
🌺 hem... 🌺
* * *
'' Haaannn... '' suara halus terdengar dari luar sana.
' kreeettt ' pintu yang jarang terkunci itu terbuka.
Ratih, wanita yang kini sudah berusia berusia 50 tahun berjalan masuk ke dalam kamar anaknya yang masih betah melajang .
Bahkan diusianya yang sudah menginjak 28 tahun, Han hingga kini belum pernah membawa seorang perempuan untuk diperkenalkan sebagai kekasih . Han seolah menutup diri, setelah patah hati ditinggal Nana menikah.
Entah karena belum bisa melupakan Nana atau trauma. Ratih pun tak tau pasti apa alasannya. Namun sebagai ibu, Ratih tentu saja prihatin.
Di satu sisi ia bangga akan tanggung jawab Han yang selama ini tanpa kenal lelah bekerja untuknya dan Laras . Pun untuk Riska yang kini sudah berusia empat tahun.
Namun disisi lain, ia berharap sang anak bertemu seseorang agar bisa menjemput kebahagiaannya sendiri.
Ratih menghela nafas . Setiap kali mengingat anaknya yang seolah tak perduli pada masa depannya , Ratih begitu kepikiran.
Bagaimana tidak. Bahkan Laras saja kini sudah menikah .
Tak lama setelah menyelesaikan kuliahnya, Laras yang juga turut bekerja di tempat yang sama dengan sang kakak bertemu seorang pria dan berlanjut menjalin hubungan istimewa.
Meski awalnya ragu, namun Ratih dan Han tak sampai hati menentang ketika pria yang juga bekerja di tempat dan di bagian yang sama dengan Laras itu mengutarakan niatnya untuk menikahi Laras.
Bukannya Han ataupun Ratih memilih.
Hanya saja mereka sangat mempertimbangkan status pria yang seorang lajang sementara Laras telah memiliki anak di luar nikah .
Hal tersebut membuat Han dan Ratih khawatir sekaligus bimbang.
Namun Laras dan pria yang kini sudah menjadi suaminya berhasil meyakinkan , jika mereka tak akan mengecewakan dan akan bertanggung jawab dengan pilihan hidup mereka.
Mereka berjanji untuk hidup bahagia dan tak akan pernah mengabaikan Riska.
- -
'' Han, bangun nak. Uda jam delapan '' Ratih duduk dibibir ranjang, mengelus gundukan selimut yang menutupi seluruh tubuh anak sulungnya.
Han menggeliat. Selimut disibak, memperlihatkan wajahnya dengan mata yang baru setengah dibuka.
'' huaaaaammm.. pagi bu '' sapa Han yang diawali dengan menguap lebar .
Ratih tersenyum dan membalas sapaan Han.
'' katanya mau nganterin bosmu ke Jakarta, kan ?
Buruan sana mandi '' ucap Ratih seraya berdiri lalu menarik selimut dan melipatnya . Kemudian berlanjut dengan membereskan sisi lain tempat tidur anaknya.
Han pun memaksa tubuhnya yang masih terasa malas untuk bangun, lalu menyeret langkah menuju kamar mandi.
" si bos ? " Han tertawa kecil mengingat siapa ' bos ' yang dimaksud ibunya .
Ini sudah tahun ke empat ,sejak ia memutuskan menerima tawaran Bian.
Han kini bekerja di wisma milik suami sahabatnya yang ada di Bandung . Yang mau tak mau membuatnya harus pindah dengan membawa serta ibu, adik dan ponakannya.
Tapi bukan sebagai driver seperti pekerjaan yang selama ini selalu ia lakoni.
Han sekarang adalah salah satu orang kepercayaan Bian yang bukan hanya bertindak sebagai pengawas saja .Tapi juga mengelola Wisma tersebut .
Sama seperti DSL yang ada di Jakarta.
Damai Senior Living Bandung, begitu nama panti jompo yang diperuntukkan khusus untuk para lansia yang berasal dari kaum menengah keatas itu dikenal.
