jejak ya
__ADS_1