
🌺 hem... 🌺
* * *
' trrtttt ' getar yang dibarengi dengan dering ponsel terdengar.
Bian yang duduk di sofa dengan pandangan menghadap ke jendela seketika menoleh pada benda pipih yang ada di atas meja sisi kanannya.
'' ya, Bik ? '' sambut Bian pada sambungan nirkabel dari assisten rumah tangganya.
'' mister, Oma mister..'' suara Susan terdengar panik.
Sontak Bian berdiri. Wajah yang tadinya murung perlahan muncul guratan kecemasan saat mendengar penuturan Susan .
Setelah telpon berakhir, Bian pun bergegas mengajak pak Tole pulang .
Sepanjang perjalanan, Bian nampak begitu gelisah.
Belum selesai memikirkan Nana, kini ia diliputi kekhawatiran tentang kondisi Omanya.
Pak Tole pun memacu kendaraan lebih cepat dari biasanya. Dan begitu sampai, mereka tak lantas pulang ke rumah namun menuju ke rumah sakit .
Sesampainya dirumah sakit, nampak Natasya berdiri di depan pintu salah satu kamar VIP .
Bian menghentikan langkahnya ,memutar arah kakinya untuk berhadapan dengan sang ibu.
Setelah berbulan-bulan tak bertatapan, akhirnya ia kembali menatap mata sang ibu yang sembab.
Bian maju selangkah, kedua tangannya terangkat dan merengkuh tubuh Natasya.
'' Bian '' Natasya menumpahkan tangis dalam dekapan anaknya.
Bian mengelus punggungnya. Mencium pucuk kepala Natasya. Kedua mata nampak merah.
Bagaimana pun ia kesal dan kecewa pada Oma dan Ibunya, nyatanya ia tak betah berlama-lama mengacuhkan mereka. Apalagi sampai membenci mereka. Terlepas dari apapun yang telah mereka lakukan padanya, terutama pada sang istri. Nana.
Bian melepas pelukannya, lalu tanpa sepatah kata ia mengajak masuk Natasya dengan merangkul pundaknya.
Begitu memasuki ruangan, Susan langsung menghampiri dan menyapa.
'' semalam Oma bilang gak enak badan.
Saya mau ngabarin mister, tapi dilarang.
Katanya nanti juga baikan kalau uda tidur.
Tapi semalaman Oma tidurnya gak nyenyak.
Kaya gelisah gitu . Bahkan sampai ngigau.
Nah, tadi pagi waktu saya mau bangunin , oma gak buka mata. Saya uda takut.
Tapi begitu saya panggil berkali-kali akhirnya Oma buka mata sebentar tapi habis itu tertutup lagi.
Katanya badannya lemas.
Ngomongnya juga pelan banget.
Jadi saya langsung aja nelpon rumah sakit minta dikirimin ambulan.
Begitu sampai di rumah sakit Oma langsung dibawa ke UGD. Sempat masuk ruang observasi untuk pemeriksaan jantung.
Habis tu' dibawa ke lab juga buat ambil darah.
Kata petugas yang nanganin di UGD tadi, kalau hasilnya uda keluar , pihak keluarga akan dipanggil untuk bertemu dokter.
Ini Oma lagi dipasang oksigen.
Soalnya ,Oma kaya kesulitan bernafas gitu '' Susan mengakhiri ceritanya sembari menggeser tubuh agar Natasya dan Bian dapat melihat dengan jelas pada Elisabeth yang terbaring di kasur pasien dengan dua orang perawat yang tengah memasang selang oksigen.
Ibu dan anak itu melangkah perlahan menuju ranjang.
'' makasi, sus '' ucap Natasya pada kedua perawat yang pamit pergi usai memastikan pekerjaan mereka selesai dengan baik.
Natasya dan Bian berdiri disisi Elisabeth yang matanya tertutup rapat.
Natasya meraih jemari yang punggungnya tertusuk selang infus.
Air matanya sejak tadi tak berhenti mengalir dengan sesekali terdengar sesenggukan. Natasya membungkuk, menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Elisabeth.
Dapat ia rasakan nafas sang ibu yang terdengar kasar dan tersendat-sendat.
'' maafkan, aku mah '' Natasya berbisik, berharap Elisabeth masih dapat mendengar permintaan maaf yang seharusnya ia lakukan sejak dulu.
Pepatah lama selalu saja diabaikan.
