
🌺 hem... 🌺
Terima kasih untuk yang selalu setia like, komen, hadiah dan juga votenya.
Selamat membaca.
* * *
Jiran. Malaysia.
Sudah seminggu semenjak kedatangan Nana.
Suasana di hunian sederhana yang terletak tak jauh dari rumah sakit itu terasa begitu sunyi.
Orang yang selama ini disewa untuk menemani dan merawat Siti sudah diberhentikan .
Sehari setelah menginjakkan kaki di negri yang kental akan budaya melayunya ini, Nana tanpa ragu telah menceritakan semuanya.
Tentang pernikahannya. Masalahnya dengan ibu dan Oma Bian. Dan kenapa ia datang seorang diri.
Mendengar itu semua, Siti tentu sedih. Ia kecewa dan juga merasa bersalah.
Sebab itu semua terjadi karena Nana ingin ia sembuh.
Nana yang sudah bisa memperkirakan respon Siti, hanya bisa terdiam .
Namun reaksi berbeda Siti tunjukan ketika ia menceritakan prihal dirinya yang sempat menawarkan tubuh untuk memperoleh biaya operasi.
Siti marah.
Hingga berulang kali bertanya , mengapa ia bisa sampai berpikir untuk melakukan hal seperti itu.
Ia tatap Nana yang tertunduk .
Siti menggeleng dengan berlinang air mata.
Ia tak habis pikir dan sulit percaya .
Untuk pertama kalinya, Nana melihat dan harus menghadapi kemarahan yang bukan hanya ditunjukkan dari raut wajahnya saja.
Tapi juga dari bahasa dan nada bicara Siti.
Selama ini, Siti yang ia kenal adalah pribadi bertutur bahasa lembut meski dengan bahasa yang campur aduk.
Siti tak bisa menahan diri lagi dengan menunjukkan betapa marah dan kekecewaannya ia pada Nana.
Sempat terbesit untuk memukul punggung atau lengan sang anak. Namun tak tega mengingat Nana tengah hamil.
Tak tau harus bagaimana melampiaskannya ,iapun hanya bisa bersidekap dengan meremas kuat kerah bajunya sambil merutuki diri .
Siti menyebut dirinya sebagai penyebab utama hidup Nana kini jadi berantakan.
Jika bukan demi dirinya, Nana tak mungkin nekat sampai melelang kehormatannya. Meski hal tersebut tak sampai terjadi , karena Bian yang tepat waktu menyelamatkannya.
Namun itu terlanjur menjadi bagian dari masa lalu Nana . Yang entah bagaimana diketahui oleh ibu dan Oma Bian dan membuat mereka sulit menerima seorang Nana hingga berujung pada memperlakukannya dengan sangat tidak berperasaan.
Siti pun kian merasa bersalah , saat mengetahui Nana pergi dalam keadaan sedang mengandung.
Sempat ia menyuruh Nana untuk pulang. Namun Nana dengan tegas menolaknya.
" baik. Jika memang mak gak mau terima aku disini.
Aku pulang.
Tapi gak akan kembali pada Bian.
Aku akan menjalani hidup ku sendiri.
Dan mak gak akan pernah lagi melihat ataupun mendengar kabar dariku " ucap Nana bernada mengancam.
Siti yang tak berdaya akhirnya menyerah dan memilih membiarkan Nana dengan keputusannya.
Merasa berhasil meluluhkannya, Nana pun lantas memelas .
" biarkan aku disini, ya mak..
Kita hidup seperti dulu,lagi .
Saling menemani dan menjaga satu sama lain, em ? " Nana membujuknya.
Setelah hari itu, Siti diam tak mau bicara.
Bahkan melihat pada Nana pun tidak. Ia masih memendam kesal dan juga kesedihan yang luar biasa.
Bukan hanya pada Nana dan dirinya sendiri. Tapi pada takdir yang sudah begitu tak adil pada mereka. Terutama pada Nana.
