
Haiii...
Aku kembali..
Maaf deh sudah terlalu lama menunggu. kemarin, aku gak sengaja log out dari aplikasi manga. Pas mau login kembali malah ga jadi.
Ya udah sekarang baru deh bisa ke buka lagi akunnya.
lama ya....🙏🌹
.
.
Dari banyaknya cerita yang pernah
terjadi di hidupku. "kita" adalah part terbaiknya_ anonim.
...""°••°""...
...☕...
"Lo berapa lama disini?" Sena fokus pada film yang mereka nonton.
"Sayang! Aku-kamu ya!" Ujar Jeno gemas dengan ucapan Sena. "Kita udah pacaran masa! Jangan lo-gue lagi ya," mohon Jeno.
"Siapa bilang kita pacaran? Ga ada!" Kesal Sena sambil mengerucutkan bibirnya.
"Bibirnya jangan mayun gitu sayang. Cium nih!" Goda Jeno yang tidak tahan melihat kegemasan makhluk di depannya sekarang. "Kamu kan udah terima aku semalam, apa perlu aku tembak ulang!?" Jeno tersenyum
"Ga ada romantisnya sama sekali juga. So, aku ga nganggap itu serius ya!" Ujar Sena sedikit manja dengan bibirnya yang makin menjadi.
Jeno yang tidak kuat akan apa yang ia lihat pun langsung nyosor tuh bocah..
Cup
Dengan bibir yang hanya menempel pada kecupan terakhir Jeno pun bergumam tepat kedua bibir mereka menempel "udah dibilangin bibirnya ga usah di manyun. Kan aku jadi kelepasan gini!" Serunya dengan posisi yang tidak berubah.
Karena tidak ada penolakan dari gadisnya, Jeno mengarahkan pandangannya ke muka Sena yang masih dalam keadaan yang sama dengan bibir mereka yang masih menempel dan jangan lupa mata Sena tertutup. Jeno yang melihat hal itu sedikit mendekatkan tubuhnya pada tubuh kecil Sena disampingnya yang tengah bersandar pada sofa. Tangannya menarik lembut tubuh tersebut dan berakhir mengangkat tubuh Sena ke pangkuannya.
__ADS_1
Sena yang kembali sadar membuka matanya dan melotot, "apa yang kau lakukan?" Ujar sedikit kaget tanpa beranjak dari pangkuan Jeno.
"Omongannya jangan kasar sayang!" Ujar Jeno makin mengeratkan kedua tangannya di pinggang Sena dan menatap gadisnya lekat dan tajam.
"I-iya, ma-maksud aku, apa yang kamu lakukan?" Ujar Sena gagap karena tatapan Jeno yang begitu tajam.
"Memangkumu sayang" ujar Jeno sedikit berbisik dengan suara serak lalu terkekeh di telinga Sena yang berhasil membuatnya mengerjai gadisnya.
"Yak!!!" Teriak Sena turun dari pangkuan Jeno dan beranjak mengambil buku anatomi manusia yang begitu tebal lalu menimpuk kepala Jeno kesal.
"Akh,, sayang jangan brutal kaya gitu. Sakit sumpah!" Jeno meringis memegang kepalanya. Serius itu benaran sakit, Jeno bahkan tak main-main.
"Rasa lo. Jangan macam-macam sama gue!" Kesal Sena.
"Jangan gue-lo lagi dong. Please,,," mohon Jeno.
Percuma Sena sudah fokus pada laptopnya diujung ruangan yang sengaja mepet ke kaca pembatas yang bisa melihat pemandangan kota dari ketinggian gedung tempatnya tinggal tersebut.
"Maaf ya, aku janji ga bakal kayak tadi lagi, hm" Jeno memperbaiki tatanan rambut Sena yang jatuh kesamping telinga.
"Bukannya kamu lagi sibuk? Kenapa berlama-lama disini!"
"Kamu yang minta aku datang yang! Mana bisa aku tolak. Pekerjaan aku juga gak terlalu banyak kok,"
"Iya sayang. Tapi kamu juga penting. Gimana dong!" Jeno mengelus rambutnya pelan.
"Gak bisa gitu dong. Kasian karyawan kamu kerja lembur kamunya enakan,"
"Kamu ngusir aku nih, ceritanya?" tanya Jeno pura-pura sedih.
"Engga kok. Eh mumpung kamu disini jalan-jalan yuk!" Sena antusias.
"Kemana pun! Asal sama kamu, kita pergi!" Bucin Jeno.
