Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Pikiran kotor


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Susana mendadak sunyi.


Natasya terpaku dengan pandangan lurus tertuju pada satu orang. Nana.


Ia menatap tak percaya pada siapa yang ada dihadapannya saat ini.


'' mama '' suara Dion memecah keheningan.


Sontak pandangan Natasya beralih pada bocah laki-laki yang sedang merapat pada Nana .


'' cucuku ? '' Natasya menatapnya lekat.


Dion yang merasa tak nyaman ,terlihat menggeser tubuh dan bersembunyi dibelakang Nana.


'' Dion ... '' Nana sedikit menarik tangan Dion yang memegang ujung bajunya.


Dion enggan. Ia palingkan wajahnya dan menggeleng .


Wajah Natasya seketika berubah pias. Sadar jika baru saja mendapat penolakan.


" ma-masuklah '' ucap Natasya terlihat canggung .


- -


Karena Dion takut, dengan terpaksa Nana meninggalkannya bersama Susan dan pak Tole diluar.


Dion sempat menolak . Ia tak ingin ditinggalkan sang mama.


Namun saat Nana mengatakan jika ia akan kedalam bersama wanita yang membuatnya takut , Dion pun menurut dan membiarkan Nana masuk.


'' mama janji gak akan lama '' ucapan Nana sebelum


akhirnya melangkah mengikuti Natasya .


Hanya setelah melewati ruang tamu , mertua dan menantu itupun sampai diruang kerja Natasya.


Ruangan tersebut dibagi menjadi dua . Bagian utama adalah tempat kerja Natasya yang hanya ada sebuah meja. Yang diatasnya terlipat laptop dan tumpukan kertas, serta dua buah kursi yang saling berhadapan . Terlihat juga sebuah kipas angin berdiri di sudut ruangan.


Sedangkan ruang satu lagi adalah tempat dimana Natasya merebahkan tubuhnya untuk beristirahat.


'' duduklah '' Natasya mempersilahkan.


Keduanya pun duduk secara bersamaan.


Diam beberapa detik .


Atmosfer diruangan tersebut diliput kecanggung. Rasanya tak nyaman. Mungkin karena ingatan masa silam yang tengah membayangi pikiran mereka masing-masing.


Jangankan bicara. Keduanya bahkan terlihat mengindari tatapan.


'' ap - '' keduanya serempak berucap dan juga terhenti seketika.


Nana dan Natasya sama-sama memberanikan diri untuk saling menatap.


Gugup. Berulang kali mereka terlihat seperti kesulitan menelan ludah dan mengatur nafas.


'' ma-mami bicaralah lebih dulu '' ucap Nana dengan bibir bergetar.


Natasya membelalakan mata. Tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Nana memanggilnya apa ? Mami ?


'' ma-maaf kalau aku lancang memanggilmu - '' belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Natasya dengan cepat menyanggahnya.


'' tidak. Tidak apa-apa . Aku tidak masalah kau memanggilku seperti itu "


Nana mengangguk. Ia lega Natasya tak keberatan ia panggil dengan sebutan yang digunakan oleh Cecilia dan Bian.


Suasana kembali sunyi.


'' emm... bagaimana kabar mu ? ''


Natasya mengukir senyum. Senyum yang dulu selalu sinis kini terlihat lembut dan bersahabat.


'' seperti yang kau lihat .


Aku baik. Malah merasa jauh lebih baik ''


Nana mengangguk.


'' maaf, jika kabar baik ku membuatmu kecewa '' suara Natasya terdengar lirih.


'' tidak. Sama sekali tidak. Aku justru bersyukur jika memang kau hidup dengan baik ''


'' ... ''


Nana menilik . Ekor matanya bertemu dengan kedua bola mata Natasya yang juga tengah meniliknya.


'' ka-kau sendiri bagaimana kabar mu dan... ''


'' Dion. Namanya Dion ''


'' Dion ? Oh, jadi namanya Dion.


Dia terlihat seperti Bian sewaktu kecil '' Natasya tersenyum tipis. Sejenak pikirannya tengah membandingkan rupa anak dan cucu laki-lakinya.


Sungguh mengemaskan.


'' ... ''


'' Nana- ak- aku min- ''


Kali ini Nana yang memotong sebelum Natasya menuntaskan apa yang ingin ia sampaikan.


'' mari kita lupakan semuanya '' Nana menatap dengan penuh keyakinan.