Tak cukup terlahir sebagai yatim piatu, Nana yang pada saat itu baru saja dilahirkan sudah tak memiliki hak untuk memilih.
Ia harus masuk kedalam keluarga yang mengambilnya sebagai anak, hanya untuk di manfaatkannya saja.
Seolah tak ada habisnya. Kini Nana harus bersiap untuk menghadapi apa yang kini sudah ada didepan mata.
Hamil tanpa suami yang mendampingi . Dan entah akan seperti apa lagi kesulitan hidup yang akan dijalaninya nanti.
Siti menatap miris setiap kali pandangannya mengarah pada Nana.
Rupa yang jelita tak menjamin akan membuat hidupnya seindah wajah yang dimilikinya.
Hari berganti. Meski kini sudah kembali tinggal bersama bahkan tidur di tempat yang sama, Siti masih tak mau bicara dan memperdulikan Nana.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, perlahan kesalnya mulai terkikis.
Gerimis di minggu pagi.
Hari yang terasa sama saja bagi mereka yang tak memiliki aktivitas berbeda dengan hari lainnya.
Sama seperti Nana dan Siti yang selama ini tak memiliki kegiatan berarti . Bahkan mereka hampir tak keluar rumah .
Nana terlihat duduk sembari menatap layar tivi. Sementara Siti sibuk di dapur.
Kondisi Siti memang sudah membaik.
Selain karena proses pemulihan dan rangkaian perawatan wajib yang berjalan lancar dan rutin ia lakukan, hal tersebut didukung pula dengan kesadarannya untuk lebih ekstra menjaga kesehatan. Terutama asupan makannya.
Alhasil kini iapun bisa melakukan aktivitas dengan normal, walaupun masih terbatas.
" Na " panggil Siti setelah meletakkan hasil masakannya di atas makan berbentuk persegi .
Nana menoleh sambil mengukir senyum.
Ia senang karena akhirnya Siti mau bersuara.
Ia pun beranjak dan langsung menghampiri Siti .
Keduanya duduk berhadapan dan mulai menyantap tumis sawi dan ikan kecap hasil olahan tangan Siti.
" mak " Nana melirik wanita yang kini terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Siti bergeming dengan terus mengunyah makannya.
Nana yang tadinya berniat memulai pembicaraan pun urung melanjutkan.
__ADS_1
Ia pikir suasana diantara mereka telah mencair.
Tapi sepertinya itu hanya perasaannya saja.
Siti memanggilnya hanya untuk mengajaknya makan.
Beberapa saat kemudian.
Makanan yang tadinya ada di piring telah pindah ke dalam perut mereka.
Siti dan Nana terlihat sama-sama meletakkan peralatan makanan mereka.
" lepas ni , Nana kene dengar ape mak cakap '' Siti menatap Nana dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Nana mengangguk. Ia tak membantah.
Setelah itu Siti pun memintanya berjanji.
Apapun yang akan mereka jalani nanti, Nana tak boleh mengambil keputusan sendiri.
Sekali lagi Nana mengangguk. Ia pun meyakinkan
Siti bahwa ia akan menurutinya dan tak akan bersikap keras kepala lagi.
Keesokan harinya, Nana dan Siti nampak berkemas.
Mereka tengah bersiap untuk pindah.
Setelah sebelumnya tadi pagi Siti pergi mendatangi tempat tinggal sang adik dan istrinya.
Siti sengaja menemui mereka dengan dalih menagih uang yang waktu itu digunakan untuk membayar hutang mereka pada rentenir .
Siti yang tau jika mereka tak mungkin mempunyai uang untuk membayarnya, pun memberi pilihan .
Pasangan suami istri itu sempat berdebat. Pasalnya Siti minta untuk tinggal bersama mereka. Berserta dengan Nana juga.
Cekcok puluh menit di hadapan Siti, mereka akhirnya mengijinkan sang kakak dan Nana tinggal di apartemen kecil mereka yang hanya memiliki satu kamar.
