
🌺 hem.. 🌺
* * *
Langkah kaki terdengar masuk bersusulan.
Han berhenti sejenak, berbalik menutup pintu .
Sedangkan Cecilia terus jalan hingga sampai kedalam.
Cecilia menghentikan kedua kakinya sejajar di depan jendela .
Wanita blasteran itu menghela nafas dengan pandangan mengarah keluar sana.
'' mereka bilang itu adalah hal paling nikmat .
Sebab itu dikatakan sebagai ' surga dunia '.
Hal yang bisa membuat siapapun yang telah melakukan dan merasakan nikmatnya pasti ketagihan .
Itu seperti candu . Yang bisa datang secara tiba-tiba dan membuatmu ingin mengulanginya lagi dan lagi.
*** adalah sesuatu alamiah. Yang secara naluri dibutuhkan manusia untuk beberapa alasan.
Nafsu adalah salah satu dorongannya.
Dalam sebuah pernikahan, *** adalah fondasi penting untuk kebahagiaan pasutri dengan saling merasakan satu sama lain , menyalurkan cinta dalam bentuk penyatuan tubuh ''
Cecilia berdecak. Membaca pesan demi pesan dari teman-temannya.
Seminggu sebelum menikah, ia memberitahu kabar bahagia itu pada beberapa teman terdekatnya melalui pesan whatsapp.
Mereka semua mengaku tak menyangka sekaligus terkejut.
Sebab Cicilia sejak dulu memang tak pernah sekalipun terlibat hubungan dengan laki-laki .
Dan mereka juga tau jika Cicilia masih tersegel utuh.
Cecilia terperangah saat pertama kali membaca balasan yang ia terima . Mereka menggodanya dengan menyinggung soal sexs.
Tapi tidak dari yang sudah menikah.
Salah satunya memberi wejangan pada Cecilia, tentang bagaimana cara melakukannya untuk pertama kali.
'' Jika dilakukan dengan pasangan yang saling mencintai, rasanya pasti akan sangat luar biasa "
Awalnya Cicilia gugup ,penasaran sekaligus tak sabar untuk melakukannya.
Namun semuanya berbanding terbalik dengan yang ada di bayangannya.
Padahal ia dan Han memulainya dengan perlahan dan penuh gairah. Namun ketika mereka sampai di intinya, yang ia dapatkan hanya lah rasa sakit.
Belum pun ia menemukan ' nikmat ' yang mereka katakan, sang suami sudah mencapai puncak dan melepaskannya didalam.
Malam pertamanya berakhir begitu saja.
Ia yang tak memiliki pengalaman ,hanya bisa terdiam karena tak tau harus berbuat apa.
" Katanya bisa dilakukan berkali-kali ? Tap- tapiiii ''
Cecilia melirik Han yang ambruk dan langsung tertidur di sampingnya.
Ia yang tadinya penasaran pada ' nikmat yang mereka bilang '. Kini ragu akan hal dimaksud .
'' Omong kosong !
Nikmat darimana ?
Sakit iya ! "
Kesal. Cecilia membuyarkan ingatan semalam.
Ia yang hendak berbalik dikejutkan dengan pelukan dari belakang.
Han melingkarkan kedua tangan di pinggang Cecilia, dengan dagu menancap di pundak .
Cecilia bergeming.
Untuk sesaat keduanya tetap seperti itu.
Hingga pelukan Han mengendur. Tangannya turun memegang kedua sisi pinggul dan memaksa tubuh istrinya berputar menghadapnya.
" Kau menghindari ku "
Cecilia memalingkan wajahnya.
Enggan bersitatap.
Namun Han menyapu bibir di permukaan wajahnya dengan lembut.
Membuat leher Cecilia berputar dan wajahnya pun menatap lurus pada Han.
" Apa kau masih kesal karena malam pertama kita yang mengecewakan ? "
" ... " Cecilia mengulum bibir. Han ternyata menyadarinya.
Han tersenyum, lalu mengecup bibir ranum sang istri sekali.
Bagaimana mungkin ia tak menyadarinya, jika sejak bangun tidur wajah Cecilia muram dan menghindarinya.
" Maaf jika semalam aku sudah egois dan hanya memikirkan kepuasan ku saja.
Aku tak punya pengalaman dan tak tahu apa-apa bagaimana cara melakukannya.
Karena itu juga yang pertama kalinya bagiku ''
__ADS_1
Cecilia mengangguk.
Ia lalu mendekat, merangkul leher Han dengan erat .
'' Maafin, aku ya ? '' bisik Han lagi seraya membalas pelukan istrinya dengan tak kalah erat.
