Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Ada apa dengan mereka


__ADS_3

🌺 hem.. 🌺


* * *


Meski usianya tak lagi muda, namun stamina Conor masih sangat baik.


Ia berlari cepat , mengejar lelaki di depan sana.


Adit terlihat menoleh kebelakang.


Wajahnya panik saat langkahnya terhenti didepan lift yang pintunya tak langsung terbuka.


" *T*angga darurat "


Adit bergegas memutar langkah menuju pintu tangga darurat.


Sekali lagi ia menoleh kebelakang saat baru saja menuruni satu lantai.


Adit semakin panik. Conor sudah dekat.


Adit yang kalap lalu mengeluarkan senjata api yang selalu ia bawa kemana - mana.


Sebagai orang yang pernah memberikan informasi terkait kasus yang dulu menjeratnya ,yang mana membuat beberapa orang dipenjara karenanya, Adit harus ekstra berjaga-jaga untuk melindungi diri jika sewaktu-waktu bertemu salah satu dari mereka.


Pun saat ini tujuan sebenarnya adalah untuk menakut-nakuti Nana .


Ia berniat mengancam. Lalu menawarkan sebuah kesepakatan jika Nana tak ingin hidupnya diganggu.


Habiskan satu malam dengannya, lalu ia tak akan pernah lagi muncul. Adit ingin merasakan memiliki Nana walau hanya sesaat.


Namun apa yang ia rencanakan gagal.


Saat ini ia tengah di buru oleh pria yang ia tak tau siapa.


' Bruk ' Conor berhasil meraihnya dan langsung menghempaskan tubuh kurus Adit ke dinding.


Adit tak bisa bergerak. Matanya tengah beradu tatap dengan pria yang ternyata berparas asing.


'' Siapa kamu ? Kenapa kamu menganggu menantuku ?! "


" Menantu? "


" Hei, jawab bangsat ! "


Conor melepas satu tangannya, bersiap mengudara untuk mendaratkan pukulan.


Adit yang menyadari dengan cepat mengeluarkan pistolnya dan ' DORRR ' !!!


Suara tembakkan menggelegar .


Guratan sangar di wajah Conor memudar. Berganti mengkerut dibagian keningnya.


Conor mundur .Namun ia tak tau jika berada di ujung tangga.


Conor kehilangan keseimbangan dan jatuh bergulir kebawah.


Adit yang melihat itupun bertambah panik. Kedua matanya melebar, melihat bagaimana tubuh itu berguling hingga akhirnya tergeletak dilantai dasar.


Adit mulai histeris dengan menekan punggung di sudut dinding. Ia pikir telah membunuh seseorang.


Tak berselang lama, suara tembakan yang begitu keras tadi membuat para petugas keamanan bergegas ke asal suara.


' Brak ' pintu dibuka dengan kasar.


Empat pria berseragam khas keamanan muncul dan dengan cepat menuruni tangga.


Dua orang dengan sigap mendekat dan langsung mengamankan Adit.


Satu diantaranya terlihat berbicara melalui talkie walkie. Mengabarkan situasi yang terlihat saat ini.


Dan seorang lagi meraih pistol yang tergeletak di lantai. Sedang satu lagi dengan cepat sudah berada di lantai dasar , dimana terbaring Conor yang ternyata sudah tak sadarkan diri.


Bercak darah terlihat menembus kemeja biru yang ia kenakan, yang berasal dari pinggang kanannya.


* * *


Rumah sakit.


Natasya berdiri didepan pintu UGD, menunggu Conor yang tengah ditangani didalam sana.


Ia tadi ikut masuk ke dalam ambulans untuk menemani Conor . Namun tak di ijinkan masuk saat Conor di dorong memasuki UGD.


Tak berselang lama, Bian, Nana, Cecilia dan Han datang.


'' Gimana, mi ? '' tanya Bian dengan tangan terangkat dan mendarat di bahu Natasya.


Wajahnya menunjukkan kekhawatiran.


Sama seperti yang terlihat di wajah lainnya.


Natasya mengangguk sambil menarik nafas. Lalu menjelaskan kondisi Conor.


