Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Berziarah dan Mengukir Kenangan


__ADS_3

... .o0o....


Dari beberapa orang mengambil sudut pandang bahwa kepergian adalah suatu pengajaran bahwa datang dan pergi hanya sebuah kehadiran, tidak perlu mendalaminya terlalu lama karena pertemuan pun demikian tidak selalu berakhir pada pertemuan pertama.


Tidak perlu juga tergesa-gesa dalam menitipkan kepercayaan dan menerima yang datang dengan welcome seperti biasanya karena pada akhirnya kita akan mengalami kehilangan pada yang pergi dan itu berdampak sekali tentang rasa.


Dan benar beberapa hanya singgah dan kembali pergi.


Karena terkadang kita hanyalah objek nyata yang terasa fatamorgana, jadi untuk apa terus mengejar jika yang kita dapatkan selalu saja sama yaitu pilu.


"Maafin aku yang baru bisa datang sekarang! Aku tahu aku banyak sibuk yang aku sendiri tidak tidak tahu sedang apa dan apa saja yang ku lakukan selama ini?


Masih membekas setiap ingatanku tentangmu. Jika saja mungkin pernah mendapati ku tertawa lepas, tersenyum ria bahkan bahagia sekali, itu semua karena aku berusaha kembali baik saja di hadapan banyaknya mereka, aku masih dengan rasa yang sama belum benar-benar ikhlas, belum bisa menerimanya dengan baik.


Kamu terlalu baik untuk dilupakan. Kamu terlalu baik untuk direlakan dan bahkan kebaikan dan keberadaanmu masih belum ada yang mampu menyainginya.


Aku punya banyak yang inginku sampaikan, tapi ku yakin kamu sudah tahu dan melihat banyak hal yang terjadi atas ku.


Aku merasa lemah disudut yang pelik Ma!


Ya, aku paham ini adalah siklus dalam kehidupan. Aku juga tahu semua orang pasti mengalami titik terendah dalam hidup. Aku ingin menangis sekeras-kerasnya! Aku ingin sedikit egois dan menganggap semua yang ada adalah milikku untuk sedetik saja.  Agar aku bisa lega dan kembali baik.


Aku mau berhenti berpura-pura dan melupakan segalanya. Aku bisa apaa?


Mama! Jika hari aku memilih menyerah apa yang bakal terjadi selanjutnya?" ucap Sena di samping makam sang ibunda.


"Sampai sekarang See,  masih bingung apa yang sudah terjadi sama Mama waktu itu?


Apa Mama juga lelah?


Apa mama juga menyerah?


Atau Mama tidak punya pilihan?

__ADS_1


Sakit sekali! Mereka semua sudah pergi dan sedikit lagi aku juga mungkin akan sama seperti mereka!


Ma! Aku kesini mungkin untuk yang terakhir kalinya sekarang!


Besok, lusa dan esok mungkin Sena gak tau apa masih bisa mampir lagi ke sini atau gak!.


See, gak yakin akan ke sini lagi. Maaf Mama! Aku sedikit berubah dan mungkin gak akan kembali lagi seperti semula!


Semua akan berakhir disini karena sekarang aku akan bersama Mama dalam setiap bayang, antara malam, siang, pagi dan bahkan petang aku akan menganggap Mama ada dan selalu ada!" ucap Sena bangkit dari jongkoknya dan hendak berlalu dari tempat itu.


"Goodbye to you who have been in the past, I will always remember you. And we will meet again in the path of destiny that we do not know when.  Yang jelas semua tentangmu tidak akan pernah pudar dan akan selalu membekas!" gumam Sena mengiringi langkahnya yang semakin menjauh dan menghilang dari tempat itu, namun disamping itu ada senyuman abadi yang merekah begitu langkah demi langkah semakin menjauh dan berlalu hilang.


Pada akhirnya kita tidak berujung melupakan karena usia, keadaan, masalah, kesempatan, pilihan dan masih banyak lagi. Tapi, kita hanya sedang belajar menerima dan berlalu ketika keberadaan sudah menjadi ilusi semata dalam kenyataan yang begitu nyata.


"Disini, di ujung jalanan menuju tempat untuk kembali pulang. Ya, aku berada di ujung jalanan menuju rumah.


Dan sini aku ingin mau mengukir suatu momentum yang gak akan aku lupain. Dan menentukan aku masih pantas pulang atau harus berpergian dan mengembara lagi dalam waktu yang lama dengan jarak yang semakin jauh.


