Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Mereka Kembali (1)


__ADS_3

^^^“Sesuatu yang pernah dihapus, membekasnya itu akan makin dalam. Jadi, biasakan saja kita hidup.”__Rocky gerung.^^^


...°°°...


Jeno POV


Malam minggu, di meja yang masih sering ku singgahi saat kau tak lagi ada. Selalu ke mengenang waktu terakhir kali kita bertemu di meja yang berbeda bersamaan dengan kau bersama orang lain kala itu.


Aku selalu memesan kopi yang sama tiap kalinya. Namun, cangkirmu tak pernah hangat lagi.


Aku sering kesini tiap kali mengingatmu. Aku tahu, tahu banget kalo di masa lalu aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanya sedang berusaha menjadi pemeran utama dalam banyak suasana yang tak pernah kesampaian.


Rasanya seperti perasaan ini menjadi pias kala mengingat bagaimana aku memperlakukanmu waktu itu. Aku begitu percaya diri menjadi pemeran utama di dalamnya sampai lupa bahwa pemeran utamanya sedang berusaha mengimbangi sikap dan emosionalku saat itu.


Bahkan aku menyesali banyak kesempatan yang kau beri hanya untuk memperbaiki dan meluruskan kesalahpahaman saat itu.


Aku kini menjadi sadar, ‘Tidak perlu ada yang disesalkan atas kepergian seseorang dalam hidup. Berpisah memang menyakitkan. Namun, jauh lebih menyedihkan jika aku masih menyalahkan keadaan. Karena udah gak ada gunanya.


Hidup akan terus berjalan. Setiap kejadian, pasti menyampaikan pesan dan punya pembelajaran terbaik untuk kedepannya. Kau yang aku dambakan, namun kenyataannya kau malah dijauhkan atau dipalingkan dariku.


Kita memang tak akan pernah bisa menang melawan takdir, sebab itu menerima adalah satu-satunya bagian yang kita bisa lakukan.


Tenang segala rencana berubah bukan untuk menyakiti. Akan ada yang lebih baik dari kehilangan saat ini.’__@ig:imajinasi_hati


Jeno POV End


Masih di tempat yang sama, Jeno menghabiskan malam dengan kopi dan deru ombak di pantai. “Akhir tahun yang sedikit beda memang. Kenapa sepekat ini prosesnya?” ujarnya sambil menyesap kopi seorang diri seraya memandang jauh ketengah lautan seberang sana.


“Hai!! Udah lama gak ketemu?” ujar sosok didepannya sekarang.


Dengan tatapan sedikit terkejut ia memandang sosok di depannya dengan penuh tanya, mengapa ia juga berada disini? Atau mengapa ia baru muncul setelah sekian lama menghilang tanpa jejak? “Mengapa kau kembali?” pertanyaan yang pertama terlontarkan setelah memandang dengan penuh tanya.


“Ya, saatnya gw kembali sekarang. Kenapa memangnya?” ujar sosok itu dengan sudah menarik kursi didepannya dan duduk dengan kopi yang ia letakkan di meja yang sama. “Ku kira kau sudah berubah dan melupakan tempat ini!” serunya lagi dengan senyuman tipis.


“Seharusnya gw yang bertanya seperti itu sekarang!” Jeno memutar bola matanya malas.


“Yak! Jeno_ya! Kau masih menganggapku rival juga sampai sekarang setelah beberapa tahun terlewat ini?” selidik orang didepannya sekarang.


“Hah,,, gw gak membuang waktu percuma untuk hal-hal seperti itu. Udah lama gak keliatan, lo apa kabar bang?” ujar Jeno menghela nafas.


“Baik mungkin. Lo sendiri gimana?” Rey balik bertanya. Ya, sosok yang dari tadi tengah berbincang padanya adalah Rey seniornya yang menghilang bebrapa tahun yang lalu tanpa jelas.


“Baik. Woah,, bagaimana pelarianmu selama ini, apa menyenangkan?” tanya Jeno akrab.


“Banyak hal terjadi tanpa ku duga. Tapi, semuanya akan baik-baik saja. Gw udah berusaha sekeras mungkin asal lo tahu. Seharusnya lo berterimakasih sama gw sekarang!” Rey tersenyum mengejek.


“Sepertinya banyak yang tidak gw paham. Apa yang sudah lo lakuian selama ini?” tanya Jeno terkekeh.


“Dan satu lagi mengapa kau tidak terkejut atas kehadiran gw sekarang? Apa ada dan tidaknya gw udah menjadi hal yang sama lo tanggapi?” tanya Rey penuh selidik.


