Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Pergi pada Waktunya


__ADS_3

...Happy Reading :)...


...•...


...•...


...•...


Salah satu kenyataan dalam hidup yang gue alami, gue pahami dan gue terima adalah bahwa hampir semua peristiwa atau kejadian tidak pernah berjalan sesuai rencana dan it’s okay.


Orang sering bilang, apapun persoalannya matahari akan tetap terbit esok pagi. Jadi, hiduplah dengan melakukan apa yang mau kita lakukan dan terus meyakini dan menyadari bahwa semua yang kita lewati sangat luar biasa dengan pencapaian-pencapaian kita di hari-hari kemarin.


Tentang masa depan, kita semua masih memiliki banyak halaman dalam bercerita ataupun menulisnya. Dimana kita sebagai karakter utama tidak boleh beranggapan seolah-olah akhir dari cerita sudah kita tahu dan di tulis lebih awal.


Satu hal bahwa tidak ada yang bisa menebak hari esok.


“Lalu, pada akhirnya gue ingin bercerita,” ujar Sena dengan tatapan hangat kepada sang adiknya.


“Betapa gue begitu lelah, dan ingin menyerah saja,” lanjutnya dengan Ivan yang terus menatapnya penuh arti dan memahami.


“Gue sebenarnya merencanakan suatu hal dan akan gue pastikan, bahwa gue akan menjadi kenangan yang gak bisa di ulang untuk kedepannya dalam kehidupan beberapa orang!” serunya tersenyum miris dengan tatapan nanar yang ia miliki sekarang.


“Ternyata benar, hidup akan lebih nyaman dan tenang kalo kita gak nyari tahu tentang banyak hal yang gak perlu kita tahu. Nanti, gue mungkin akan mengingatnya sebagai apa yang paling mau gue lupain, dan mereka akan mengingatnya pula sebagai apa yang mereka pernah lakukan dan inginkan kembali,” ujar Sena dengan masih tersenyum.


“Kak!” ucap Ivan pada akhirnya.


“Gue tahu fisik dan batin kakak lagi capek! Pasti banyak banget yang kakak pendam dan tumpuk terlalu lama, kakak tau gak kalo sekarang yang lagi dipendam sedang meluap semuanya karena udah terlalu penuh bahkan tak memiliki ruang lagi! Berhenti dan beristirahatlah sejenak. Kakak butuh waktu untuk menyendiri dan merenung. Kesehatan kakak lebih utama dari banyak hal kalo kakak lupa!” ujar Ivan tersenyum hangat dengan menepuk dan merangkul bahu sang kakak.


“Gue udah berhenti sejak lama dek! Bahkan merenung juga sudah terlalu lama. Bukankah ini saat yang tepat untuk melepas dan meninggalkan semuanya?” tanya Sena menoleh kearah adiknya.


“Terkadang kita mesti berada di titik paling sakit dan rendah di kehidupan. Marah dalam diam, menangis pun dalam diam semuanya tentang diam yang tak berujung. Terpaksa tersenyum biar orang pada tahu kita adalah yang paling bahagia.


Kakak sadar gak, ada beberapa pertanyaan yang mungkin bisa saja membuat kita down dalam hidup. Kadang kita capek sama apa yang kita lakuin atau kita hadapi. Kita gak bisa menarik semua orang untuk dapat mengerti akan kita.


Rasanya menyakitkan bukan? Makanya, sekarang kakak ingin berhenti. Kakak ingin menyerah, tapi bukan mau melupakan hanya sedang ingin melewati ini lebih tepat waktu atau buru waktu saja karena tak mau berlarut,” ujar Ivan menjelaskan keadaannya sekarang.


“Kadang gue tuh suka mikir, hidup mau ngasih gue surprise seperti apa sih? Sampe segini amat gue dibuatnya!” seru Sena.


“Untuk jadi lebih dewasa itu, memang seharusnya seperti ini. Dimana, kita mampu marah atau ingin sekali marah tapi kita memilih untuk diam. Kira-kira sepertu itu situasinya,” ucap Ivan tersenyum.


“Lalu apa rencana kakak?” tanya Ivan paham dengan arah pembicaraan mereka tadi.


“Pergi!” jawabnya pasti.


“Secepat ini?” tanya Ivan tak percaya.


“Hm, bukankah barusan lo juga ngasih tahu gue kalo keadaannya bisa saja memburu waktu?” Sena balik bertanya.

__ADS_1


“Ya, tapi ini tuh terlalu cepet kak! Ivan bahkan belum selesai kuliah coba,” gerutu Ivan.


“Keputusan gue udah bulat, gimana dong?” ejek Sena.


“Kak! Jika ini yang terbaik menurut kakak, pergilah! Ivan selalu dukung dan percaya kok. Ivan bakal lebih berusaha lagi setelah ini,” ujarnya tersenyum penuh arti.


“Hm,” gumam Sena membalas dengan keadaan ia masih setia bersandar di punggung adiknya.


