Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Inilah saatnya


__ADS_3

🌺 hem.. 🌺


* * *


'' ada yang berbeda dengannya '' Han bergumam dalam hati sambil sesekali melirik wanita yang duduk di sampingnya.


Tak seperti biasanya. Cecilia nampak acuh. Tak sekalipun terlihat melirik apalagi melihatnya.


Han yang mulai tak bisa menahan diri pun akhirnya secara terang terangan menatapnya ketika mobil berhenti untuk mengantri di gerbang masuk tol.


' deg ' Cecilia meliriknya sesaat lalu dengan cepat mengalihkannya . Sorot mata Han seperti tengah menghujam jantung.


'' ken-khenapa menathapku sheperti ithu ? '' Cecilia terlihat salah tingkah.


Han tak menggubrisnya. Ia tetap menatap Cecilia yang wajahnya mulai memerah sebab ini kali pertama Han melihatnya dengan cara seperti itu.


'' apha adha yang syhalah dengankhu ? ''


Ekor matanya bergerak hati-hati untuk melirik pria yang masih tak berubah ekspresi dan posisinya .


Cecilia tertunduk.


Nyalinya ciut. Padahal ia sudah berniat untuk tidak memperdulikan Han dan menepis perasannya . Tapi nyatanya hatinya sama sekali tak bisa diajak kompromi. Tetap berdetak tak karuan.


'' seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu.


Apa ada yang salah denganku ? Karena kau terlihat tidak seperti biasa Cecil. Ada apa ? ''


'' ap-apha maksudmhu berthanya sheperti ithu ? '' gugup pun mulai menguasainya.


'' sikapmu aneh.


Biasanya kau sering melihatku. Tapi sejak tadi, kau bahkan tidak sekalipun melirikku ? ''


''... ''


'' jawab aku, Cecil .


Aku tak suka kau acuhkan seperti ini ''


'' eng ?'' Cecilia mebelalakan mata. Han sadar sedang diacuhkan ?


Cecilia memberanikan diri untuk menatap Han.


Pria itu masih terlihat seperti tadi, menatapnya begitu lekat.


'' Cecil ''


'' eng- jhangan perdhulikan akhu, Han ''


'' kenapa ? ''


''... ''


'' tapi aku tidak bisa, Cecil. Aku tidak mau .


Aku merasa tak melakukan kesalahan. Jadi tak masuk akal rasanya kalau hubungan kita tiba-tiba seperti ini ''


'' sheperti apha maksudmu ? ''


Han menarik nafas panjang dengan satu kali tarikan dan menghembuskannya perlahan.


'' aku suka kamu . Dan aku tau ,kalau kamu juga suka sama aku. Benar, kan ? ''


Cecilia tercekat. Nafasnya terasa diputus saat itu juga.


Kedua matanya pun hampir tak berkedip.


Apa ia tak salah dengar ?


Panjangnya antrian membuat mobil tak bergerak selama puluhan menit.


Dan selama itu pula Han menunggu jawabannya.


* * *


Semua orang sudah kembali ke rutinitasnya masing-masing.


Tak terkecuali Bian.


Meski ia ingin sedikit lebih banyak meluangkan waktu bersama anak dan istrinya. Namun pekerjaan yang tak menentu membuatnya beberapa hari belakang terpaksa pulang terlambat.


Begitupun dengan Nana yang tengah disibukan mengurusi surat menyurat prihal Dion.


Beruntung ada Pak Tole yang telah diberi tugas khusus oleh sang suami, untuk mengantarkan kemana pun yang menjadi tempat tujuannya .


Tak lupa, Nana pasti akan mengajak Siti .Ia tak ingin Siti jenuh jika ia tinggal di rumah.


Namun diluar dugaan. Siti justru lebih memilih tinggal dan berada di rumah bersama bi Gani untuk melakukan hobi memasaknya.


Alhasil pekerjaan bi Gani pun jadi berkurang. Karena Hampir setiap hari Siti lah yang memasak.


Nana pun tak bisa memaksa jika ternyata Siti telah menemukan hal yang disukainya.


Ia biarkan saja Siti dengan apa yang ingin ia lakukan.


Sebagai gantinya, ia membawa Susan untuk menemani sekaligus membantunya mengawasi Dion.


Pun sebenarnya Bian memang akan menjadikan Susan sebagai pengasuh Dion.


Selain bolak-balik dari rumah ke kantor pelayanan masyarakat, Nana yang berencana untuk memasukkan Dion ke sekolah lebih dahulu membawa sang anak ke sebuah pusat tumbuh kembang anak untuk melanjutkan terapi bicaranya.