Konsep dan cara kerjanya pun kurang lebih sama seperti DSL yang ada di Jakarta dimana ia bekerja dulu.
Namun Han tak sendiri dalam menangani pekerjaannya.
Adalah Cecilia. Kakak perempuan Bian yang sudah setahun ini menjadi teman kerjanya.
Dan semenjak kedatangan Cecilia , Han mundur satu langkah dan memilih untuk membatasi diri.
Ia pun bersikap selayaknya bawahan pada atasan. Karena bagaimana pun Cecilia adalah kakak Bian yang merupakan pemilik tempat kerjanya saat ini.
- -
'' pagi, Cecil '' sapa Han pada saudara perempuan Bian yang tiga tahun lebih tua darinya itu.
'' phagi jugha, Han '' balas Cecilia dengan logat khasnya.
Han yang duduk di kursi kemudi, terlihat melirik sekilas pada Cecilia yang sudah mendudukkan diri disampingnya.
Masih jelas diingatnya saat pertama kali bertemu dengan Cecilia.
Saat itu, ia bersama Alika datang untuk menjemput Elisabeth . Dan yang menjadi walinya adalah Cecilia.
'' khita berangkhat sekarang ? '' Cecilia membuyarkan lamunannya.
Han mengangguk.
Padahal sudah setahun dan mereka hampir setiap hari bertemu, tapi Han dan Cecilia masih merasa canggung satu sama lain.
Seperti ada jarak di antara mereka.
Mungkin karena mereka tak pernah sekalipun terlibat obrolan lain selain membahas prihal pekerjaan.
Atau karena keduanya yang selalu merasa gugup saat berduaan seperti saat ini.
Han sejak tadi menahan diri untuk tak tersenyum.
Pasalnya , setiap kali berada di dekat Cecilia, ia marasa ada yang menggelitik didalam sana. Hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan terhadap Nana sekalipun.
Dan tak ia pungkiri jika ia selalu merasa senang sekaligus menantikan untuk bisa bertemu Cecilia.
Perempuan blasteran yang selalu mampu membuat seberat apapun hari kerjanya jadi tak terasa.
Han sadar jika menyukainya.
Hal yang tak jauh berbeda ternyata juga dirasakan Cecilia .
Sama seperti Han. Meski usianya sudah kepala tiga , nyatanya Cecilia belum pernah sekalipun terlibat hubungan dengan lawan jenis.
Hal tersebut tak lepas dari hubungan kedua orang tuanya yang telah berdampak pada cara pikirnya mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan.
Bisa dibilang Cecilia bukan hanya menjaga jarak dari para lelaki, tapi juga anti untuk didekati apalagi mendekati .
Tapi itu bukan berarti Cecilia tak percaya cinta. Cecilia hanya belum menemukannya saja.
Mengingat bagaimana dulu hubungan kedua orang tuanya ketika masih bersama , dan Bian yang begitu mencintai istrinya, Nana. Cecilia pun memendam keinginan untuk bisa merasakan hal yang sama.
Dicintai dan mencintai.
__ADS_1
Dan kini ia mulai mengalaminya . Rasa itu mulai hadir dan ia rasakan terhadap Han. Pria yang berhasil mencuri perhatian dan selalu mampu membuat jantungnya berdebar hebat.
Tak bisa di pungkiri lagi, jika ia telah jatuh hati pada pria berkulit eksotik di sampingnya ini.
Tapi ia terlalu malu untuk menunjukkannya apalagi sampai mengatakan jika ia menyukai Han.
Selain ia tak pernah punya pengalaman soal percintaan, sebab lainnya adalah karena ia selalu kesulitan menahan agar tubuhnya tak bergetar ketika berada di dekat Han.
- -
Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Han nampak begitu fokus menyetir sementara Cecilia beberapa kali terlihat sibuk berbicara dalam bahasa yang sama sekali tak dimengerti Han.
Selang beberapa saat kemudian, sambungan telpon internasional itu berakhir.