Natasya menatapnya lalu menunduk .


Ia nampak menyeka air matanya.


'' tapi tetap saja... ''' Natasya menegakkan kepala .


Kemudahan ia kembali melanjutkan ucapannya.


'' sudah seharusnya aku minta maaf .


Sikapku dulu sudah sangat keterlaluan padamu.


Aku hampir membuat mu dan Bian berpisah. Bahkan kau sampai harus pergi meninggalkan Bian dalam keadaan hamil ''


Nana meraih tangan yang tergeletak di atas meja dan membalut dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


'' cukup.


Jangan lagi membahasnya.


Aku tak ingin lagi mendengar dan mengenang masa itu.


Dan ku rasa kau pun sama ''


Air mata Natasya mengalir tanpa henti.


Yang Nana katakan benar. Tak satupun dari mereka yang mau mengingat kejadian lima tahun lalu .


'' kita semua sudah menyadari kesalahan masing-masing.


Jadi, akan lebih baik jika kita memaafkan diri sendiri dan berdamai dengan keadaan .


Kurasa itu lah yang seharusnya kita lakukan .


Maaf jika aku terkesan mengatur .


Tapi kuharap, kita bisa memulai lagi semuanya dari awal.


Tanpa mengungkit lagi kenangan pahit yang pernah terjadi di antara kita ''


Natasya menangis tergugu. Ia pikir, jika Nana pulang nanti, Nana tentu tak akan mau bertemu dengannya. Ia bahkan selalu dihantui ketakutan bagaimana jika Nana mengajukan perpisahan pada Bian.


Tapi ia salah. semua tak lebih dari kekhawatirannya saja. Nana kembali bersama Bian dan mau menemuinya. Dan Natasya sangat bersyukur akan hal itu.


'' ak-aku janji, Nana. Aku akan menebus semua kesalahan yang pernah ku lakukan dulu.


Dan mulai sekarang hingga seterusnya , aku pasti akan bersikap baik padamu '' satu tangan Natasya menimpa punggung tangan Nana dan membentuk sebuah gundukan.


Setelah beberapa saat, Nana dan Natasya mengakhiri pembicaraan mereka yang penuh dengan haru.


Di teras, Dion terlihat duduk dipangkuan Susan . Mereka memang sedang menunggu Nana .


Namun melihat wanita itu ikut bersama sang mama, membuat Dion enggan turun dari pangkuan Susan.


'' Dion. Sini sayang '' panggil Nana.


Dion menggeleng.


Natasya menatap Nana sembari tersenyum kaku.


'' tak apa. Jika memang dia tak mau jangan di paksakan '' ucap Natasya merasa tak nyaman jika harus memaksa sang cucu untuk menghampirinya.


'' apa mami gak ingin melihatnya dari dekat ? ''


'' ... '' Natasya terlihat menghela nafas lalu mulai mengambil langkah dengan perlahan .


Dion yang melihatnya mendekat, seketika membenamkan wajahnya dan meringsuk dalam dekapan Susan.


Natasya duduk disisi Susan. Dion yang menyadari itu lalu mengintip . Dilihatnya Nana juga ada dan berdiri tepat di samping si wanita bertubuh gembul .


'' Dion '' Natasya menyebut nama sang cucu dengan begitu lembut.


Susan pun terdengar membujuk agar Dion mau berbalik .


Setelah dibujuk sana sini, Dion akhirnya mau menarik diri dan berbalik. Ia menarik wajahnya ke atas, menatap Nana dengan sorot mata yang sulit diartikan.


Nana lalu mendekat lalu menekuk kedua lututnya .


'' Dion jangan takut. Ini Oma, mamanya papa. Sama kaya nenek '' ucap Nana berusaha meyakinkan.


'' Oma ? ''


Natasya tersenyum senang. Ia lalu meraih tubuh Dion dan memeluknya.


Terlihat air mata yang mengalir perlahan dan membasahi permukaan wajah yang sudah banyak dihiasi keriput.


* * *


'' habis ngelewatin gerbang, nyonya mister terus aja masuk ampe kedalam. Nanti sebelah pojok kanan ada tiga makam berwarna putih. Makam Oma salah satunya.


Nah, nanti nyonya mister pastin aja dari tulisan yang ada di nisan''


Nana mengangguk paham.


Ia lalu memutar tubuh kebelakang dimana Dion terbaring dengan kedua mata tertutup rapat.