Han menyesal. Teringat bagaimana semalam ia tak begitu memperhatikan istrinya.
Ia hanya terfokus dan tertelan rasa nikmat yang luar bisa. Yang baru pertama kali ia rasakan.
Hingga ia lupa jika hal tersebut seharusnya juga dinikmati oleh sang istri.
Bahkan setelah ia mencapai pelepasannya, ia langsung tidur memunggungi Cecilia.
'' Maukah kau memberiku kesempatan untuk memperbaikinya ?
Aku janji, kali ini dan seterusnya kita akan melakukannya dan sama-sama menikmatinya.
Em ? ''
Cecilia mengangguk.
Keduanya lalu sama-sama melepaskan pelukan, saling menatap dan mendekat.
'' Aku mencintaimu '' ucapan Han sebelum menautkan bibirnya di bibir Cecilia.
" Foreplay den.. Ingat tu.. pemanasan dulu.. jangan main masuk aja..
Nanti istrinya trauma.
Perempuan itu gak kaya kita yaang pasti keluar.
Karena gak semua perempuan bisa mencapai puncaknya.
Jadi, ni saran bedasarkan pengalaman saya.
Mainnya itu *p**elan-pelan aja dulu .
Kasi rangsangan. Ciuman, sentuh di semua bagian.
Trus waktu masuk juga jangan buru-buru..
Kasi pujian sambil tatap matanya*.
Ah, si aden.
Jadi bikin bapak keingat jaman masih punya istri.
Mana sekarang uda gak punya .
Terpaksa deh habis ni ke kamar mandi "
Han tersenyum dalam hati mengingat pembicaraan dengan pak Tole tadi.
Han membawa Cecilia menuju ranjang. Tempat yang menjadi saksi pertama kali mereka melakukannya.
Ia sempat ragu saat Han mulai membuka pakaiannya .
Namun sentuhan dan kecupan lembut yang Han sapukan di bagian tubuhnya, membuat Cecilia luluh dan mulai terlena.
" Pegang pundakku. Katakan jika sakit.
Kau boleh meremas atau apapun untuk melampiaskannya. Buat aku menyadari apa yang kau rasakan " ucap Han yang sudah bersiap di posisinya.
Han tersentak.
Merasakan kuku yang menancap kuat di kulit punggungnya.
" Sakit ? " tanyanya.
Cecilia mengangguk dengan wajah merona. Memang sakit.Tapi tak sesakit yang semalam.
Dan kali ini rasanya berbeda ,ada rasa lain lebih mendominasi.
Han mendiamkannya. Lalu mencium Cecilia di sana sini sambil terus memperhatikan raut wajah wanitanya.
Melihat kernyitan Cicillia yang perlahan surut, Han pun kembali menekannya dengan perlahan-lahan. Hingga gerakkan mulai teratur namun tetap lembut .
Belajar dari kesalahannya di malam pertama, kali ini ia tak akan terburu-buru agar tak menyakiti istrinya.
'' jhanghan berhenthi '' lirih Cicillia saat Han semakin menekannya kedalam.
Han mengangguk,lalu meneruskannya dengan sedikit menambah kekuatan.
Namun semakin lama temponya semakin cepat.
Hingga terdengar suara decitan ranjang yang bertumbukkan dengan dinding.
Tak sedetikpun Han memalingkan wajahnya, menatap wajah Cecilia.
Kulitnya yang putih membuat rona merah begitu kentara terlihat.
Sekali netranya membalas tatapannya. Namun lebih sering terlihat terpejam dengan mulut yang tak berhenti mengeluarkan *******.
( 😁 selamat berimajinasi 😁 )
* * *
Di waktu yang bersamaan, masih di lingkungan tempat yang sama namun di bagian yang lain.
Setelah berhasil membujuk Dion agar mau ditinggal bersama Siti dan Susan, barulah Nana dan Bian bisa pergi ke kantor polisi dengan tenang.
Nanti setelah urusan mereka selesai, mereka akan langsung pulang ke rumah. Begitu janji mereka pada Dion.
Secara bersamaan mereka memasuki mobil yang berbeda.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai pak Tole lebih dulu melaju .Kemudian di susul mobil yang dikemudikan Bian dan Nana yang duduk di sampingnya.
Kedua mobil itu pergi meninggalkan hotel dan berbelok berlainan arah sebab memiliki tujuan yang berbeda.
Empat puluh lima menit perjalanan, Nana dan Bian sampai di kantor polisi.
Mereka disambut dan langsung ke antar ke sebuah ruangan . Dimana telah duduk beberapa petugas kepolisian yang memang sedang menunggu kedatangan mereka.