Mari kita mengukirnya dengan sempurna. Jika jawabannya jelas dan tepat aku akan mengambil keputusannya sekarang!"ucapnya lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Woah, hari ini keadaan benar-benar memperlakukanku kejam! Aku sudah di tolak secara tak berperikemanusiaan di perusahaan keluarga sendiri saat melamar kerja,  berbicara seorang diri di tengah makam yang banyak dan ini ujian kesabaran yang ku terka akan habis pada menit kedepannya" ucap Sena terkekeh miris mengingat agendanya hari ini. Ia sudah ke perusahaan untuk melamar tapi di usir secara paksa drai sana yang tidak ia pahami bagaimana mungkin itu terjadi? Apakah ayahnya bukan pemilik perusahaan lagi atau apa entahlah.


"Bisa ku tebak telpon kali ini akan diangkatnya!" Tegasnya dan menghubungi ulang nomor tersebut.


"Halo" ucapnya dahulu ketika tersambung.


"Mengapa?" Tanya orang diseberang sana.


"Heheh- apakah anda sudah tidak menganggap ku anak lagi?" ucapan penuh tanya.


" Hidup saja dengan melakukan apa yang mau kau lakukan tanpa keluar dari batasannya!" jawab orang tersebut.


"Pa! Apa kita sejauh ini sekarang?" Sena seperti tertampar dengan ucapan ayahnya.

__ADS_1


"Baik-baiklah. Semua tidak melulu akan berputar ke arahmu ada masa dan waktunya semuanya berbalik untuk sedikit menjauh!" Ucap Reza diseberang sana.


"Apakah ini jawaban dari ketidakpulanganmu beberapa tahun ini?" Tanya Sena miris.


"Kau sudah dewasa. Kau pun tahu bagaimana hidup memperlakukan beberapa orang tidak adil. Jika saja semua bisa di selesaikan dengan uang maka mungkin tidak seperti ini kepadanya!" ucap Reza lagi.


"Dewasa? Ya aku udah dewasa sekarang! Itu sebabnya aku berani menghubungi mu kali ini dan bertanya     mengapa demikian?" Sela Sena dalam ucapannya ayahnya.


"Tidak usah terlalu keras memikirkannya! Waktu akan menjawab segalanya. Sekarang nikmati saja kenyamanan yang kau miliki tanpa memberatkan orang lain-" ucapan Reza terpotong.


"Aku akan ke Los Angeles besok! Aku ingin bertemu langsung dengamu!" tegas Sena.


"Jangan pernah temui aku!"teriak Reza di seberang sana.


"Kenapa?" Sena sedikit tersenyum miris.


"Karena sama saja. Itu tidak akan membuatnya kembali hidup dan kita akan bahagia seperti dulu semasih bersamanya!" jawab Reza dingin.


"Sampai kapan Papa terus nyalahin gue soal kepergiannya? Sampai kapan?" Teriak Sena dengan lelehan bening sudah membasahi pipinya.


"Sampai kapan? Papa bahkan tidak tahu bagaimana kedepannya sekarang! Jadi, jangan pernah temui Papa, karena itu semua tidak akan mampu membuat Papa merelakan dan mengikhlaskannya!" ucap Reza datar.


"Tapi kenapa?" Tanya Sena dingin.


"Karena setiap melihat mu mengingatkan aku dengannya! Jadi jangan pernah muncul di hadapan Papa lagi! Baik-baik disana!" jawab Reza tersenyum miris.


"Oke, baiklah. Terimakasih untuk jawabannya! Dengan ini aku gak bakal nyesel sama keputusan yang aku buat dan gak akan bingung dengan apa yang akan ku lakukan!" ucap Sena pada akhirnya.


"Ya. Memang seharusnya seperti ini. Jaga Ivan dengan baik ia satu-satunya yang ada dan terus ada bersamamu sekarang!" ucap Reza sedikit tersenyum.


"Tidak perlu di ingatkan. Kami selalu saling menjaga dengan baik! Terimakasih untuk waktunya saya tutup!" ucap Sena mengakhiri telponnya.


"Hufhh. Jalanan ini sudah punya ceritanya! So, mari mengambil keputusan dengan baik dan berlalu dengan cepat untuk waktu yang sedikit lama dalam jarak yang tak terhitung jauhnya!" gumam Sena tersenyum simpul dan berjalan memasuki rumah.

__ADS_1


_28 sept. 2021.


__ADS_2