Sepulang dari menemui Natasya tadi, mereka sempat berhenti untuk makan siang.


Setelah itu Nana pun minta untuk diantar ke pemakaman.


'' kalian tunggu disini saja. Saya titip jagain Dion sebentar , ya '' ucap Nana yang setelah itu keluar dari mobil .


" gerimis " Nana menadahkan telapak tangannya saat merasa tetesan air menyentuh indra perabanya.


Dinaikan wajahnya, menatap langit yang tadinya cerah kini tiba-tiba diselimuti awan abu.


Kenapa setiap kali ia menginjakkan kaki ke pemakaman , cuaca selalu seperti ini ?


Nana kemudian melanjutkan langkah sesuai dengan yang pak Tole jelaskan tadi.


Kedua kakinya berhenti sejajar tepat di depan sebuah makam bercat putih .


Selain tercantum nama, tanggal lahir dan wafatnya, terdapat pula foto berbentuk bulat ditengahnya.


Tak salah lagi. Nana kini berdiri di hadapan makam Elisabeth.


'' maaf terlambat mengunjungi mu, Oma '' Nana menatap nanar sambil meletakkan buket bunga yang sempat ia beli di perjalanan tadi.


Tiba-tiba saja hatinya terasa perih. Membayangkan Bian yang berdiri ditempatnya berpijak saat ini.


Entah seperti apa perasaannya yang tak berdaya melihat Oma yang begitu dicintai sudah tertanam didalam sana.


'' maaf, Oma . Maaf baru mengunjungi mu sekarang..maaf '' tangis Nana pecah seiring dengan berulang kalinya ia mengucapkan kata maaf.


Ia teringat jika wanita yang kini sudah bergelar almarhum ini pernah beberapa kali mengutarakan keinginannya untuk melihat Bian memiliki anak.


Elisabeth ingin melihat cicitnya.


Dan Nana menyesal telah membuat keinginan itu tak tersampaikan.


Ia bahkan dengan sengaja pergi setelah mengatakan jika dirinya tengah mengandung .


Nana tertunduk dengan bahu bergetar.


Ia peluk dirinya sendiri, dengan kedua telapak mengusap lengannya.


'' Oma juga minta maaf padamu '' suara yang membuatnya menegakkan kepala dan menoleh seketika.


'' sayang ? '' Nana mendapati sang suami yang sudah berdiri dibelakangnya .

__ADS_1


Ia menatap heran, sebab sama sekali tak menyadari kapan Bian datang.


Ternyata, setelah makan siang tadi. Bian mengirim pesan pada Pak Tole. Menanyakan prihal istrinya. Pak Tole pun membalas jika tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ditambah ia juga memberitahu jika mereka tak langsung pulang sebab Nana minta diantar ke pemakaman .


Bian yang menduga jika yang dimaksud adalah mengunjungi makam Elisabeth pun membatalkan semua urusan pekerjaannya dan bergegas menyusul Nana.


Ia tak ingin Nana menikmati kesedihannya seorang sendiri .


Dan seperti dugaannya.


Ia yang sampai beberapa saat lalu, mendapati pemandangan yang begitu memilukan.


Nana berdiri didepan makam Elisabeth. Kepalanya tertunduk, tubuhnya bergetar dengan kedua tangan merengkuh dirinya sendiri.


Nana pasti diliputi kesedihan dan rasa bersalah yang begitu mendalam.


Terlepas dari perlakuan buruk yang telah dilakukan Elisabeth dulu kepadanya, Nana menyadari jika ia pun telah melakukan kesalahan.


Dengan keegoisan dan juga kekerasan kepalanya , ia tega meninggalkan Bian dan memisahkannya dari anak mereka.


Bian mendekap tubuh Nana yang mulai basah karena dijamah ribuan air hujan yang turun semakin deras.


'' aku sudah minta maaf pada ibumu.


Tapi aku gak berkesempatan melakukannya pada Oma '' ucap Nana terdengar begitu pilu.


Bian mengusap punggung Nana dengan lembut dan semakin mengeratkan pelukannya untuk menyalurkan ketenangan.


'' Ikhlasin semuanya, sayang. Semua uda berlalu. Uda gak ada yang perlu disesali lagi ''


Nana semakin sesenggukan saat Bian mengatakan jika sebelum meninggal Elisabeth meminta agar Bian menyampaikan permintaan maafnya pada Nana.