Beruntung masih ada ruang kosong yang biasa digunakan untuk penyimpanan barang atau yang biasa disebut gudang .
Tak mengapa meski sempit dan berada di paling belakang. Ruangan itu lah yang kemudian dan seterusnya menjadi tempat baginya dan Nana berbagi untuk beristirahat.
Hari berikutnya.
Siti dan Nana memulai rencana hidup mereka yang pasti tak akan mudah untuk dijalani .
Hari berganti lagi hingga beberapa hari kemudian, keberuntungan pertama datang menghampiri. Nana mendapatkan pekerjaan pertamanya.
Pagi itu, Nana turun ke lantai dasar untuk membuang sampah.
Disaat bersamaan seorang yang mengaku pernah beberapa kali melihatnya menyapa.
Mereka ternyata bertetangga .
Wanita keturunan Tionghoa itu lalu bertanya dan akhirnya mereka pun terlibat obrolan yang lumayan lama.
Di situ wanita yang kerap disapa Ta'chik Hong mengatakan jika ia sedang mencari seseorang untuk membantunya .
Ia memiliki bisnis rumahan dengan berjualan kue.
Namun karena usianya yang sudah lanjut, maka kini ia tak bisa lagi melakukannya seorang diri.
Terutama untuk menjajakannya.
Nana pun dengan cepat menawarkan diri.
Sepulangnya ke rumah ia langsung menceritakan hal tersebut pada Siti.
Ia takut sesuatu terjadi pada kandungan Nana jika terlalu berlebihan dalam beraktivitas.
Namun setelah Nana meyakinkan dan menimbang-nimbang jika akan banyak kebutuhan yang harus mereka persiapkan, Siti dengan berat hati pun mengijinkan.
Dengan syarat, ia akan ikut Nana bekerja untuk membantunya. Tak masalah jika tak diupah. Ia hanya ingin memastikan Nana dan calon cucunya baik-baik saja.
Hari berlalu lagi, terus dan terus berlalu .
Setiap harinya , tak hanya mendorong gerobak penuh aneka jajanan kue buatan tangan ke sebuah pasar tradisional. Nana juga harus menjajakan dan melayani para pembeli dagangannya.
Beruntung tak sampai menjelang siang ,ia pasti sudah kembali dengan gerobak yang terasa lebih ringan dari sebelumnya.
Memang tak memakan banyak waktu.Tapi itu sesuai dengan harga yang ia terima setiap minggunya.
Meski tak seberapa namun tetap harus disyukuri.Begitu Siti selalu mengingatkannya agar terhindar dari rasa tak puas hati.
Tak terasa waktu berjalan tanpa pernah mereka hitung sudah berapa lamanya.
Kandungan Nana pun terlihat semakin membesar dan bertambah berat pula ia rasa.
Ketika malam datang, sering kali ia merasa pegal dan ngilu di sekitar area selangkangannya .
Ia bersyukur ada Siti yang selalu memijit kedua kaki bengkaknya.
Tak terasa, usia kandungan Nana kini sudah memasuki trimester ke tiga.
Masa penantian tinggal menunggu hari. Ta'chik Hong memintanya untuk berhenti sementara.
Ia khawatir jika terlalu memaksakan diri, Nana akan mengalami kendala di persalinannya nanti.
Dan hari yang ditunggu pun tiba.
Nana yang mulai merasakan mulas karena kontraksi, dibawa Siti dan dibantu oleh Ta'chik Hong ke sebuah klinik bersalin yang tak jauh dari apartemen yang mereka tempati.
" mak jangan khawatir.
Aku pasti baik-baik saja "
ucap Nana menenangkan ketika melihat Siti yang sejak tadi terlihat gugup .
Siti menggenggam erat jemari Nana dan tak sedetikpun ia pergi dari sisi Nana.
Nana menatap penuh haru.
Ia benar-benar bersyukur. Hidup memang sulit.Tapi rasanya sebanding sebab ia memiliki seseorang seperti Siti .