Cecilia melirik Han yang kedapatan tengah melirik nya.
Keduanya sama-sama memalingkan wajah dan terlihat salah tingkah.
Diam mengisi hingga tak tau sudah berapa lama waktu berlalu.
'' jadhi, khapan Nana shampai ? '' Cecilia memecah keheningan diantara mereka.
'' mereka berangkat besok di penerbangan sore. Mungkin sekitar jam 7-an sampai diJakarta ''
Cecilia mengangguk sambil ber ' o ' panjang.
Diam kembali melanda.
Han terdengar beberapa kali berdehem dan membenarkan posisi duduknya. Mencoba untuk tenang, tapi tetap saja sulit.
Apalagi saat ekor matanya lagi-lagi mencuri pandang pada dia yang duduk disebelahnya.
Jika biasanya ia melihat Cecilia dengan setelan kerja dan rambut di ikat rapi kebelakang, hari ini Cecilia nampak berbeda.
Mengenakan terusan tosca tanpa lengan dan panjang sebatas lutut yang mempertontonkan kaki jenjang dan paha putihnya, Cecilia terlihat begitu feminim. Apalagi mahkota coklat panjangnya dibiarkan tergerai .
Han menghela nafas. Ia lelaki normal yang sudah cukup usia. Hal ini jelas mengganggu pikiran sebab tampilan Cecilia begitu menggodanya .
Tak akan pernah ia duga, jika Cecilia memang sengaja berpenampilan demikian untuk melihat sejauh mana ia bisa menarik perhatian Han.
Ia merasa sudah cukup hanya memperhatikan gelagat dan sikap Han dalam diam.
Ia mulai tak tahan karena penasaran . Kenapa pria yang memiliki sikap dan kepribadian yang baik seperti Han tak memiliki kekasih ?
Cecilia mengetahui hal tersebut ketika tak sengaja mendengar para karyawan bergosip tentang Han, yang ternyata cukup populer dikalangan kaum hawa di tempat kerja mereka .
Dan dari yang ia dengar pula, beberapa dari karyawan perempuan ada yang menaruh hati pada Han.
- -
Mereka tiba ketika waktu sudah menjelang sore.
Sesaat sebelum memasuki gerbang komplek tempat tinggal Bian , Han menelpon untuk mengabarkan jika lima menit lagi mereka tiba.
'' Bian '' Cecilia berseru dengan begitu semangat saat keluar dari mobil.
Nampaknya Bian sengaja berdiri didepan rumah untuk menyambut kedatangan kakak dan sahabat istrinya .
Cecilia memeluk erat adik laki-laki seolah sudah lama tak bertemu. Padahal setiap dua atau tiga kali dalam sebulan , Bian pasti ke Bandung untuk mengunjunginya.
Bian memang telah DSL di Bandung pada Cecilia dan Han . Sebab dua tahun belakang ini ia memiliki kesibukan lain bersama sang ibu .
'' Han '' Bian menyapa pria yang tengah berjalan ke arahnya.
Mereka bertiga lalu masuk dengan Bian dan Cecilia berjalan beberapa langkah didepan Han.
Pandangan Han terpaku pada tubuh sintal dengan bagian bokong yang begitu padat berisi tengah berlenggok seiring dengan langkah maju kakinya .
Han ingin berpaling, namun matanya menolak.
Sesuatu yang tengah bergejolak dalam dirinya telah mengambil alih tubuh dan pikirannya.
Han menggeleng. Berusaha agar tak hilang kendali atas dirinya sendiri.
Han sebenarnya belum begitu yakin.
Apa yang selalu ia rasakan ketika tengah bersama dan melihat Cecilia .
Jika ini nafsu maka Han merasa ini salah.
Tapi jika ini cinta maka wajar jika ia tertarik pada setiap hal yang ada pada Cecilia.