Sore yang berisik. Air hujan yang turun semakin deras mengiringi isak tangis Nana yang kian menjadi-jadi.


Karena hujan yang turun semakin deras, Bian lantas mengajak Nana pulang.


Nana yang basah kuyup terpaksa memisahkan diri dengan masuk ke mobil yang Bian kendari sendiri.


* * *


Suara klakson mobil terdengar beberapa kali, pertanda sang majikan sudah pulang.


Sambil memegang payung, Bi Gani memburu langkah untuk membuka pagar .


Dua buah mobil masuk secara berurutan di halaman rumah.


Usai menutup pagar , bi Gani kembali bergegas menuju mobil paling depan.


'' disana aja, Bi . Ada Dion soalnya. Saya gak usah. Uda terlanjur basah '' tolak Nana saat Bi Gani bermaksud untuk memayunginya .


Bi Gani pun hanya bisa menurut dan segera beralih ke mobil yang ada di belakang.


Nana dan Bian masuk terlebih dahulu dan berhenti sesaat karena berpapasan dengan Siti yang menyambut di mulut pintu.


'' mak, titip Dion sebentar ya.


Nanti suruh Susan ke atas ambil baju ganti . Sekalian bilang Susan tolong mandiin Dion .


Aku sama Bian basah, mau cepat-cepat mandi ''


Siti mengangguk seraya mengiyakan.


Dilihatnya pasangan suami istri yang berjalan semakin tinggi hingga menghilang ketika pintu kamar ditutup.


Tak lama, si pusat perhatian pun mendaratkan kakinya di teras rumah setelah Susan menurunkannya dari gendongan.


'' mama mana ? '' Dion celingukan. Sejak tadi hingga disepanjang perjalanan pulang ia tertidur dan tak mengetahui jika Nana pindah ke mobil Bian .


Dion memutar leher, dilihatnya mobil yang dikendarai sang papa . Namun ia tau sepertinya tak ada orang didalamnya atau mungkin sudah keluar.


'' papa cuda puang ? ''


Siti mengangguk sambil mengelus kepala Dion dengan lembut lalu menjelaskan jika ke dua orang tuanya tadi kehujanan dan sekarang sedang mandi.


'' jadi, Dion kat' nenek dulu ye '' ucap Siti yang setelah itu menyuruh Susan untuk naik ke atas mengambil baju ganti Dion sesuai pesan Nana tadi.


Susan pun melakukan apa yang diperintahkan majikannya itu.


Ia naik ke atas.


Sementara itu dikamar atas.


" kamu mandi duluan, aja. Aku tunggu Susan datang mau ngasi baju ganti buat Dion "


" kamu aja yang mandi duluan. Siapin aja bajunya nanti kalau Susan datang biar aku yang kasiin "


" sayang, kamu kan mandinya sebentar. Kalau aku mandinya bakalan lama. Uda de gak usah debat. Sana mandi " mendorong tubuh Bian dengan sekuat tenaga. Namun sia-sis saja walau ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya.


Karena tak sedikit pun Bian bergeser .


'' kalau gitu kita mandi bareng aja, gimana ? '' tersenyum menyeringai.


" aku masih halangan sayang.


Lagian mami katanya mau datang makan malam sama kita.


Jadi harus ada yang duluan turun.


Terus nanti Dion juga pasti nyariin kalau salah satu dari kita gak turun-turun ''


Dengan wajah kecewa, Bian pun menurut untuk mandi terlebih dahulu.


' tok. tok. tok '


'' permisi, nyonya mister ''


' klek ' Nana muncul dan mempersilahkannya masuk.


Dilihatnya Nana tengah berbalut kamer jas putih. Dan samar terdengar suara air dari dalam kamar mandi.


'' ini baju gantinya.


Tolong nanti kamu urusin Dion mandi, ya '' ucap Nana sambil menyerahkan pakaian ganti untuk anaknya.


'' iya, nyah ''


' klek ' pintu kamar mandi terbuka. Bian keluar dari dalamnya hanya dengan berbalut handuk yang dililitkan di pinggangnya.


Susan yang tak nyaman itupun menunduk dan pamit keluar dari kamar majikannya.


" kenapa mister ama nyonya mister gak mandi bareng aja, sih ? Kan seru tu. Habis hujan-hujanan, berendam air hangat berduaan. Apalagi gak ada yang gangguin "


Susan menahan tawa karena pikiran kotor yang tengah menghampirinya.

__ADS_1


__ADS_2