“Ya elah Bang. Gw udah pernah liat lo di mall beberapa hari yang lalu kali bang!” ujar Jeno malas.


“Yak. Junior macam apa kau hah! Kenapa tidak menegurku?” Rey emosi lama-lama dengan sikap bocah didepannya sekarang.


“Mana sempat pikiran gw sampe ke sana Bang. Orang gw aja kaget dan mengira salah liat waktu itu,” Jeno berucap malas.

__ADS_1


“Sudahi saja. Akan menjadi panjang nanti jika tak berhenti disini. Lo kerja dimana sekarang?” tanya Rey mengalihkan topik pembicaraan.


“Di perusahan bokap gw lah. Mana ada gw merintis karir dari bawah yang ada gw bakal dihapus dari kartu keluarga jika sampe hal itu terjadi,” ujar Jeno malas.


“Tampang lo doang yang brutal. Ternyata masih taat orang tua lo. Gw kira lo benaran udah liar banget!” ujar Rey tertawa.


“Udahlah Bang, gw malas bahas pekerjaan di waktu santai.” Ujar Jeno lengah.


“Suasana pantainya bagus ya! udah lama gak ke sini..” Rey menatap suasana sekitar dengan lamat dan menikmati.


“Suasananya sama persis waktu itu. Sedikit mendung, tapi tak sampai hujan. Gw jagi ingat seseorang,” ujar Jeno menatap kursi dan meja yang sama tengah kosong di seberang sana.


“Sama. Gw bahkan ingat setiap detik waktu itu. Kita menjadi sedikit liar kala itu. Yang patut gw salahkan sekarang adalah lo.” ujar Rey menatap Jeno serius.


“Mengapa gw? Udah lelah Bang, beberapa tahun terakhir ini gw merasa berasalah atas banyak kejadian tentangnya di masa lalu.” Ujar Jeno balik menatap seniornya.


“Karena lo yang memulainya. Jika saja lo gak ngelakuin hal itu gw mungkin udah ngutarain perasaan gw saat itu,” ujar Rey masih menatapnya.


“Gw gak tahu bagaimana mendefenisikan gak relanya gw saat itu bang.” Jeno tersenyum miris.


“Tapi, sekarang gw gak mau menyalahkan lo, seperti yang lo bilang. Lo udah cukup menyesalinya. Lebih tepatnya, gw berterimakasih sama diri lo dan tentang semua yang lo lakuin waktu itu. Kalo aja gak ada lo waktu itu, mungkin gw sedang menoreh luka paling dalam dihatinya. Makasih Jeno! Lo udah ada dan merubah takdir gw waktu itu. Sehingga gw bisa ada dan berdiri dengan prcaya diri saat ini.” Ujar Rey tulus.


“Mengapa begitu bang! Bukankah kita mencintai wanita yang sama? Seharusnya lo marah sama gw waktu itu bang!” Jeno serius dengan ucapannya.


“Ia. Waktu itu gw marah sama lo. Tapi gw gak nyalahin lo. Namun, saat gw tahu kebenarannya seperti apa. Gw bersyukur banget lo ada waktu itu dan kali ini baru gw bisa ngucapin makasih ke lo, sekali lagi MAKASIH banyak. Lo udah membuat takdir gw berjalan tetap pada alurnya.” Rey tersenyum hangat pada Jeno.


“Udahlah Bang. Jangan membuat teka-teki lagi. Gw cukup lelah sama apa yang gw hadapi selama ini.” Jeno melepas nafasnya kasar.


“Baiklah. Gw memang kembali untuk ini. Dan lo juga perlu tahu ini,” Rey mulai bercerita.


Waktu Sena berantem sama Mira. Gue kaget banget apa yang tengah terjadi pasalnya Mira gw tahu banget tuh anak ketenangannya gak bisa di ganggu sama siapapun kalo gak mau berujung jadi korban bullynya. Namun apa yang gw dengar di koridor kampus waktu itu mampu membuatku gw berlari sekencang mungkin agar bisa sampai di kantin lantai atas.


Disana dapat gw lihat Sena bahkan udah basah karena jus yang entah siapa tapi yang jelas itu perbuatan Mira. Gw bahkan meringis kala mendengar ia menyebut dirinya tidak seperti yang diucapakan Mira. Gw melihat dengan jelas mereka saling pukul dari arah jauh tanpa ada yang bisa melerai mereka. Hingga sampai Leo yang terlebih dahulu tiba dan memeluk Sena dan menenangkannya. Yang bersamaan dengan lo waktu itu gw tiba disana.