Sesi untuk dimintai keterangan terkait kejadian tadi pun dimulai.
Tanya jawab yang lebih banyak di peruntukan untuk Nana , berjalan kurang lebih satu jam setengah.
Bian yang mendampingi sang istri, nampak geram mendengar penuturan Nana mengenai hal yang baru saja terjadi beberapa saat lalu.
Rahangnya mengeras, tatapannya tak luput dari bibir yang tengah melontarkan kata demi kata, menceritakan bagaimana sikap dan cara Adit menatap dan bicara pada Nana .
Tak bisa ia banyangkan bagaimana perasaan Nana saat menghadapi situasi itu.
Istrinya pasti sangat ketakutan.
" Apa kami bisa menemuinya ,pak ? " tanya Nana pada petugas yang duduk berhadapan dengan mereka.
Polisi berkepala plontos itu menggeleng.
" Saya rasa kita perlu menunggu hasil pemeriksaan terlebih dahulu "
" Pemeriksaan ? " Nana mengernyit.
'' Ya. Ketika tadi interogasi , kami menemukan ada yang tak biasa dengannya.
Dia tidak mau diam dan terus-terusan bicara gak jelas.Hampir tak bisa diajak komunikasi.
Jadi, terpaksa tadi interogasi kami tunda.
Kami akan melihat dulu bagaimana kondisinya.
Jika tak ada perubahan, maka akan kami datangkan psikolog untuk memeriksanya ''
Nana reflex berkesiap.
Bian yang melihatnya pun langsung memegang jemarinya.
Keduanya saling menatap.
Terlepas dari apapun yang telah Adit coba lakukan, bagi Nana dan Bian, Adit tetaplah sahabat mereka. Seseorang yang pernah menghabiskan banyak waktu bersama dan membuat banyak warna dimasa remaja mereka dulu.
'' Apakah kami sama sekali tak bisa melihatnya, pak ? Sebentar saja. Hanya melihat saja '' Nana memohon.
Ia iba. Tak tega setelah mendengar jika mungkin saja ada masalah dengan mental Adit.
'' Saya rasa, mungkin sebaiknya menunggu sampai kita tau bagaimana hasil dari pemeriksaan psikolognya dulu, bu ''
'' Tapi, pak. Dia tidak punya siapa-siapa disini.
Dengan kondisinya yang demikian, bukankah lebih baik jika ada yang menjenguknya ?
Dia pasti butuh dukungan ''
Pak polisi menghela nafas.
'' Padahal anda berdua adalah korban yang hampir ia celakai.
Tapi kenapa justru anda berdua yang begitu perduli padanya ? ''
'' Karena semua keluarganya tidak ada di sini , pak.
Dan bisa dibilang, hanya kami yang dia kenal.
Kami kerabatnya '' jelas Bian meyakinkan.
Pak polisi kembali menghela nafas.
'' Baiklah. Tapi sebelumnya, kami akan bertanya dulu padanya.
Jika dia bersedia, maka kalian bisa menemuinya.
Tapi jika tidak.
Kami harap kalian mengerti ''
Tak sampai sepuluh menit Nana dan Bian menunggu. Karena memang sel tempat Adit ditahan sementara letaknya tak jauh .
'' Silahkan jika hanya mau melihat.
Tapi ingat untuk harus jaga jarak.
Saya tidak mau ambil resiko kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak kita semua inginkan ? '' tegas pak polisi.
Nana dan Bian di tuntun berjalan menelusuri selasar .
Melewati satu persatu ruangan, hingga mereka sampai disebuah ruang dengan dua sekat yang di tutup dengan telaris besi.
Beberapa pria berperawakan kurang lebih sama ada di dalamnya.
Ada yang berdiri, duduk melantai dengan kepala membungkuk, dan ada pula yang langsung mendekat , berpegang pada besi panjang yang menancap dari ujung ke ujung , sebagai pembatas ruang gerak mereka dari luar.
Bian dan Nana menyapu satu persatu wajah mereka.
Tak mereka hiraukan tatapan mereka yang juga sedang memperhatikan.
'' Adit '' bibir Nana berucap begitu saja saat matanya mendapati sosok yang dicari.
Adit bersandar didinding, berdiri di sudut ruangan .
Pria itu bergeming. Tak bergerak dan tanpa ekspresi. Tatapannya lurus pada Bian dan Nana.
__ADS_1
Mereka yang dulunya sahabat, yang kini justru menjelma menjadi hantu yang terus mengusik ketenangan batinnya.
Ia menatap nanar pada dua orang yang selalu memenuhi isi kepalanya selama ini.