Tembakan yang Adit lepaskan meleset.

__ADS_1


Peluru hanya mengenai bagian kulit samping tubuh Conor. Jadi tak diperlukan tindakan darurat selain menjahit robekannya.


Untuk sementara Conor akan di rawat inap untuk dipantau lebih jauh lagi bagaimana kondisinya. Mengingat ia yang bergulir di tangga dari lantai tiga.


Dokter mengatakan jika kondisi Conor termasuk sangat beruntung karena tak jatuh langsung dari ketinggian hotel yang memiliki 10 lantai.


Mereka semua serempak menghembuskan nafas lega.


Nana dan Bian saling tatap lalu berpelukan .


Sedangkan Han dan Cecilia, keduanya hanya menatap sesaat lalu secara bersamaan memalingkan wajah.


Satu jam berlalu.


Conor yang sudah siuman kini telah dipindah ke kamar rawat inap.


Ia tersenyum melihat semua anggota keluarganya berkumpul dan nampak begitu mengkhawatirkannya.


Lama ia menatap lekat pada sosok wanita yang berdiri di sisi kanannya.


Natasya.


'' Kalian pulanglah. Kasian Dion kalau terlalu lama kalian tinggal '' ucap Natasya pada Bian dan Nana.


Nana dan Bian mengangguk. Mereka tadi meninggalkan Dion bersama Siti dan Susan.


Meski demikian, mereka memang tak bisa berlama-lama dirumah sakit. Sebab Nana sedang ditunggu untuk dimintai keterangan oleh pihak polisi.


'' Kamu pulang sendiri gak papakan ? Aku akan tetap disini menemani dedi '' ucap Bian mengelus lengan Nana.


'' Em '' angguk Nana.


'' Biar aku saja yang nemanin mami disini.Kalian pulang saja '' Cecilia menyela.


Tanpa ia sadari , Han yang mendengarnya tersentak dan langsung menatapnya.


Pun mereka semua yang memperhatikan .


Sepertinya ada yang tak beres dengan pasangan yang baru sehari menikah ini.


" Kalian semua pulanglah. Cukup mami kalian saja yang menemaniku disini "


Kali ini gantian Natasya yang tersentak.


Ia bergeming. Tak tau harus mengatakan apa sebab memang belum memutuskan akan bagaimana.


Tapi sepertinya ia tak punya pilihan. Pun ia tak ada alasan untuk menolak.


Nana harus ke kantor polisi . Dan sudah seharusnya Bian menemani sang istri .


Lagipula kondisi Conor pun tak begitu mengkhawatirkan.


" Eng.. Ya, benar. Kalian semua pulang saja.Mami yang akan jaga disini " ucap Natasya setelah cukup menimbang - nimbang dan memutuskan jika inilah yang terbaik.


'' Tap- tapi.. '' Cecilia terbata karena ragu .Ia lirik sang suami. Han menatapnya datar.


'' Sudah lah. Sana cepat pulang.


Ramai-ramai di sini pun untuk apa ?


Kalau ada apa-apa , mami pasti langsung mengabari kalian.


Dedi kalian juga butuh istirahat dengan tenang '' ujar Natasya.


Ke dua anak dan menantunya menurut. Mereka pun pamit pulang.


Kini tinggallah Conor dan Natasya di ruangan tersebut.


Canggung. Kedua mantan pasangan itu terlihat saling diam .


" Kau hebat " ucap Natasya memecah sunyi yang sejak tadi melanda.


Conor tersenyum tipis.


Ia senang bukan hanya karena pujian yang Natasya lontarkan, tapi juga karena ia berkesempatan lagi untuk berduaan dengan wanita yang selalu ia rindukan.


Meski sudah lima tahun berpisah, nyatanya Conor tak pernah bisa move on dari Natasya. Tak sehari atau bahkan sedetikpun , Natasya luput dari pikirannya.


Diam lagi.


Hingga akhirnya Natasya mendekat dan duduk ditepian ranjang.


" Aku merindukanmu, Conor " suara Natasya bergetar. Karena memang butuh keberanian besar baginya untuk mengungkapkan rasa itu.