Menginginkan dan selalu terpaku pada orang yang kau sukai. Bahkan tertarik secara seksual. Bukankah itu terdengar masuk akal ? Han mengangguk samar. Seolah mencari pembenar akan pikiran mesumnya yang terpancing oleh Cecilia.
Waktu menyongsong malam. Mereka yang lelah menyambut waktu untuk beristirahat dengan tidur.
Dua orang yang lelah karena perjalanan tadi terlihat sudah lelap dalam balutan selimut .
Sedangkan seorang lainnya justru kesulitan untuk memejamkan matanya.
Bian terlihat bolak-balik dan berulang kali mengubah posisi tidurnya.
Bahkan ketika jarum jam berada diangka dua , kedua matanya masih tak mau ditutup.
Bian gelisah.
Memikirkan jika tinggal menghitung jam ,penantiannya selama hampir lima tahun akan segera berakhir.
...* * *...
Mentari menyapa pergantian waktu.
Bian terbangun ketika mendengar suara Cecilia yang memanggilnya untuk sarapan.
Bian mengukir senyum dan bergegas keluar kamar.
Waktu terus berjalan. Namun entah mengapa terasa begitu lambat berputar.
Membuat suasana hati seorang yang dirundung gelisah bertambah tak karuan.
Hingga akhirnya yang ditunggu pun tiba.
Pukul 6 sore, Bian sudah berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Ditemani dua orang yang memilih duduk di kursi yang jaraknya cukup jauh ,Bian berdiri di depan gerbang kedatangan yang pintunya masih tertutup rapat.
Bian nampak begitu gugup .
Keringat dingin mulai membasahi sekitar pelipis dan sudut keningnya .Sesekali ia terlihat mondar dengan pandangan tak lepas dari pintu yang dijaga dua orang petugas Bandara.
Lalu berhenti saat pintu transparan itu mulai terbuka lebar.
__ADS_1
Para manusia dari berbagai bentuk, usia dan gender itupun mulai berbondong-bondong keluar.
Bian mengukir senyum. Jantungnya berdegup kencang.
Ia menarik nafas panjang menghembuskannya dengan perlahan.
'' itu mereka ''
Bian sedikit terkejut. Karena tiba-tiba Han sudah berada dibelakangnya.
Ia menoleh sesaat pada pria berkaos hitam yang kini berdiri sejajar dengannya.
Han menaikan sekali dagunya, menunjuk ke arah dua orang yang berjalan keluar lalu memisah arah dengan gerombolan lainnya.
Mata mereka seketika tertuju pada bocah laki-laki yang bergandengan tangan dengan wanita berwajah tirus dan tubuh yang terlihat kurus .
Itu Siti dan itu pasti Dion.
Mata Siti terbelalak ketika mendapati dua orang yang sedang berjalan cepat kearahnya.
'' mak '' sapa Han begitu langkah mereka sudah berhenti tepat dihadapan Siti dan Dion.
Siti tersenyum lebar membalas sapaan Han. Ia lalu maju menggeser langkah untuk benar-benar berhadapan dengan Bian.
Dion yang lepas dari pegangannya sempat melirik Han sesaat .Namun ia lebih memperhatikan Bian.
Mata polosnya bergerak-gerak seolah mengatakan jika ada banyak pertanyaan yang kini hinggap dikepalanya.
Diakah papa yang selalu sang nenek katakan itu ?
Sosok yang selalu nenek ceritakan , namun tak pernah sang mama perkenalkan padanya ?
Pegangan tangan Dion menguat saat tatapan Bian semakin lekat dengan terus memasang senyum terbaik diwajah tampannya.
Dion manarik diri dan bersembunyi dibalik tubuh neneknya.
'' Bian '' Siti menepuk sekali lengan yang terasa keras itu lalu mengusapnya lembut.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Akhirnya setelah bersusah payah mengikis kerasanya pendirian Nana, ia bisa mempertemukan ayah dan darah daging yang sama sekali belum pernah bertemu secara langsung.
Bian memeluk Siti sesaat dan melepaskannya.