'' mak '' Nana menatap sembari tersenyum meski dengan dahi yang berkerut sebab menahan kontraksi yang sedang melanda.
Siti terlihat berkali-kali menghapus air matanya yang jatuh.
Ia tak tega melihat Nana kesakitan .
* * *
Diwaktu yang bersamaan , disisi bumi lainnya.
Terang mulai meredup. Meski masih menyisakan hawa panas sebab seharian ini matahari begitu terik.
Dua orang manusia terlihat duduk di bangku taman halaman depan rumah.
Ini pertama kalinya ibu dan anak duduk diam tanpa argumen.
Sudah tiga puluh menit berlalu sejak pak Tole menelpon dan mengatakan jika mereka sedang di perjalanan pulang .
__ADS_1
Dalam sambungan telepon tadi pak Tole juga mengatakan jika seharian ini Bian sibuk .
Selain rapat, Bian juga harus bertemu dengan seorang kolega disebuah restoran .
Setelah itu , Bian mendekam bersama dua orang kepercayaannya di dalam ruang kerjanya.
Pak Tole tak tau apa pekerjaan yang terlihat begitu mendesak dan terkesan diburu oleh sang Mister. Namun satu hal yang membuatnya heran.
Jika biasanya orang yang tengah sibuk dengan pekerjaannya akan lupa untuk mengisi tenaga. Bian justru kebalikannya.
Entah sudah berapa kali Pak Tole mendapat perintah untuk keluar membelikannya makan.
Dan anehnya , makanan yang diinginkan terbilang agak sulit ditemukan. Membuatnya terpaksa harus berada lama di jalanan untuk mencarinya.
Jadi, bukan hanya Bian saja yang sibuk dengan urusan pekerjaannya. Pak Tole pun sama. Ia sibuk melayani permintaan sang majikan yang seperti seseorang sedang ngidam.
Hem. Pak Tole memang belum dengan jelas apa yang terjadi.
Ia hanya diberitahu secara singkat oleh Elisabeth. Saat majikannya itu meminta agar memperhatikan setiap hal yang dilakukan Bian dan melaporkan sekecil apapun padannya.
'' apa kau memberitahu semuanya pada Bian ? ''
tanya Natasya pada sang ibu yang duduk di sebelahnya.
Elisabeth menggeleng perlahan.
Pandangan mereka sama-sama lurus ke depan. Entah melihat apa karena yang ada dihadapan mereka adalah rumah.
'' tau jika istrinya pergi karena kita saja reaksinya sudah seperti ini.. Bagaimana jika dia tau istrinya pergi dalam keadaan hamil ? '' suara Elisabeth terdengar getir.
Memang setiap kali teringat akan hal itu , penyesalan dan rasa bersalah seketika menghimpit perasannya. Seolah meremas jantung dan semua organ dalam tubuhnya. Rasanya sakit.
'' pak Tole bilang ,Bian suka minta dicariin makanan yang jarang ada disiang hari. Malampun juga begitu.
Pernah tengah malam, ia membangun pak Tole dan minta diantar untuk mencari bakso ''
Natasya tergelak. Merasa lucu sebab Nana yang hamil, namun justru Bian lah yang mengalami ngidamnya.
'' dulu, saat mengandung mu, aku juga begitu.
Aku selalu ingin makan makanan tertentu hingga membuat almarhum ayahmu kewalahan '' Elisabeth mengenang masa indahnya sewaktu akan menjadi seorang ibu.
Meskipun kehidupan rumah tangganya tak berjalan mulus seperti harapan. Namun tetap ada momen terbaik yang pernah ia habiskan bersama sang suami . Dan itu selalu tertanam dan tersimpan rapi dalam ingatannya. Yang pada akhirnya dirusak karena penghianatan dan meninggalnya sang suami karena kecelakaan saat hendak kabur bersama simpanannya.
'' saat mengandung Bian pun aku juga begitu.