Waktu berlalu dan hari pun berganti.


Hari ini semua urusan Nana selesai.


Hanya tinggal menunggu tanggal yang sudah ditetapkan untuk ia diharuskan kembali dan mengambil surat menyurat Dion.


Dan lagi-lagi, hari inipun Bian pulang terlambat. Ia sampai di rumah ketika mereka semua sudah selesai makan malam .


Nana dan Dion bahkan sudah berada dikamar. Namun mereka belum tidur. Ibu dan anak itu sedang menunggu Bian dengan duduk di sofa sambil menikmati acara televisi.


' klek ' suara pintu kamar dibuka.


Dion dan Nana kompak menoleh dan tersenyum lebar melihat sosok yang muncul dari baliknya.


'' kok belum tidur ? '' Bian membalas senyuman itu, seraya mendekati anak dan istrinya.

__ADS_1


Satu kecupan mendarat di masing-masing pipi Dion dan Nana.


Setelah itu, Bian pun bergegas ke kamar mandi. Tak butuh waktu lama untuknya selesai dengan ritual membersihkan tubuh dan lanjut berpakaian.


Bian tak sabar ingin segera bergabung bersama dua orang yang setiap hari setia menungguinya pulang kerja.


'' phapa cudah makan ? '' tanya Dion dengan logat cadel nya.


'' sudah , sayang. Tadi sebelum naik ke kamar papa makan dulu dibawah ''


Bian mengangkat tubuh Dion dan mendudukkannya di atas pangkuan lalu melemparkan pandangan ke samping.


' cup ' kecupan singkat dibibir Nana.


Keduanya terlihat begitu bahagia .


Bukan hanya karena mereka kini telah berkumpul menjadi satu keluarga yang utuh, tapi juga karena Dion yang sudah mulai banyak mengeluarkan kosa kata .


Satu bulan sudah Nana menemani Dion mengikuti kelas terapi secara rutin . Dion pun mulai banyak mengalami kemajuan . Dion mau merespon dan sudah bisa diajak ngobrol.


Hal yang membuat Nana begitu terharu, lega bercampur bahagia.


Beberapa saat setelahnya, Dion sudah terlelap dalam pelukan Bian. Dengan hati-hati , Bian membawa tubuh anaknya dan merebahkannya di ranjang.


Sempat ia berpikir , sampai kapan anaknya akan tidur bersama mereka.


Namun mengingat kondisi Dion yang memang sedang butuh perhatian ekstra, iapun menepis egonya yang ingin bisa leluasa tidur berduaan dengan sang istri.


Usai memastikan Dion terlelap dengan aman, Bian lantas kembali ke sofa. Dimana sang istri duduk menunggunya.


'' kayanya minggu ini aku masih belum bisa ke Bandung '' ucap Bian menghempaskan tubuhnya di tempat duduk empuk itu.


Nana merapat. Ia hanya bisa ber' emmm ' sebab tak tau harus berkata apa jika memang pekerjaan Bian sedang menuntut banyak waktu.


Bian pun terpaksa mengingkari janjinya yang akan mengunjungi Cecilia .


'' sayang '' Nana menjatuhkan kepalanya di dada bidang sangat suami dengan telapak tangan mendarat dan mengusap lembut permukaannya.


'' em ? '' Bian terlihat memejamkan matanya sambil membelai rambut Nana dengan perlahan. Seolah meresapi setiap helainya yang terasa begitu halus .


'' dokter bilang , kalau bisa kita jangan dulu nambah anak ''


Seketika Bian membuka matanya. Begitupun dengan Nana yang menaikan dagunya.


Keduanya saling tatap.


Nana kemudian menyampaikan penuturan dokter yang menangani terapi Dion .


Dokter meminta agar Nana mempertimbangkan bukan hanya keinginannya untuk menyekolahkan sang anak. Tapi juga untuk tidak terburu-buru memberinya adik.


Dokter menyarankan sebagai orang tua, mereka harus fokus pada satu hal dulu. Yakni Dion.


Tak hanya itu saja. Selain kerja sama dengan para medis yang saat ini menangani Dion, hal lain yang dibutuhkan adalah kebijaksanaan orang tua dan juga dukungan orang terdekat .


Agar Dion bisa segera normal seperti anak seusianya.


'' kalau memang itu yang terbaik, berarti kita harus ikuti kan ? ''


'' ... ''


'' kenapa ? ''


Bian mengangguk dan mulai berpikir.


'' terus ? ''


'' aku uda telat datang bulan. Jadi bgimana, dong ? ''


Bian mulai gugup dengan apa yang mulai menghampiri pikirannya.