Ia kemudian berjongkok untuk menyapa Dion .
Setelah dibujuk Siti, Dion akhirnya mau menunjukkan diri.
'' hei, boy '' Bian menyapa dengan suara khasnya yang lembut dan hangat.
Siti melepas pegang tangannya.
Membiarkan dua orang yang memiliki kesamaan fisik itu berhadapan.
Dion memutar lehernya, melihat Siti yang tersenyum seraya mengangguk beberapa kali.
Menegaskan jika tak akan terjadi hal buruk sebab dia adalah ayahmu.
Dengan perlahan Dion kembali menatap ke depan .
Pada Bian yang berjongkok dengan satu tangan terulur .
Mereka memiliki mata dan rambut yang sama berwarna coklat. Hidung mancung dan berkulit putih.
Tubuh Dion pun terbilang lebih besar dan tinggi dari anak seusianya.
Sepertinya ia mewarisi gen sang ayah yang memiliki tubuh besar dan tinggi.
'' papa ? '' kata pertama yang terdengar membuat Bian tak tahan lagi.
Segera saat Dion meraih tangannya, ia memeluk dan menggendongnya.
Bian tatap lekat-lekat wajah yang masih nampak kebingungan itu. Lalu berkali-kali mengecup pipi, kepala dan hampir seluruh wajahnya.
'' iya, sayang ini papa ''
Sekali lagi Bian memeluknya begitu erat.
Rasa membucah dalam dirinya tak sanggup ia tahan hingga membuatnya harus beberapa kali menyeka air mata yang keluar dari kedua sudut matanya.
'' mana Nana ? '' tanya Han pada Siti.
Pertanyaannya seolah mewakili Bian yang sesaat hanya terpaku pada Dion.
'' tu, die '' Siti menunjuk dengan ekor matanya dan tersenyum sumringah.
Rambut panjangnya diikat tinggi, memperlihatkan seluruh permukaan wajah jelitanya yang putih mulus meski tak pernah tersentuh perawatan khusus.
Sebab ia memang sudah terlahir cantik tanpa perlu polesan atau ditambah apapun.
Tubuhnya terlihat sedikit berisi. Mungkin karena sudah pernah hamil dan melahirkan.
Tapi justru membuat tampilannya terlihat lebih menarik.
Dia terlihat berbeda dari yang terakhir kali terlihat.
Terlihat begitu dewasa .Mungkin karena perjalanan hidup yang harus ia lalui selama hampir lima tahun ini.
Nana yang tadinya berjalan dengan langkah cepat sambil menarik dua buah koper di kedua tangannya, seketika langkahnya melambat melihat siapa yang ada dihadapannya.
Sesaat ia melihat pada Bian yang tengah menggendong anak mereka.
Lalu tatapannya beralih secara bergantian pada Siti dan Han.
" dasar pengkhianatan "
Nana menatap tajam dua orang tersebut. Entah pada siapa tepatnya kalimat itu harus ia lontarkan.
Pada pria yang tersenyum dan berlagak tak mengerti itukah ?
Atau pada maknya yang juga tersenyum , seolah mengatakan jika ia tak perduli apapun yang akan Nana lakukan setelah ini. Mau marah atau murka sekalipun. Sepertinya Siti telah siap menanggung resikonya .
Nana melanjutkan langkah yang tadi terhenti dengan sedikit mengurangi kecepatannya .
Ia berjalan ke arah Bian yang sejak tadi tak melunturkan senyuman.
Namun, bukannya berhenti. Nana justru nelongso begitu saja melewatinya.
Sebuah reaksi yang mereka semua duga.
Bian berbalik dan bergegas menyusul sang istri sambil menggendong putranya yang lagi dan lagi ia kecup pipinya.
Lalu diikuti Han dan Siti yang kompak melangkah bersamaan.
__ADS_1
Hanya Cecilia yang tak menyadari jika mereka semua kini tengah menuju parkiran .
Sebab tadi ia ke toilet dan berada cukup lama didalamnya.