Sama seperti Conor. Perasaan Natasya tak pernah berubah. Ia selalu merindukan dan masih sangat mencintai pria ini.


Conor yang mendengar ungkapan penuh ketulusan itu, terenyuh.


Ia hampir tak percaya dengan pendengarannya.


Ditambah lagi tangan Natasya yang terangkat dan mendarat di pipinya yang sudah mengendur dan keriput.


" Ijinkan aku mengusap wajahmu.. Bolehkan ? "

__ADS_1


air matanya lolos .


Menyentuhnya membuat dada Natasya bergemuruh hebat.


Sesaat tadi, ia begitu gelisah menunggu didepan pintu UGD. Memikirkan apa akan terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada pria yang hingga kini masih bertahta di hatinya .


Conor mengangguk.


Tatapan mereka saling bertemu. Begitu dalam, seolah masuk dan menyalami perasaan satu sama lain.


" Natasya.. Ap-apa kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi ? "


Natasya menggeleng seraya menarik tangannya.


Ia sadar . Apa yang ia katakan dan yang barusan ia lakukan telah memberi harapan pada pria yang tengah duduk bersandar di kepala ranjang .


" Maafkan, aku Natasya.. Kalau saja saat itu aku tidak mengatakan hal yang menyakitimu.. Mungkin kita tidak akan seperti ini "


" Sudah kubilang ini bukan salah mu.


Akulah yang tak bisa lagi membendung keinginan yang sudah terlalu lama kupendam.


Karena itu aku memutuskan untuk mengakhirinya denganmu..


Jadi jangan lagi berpikir kalau kau penyebabnya ''


'' Tidak. Memang sudah seharusnya aku minta maaf. Ak-aku.. ''


'' Maaf , telat mengatakannya, Conor.


Tapi sepertinya kita memang tak pernah di takdirkan berjodoh "


" Apa jodoh harus selalu menikah ? "


Natasya mengangguk. Pria ini masih Conor yang sama.


Cara pikir dan masih dengan anggapanya yang tak percaya jika sebuah hubungan harus selalu diikat dalam pernikahan .


" Apa dengan menikah, kita bisa kembali bersama seperti dulu lagi ? "


Natasya menggeleng.


'' Aku tidak bisa menikah dengan seorang yang setengah hati melakukannya.


Jadi, kuminta padamu Conor.


Jangan memaksakan diri.


Jangan melakukan sesuatu yang tidak kau suka dan yang tak kau percayai .


Lagipula aku sudah tak tertarik lagi dengan itu semua.


Karena semuanya sudah terlambat bagiku.


Sekarang aku akan menjalani hidupku dengan apa yang ada saat ini.


Dan kuharap kau pun demikian.


Seperti yang kau selalu kau percayai.


Saling mencintai, tidak harus selalu menjadi pasangan . Apalagi menikah.


Kita harus bisa menerima dan cukup puas dengan hubungan yang sekarang.


Sebagai orang tua untuk anak kita.


Sebagai mertua bagi para menantu kita.


Dan sebagai kakek - nenek untuk cucu kita.


Hubungan kita tak akan pernah lebih dari itu. Apalagi menjadi suami istri Conor.


Itu tidak akan pernah terjadi ''


* * *


Sementara itu.


Mereka berempat baru saja sampai di hotel .


Cecilia keluar lebih dulu dan langsung melenggang meninggalkan Han.


Han yang melihatnya semakin jauh melangkah terlihat menghela nafas .


Setelah ia mengucapkan selamat malam pada Bian dan Nana , ia bergegas menyusul istrinya yang sudah memasuki lobby hotel.


Bian dan Nana pun memperhatikan pasangan pengantin baru yang kini tengah memasuki lift.


Dilihat dari gelagatnya, seperti ada sesuatu diantara mereka. Mereka tak seperti pasangan yang baru saja menikah.


Sungguh membingungkan. Bian dan Nana sependapat.


Entah ada apa dengan mereka ?

__ADS_1


Batin keduanya yang sama-sama kompak menapakkan kaki ke depan.


__ADS_2