
...'Tidak ada yang abadi di dunia ini termasuk masalahmu'....
...☕☕...
Disudut ruangan yang sedikit remang, pencahayaan yang minim seperti suasana kamar kebanyakan karena lampu belajar saja yang di hidupkan.
Seseorang dengan tampang datar, bertubuh kurus atau lebih kurus dari biasanya tengah duduk menatapi buku tebal berisikan rangka manusia dengan bahasa latinnya di sana.
Wajar jika ia terlihat lebih kurus, terlalu banyak waktu dihabiskan hanya untuk berfokus pada bacaan, praktek, laboratorium dan beban pikiran lainnya. Dengan kacamata bulat anti radiasi yang masih bertengger di kedua telinga, ia seperti bukan fokus pada bacaannya lagi melainkan pikiran yang melayang jauh entah kemana.
Banyak waktu yang sudah ia habiskan seorang diri, jauh dari banyak hiruk pikuk persolan masa lalu mampu membuatnya menjadi lebih paham tentang hidup yang sebenarnya.
Ia sadar betul. Untuk berada di titiknya sekarang, ada begitu banyak yang ia tinggalkan di belakang. Entah keluarga, sahabat, teman dan masih banyak lagi.
Dengan pikiran yang makin berkecamuk bahkan bergulat di pikirannya ia bergumam, "Yang gw tahu, sebagian perjalanan pada proses hidup memang harus dilalui seorang diri. Ga ada keluarga, teman ataupun sahabat, hanya seorang diri. Barangkali, di titik seperti ini gw seharusnya menjadi paham, bahwa di fase hidup paling sepi sekalipun tak akan ada kesepian yang paling sepi." gumamnya pada diri sendiri dengan pandangan lurus pada tembok depan meja belajarnya yang dipenuhi tempelan kartu berwarna dengan berbagai tulisan di sana.
"Haaa!! Sudah terlalu jauh dan sedikit lama untuk sekedar menyapa. Apa masih teringat atau terlintas beberapa hal tentangku di benak mereka?" Ujarnya dalam lamunan.
Dengan sedikit keraguan ia meraih ponselnya di samping buku tebal tersebut dan memperhatikan layar ponselnya beberapa saat.
Entah dorongan dari mana, ia mendial nomor yang sudah lama tersimpan di ponsel barunya, ia memang sengaja menyimpan nomor tersebut. Tapi tidak yakin jika nomor itu masih aktif.
Sampai saat deringan ponsel terhubung barulah ia tahu bahwa pemiliknya masih menggunakan nomor lamanya.
Sampai akhirnya ia bergumam tanpa sadar dari lamunannya, "Jeno_ya,,. Aku takut tertinggal dan dilupakan. Aku takut sesuatu yang aku percaya akhirnya mematahkan. Aku takut dengan kenyataan bahwa beberapa orang pergi atau tertinggal, entah ada atau tidaknya keterpaksaan. Makanya aku sekeras ini. Makanya aku terlalu menutup diri." Ujarnya saat deringan ponsel di angkat oleh orang yang di tuju, yang diyakini kata-katanya pasti terdengar jelas di seberang sana.
"Aku takut tak punya kesempatan lagi. Aku takut tak bisa kembali saat waktuku menjadi habis. Apa aku terlalu naif dengan kehidupan sampai sejauh ini menjauhkan diri?" Ujarnya lagi dengan masih belum ada jawaban dari seberang.
Beberapa menit tanpa percakapan lagi, sampai.....
"Senaa! Apa aku sedang bermimpi sekarang? Jika ia, maka tetaplah untuk sedikit lebih lama! Sudah lama suara ini kurindukan!!" Ucapan Jeno hampir dengan nada getar, mungkin dengan tangis.
"Hmm," Sena merasakan desiran hangat saat suara yang sudah lama tak terdengar tersebut.
"Kamu main terlalu lama sampai aku merasa jauh. Apakah kamu datang dalam mimpi dengan baik?" Ujar Jeno yang masih tak percaya jika ia menerima telpon tersebut.
"Heheh, kamu masih saja menjengkelkan. Aku baik dan kamu sedang tidak bermimpi yak!!" Ujar Sena terkekeh.
"Sena! K- kamu beneran? Ma- maksudku ini kamu??" Jeno yang sedang fokus pada lembar berkas di meja kerjanya terlonjak kaget dengan kenyataan yang ada.
__ADS_1
"Sena!! Jawab aku ini bukan mimpi kan!!" Jeno histeris dengan mata yang berbinar seperti hidup kembali setelah sekian lama sayu.
"Hm." Sena tersenyum mendengar antuasias Jeno di sana. "Sudah lama ya!"
"Lama. Lama sekali. Kenapa kamu gak pernah hubungi aku? Aku udah nyari kamu kemana-mana. Aku bahkan gak bisa makan, tidur dan hidup dengan baik setelah tahu kamu pergi. Hiikkss, hiiiks.." ya dia menangis pada akhirnya.