Dari sini gue paham ada beberapa hal yang gak bisa kita kendaliin, salah satunya adalah pandangan seseorang terhadap kita. Semua kebaikan atau sikap kita tidak akan menjadi tolak ukur yang pasti untuk membuat seseorang suka terhadap kita, karena orang terkadang menyukai ataupun membenci kita dengan sudut pandangnya sendiri.


Esoknya....


Ditempat mereka sering melepas lelah ketika sibuk bekerja adalah kafe milik perusahan Bayu, dengan suasana yang nyaman, pemandangan dari tingkat atas gedung adalah pemandangan paling indah dikala malam.


Disinilah mereka bertiga melepas penat dengan sekedar minum dan merilekskan otak.


“Woahhh! Melelahkan juga akhir pekan ini,” Leo merentangkan tangannya dan menghebuskan nafasnya kasar.


“Lelah sekali. Sampai gue gak mau melakukan apa-apa lagi selain duduk dan diam,” sambung Jeno.


“Kita butuh ini sepertinya,” seru Bayu mengangkat beberapa botol minuman beralkohol itu.


“Hahh, lo benar. Kita harus menghabiskan malam ini dengan sedikit beda,” seru Leo yang sudah mengangkat gelasnya untuk siap menerima tuangan alkohol dari Bayu.


“Gue gak mau sampai mabuk. Besok ada klien penting!” seru Jeno.


Dan mereka pun minum dengan tenang sambil bercerita dan menghabiskan waktu mereka dengan baik.


“Tetap seperti ini, sambil memikirkan bagaimana caranya agar kita kembali baik,” jawabnya.


“Tapi, kita harus mengambil keputusan secepatnya, sebelum semuanya terlambat. Ini udah setahun lebih kalo lo lupa!” seru Leo.


“Lo bener Bang. Sena bahkan setahun ini gua gak tahu, apakah ia hidup dengan baik,” sela Jeno.


“Kita harus cepat memperbaikinya, kita haru mencari bukti kecelakaan waktu itu dan membuktikan bahwa keluarga Sena gak salah dalam hal itu. sambil kita mengungkapkan kejadian yang dialami Sena tahun lalu yang dalangnya adalah Mira sendiri. Dengan begitu, ia tidak bisa bertindak lebih jauh lagi jika ia lebih dulu tahu tentang status Sena.


“Kita sudah berusaha lebih keras bang. Dan sepertinya orang-orang gue akan menemukan titik terangnya," Jeno.


“Suruhan gue juga udah mengumpulkan bukti banyak kasus yang di dalangi oleh keluarga Mira, dan beberapa bukti teror yang Sena terima waktu itu.!” seru Leo.


“Semuanya sepertinya sudah hampir jelas. Lalu bagaimana jika pada akhirnya diantara kalian ada yang memilih untuk berhenti dan menyerah?” sela Bayu dengan pemikirannya sendiri.


“Ku harap bukan Sena yang menyerah. Karena gue yakin dia yang terkuat dan mampu bertahan dan itu mungkin gak akan terjadi!” tegas Jeno.


“Tapi orang bisa berubah Jen! Jangan sampe lo lupa itu,” ujar Bayu membenarkan ucapannya.


“Orang mungkin akan berubah pada masanya. Dan Sena salah satunya, tapi gue sama dengan lo Jen, gue harap kita gak sia-sia melakukan banyak hal sejauh ini!” tambah Leo.

__ADS_1


“Baiklah, jika kalian masih seyakin sekarang,” ujar Bayu mengalah.


“Kita harus pada prinsip dan rencana kita, jangan sampai gegabah dalam bertindak. Gue balik lebih dulu ya,” ujar Leo dan beranjak pergi dari tempat itu.


Setelah kepergian Leo..


“Jeno! Gue Cuma ngingatin lo, jangan sampai lo melewatkan beberapa hal penting hanya karena terlalu sibuk menyusun rencana!” seru Bayu sedikit ragu pada sahabatnya.


“Gue akan selalu terjaga Bro. Tenang aja,” ujar Jeno lebih percaya diri.


“Satu hal lo perlu tahu, perempuan itu lebih bersemangat dari laki-laki. Saat berpisah dan pergi meninggalkan, mereka akan membawa pergi semua cinta yang akan dan sudah mereka beri dan miliki. Dan saat itulah kita baru kembali sadar dan berusaha memberi setengah dari cinta yang tersisa yang kita punya. Percuma berlutut dan memohon agar mereka tak pergi jika itu sudah terjadi.


Dan ini lo harus ingat baik-baik, walau terlihat lemah lembut, perempuan itu dingin dan tegas lebih dari kita.


So, kalo menurut lo dia orangnya, kembali dan buat ia tetap ada dan masih bisa lo gapai dan rengkuh agar lo gak nyesel,” ucap Bayu panjang lebar dan menepuk bahu Jeno sebelum pergi meninggalkannya seorang diri.