Aku selalu ingin makanan Indonesia dan membuat ayahnya Bian kewalahan.. ''
Sama seperti sang ibu, Natasya pun kembali mengorek memori indahnya sewaktu menantikan anak keduanya bersama pria yang dicintainya.
Ternyata tak hanya sikap . Beberapa hal dalam hidup mereka pun ada kesamaannya juga. Meski tak benar-benar persisi sama.
' tit ' suara klakson terdengar.
Keduanya serempak menoleh pada kearah pagar yang sedang dibuka oleh Bi Gani.
Mobil pun masuk. Dan sosok yang ditunggu keluar dari dalamnya.
Bian berjalan begitu saja tanpa memperdulikan bi Gani yang memberitahunya bahwa ibu dan Omanya menunggunya.
Langkah Bian sempat berhenti beberapa detik dan melihat pada duduknya dua orang di sana. Setelah itu ia melanjutkan lagi jalannya .
Seperti inilah Bian sekarang.
Sejak sang istri pergi meninggalkannya , sikapnya berubah . Tak ada lagi sapaan , kecupan dan pelukan hangat yang biasa ia lakukan setiap kali pulang atau bertemu dengan ibu dan omanya.
Bahkan Bian tak pernah lagi menyambangi kamar dan menemani Elisabeth makan.
Bian benar-benar acuh pada kedua wanita yang hanya bisa pasrah sembari menatapnya lalu.
' cklek ' pintu kamar terbuka dan iapun melangkah masuk .
Kamar mandi menjadi tujuannya.
Menyegarkan tubuh dan pikirannya yang lelah akibat aktivitas pekerjaannya seharian ini.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian, Bian terlihat berjalan menuju balkon.
Inilah yang setiap hari ia lakukan.
Berdiri dengan kedua tangan bersandar di pembatasan balkon , seperti yang sering Nana lakukan.
'' jika dia benar-benar berniat pergi meninggalkan ku , kenapa tidak mengajukan cerai ? '' bergumam dengan tatapan entah kemana.
'' apa kau sadar, kalau yang kau lakukan ini adalah menyiksa ku, Nana ?
Jika kau memang ingin mengakhiri pernikahan ini, bukankah kita seharusnya bicara terlebih dahulu ? ''
Itulah pertanyaan yang selalu muncul setiap kali ia mengingat alasan Nana pergi.
Ia masih tak mengerti dan sulit menerimanya.
Bahkan tak jarang menolak untuk mempercayai semuanya.
Bian merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.
Ia coba hubungin nomor Nana yang sejak hari itu tak pernah aktif lagi. Sama seperti saat ini.
Panggilan tak tersambung sebab nomor yang dituju sedang diluar jangkauan.Kata si operator.
Ia tatap layarnya dengan jempol bergerak keatas.
Ia cari kontak Siti yang ia ingat pernah ia simpan.
Namun sekarang sudah tak ada lagi.
Ia berpikir pasti Nana yang tanpa sepengetahuan dirinya telah menghapus nomor tersebut.
'' aku merindukanmu, Nana '' Bian menghela nafas berat.
' ting' suara notif pesan yang baru masuk.
Tertera nama sang ibu sebagai pengirimnya.
" mami tau maaf saja tak akan cukup untuk menebus semuanya.
Tapi mami ingin kau tau, kalau mami benar-benar menyesal dan minta maaf "
Bain memalingkan wajahnya namun kembali lagi ke posisi semula ketika suara notif kembali terdengar .
" maaf membuatmu harus menunggu lama.
Karena ini bukan hal mudah untuk ditemukan.
Maaf, Bian. Mami sudah berusaha tapi cuma ini yang bisa mami lakukan.
Ini adalah nomor dan alamat sahabat Nana yang tinggal diluar kota.
Kau bisa bertanya padanya dan mungkin saja akan menemukan sesuatu tentang Nana.
Mami harap kau bisa menemukan dan kembali bersama istrimu lagi "
__ADS_1