
"Setiap kali lihat ke belakang, jadi kepikiran kalau saja saya menyerah hari itu, mungkin saya tidak bisa menikmati bahagia hari ini. Semua yang rusak akan dipulihkan pada waktunya".
✨✨✨
Mereka berdua masih saja bercengkrama di kafe itu tanpa mengingat waktu yang bahkan sudah hampir malam.
Melihat keakraban mereka banyak yang mengira mereka adalah sepasang kekasih, namun siapa yang tahu jika mereka saja baru akrab sore ini.
"Eh dek, Lo selama ini sering nongkrong disini ya?" tanya Sena karena melihat adik tingkatnya cukup mengenal beberapa pelayan di kafe tersebut.
"Jelas dong, gue sering ke sini kak, bahkan gue pernah Lo nginap di sini hanya karena gue malas tidur di rumah," ucap Ivan santai.
"Maksud Lo, Lo semalaman tidur di sini hanya karena malas balik rumah?" seru Sena tak percaya.
"Iya. Gue udah ulang-ulang malahan!" jawab Ivan santai sambil tertawa ringan.
"Wahhh!! gak percaya gue, emang pemilik kafenya gak marah gitu?" tanya Sena dengan masih tertawa karena ulah juniornya.
"Mereka tahu kok tentang gue, jadi santai aja!" jawab Ivan terkekeh.
"Maksudnya?" tanya Sena
"Gak maksud apa-apa, wkwkwk!" tanggap Ivan lucu.
"Hisss, berasa kek hidup lo penuh misteri aja dek! dramatis tau gak!" seru Sena
"Eh kak," panggil Ivan sambil sesekali menyesap coklatnya.
"Hmm?" gumam Sena masih fokus ke ponselnya.
"Kakak pasti ditanyain ibunya ya, karena gak balik-balik di jam segini?" ucap Ivan memperhatikan seniornya.
"Hah?" kerut Sena penuh tanya.
"Ya, kakak kan dari tadi fokus nya ke ponsel, di cariin sama mamanya?" tanya Ivan lagi.
"Oh ini, gak kok. Gak di cari siapa-siapa kok!" jawab Sena terlihat agak murung.
"Ya, ku kira kakak di hubungi sama mamanya, hehehe. Kak ak-" namun ucapan Ivan terpotong.
"Mama saya udah meninggal...!
Jadi gak akan ada yang nunggu kakak karena khawatir di rumah kok!" ucap Sena tersenyum miris.
"Kak maaf, gue gak bermaksud tadi-" ucap Ivan.
"Gapapa dek, Lo emang kan gak tahu!" jawab Sena tersenyum sambil mengacak rambut Ivan.
"Kak!!" panggil Ivan pelan.
"Ya...?" jawab Sena sambil menatap juniornya.
"Gue boleh gak, setelah ini jadi teman kakak. Jujur kakak tuh nyambung banget sama gue, udah lama bahkan sejak gue masuk ke kampus. Gue mau jadi teman kakak! Gue bisa gak!, tenang aja gue bakal jadi adik yang baik buat kakak. Gue gak akan buat semau gue lagi sama hidup gue yang sekarang. Dari dulu gue berharap banget punya kakak cewek yang bisa gue ajak berantem tapi bahkan sampai hari ini pun impian itu udah gak bisa gua harapkan lagi!" seru Ivan sambil menunduk.
"Dek,, lo kenapa? Lo ada masalah?" tanya Sena menatap juniornya.
"Gak kok, maaf ya kak. Aku gak bermaksud tadi, pasti kakak gak nyaman banget ya!" seru Ivan lagi.
__ADS_1
"Ya ampun, gak gitu dek. Kalau lo mau gue bisa jadi kakak lo mulai sekarang. Lo gak perlu sampai segitunya sama kakak. Gue malah senang lo mau temanan sama kakak bahkan mau jadi adik yang baik buat gue. Kalau ada apa-apa bilang sama kakak ya!" senyum Sena menatap hangat junior sekarang.
"Serius kak!" tanya Ivan tak percaya.
"Iya serius. Mulai sekarang lo gak perlu canggung sama kakak lagi, gak perlu terlalu jaim juga di depan kakak. Kakak lebih suka lihat lo yang blak-blakan," jawab Sena mengacak gemas rambut Ivan.
"Makasih banyak kak! Makasih. Yess!!" seru Ivan yang sudah bangkit dan melompat kesenangan.
"Kocak banget sih lo!" Sena tertawa lepas.
"Gue seneng banget kak!" teriak Ivan tak memperdulikan orang yang melihatnya.
"Lo ga malu apa, diliatin banyak orang tuh," ucap Sena masih tersenyum.
"Kakak harus tahu ini, udah lama sebenarnya gue mau bicarakan ini!" seru Ivan yang kembali duduk dengan wajah berseri.
"Tau apaan?!" tanya Sena sambil menyesap coklat hangat.
"Kakak tebak gue rumahnya di mana?" tanya Ivan tersenyum mengejek.