“Apa lo akan memilih berhenti dan menyerah? Gue harap lo masih bertahan sedikit lagi, gue gak akan pernah bisa kalo pada akhirnya gue akan kehilangan saat gue lagi berusaha untuk tetap membuat lo ada dan terlihat, sedikit lagi kita seperti sekarang,” gumam Jeno dan beranjak pergi dari kafe tersebut dan melangkah pelan menyusuri jalanan pada malam hari karena hari belum terlalu malam. Masih banyak orang yang berlalu lalang di jalanan.


Di jalanan yang sama....


Seseorang tengah berjalan sambil menghirup udara malam yang sedikit dingin dan nyaman. Menurutnya, ini akan menjadi terakhir kalinya ia berjalan dan merasakan suasana kota pada malam hari. Akan butuh waktu yang sangat lama untuk kembali kesini suatu saat yang tidak ia tahu itu kapan. Yang jelas ia hanya ingin menyimpan kenangan di kota ini.


Karena terlalu sibuk menikmati suasana malam, ia sampai tidak sadar jika seorang cowok seumuran dengannya sudah berdiri dan menatapnya begitu lama dengan jarak beberapa meter dari tempatnya berdiri sambil terus menatapnya dengan tatapan penuh arti.


Ia yang merasa seperti ditatap pun menoleh dan bertemu pandang dengannya, dan ia pun berucap “Jeno!” dalam hatinya saja karena sejauh ini mereka sudah tak lagi saling sapa dan bahkan beradu pandang seperti sekarang.


Tak ada ucapan sekatapun, sampai pada akhirnya sosok Jeno melangkah dengan pandangan yang sudah berlawanan arah dan melewatinya tanpa bertegur sapa lagi.


Ia pun hanya bisa menatap dan sedikit tersenyum seraya dalam hatinya berkata “Tuhan begitu baik, masih memberiku kesempatan untuk melihat lo sekarang dan mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya. Tapi hidup begitu kejam, membolak-balikkan hubungan antara kita dengan sampai hari ini masih dengan perasaan yang sama kalo gue benar-benar gak ngerti. Kalo memang pada akhirnya kita akan berpisah dan tak bertemu lagi, kenapa keadaan mempertemukan kita lagi? Gue bahkan bingung perasaan apa lagi ini!” ucapnya dalam diam sambil mengiringi beberapa langkah Jeno di depannya sampai pada akhirnya ia memilih untuk mengalah lagi yang terakhir kalinya.


“Jeno!” panggilnya dan itu mampu membuat langkah Jeno berhenti dengan jarak mereka mungkin lima meter saja.


Tak ada jawaban ataupun pergerakan dari orang yang ia panggil. Bahkan ia masih hanya berdiri tanpa menoleh kerahnya.


“Terimakasih!” ucapnya dengan sedikit tersenyum dalam pandangannya yang lurus dan tak fokus.


Karena melihat pergerakan Jeno yang sedikit berdiri menyamping di hadapannya, ia pun melanjutkan kata-katanya untuk menjawab pertanyaan Jeno mungkin, kenapa ia harus berterimakasih dan untuk apa.


“Terimakasih untuk semuanya. Jika sekarang lo bertanya untuk apa gue berterimakasih. Baik jarak, kehadiran, sikap, masa lalu dan bahkan kepura-puraan ini. Bahkan juga rencana yang udah gue susun dan rangkai dengan susah payah sampai matang pun akan tetap tenggelam dan terhapus satu-persatu pada akhirnya.


Gue gak paham sampai detik ini. Tapi, gue masih bisa mengalah yang mungkin untuk terakhir kalinya sekarang. Gue cuma mau bilang, sekarang gue bahkan udah gak ngerti sama perasaan gue sendiri setelah gue gak ngerti dengan beberapa orang dihari kemarin,” ucap Sena tersenyum.


“It’s okay. Pada akhirnya kita juga kan memilih,” tambahnya lagi dan beranjak pergi dengan langkah yang sedikit cepat dan pasti.


Jeno yang berdiri menyamping tadi pun menoleh dan menatap gadisnya menurutnya saat ini yang melangkah jauh seakan membawa setengah dari dirinya pergi, ia merasa seperti ada yang sedikit berubah hingga ia pun berusaha memanggilnya “See,,!” dan bahkan suaranya saja hanya terdengar lirih mengiringi langkan Sena yang semakin menjauh.


“Maaf. Gue udah memilih untuk berhenti dan menyerah. Gue sadar gue cinta sama Rey dan gue juga cinta sama lo Jeno. Hebat bukan? Gue sadar ketika gue ditinggal dan akan meninggalkan. Diwaktu yang bersamaan gue bahkan gak bisa memilih dan berakhir gue yang akan pergi dan memilih meninggalkan.

__ADS_1


Woahh, selamat tinggal cinta pertama yang rumit. Sampai bertemu di takdir yang berbeda dengan cara dan pertemuan yang berbeda ataupun mungkin dengan orang yang berbeda nantinya!” batin Sena melangkah jauh dan tak pernah kembali lagi.


^^^_04 Okt. 2021^^^


__ADS_2