Penyesalan datang terlambat. Jika tidak demikian maka tidak akan ada manusia yang berbuat kesalahan. Dan tak akan ada pembelajaran.
Tapi bukan berarti berbuat salah dan penyesalan itu adalah hal baik .
Hanya saja itu seperti sudah menjadi hukum alam. Manusia dengan keegoisannya.
Waktu berjalan terasa begitu lambat.
Malam telah datang sejak dua jam lalu. Bian menghampiri sang ibu yang duduk di samping Elisabeth sambil menggenggam jemari tua itu.
'' aku keluar keluar sebentar,ya mi. Kita semua dari tadi belum ada yang makan, kan? '' ucap Bian seraya mengelus pundak sang ibu.
Natasya menaikan sedikit kepalanya dan mengangguk .
Ia pun memang sudah sangat lapar.
Sebab sejak siang tadi ia sudah berada dirumah sakit dan belum mengisi perutnya dengan apapun kecuali air putih.
Bian pergi meninggalkan sang ibu yang masih betah menunggui Oma nya membuka mata. Dengan Susan yang juga tak sedetikpun beranjak kemana-mana.
Setelah mendapat apa yang ia cari, Bian segera kembali .
' srak ' Bian meletakkan bungkus makanan di atas meja.
Dilihatnya Natasya dan Susan berdiri di kedua sisi Elisabeth.
Bian mendekat, senyumnya merekah melihat sang Oma duduk dengan mata sayunya yang terbuka.
'' Oma '' Bian memeluk tubuh yang seperti tak bertulang itu dengan erat.
'' mister.. mister.. pelan-pelan, misteri '' Susan menggoyang lengannya.
Bian yang menyadarinya pun segera melepaskan pelukannya.
'' Su-susan.. '' panggil Elisabeth pada wanita yang selama ini telah membantu dan merawatnya dengan baik.
Susan mendekat, dengan sedikit kepala dicondongkan pada Elisabeth.
'' Su-susan, tolong tinggalkan kami sebentar '' ucap Elisabeth dengan sisa tenaganya.
Susan mengangguk lalu melangkah keluar seperti yang diminta sang majikan.
Sepeninggalnya Susan, Elisabeth terlihat berusaha membuka oksigen yang membelit area mulut dan hidungnya.
'' ma.. '' Natasya mencoba mencegah dengan menahan tangan Elisabeth yang sudah menggantung.
' deg ' Elisabeth menatapnya tak percaya.
Setelah puluhan tahun, ia akhirnya mendengar lagi sebutan yang begitu ia rindukan keluar dari mulut putrinya.
Elisabeth lantas melanjutkan membuka oksigen hingga terlepas.
Seketika itu pula ia merasa nafasnya menjadi berat.
Namun dengan demikian ia jadi bisa lebih leluasa bicara dan suaranya pun akan lebih jelas terdengar.
'' katakan, lagi.. '' ucapan Elisabeth menatap lekat-lekat kedua mata Natasya yang tak berhenti mengeluarkan air mata.
'' mamah '' Natasya terdengar serak sebab tangisnya kian menjadi-jadi.
Elisabeth lalu memegang lengan dan menariknya.Natasya yang tau akan maksudnya pun mendekat.
Ibu dan anak itupun saling berpelukan.
__ADS_1
Suasana haru menyelimuti seisi ruangan.
Samar terdengar suara dua orang yang saling bergantian mengucapkan maaf berkali-kali.
Hingga beberapa saat berlalu dan keduanya sudah nampak lebih tenang.
Bian lalu memanggil Susan untuk kembali masuk.
Ia pun menyodorkan bungkus makanan yang langsung diterima Susan sambil mengucapkan terima kasih.
Namun sebelumnya Bian sudah lebih dulu memberikan bungkus makanan yang sama isinya pada Natasya.
Sementara Natasya dan Susan tengah mengisi perut, Elisabeth nampak sedang diperiksa untuk dicek kondisinya oleh perawat yang dipanggil Bian beberapa saat tadi.
Dan Bian memilih keluar untuk mengesap beberapa batang rokok.
Ia berdiri di tangga darurat sambil menikmati candunya.
Bian menghela nafas. Kekhawatiran perlahan menyusut melihat kondisi Elisabeth yang sudah membuka mata dan sudah bisa duduk.
Tak lama kemudian, ia pun kembali ke ruangan dimana Elisabeth dirawat.