Gue bertanya apa yang tengah terjadi “See, lo kenapa” sambil meraih tangannya yang masih dalam pelukan Leo karena gw bisa liat dia begitu frustasi waktu itu. Namun, keadaan makin ricuh karena teriakan Selly “Jauhi tangan lo sial!” ketika gw masih menggenggam tangan Sena.


“Sena kenapa?” tanya gw setelah mendapat teriakan. Dan jawaban yang gw dapat berhasil membuat gw tertohok dan sedikit meringis saat tahu kalo itu semua penyebabnya gw.


Setelah semuanya bubar bersamaan dengan itu pula gw menarik kuat lengan Mira dan membawanya ke atap. “Apa yang lo lakuin ke dia?” tanyaku sarkas.


“Gw gak suka dia dekat dengan lo!” ujar Mira santai.


“Apa hak lo memilih gak suka akan kedekatan gw sama Sena?” tanyaku dengan tatapan tajam.


“Karena gw suka sama lo!” ujar Mira balik menatapku.


“Sudah berapa kali gw bilang kek lo. Kalo gw gak akan pernah suka sama cewek kayak lo!” ujarku memojokkannya.


“Karena itu, siapapun cewek yang dekat sama lo akan berujung sama sepertinya. Kalo gw gak bisa miliki lo, berarti gak akan ada yang bisa memiliki lo pula.” Ujar Mira tegas.


“Gw udah bilang sama lo bukan. Lo bukan cinta lagi tapi udah obsesi namannya dan itu gak baik. Lebih baik lo berobat dan menenangkan diri sebelum banyak korban yang lo hancurkan.” Ujarku marah.


“Gw gak sakit. Asal lo tahu, gw akan melakukan apapun bahkan membuatnya keluar dari kampus atau dari kota ini jika perlu. Hanya demi lo gak dideketin cewek modelan dia.” Ujar Mira.


“Mira lo egois tau nggak!” ucapku dengan emosi yang mengguncah.

__ADS_1


“Lo ingat ini baik-baik. Gw akan buat Sena lebih menderita dari ini. Apapun yang terjadi, lo sendiri tahu bagaiman gw bukan?” ujar Mira tersenyum jahat.


“Mira! Please. Jangan sakitin Sena apapun yang terjadi. Berani lo nyentuh dia. Lo akan tahu akibatnya.” Ujarku mengancam tapi lupa jika orang yang ku ancam adalah psikopat berdarah dingin. Gw tahu betul bagaimana pengaruhnya keluarga Mira. Bahkan membalikkan fakta kematian seseorang dalam sekejapun bisa mereka lakukan.


“Kau menantangku Rey!” ujarnya Tersenyum penuh arti.


“Apa yang lo mau sekarang?”tanyaku dingin.


“Gw mau lo. Lo jadi milik gw!” ujarnya mantap.


“Gak ada pilihan lain?” tanyaku dengan tatapan tajam.


“Ada. Dengan cara lo pergi dari sini dan hidup tanpa mencintai siapapun sampai suatu saat nanti lo bisa menerima gw dengan cara yang lebih baik!” ujarnya pasti.


“Oke gue akan pergi dan menghilang dari lo dan semua orang yang pernah gw kenal. Gw bakal pastiin kalo gw gak akan teringat lagi disetiap bayangan dan kenangan dari banyak orang yang gw kenal. Dengan satu syarat jangan pernah sakitin Sena!” ujarku memilih.


“Jangan mengambil keputusan atas dasar cewek itu! Baik. Aku jamin itu tak akan terjadi.” Ujarnya mengakhiri pembicaraan dan gw yang pulang untuk mengurus semua surat untuk pindah kampus, negara dan masih banyak dalam hari it gw lakuin.


Gw gak mengkhawatirkan keadaan Sea karena gw tahu persis dia dikelilingi oleh orang baik seperti kalian. Ditambah gw yang tahu jika Mira tengah mengincar keluarga Sena karena kejadian masa lalunya dengan keluarganya. Yang tidak Mira tahu bahwa Sena adalah bagian dari keluarga yang mereka tengah cari. Itu gw paling takuti.


Keesokkannya gw pergi ke Itali tanpa sepengetahuan siapapun selain Mira dan teman-temannya. Disana gw melanjutkan kuliah sambil melanjutkan bisnis keluarga. Sampai gw lulus dan wisuda. Kabar dari kalian semua seakan tertelan begitu saja. Gw berusaha fokus pada tujuan yaitu membuat keluarga Mira jatuh dan hancur.


Setelah kelulusannya, Mira menemuiku di Itali dan dia menetap disana. Namun, tidak ada yang berubah perasaan gw masih sama. Sena adalah sosok yang sulit gw lupain. Benar. Gw pernah menghapus tentangnya. Tapi bekasnya makin dalam disepanjang waktu yang terlewat selalu seperti itu.


