Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Mereka Kembali (2)


__ADS_3

...°°°...


“Woah,,, sumpah!! Gw tahu dunia ini emang panggung sandiwara. Tapi gak dengan drama kali ini juga. Gw berusaha buat gak percaya tapi itu kenyataannya. Jadi selama ini lo berjuang sendiri buat akhiri kesalahpahaman ini. Sementara kami masih dalam banyak rencana yang tersusun rapi tak kunjung melangkah! Woahh! Gw gak bisa berkata-kata lagi bang!” ujar Jeno terperangah dari cerita yang ia dengar barusan.


“Gw aja yang terlibat di dalamnya heran apalagi lo! makanya gw mau memperjelas semuanya.” Jawab Rey menatapnya lekat.


“Berarti keberadaan Sena sekarang juga lo tahu bang?” selidik Jeno.


“Yak. Bocah! Belum saatnya lo nanya itu sekarang. Seharusnya lo nanya apalagi yang bakal terjadi setelah ini.” Ujar Rey kesal mendapati Jeno yang masih saja sama.


“Ya. maaf bang. Gw kan kaget apalagi lo pasti mengira banyak hal apa yang gw lakuin selama ini. Tapi, bagimana dengan om Reza. Yang ku dengar dari Ivan katanya dia bakal balik ke Indo? Apa dia juga tahu jika Sena udah gak disini lagi?” tanya Jeno.


“Satu-satu nanyanya elah. Iya, lo benar dia akan kembali dan menetap disini. Soal Sena mungkin dia lebih dulu tahu dibanding lo kali ya! Dia bahkan mungkin tahu keberadaan tuh bocah dimana.” Ujar Rey tersenyum kembali menyesap kopinya.


“Wah. Ada banyak hal yang gw gak tahu ternyata. Gw terlalu mendalami peran sampai lupa ada banyak tokoh yang lebih utama dari gw.”’ Ujar Jeno tak percaya dengan kenyataan yang ada untuk kesekian kalinya.


“Makanya. Kalo cinta tuh jangan ngedahuluin ego. Orangnya udah pergi aja lo belum juga sadar. Sampai tersisa kenangan baru lo nongol dengan semangat menggebu sementara yang lo maksud udah gak ada dan lo sendiri gak tahu harus berjalan ke arah mana?” ujar Rey yang hampir menjitak kepala Jeno jika saja tidak dihindari lebih dahulu.


“Terus Ivan tahu hal ini?” tanya Jeno.


“Sebentar lagi bakal nongol tuh bocah. Lo tanyain aja sendiri.” Ujar Rey tersenyum.

__ADS_1


“Lo lagi gak ngarang dongeng kan Bang?” selidik Jeno kembali tidak yakin.


“Terserah lo! Oh, iya gw juga balik karena bakal menetap disini. Pekerjaan gw udah pindah kesini!” ujar Rey makin mengagetkan jantung Jeno.


“Udah Bang. Aku mah apa? Cuma bagian dari secuil rencana kalian!” Jeno melemah sekarang.


“Tuh bocah udah kesini!” ujar Rey menatap Ivan yang melangkah dengan wajah cerianya.


“Cepatan lo sampenya bocah. Gw gak sabar memukul kuat kepala lo itu!” desis Jeno pelan agar yang di maksud tidak menghindar. Jangan lupa Rey yang terkekeh mendengarnya barusan.


“Hai Bang! Halo Bang Jeno tercinta!” sapa Ivan dengan wajah sumringah. Ingatkan Ivan untuk segera sadar dari tatapan maut si Jeno sekarang.


“Sebaiknya lo baca keadaan adekku terbobrokk-“ belum juga ucapan Rey masuk ke saraf Ivan.


“Rasakan ini bocah nakal!” ujar Jeno puas setelah memukul punggung Ivan kesal.


“Ya, ya, yaaa! Lo kenapa mukul gw Bang?” Ivan dengan wajah polosnya malah masih bertanya dengan singa yang bahkan sedikit lagi akan merobek mulutnya itu.