Saat memasuki kamar, ia melihat Susan yang sedang membuang bungkus makan ditempat sampah sisi pintu kamar mandi.
Nampaknya Susan dan Natasya sudah selesai makan.
Bian berjalan menuju ranjang dan duduk di tepiannya.
Ditatapanya dua orang wanita yang juga sedang menatapnya.
Dan secara bersamaan mereka mengukir senyum diwajah masing-masing.
'' Nana sudah melahirkan '' ucap Bian .
Berbeda dengan Bian yang tetap mempertahankan senyumannya. Senyum Natasya dan Elisabeth justru luruh .
Hati mereka serasa di penuhi gemuruh .
Lalu seperti ada sesuatu yang tiba-tiba menancap perlahan , siring dengan ingatan akan perlakuan mereka pada Nana.
Semakin terasa menekan ke dalam, maka rasa sakit pun semakin terasa dan menghujam didalam sana.
Elisabeth dan Natasya sama-sama tak bisa berpaling dari Bian .
Bagaimana mungkin Bian bisa mengatakan hal itu dengan ekspresi yang begitu tenang ?
Bian lalu mengeluarkan ponselnya, membuka Vidio yang ia dapatkan dari Han. Kemudian ia putar dan memperlihatkannya pada mereka.
Mata Natasya dan Elisabeth terbuka lebar melihat sosok yang menggeliat dengan begitu menggemaskan .
Mereka terperangah. Tak bisa berkata apa-apa .
Senyum yang tadinya surut perlahan pasang lagi saat mendengar suara tangisan yang begitu menggetarkan jiwa.
Andai berada di hadapan mereka, tentu sudah diangkat dan digendong untuk ditimang.
Bibir Natasya bergetar . Jemarinya terangkat untuk mengusap layar yang tengah menampilkan wajah polosnya.
'' dia laki-laki '' terka Natasya yang menarik tangannya dan meletakkannya di bibir untuk membekap mulutnya sendiri.
Ia melihat pada Bian yang mengangguk membenarkan. Seketika tangisnya pun tumpah .
Begitu pun dengan Elisabeth.
Ia bahkan mengambil alih memegang ponsel untuk melihat lagi lebih jelas .
Ia menggeleng tak percaya. Itu cicitnya.
Seharusnya saat ini mereka berkumpul menyambut kedatangan anggota keluarga yang baru saja dilahirkan. Bukan berkumpul mengelilinginya dan hanya bisa menatap mahluk kecil itu tanpa bisa menyentuhnya secara nyata.
Ia menekan dadanya yang terasa sesak. Membuatnya tak bisa berucap .
" Bi.. Bian.. " Elisabeth meletakkan ponsel yang masih menyala, menatap Bian dan memintanya untuk mendekat.
Sedikit membungkuk, Bian kini berada di jarak yang sangat dekat dengan wajah Omanya.
" ma-maaf Oma ... maafkan Oma, sayangku ... '' Elisabeth terbata karena isak tangis yang melanda.
'' bawalah mereka pulang, Bian.. ''
Bian menggeleng. Ia usap air matanya dan mencoba menahannya dengan menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.
'' aku gak bisa memaksanya, Oma.
Nana gak mau pulang. Bukan. Bukan gak mau. Tapi belum mau pulang ''
'' ... '' Elisabeth bertanya lewat sorot mata.
Kenapa ? apa karena kami ? Elisabeth merasa sakit dihatinya kian terasa perih.
Beberapa menit diisi dengan keheningan.
Bian kembali memasukkan ponselnya kedalam saku.
Sedangkan Natasya membantu sang ibu untuk berbaring .
" apa kau tidak membenci kami, Bian ? '' tanya Natasya setelah menarik selimut hingga batas dada Elisabeth .
Ia tatap Bian yang wajahnya nampak lembab sama seperti wajahnya dan Elisabeth.
'' aku tak bisa membenci kalian. Karena aku sangat mencintai kalian . Sama seperti aku mencintai Nana.
Jadi tak ada alasan aku harus memilih satu di antara kalian ''
'' ... ''
'' semua adalah salahku.
Saat kalian tak bisa menerima Nana , yang kulakukan hanya memintanya bersabar dan bertahan.
Secara tak langsung, aku telah memaksanya untuk memaklumi semua perlakuan kalian .
Begitu pun saat Nana akhirnya menyerah dan tak bisa bertahan karena kalian yang selalu ada diantara kami.