"Besok aja ya, lagi malas sekarang." Lihatlah plin-plan sekali cewek ini. Untung disayang Jeno. "Ivan apa kabar sekarang? Pasti dia tambah tinggi ya! Aku kangen banget sama dia. Papa pasti senang bareng Ivan." Ujar Sena tersenyum.
"Ayok balik! Ivan udah gede tahu, mana udah bukan mahasiswa lagi sekarang. Udah gitu kerjanya di perusahaan mantap banget. Makin kesini dia makin nunjukin kalo restu dia juga aku butuhkan buat dekat sama kamu. Bisa dibayangkan kalo dia sampai tahu aku sekarang udah jadian sama kamu. Bisa-bisanya aku di sidang dadakan sama tuh bocah." Jeno terkekeh.
"Adik aku banget kan!" tawa Sena bangga.
__ADS_1
"Sayangnya, restu dia perlu banget buat aku. Kalo aja ngga udah ku sepak dia, apalagi Bang Rey. Woah sayang sepertinya aku dikelilingi orang-orang protektif seperti mereka!" Jeno mengeluh.
"Rasain. Pengen sih buat balik dulu tapi nanggung dikit lagi mau sidang pasti bakal sibuk buat daftar wisuda nantinya. Gapapa deh, kamu aja udah cukup sekarang " Sena beralih memeluk lutut saat duduk di karpet lantai sambil memperhatikan kendaraan yang berlalu lalang dibawah sana, yang masih bisa ia lihat dengan jelas walaupun kecil.
"Kamu mau aku temani sampai wisuda disini?" Tanya Jeno serius.
"Jangan gila. Kamu masih memegang ribuan nyawa karyawan dan itu tanggung jawab yang besar jangan main-main kamu. Waktumu disini cuma satu Minggu ga lebih!" Tegas Sena.
"Dua Minggu ya sayang, hm.." Jeno memohon.
"Satu Minggu atau kita ga jadi pacaran!" Ancam Sena final.
"Ancamannya Gita banget yang. Gak asyik aja," rengek Jeno.
"Dih... Badan gede gitu tapi merengek seperti bocah kalah kamu sama Ivan? Emang sih Ivan ku paling terbaik," Sena mengejek.
"Gita aja terus yang. Sampai aku balik bila perlu!"
"Udah gitu ambekan lagi. Siapa yang gak asyik nih!" Ledek Sena tertawa ringan.
"Ke kamu doang kok, aku kayak gini. Diluar orang pada takut liat aku yang." Jeno memang seperti itu, diluar sana ia dikenal dingin dan bisa ditebak. Ia memasang muka datar Sepenjang hari-harinya. Itu sebabnya banyak yang tidak mau berususan dengannya walaupun ada banyak yang berusaha untuk dekat dengannya.
***
Deringan ponsel di samping meja belajarnya mengganggu konsentrasinya. Bukan. Bukan ponselnya melainkan ponsel milik Jeno yang tertinggal. Pemiliknya tengah keluar menemui klien di sekitar tempat ia datang mereka tahu kalau Jeno tengah berkunjung ke kota itu maka mereka mengatur waktu untuk bertemu.
Entahlah urusan bisnis Sena tak mau ambil pusing.
"Siapa sih?" Kesal Sena yang merasa terganggu dari tadi setelah dianggurkan deringan tersebut.
Saat menatap layar ponselnya ia bisa melihat siapa yang menelepon Jeno.
Bang Rey. Ya itulah nama kontak yang tertera.
Sena ingin mengangkat tapi takut jika itu adalah Bang Rey betulan. Ia juga takut mereka tahu kalau Jeno tengah bersamanya. Jika itu benar orang-orang yang ia kenal dimasa beberapa tahun lalu.
Melihat layar ponsel tersebut membuat ia melamun dan mengingat satu persatu orang-orang yang ia tinggalkan. Bagaimana kabar mereka? Sedang apa mereka sekarang? Pasti ada banyak perubahan yang terjadi pada mereka. Ia kembali merindukan setiap sosok dari mereka. Akan ia kembali dan melihat mereka masih seperti dulu?
Atau mereka mungkin sudah melupakannya. Ah,, ia tidak bisa menerka apa yang akan terjadi.
__ADS_1
Tapi Jeno bukankah salah satu jawabnya?.
Namun, ia tidak memikirkan itu sekarang. Ia merindukan ayahnya. Ivan maupun Bang Rey.