“Udah gw bilangin baca keadaan. Lo nya aja yang bobrok dek!” ujar Rey mengejek sang adik.


“Ya Bang! Lo tega sama adik lo sendiri. Lo masih bisa tersenyum saat gw di pukul orang di depan lo Bang!” ujar Ivan mendramatis.

__ADS_1


“Masih percaya diri lo ngungkapin jati diri lo sekarang tanpa ada sedikit perasaan bersalah karena melewati gw lo ya!” ujar Jeno yang siap untuk memukul lagi. Yang berujung Ivan memeluknya kuat dan erat sampai ia tak bisa bergerak untuk memukulnya lagi.


‘Maafin gw Bang!. Gw aja bingung musti gimana waktu tahu kebenarannya. Orang juga gw baru tahu kemarin dulu elah Bang. Mana sempat buat ketemu dan ngobrol sama lo. Salahin Bang Rey tuh yang ngajak gw sibuk di perusahaan dari sejak dia balik sampai siang tadi. Dan ini juga baru istrahat dari kerjaan Bang!” Ivan malah mengeluh.


“Memang sosok di depan kita sekarang adalah sosok tak berperasaan dek! Beruntung gw bukan adeknya diceritanya barusan kalo sampe gw mungkin bakal hidup dalam penjara.” Ujar Jeno mendramatis seraya merangkul bahu Ivan dan mengusap pelan bekas pukulnya barusan.


“Yak. Jeno! Lo lupa gw abangnya Sena sekarang!” tegas Rey tanpa mengartikan ucapannya yang ia tahu jelas Jeno paham maksudnya.


“Ya elah Bang. Gw main gila barusan. Jangan dimasukin di hatilah Bang. Iya kan Van?” ujar Jeno mencari bantuan. Tapi apa yang ia dapat sekarang. Ia malah makin dipojokkan.


“Dan gw harap lo juga gak lupa Bang kalo gw juga adeknya Sena!” ujar Ivan menaikan alisnya bergantian. Rey yang melihat itu malah tertawa lepas serasa puas mengerjai Jeno.


“Dunia ini emang milik kalian kok. Gw cuma numpang. Sumpah!” ujar Jeno kalah.


“Udahlah. Waktnya balik. Ini udah malam banget takut gak bisa bangun lebih pagi. Besokkan Om Reza balik, kita harus jemput dia kan?”Ujar Ivan yang diangguki Rey yang berakhir mereka pulang dengan Jeno yang masih kesal. Dan Ivan yang merasa menang dan terus tertawa mengejeknya sampai di parkiran dan mereka benar-benar berpisah.


...***...


Diperjalanan pulang Jeno terus bergumam seakan ia sedang self talking, “Lihat betapa terkejutnya aku mendengar semua ini. Aku tahu akan lebih mengejutkan bagimu saat tahu semuanya. Aku tahu aku egois See, tapi aku berharap suatu saat ada seseorang yang datang padamu. Memberitahumu dan menceritakan tentang seberapa hancurnya, seberapa menyesalnya dan seberapa lemahnya aku saat kau memilih pergi. Untuk saat ini kau hanya perlu tahu, aku baik dan ku harap kau juga demikian. Cepat pulang!


Aku tahu kamu butuh waktu. Tapi kamu juga gak harus terlarut begitu lama dalam kesalahpahaman ini. Gw akui hampir semua orang disekelilingmu sering menyakitimu dengan maksud baik mereka seharusnya. Tapi mereka gak sadar mereka begitu menyakitimu termasuk aku. Ada banyak orang yang menunggu kepulanganmu saat ini. Ku harap esok sedikit berubah.” Jeno memarkirkan mobilnya di garasi dan beranjak keluar menuju puntu rumah dam berlalu di kegelapan malam.

__ADS_1


^^^_27 Des. 2021^^^


__ADS_2