"Hmm, gak tahu lah kan belum bilang!" jawab Sena santai.
"Yaa, gak seru deh! gue tetanggaan sama kakak padahal," jawab Ivan santai.
Byuuuurrrrrr!!!
"Maksudnya, Lo rumahnya dekat sama gue?" tanya Sena setelah menyemburkan minumnya karena tak percaya.
"Gak usah lebay gitu kali kak. Iya tepatnya rumah yang samping rumah kakak," senyum Ivan.
"Dek, berarti lo udah kenal sama gue!!" curang ya Lo ternyata. Sini Lo!!" ucap Sena kesal dan bangun berniat untuk mengejar juniornya yang nakal itu.
Namun....
"Sena!!" panggil seseorang.
Yang merasa namanya di panggil pun berhenti tiba-tiba.
"Eh, kak Rey," ucap Sena sedikit malu karena dia sudah berteriak tadi.
"Ngapain?" tanya Rey mendekat dan mengacak rambutnya.
"Kita baru selesai makan kak! Kakak sendiri mau makan juga?" tanya Sena
"Kakak cuma pesan kopi kok! Kamu ke sini bareng siapa?" ucapnya dengan tersenyum hangat
"Oh, itu. gue bareng Ivan kesini, tuh orangnya," jawab Sena sambil menunjuk ke arah Ivan yang sudah terlihat sedang duduk di luar pintu depan kafe.
"Oh. Kalau mau balik tunggu sekalian bareng sama kakak aja. Aku gak terima penolakan! Udah tunggu di depan sana!" seru Rey lembut.
"Iya, tapi See masih mau ke kasir buat bayar," ucapnya sambil melangkah tapi ditahan
"Gak usah biar kakak aja yang bayar!" jawab Rey hangat.
"Gak usah kak! Lagian kita makannya banyak tadi, biar gue bayar aja!" jawab Sena tak enak.
"Gapapa, kakak gak terima penolakan lho! udah ya sana samperin temannya takut balik duluan nanti," ucap Rey sambil membalikkan badan Sena pelan mengantarnya di pintu keluar.
__ADS_1
Rey pun melangkah ke kasir untuk membayar dan sekalian mengambil pesanannya.
Sementara itu...
"Dek!!" ucap Sena mengambil tempat duduk di samping Ivan.
"Itu bukannya Kak Rey yang-" belum sempat dilanjutkan.
"Iya. dia senior di kampus. dan kebetulan kak Rey juga tetangga kakak, eh lupa tetangga kita maksudnya,"jawab Sena santai.
"Oh ya, wah bagus dong. Kita bisa punya teman yang ganteng kayak dia," ucap Ivan sumringah.
"Ada-ada aja Lo, udah kita tunggu kak Rey balik sama kita ya!" ucap Sena.
"Iya deh," jawab ivan.
"Ayok!!" ajak Rey yang sudah berdiri di depan mereka.
Mereka pun melangkah menuju parkiran lebih tepatnya di mobil Rey.
"Hm kak, Ivan boleh gak bareng sama kita?" tanya Sena tak enak.
"Boleh, ayok! Ivan rumahnya arah mana?" tanya Rey ketika sudah berada dalam mobil.
"Searah kak. Rumahnya di sebelah rumah gue!" seru Sena semangat.
"Oh, ya. Berarti kita tetanggaan dong!" seru Rey.
"I-iya kak," jawab Ivan canggung.
"Santai aja sama gue, Lo gapapakan duduk sendiri di belakang?" tanya Rey karena ia sudah mengajak Sena duduk di sebelahnya.
"Gapapa kak!" jawab Ivan
"Eh dek! Lo kapan-kapan main ke rumah gue ya!" seru Sena sambil membalikkan badannya ke belakang.
Ivan hanya mengangguk saja karena tak enak ada seniornya di depan selain Sena.
Sementara Rey yang mendengar hal itu cukup kaget melihat mereka ternyata cukup akrab.
"See, nanti malam sibuk gak?" tanya Rey menoleh ke samping.
"Gak deh kayaknya!" jawab Sena sambil fokus melempar bingkisan permen ke arah Ivan yang duduk di kursi belakang.
"Bagus deh! Nanti kakak chat ya!" seru Rey tersenyum.
"Hm," Sena.
Ivan yang melihat itu merasa ada yang sedikit ganjal antara keduanya. ia pun beralih ke ponselnya.
Setelahnya....
"Makasih kak, udah ngantar gue sampai rumah!" seru Ivan membungkuk.
"Sama-sama dek, sana masuk udh malam nih," ucap Rey yang mengacak gemas rambut Ivan yang tengah berdiri di samping pintu mobilnya.
"Selamat malam Ivan, sampai ketemu di kampus ya. jangan lupa datang main ke rumah ya!" ucap Sena di samping Rey.
__ADS_1
"Siap!" jawab Ivan tersenyum hangat karena merasa kedua seniornya itu begitu baik padanya.