Dia memutuskan untuk pergi dan aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegahnya.
Ak-aku benar-benar tak tau harus bagaimana ketika berada di tengah-tengah kalian ''
Natasya dan Elisabeth saling tatap sesaat, lalu sama-sama kembali melihat Bian.
'' perginya dia adalah karena kurangnya perhatian dan ke pekaan ku terhadap perasannya.
Bahkan istriku hamil pun aku tak tau ''
'' ... ''
'' sebagaimana sikapku pada kalian.
Aku tak marah dan menunggu hingga kalian sadar sendiri.
Dan akan kulakukan hal yang sama pada Nana.
Aku tak akan marah. Apalagi memaksanya untuk kembali . Meski aku sangat merindukannya dan ingin melihat anakku.
Aku akan menunggunya dengan diam.
Seperti yang kalian lihat bagaimana aku beberapa bulan ini pada kalian.
Meski aku tak tau pasti, tapi aku yakin akan datang saatnya dia pulang.
Aku hanya perlu bersabar untuk menyambut hari itu ''
Sekali lagi dua wanita di hadapannya menangis tergugu.
Natasya menunduk dengan punggung bergetar.
Begitupun dengan Elisabeth yang memejamkan matanya kuat .
Kedua tangan Bian terangkat.
__ADS_1
Satu mendarat dipunggung tangan Elisabeth dan satunya lagi menggenggam jemari Natasya.
'' Bian... maafkan Oma.. sampaikan juga pada Nana kalau Oma benar-benar menyesal ... '' ucap Elisabeth disela isak tangisnya.
'' iya, Oma '' Bian tersenyum dengan air mata yang kembali jatuh.
Tak ada yang perlu disesali lagi. Dan tak ada yang perlu di maafkan lagi. Bian mengikhlaskan segalanya. Jika memang ini yang harus ia jalani, maka ia akan menerimanya dengan lapangan dada.
* * *
Keesokan paginya.
Natasya terbangun setelah semalam tidur dengan posisi duduk di samping ranjang.
Dilihatnya Susan tengah menyeka wajah Elisabeth dengan lap yang dibasahi air hangat.
Elisabeth menoleh dan tersenyum dengan mata yang terlihat berat untuk dibuka.
Sama sepertinya yang juga merasa jika kedua matanya pasti bengkak karena semalam terlalu banyak mengeluarkan air mata .
'' pagi, mah '' Natasya berdiri dan mendaratkan kecupan di pipi Elisabeth.
Ia lalu meminta untuk Susan berhenti .
Kemudian ia mengambil alih apa yang tadi tengah dikerjakan Susan.
Dan berlanjut dengan menyuapi Elisabeth makan.
Interaksi kedua nampak begitu hangat. Tak seperti hari-hari kemarin yang dipenuhi perdebatan.
Setelah selesai mengurusi keperluan dan kebutuhan pagi sang ibu , Natasya pun beranjak ke pergi ke kamar mandi . Ia butuh guyuran air untuk menyegarkan diri.
Tepat disaat Natasya keluar dari kamar mandi, Bian pun terlihat baru saja masuk . Ia tadi keluar untuk membeli sarapan di kantin rumah sakit.
Keduanya sama-sama melihat ke ranjang, pada Elisabeth yang dibantu oleh Susan untuk berbaring.
Susan lalu berjalan menghampiri ibu dan anak yang masih terpaku di tempat mereka berdiri.
'' Oma bilang matanya berat. Jadi Oma mau tidur lagi '' ucap Susan .
Bian dan Natasya mengangguk paham.
Agar tak menimbulkan suara berisik yang dapat menganggu kenyamanan tidur Elisabeth, keduanya memutuskan keluar kamar untuk mencari udara segar.
Mereka memutuskan berkeliling sambil menunggu jam dokter berkunjung.
Lima menit sebelum pukul delapan, keduanya memutar langkah untuk kembali ke kamar.
Hanya selisih beberapa detik setelah memasuki kamar. Pintu kembali terbuka. Natasya dan Bian yang belum sempat menghampiri Elisabeth pun menoleh dan langsung menyambut masuknya dokter dan beberapa orang berjas putih serta dua orang berseragam perawat yang mengekor dibelakang.
'' selamat pagi nyonya Elisabeth '' sapa dokter yang pada Elisabeth yang masih nampak tertidur.