'' xixixi '' Nana tertawa tertahan.


Ia menegakkan tubuh . Dilihatnya Bian yang nampak keheranan .


'' bercanda '' Nana mencubit pipi itu sekali sebab gemas dengan ekspresi melongo sang suami.


'' maksdnya ? ''


'' iya, ini aku lagi halangan. Jadi tenang aja ''


Bian menghela nafas. Lalu kembali memejamkan matanya.


Senang ,namun terbesit juga kecewa. Karena sebenarnya ia ingin punya anak lagi.


'' sayang ''


'' em ? ''


'' aku boleh, gak ngunjungin Oma dan mami mu ''


Bian membuka matanya lebar-lebar dan langsung menegakkan tubuhnya.


Ia menatap Nana tak percaya.


Nana mengangguk. Meyakinkan jika yang ia utarakan barusan bukan hanya sekedar asal bicara saja.


Sudah sebulan sejak kembali pulang.


Dan Nana terus dilanda dilema.


Hampir setiap malam ia memikirkan hal tersebut hingga akhirnya ia memutuskan untuk ke makam Elisabeth dan bertemu Natasya.


Menurut Nana inilah saatnya ia harus berdamai dengan hati dan perasannya. Ia harus bisa menerima seperti apapun keadaannya saat ini dan nanti.


Ia tak ingin hidup dengan hanya mementingkan dirinya saja. Ia juga ingin anaknya tumbuh, mengenal dan menjalin hubungan pada semua keluarga mereka dengan baik.


'' kau yakin ? '' tanya Bian dengan tatapan serius.


Nana mengangguk lagi.


'' kalau begitu tunggulah sabtu nanti.


Aku akan meluangkan waktu untuk menemanimu ''


Nana menggeleng.


'' aku bisa pergi sendiri. Lagipula kan ada pak Tole. Dia pasti tau dimana makam Oma dan tempat tinggal mamimu , kan ? ''

__ADS_1


'' tap-tapi ''


'' bukannya aku tak ingin ditemani. Tapi aku ingin menyelesaikannya sendiri.


Aku ingin menemui dan menghadapi mereka seperti kemarin . Hanya kami ''


'' ... ''


'' karena kalau ada kamu, kami tak akan bisa leluasa bicara dan meluapkan isi hati kami satu sama lain ''


'' tapi, sayang ''


'' percaya padaku. Aku janji. Kali ini kami tak akan membuat masalah lagi. Tapi akan mengakhiri masalah yang pernah terjadi diantara kami. Em ? ''


Bian mengangguk perlahan. Jujur ia ragu.


Namun ia akan coba percaya jika mereka benar-benar akan memperbaiki hubungan . Bukan membuatnya dalam kebimbangan seperti dulu lagi.


* * *


Sedikit menepi dari pusat ibu kota. Sebuah bangunan yang sempat terbengkalai kini telah dirombak menjadi tempat berpenghuni.


Dulunya bangunan tersebut hendak digunakan untuk membuat sebuah mini market. Menurut kabar yang beredar, karena letaknya yang kurang pas yakni berada di permukiman penduduk berpenghasilan rendah, maka pembangunannya tak jadi diselesaikan.


Pemiliknya tak lagi berniat membuka usaha dan memilih melelang murah bangunan yang hampir 80 % jadi.


Menggunakan warisan dari sang Oma. Bian akhirnya dapat mewujudkan impiannya membangun wisma khusus untuk manula dari kaum papa. Dan baru setahun ini, tempat tinggal untuk para lansia yang tidak dipungut biaya itu berjalan.


Namun Bian hanya bertindak sebagai donatur saja. Natasya lah yang menjadi pengelola sekaligus penanggung jawab wisma yang diberi nama ' Damai dan sejahtera ' itu.


Hal tersebut sebagai bentuk penebusannya, karena Natasya yang tak berkesempatan mengurus Elisabeth di masa tuanya.


Natasya ingin merasakan bagaimana merawat dan menjaga orang-orang yang sudah berusia lanjut.


Khususnya mereka yang hidup terabaikan karena berbagai faktor.


Ada dua puluhan lansia yang rata-rata usianya di atas enam puluh tahun yang kini menjadi penghuninya.


Sebagian dari mereka adalah yang ditelantarkan keluarga begitu saja. Tidak mendapatkan perhatian dan juga tak dirawat dengan layak.


Lalu sisanya adalah mereka yang tak sengaja ditemukan di tepi jalan . Mereka sendirian, tak berdaya dan dalam keadaan sangat memperihatinkan.