"Jeno! Jangan seperti ini. Apakah kau tidak malu dengan orang yang melihatmu sekarang?"
"Yaak! Tak ada yang melihatku. Aku sedang berada di kantor dan tak ada siapa-siapa disini."
"Tapi aku bisa mendengarmu dari sini!"
"Berhenti mengejekku! Kau sudah membuatku seperti ini. Tidakkah kamu tahu aku menghabiskan banyak malam dengan penyesalan atas semuanya?"
"Maaf!"
"Ga. Aku yang minta maaf. Maafin aku. Aku yang salah. Ku harap kamu sudah lebih baik sekarang."
"Jeno!!"
"Hm?"
"Istirahat lagi yang banyak. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Kau harus menjeda untuk banyak hal. Aku masih bisa memberimu banyak kesempatan untuk istirahat sebelum menjemput mu pulang!" Jeno tersenyum lepas setelah senyuman itu hilang selama ini.
"Siapa yang meminta untuk di jemput? Aku tidak mau kembali lagi! Enak saja katamu."
"Aku akan menjemputmu jika aku tidak bisa mengendalikan diri lagi nanti!"
Begitu saja mereka bertengkar kecil dan adu argumen. Mereka selesai seperti itu dari dulu sampai sekarang pun masih belum berubah. Hingga beberapa menit kemudian..
"Jeno!" Panggil Sena serius.
"Hm? Kenapaa?" Tanya Jeno lembut.
"Aku. Ak- ah, tidak bisakah kau meluangkan waktumu?" Sena gugup.
"Aku selalu punya waktu untukmu! Ada apa hm?"
"Datanglah! Aku butuh kamu ada untukku beberapa saat ini!"
__ADS_1
"KAMU GA BERCANDA KAN! KAMU SERIUS! AKU PESAN TIKET SEKARANG! IYA SEKARANG JUGA!" Jeno antusias.
"Hm,,, aku menunggumu!" Ujar Sena yakin. Ia pada akhirnya kalah dengan rindu yang sudah lama Terpendam. "Jangan beritahu siapapun jika ke sini! Aku hanya mau kamu!" Ujarnya pasti.
"Aku pergi sekarang! Sendirian. Tunggu aku!!" Jeno mengakhiri telponnya dan mengambil jasnya dan berlari keluar kantor menuju parkiran tanpa memperdulikan semua karyawannya yang bingung dengan bos mereka.
Dalam pikirannya hanya Sena saja untuk sekarang. Ia sudah membooking tiket saat Sena mengirimkan alamatnya lewat chat semua sudah di urus oleh sekretarisnya tinggal ke bandara saja karena sekretarisnya akan bertemu dengannya di bandara.
Pada akhirnya, sejauh manapun kita healing dari banyak hal yang menimpa dan yang membuat kita sakit. Kita perlu bahu yang mampu menahan dan tempat untuk bersandar. Kita boleh saja bergerak melawan takdir tapi satu hal bahwa orang yang tepat akan datang saat kita tak lagi mampu berpikir dan melakukan beberapa hal. Disitulah kita menjadi sadar ada orang yang masih mengharapkan kita kembali dan berdamai dengan masa lalu.
"Terimakasih Tuhan. Untuk banyak hal yang engkau hadirkan. Untuk banyak persoalan yang kau akhiri dengan jalan yang kau beri. Aku tidak tahu akan seperti apa takdirku nanti. Tapi, sebagai manusia biarkan aku sedikit egois untuk kali ini. Aku benar-benar takut kehilangannya. Jika ini adalah kesempatan ku untuk memperbaiki dan memulai kembali biarkan ia tetap dalam dekapan dan aku masih bisa melihat setiap senyuman dan amarahnya agar menjadi alasan kenapa aku bisa bekerja dan bertahan hidup. Sejauh ini aku bahkan tak punya tujuan. Aku seperti tak hidup setelah semuanya terjadi. Dan kali ini aku akan menggapainya dalam keadaan yang lebih baik. Aku mencintainya." Batin Jeno kala pesawat yang ia tumpangi lepas landas.
...20.03.2022...
...•...
...•...
...•...
**Annyeong 👋👋👋
Maaf baru up lagi🙏
Aku kehabisan ide akhir-akhir ini. Aku butuh refreshing sebenarnya tapi terlalu sibuk dengan kerjaan ditambah lagi Omicron makin ganas ya sekarang. penyebaran juga cepat. Jadi semuanya terbatasi.
Tapi, serius alasan aku lambat update karena emang kehabisan ide buat nulis 🥺
Sekali lagi maafkan aku😌
Semoga sehat-sehat kalian ya,,
Jangan sering begadang.
Makan tepat waktu.
Minum kopi juga jangan terlalu sering. Aku kemarin sampai maag parah lo karena sering minum kopi sama makan terlambat.
🤗🌹**
__ADS_1