Elisabeth bergeming.
Memang saat ditinggal bersama Susan tadi, ia mengatakan matanya belum puas terpejam. Karena itu iapun kembali tertidur.
'' Nyonya '' dokter menaikan sedikit volume suaranya.
Elisabeth masih bergeming.
Dokter maju hingga sampai di samping ranjang untuk melihat lebih dekat keadaan pasiennya.
Mereka yang memperhatikan apa yang tengah dokter lakukan terlihat saling lempar pandangan.
Usai meletakkan ujung jemari dibawah rahang kanan Elisabeth, dokter pun berbalik.
'' apa tadi tidak ada yang menjaga beliau ? ''
Susan nampak gelagapan. Pasalnya ia tak begitu memperhatikan jam . Namun ia memastikan jika ia belum lama ia memeriksa keadaan Elisabet dan dengan yakin mengatakan sang majikan masih dalam keadaan bernafas .
'' beliau sudah tidak bernafas. Denyut nadinya pun sudah tak ada ''
Natasya tersentak hebat. Matanya terbuka lebar dan seketika itu pula air mata mengalir .
Setengah berlari ia menghampiri ranjang dan langsung memegang bahu Elisabeth.
Ia goyang dan ternyata tubuh itu telah lunglai. Tak ada satu anggota tubuhnya yang merespon dan bergerak.
Pertanda sudah tak ada lagi raga yang menempati tubuh itu.
'' mamah.. mah.. mamah.. '' Natasya mulai histeris.
Bian yang melihat sang ibu mulai hilang kendalikan itupun mendekat dan segera memeluknya.
Ia bawa tubuh itu menjauh untuk memberi ruang bagi dokter dan para perawat memeriksa Elisabeth.
Dokter menggeleng .
'' nyonya Elisabeth sudah meninggal ''
Tubuh Natasya melemas , ia hampir roboh namun Bian menahannya agar tak terjatuh.
* * *
Tak banyak yang menghadiri pemakaman Elisabeth.
Kerena memang mereka tak memiliki kerabat maupun keluarga di Jakarta.
Hanya beberapa orang terdekat dan kenalan yang terlihat datang dan turut mengantarkannya ke peristirahatan terakhir.
Setelah semua prosesi selesai di lakukan, satu persatu dari mereka pulang.
Hanya Bian dan Natasya saja yang masih betah berada di tempat pemakaman itu.
Berdiri sambil menatap nisan yang berupa kayu dimana terukir nama , tanggal lahir dan waktu wafatnya.
'' cinta terbesar di dunia ini adalah cinta orang tua pada anaknya.
Karena itu, para orang tua rela dan bisa melakukan apapun untuk anaknya.
Tak jarang cinta yang berlebihan itu membuat sang anak merasa tak nyaman . Bahkan ada yang sampai merenggut kebahagiaan anak itu sendiri.
Itu karena apa yang menurut baik pasti akan mereka inginkan untuk si anak.
Itulah yang terjadi pada kami, Bian.
Oma mu hanya terlalu mencintaiku.
Namun cintanya justru mengekang kebebasan ku .
Dia tak bisa menerima pilihan hidupku.
Dan berakhir dengan masing-masing dari kami yang tak ada mau mengalah.
Begitupun dengan yang mami lakukan padamu.
Tapi percayalah, mami sama sekali tak berniat untuk menghancurkan rumah tangganmu.
Mami hanya ingin dia menjadi sosok istri yang pantas untuk mu. Karena mami inginkan yang terbaik untuk mu.
Tapi ternyata cara mami salah. Dan sekarang malah kau yang harus menerima akibatnya.
Jika di beri kesempatan, mami akan menebus semua kesalahan mami pada Nana.
Jadi, berusahalah membuatnya kembali Bian.
Bawa pulang istri dan anakmu...
Katakan padanya bahwa mami tak akan pernah lagi muncul di hadapannya . Apalagi menganggu pernikahan kalian.
Mami benar-benar menyesal...
Mami akan meminta maaf, bila perlu berlutut asal dia mau pulang dan kembali bersamamu ''
'' tidak perlu sampai seperti itu, mi.
Kita tunggu saja sampai dia bisa berdamai dengan hati dan perasannya.
Dia tau kapan harus kembali pulang.
__ADS_1
Karena akan percuma jika ku bujuk kalau dia memang masih belum bisa memaafkan ku ''