Dan lima diantaranya tergolong masih muda. Berkisar 50 tahunan , mereka yang masih bisa bergerak aktif tak lantas ditopang begitu saja.


Jika ingin tinggal dan hidup dalam wisma tersebut, maka mereka diwajibkan untuk bekerja sama dengan membantu apa saja yang sanggup mereka lakukan.


Namun bukan berarti tempat tinggal para lansia itu tak memiliki pekerja.


Ada dua belas orang yang kebanyakan adalah warga sekitar, bekerja di tempat tersebut.


Lima diantaranya bertugas khusus untuk mengurus keperluan dan kebutuhan para lansia. Dari mandi, makan hingga mengganti popok.


Lalu empat orang lainnya adalah yang bertanggung jawab atas kebersihan seluruh bangunan yang terdiri ruang utama, ruang pribadi Natasya yang juga difungsikan sebagai ruang kerjanya. Lalu enam kamar yang dihuni empat sampai lima orang didalamnya Dan terakhir adalah ruang untuk memasak yang digabung menjadi satu dengan ruang makan.


Lalu dua orang ditempatkan di dapur, sebagai juru masak dan untuk keperluan belakang lainnya.Termaksud juga mencuci.


Dan seorang lagi yang bertugas sebagai penjaga keamanan.


Dan orang tersebut adalah pak Janu.


Dia yang dulu bekerja sebagai driver taxi sudah berhenti semenjak Natasya menawarkan bekerja dengannya.


* * *


Ketika melihat supir pribadi yang biasa datang bersama anak Natasya, Janu yang memang selalu berada di gerbang bergegas membuka pagar dan menyambutnya.


Sedikit heran sekaligus penasaran pada siapa yang datang bersama pak Tole, Janu kemudian menuntun langkah kaki mereka semua, menelusuri selasar bangunan.


Tepat di depan pintu masuk ruang utama, Janu menghentikan langkah. Ia menoleh kebelakang dan meminta agar mereka sebaiknya menunggu di teras.


Sementara ia akan masuk dan mengecek apakah yang dicari sedang ada atau tidak. Kebetulan ini adalah jam Natasya berkeliling untuk mengawasi para pekerjanya.


Namun baru saja satu langkah melewati mulut pintu, Janu tersentak saat mendengar suara keras yang berasal dari dalam sana. Pun mereka semua yang mendengar juga sama terkejutnya.


'' sudah sering saya peringatkan !


Untuk berhati-hati dan sabar !


Kalau kamu gak bisa sabar dalam pekerjaan ini. Sebaiknya kamu berhenti !


Bisa-bisanya kamu perlakuan mereka seperti itu, HAH ?! Mereka itu sudah tua. Mau kamu banting juga gak akan bisa melawan ! '' suara tak asing yang lama tak terdengar.


Natasya sepertinya tengah memarahi pekerjanya.


Janu berbalik lagi. Tersenyum tak nyaman pada mereka.


'' biasa, ibu memang begitu.


Setiap hari ada aja yang kena marah .


Maklum yang kerja sini semuanya amatiran .


Gak paham cara merawat orang uda tua . Jadi sering ada kesalahan ''


Mereka semua mengangguk.


Nana dan Susan secara bersamaan melihat pada si kecil yang mengedipkan matanya cepat.


Dion agaknya takut karena suara lantang tadi.


Sedangkan pak Tole terlihat biasa saja. Sebab ini bukan kali pertama ia mendengar ibu majikannya itu marah-marah.


Ia pun sebenarnya heran. Bagaimana bisa orang dengan kepribadian tempramen seperti Natasya mau mengabdikan diri untuk hal yang menuntut kesabaran dan juga kewarasan tingkat tinggi.


Sebab tak semua orang mampu dan mau melakukan pekerjaan seperti ini. Bahkan jika dibayar pun pasti akan sangat tinggi upahnya .


Pak Tole menggeleng samar.


Sifat Natasya jauh berbanding terbalik dengan kedua anaknya. Ia pun jadi penasaran, dari mana sikap Cecilia dan Bian itu diturunkan.


Tapi yang pasti bukan berasal dari Natasya ataupun almarhum majikan tuanya, Elisabeth.


'' sebentar saya kedalam ngecek keadaan dulu '' ucap Janu begitu sopan lalu masuk kedalam.


Sepeninggalnya Janu, Pak Tole, Susan dan Nana duduk di kursi panjang yang bersandar didinding teras.


Hanya Dion yang enggan duduk dan memilih berdiri sambil mengitari sekitarnya .

__ADS_1


Beberapa menit menunggu, mereka semua serempak berdiri ketika suara langkah kaki terdengar mendekat.


__ADS_2