Hingga sampai. Pada suatu malam tepat setelah kalian diwisudakan menurut yang gw dengar dari Om Reza. Ya, om Reza menghubungiku lewat email. Dia mengatakan kalo keadaan Sena tidak sedang baaik-baik saja. Beberapa orang terpenting keluarga Mira tengan mencari tahu siapa putri dari Om Reza.


Saat itu pula gw menjadi takut dan berharap Sena dalam keadaan baik-baik saja. Tapi bersamaan dengan itu gw membalas email dengan mengatakan


“ngapain om memberitahukan ini! Gw gak ada hubungan apa-apa lagi dengan Sena” gue ingat persis ucapan gw waktu itu. Hingga semuanya menjadi terbongkar.


Dua hari setelah mendapat kabar dari om Reza gw terbang ke Los Angeles dan bertemu Om Reza. Disanalah gw tahu semuanya. Bukan Sena yang menjadi incaran tapi gw. Mereka salah menduga bahwa keluarga om Rezalah penyebab kehancuran masa lalu keluarga Mira.


Tapi, tenyata pada waktu malam itu, bokap gw yang nyetir dan didalam mobil tersebut ada nyokap gw sama nyokap Sena. Entah bagaimana kejadiannya. Pada intinya mereka kecelakan di tempat yang sama ayahnya Mira kecelakaan. Mereka tak ada yang selamat kala itu. Baik kedua orang tua gw, nyokapnya Sena ataupun bokapnya Mira. Mira merasa paling menjadi korban dalam hal itu sampai lupa masih ada yang merasakan kehilangan lebih dalam darinya.


Dan yang membuat gw down adalah kenyataan bahwa om Reza yang mengangkat gw jadi anaknya setelahnya kematian kedua orang tua gw. Dan secara gak langsung Sena adalah adik gw seharusnya.


Yang gw sesali mulai saat itu adalah ketidaktahuan gw bahwa betapa baiknya sosok om Reza di hidup gw. Walaupun dia tahu kedua orang tua gw adalah penyebab meninggalnya sang istri tapi dia dengan tulus dan baik mengambil gw sebagai anaknya dan gw bahkan menjadi kakak untuk Sena.


Gw marah sama diri gw sendiri saat melihat kartu keluarga milik Om Reza yang didalam ada nama gw lalu diikuti Sena. Yang gw tahu saat kedua orang tua ge meninggal adalah harta mereka semua diwariskan untuk gw.


Gw gak tahu betapa berjuangnya om Reza untuk tetap menjadikan nama gw sebagai pewaris tunggal disana terlepas dari banyak yang mengaku saudara saat pembagian warisan saat itu. Gw terlalu terlena sama kehilangan dan masa muda gw sampai gw gak sadar ada orang baik di belakang layar yang berperan paling banyak untuk kebahagiaaan gue saat ini.


Saat tahu semua itu, gw balik ke Itali dan mengajak Mira pacaran karena bagi gw dari situ adalah cara satu-satunya gw menyadarkan dia dari dendamnya. Tapi ternyata gw salah. Bukan Mira yang mendendam dia hanyalah alat didalamnya yang menjadi pemerannya di balik itu adalah ibunya.


Bermodal kedekatan dan hubungan gw dengan Mira gw tahu banyak kelamahan dari mereka. Keluarganya dalam pusat produksi narkobat terbanyak di beberapa negara. Selain itu juga mereka tak jarang melakukan Human Trafficking.


Dengan beberapa tahun yang terlewat ini antara gw dan om Reza perlahan membongkar semua kilas balik dari kegelapan usaha keluarga itu hingga berujung tepat pertengahan tahun kemarin keluarga Mira bangkrut. Ibunya jadi buronan berserta keluarga terkait dan berhasil di tangkap.


Begitupun Mira kasus pembunuhan korban bully yang dilakukan semuanya terbongkar dan berujung ia pun terjerat dalam jeruji.


Jika lo tanya bagaiman perasaan gw saat itu adalah secara manusawi gw kasihan tapi logisnya apapun itu kejahatan harus terungkap walaupun dengan seribu maaf terlontar dari mulut Mira gak merubah apapun.


Berakhir gw fokus ke pekerjaaan dan memilih menetap di Los Angeles bersama Om Reza.


Kedatangan dan kepergian Sena juga tak luput dari pandangan gw. Gw sudah berusaha sejauh ini tentang itu. Namun kembali gw sadar. Dia butuh waktu untuk semua kenyataan yang ada dan menanti.”

__ADS_1


Flashback Off


__ADS_2