Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Terpaksa ikut campur


__ADS_3

🌺 hem.. 🌺


* * *


Langit masih menangis, meski tak sederas kemarin.


Pak Tole memacu santai kendaraan yang ia kemudikan . Mobil pun melaju menerjang gerimis tanpa hambatan.


Mungkin karena cuaca yang kurang bersahabat, jalanan menjadi lenggang hampir tak ada kemacetan. Perjalanan pun berjalan lancar dan mereka tiba ditempat tujuan dengan aman.


'' saya tunggu di kantin, ya mister. Pengen ngopi '' ujar pak Tole sebelum Bian ,Nana dan Dion keluar dari mobil.


Bian mengangguk . Setelah itu ia mengangkat tubuh Dion dan menggendongnya. Ia dan Nana lalu berjalan bersamaan memasuki kawasan wisma miliknya.


Langkah kaki mereka serempak menuju ruang yang menjadi tempat tinggal Cecilia.


Usai menaiki puluh anak tangga ,keduanya pun sampai di lantai dua .


Hembus angin disertai tempias hujan menyambut dan menerpa permukaan kulit. Hawa dingin terasa menusuk hingga memaksa mereka untuk bergegas.


'' engh '' suara eluhan yang membuat langkah suami istri itu terhenti seketika.


Nana dan Bian saling tatap sesaat.


Meski terbesit ragu, Bian dengan perlahan mengangkat tangan yang di kepalkannya dan mengetuk permukaan pintu.


'' kak ''


' bruk ' suara benda jatuh terdengar cukup keras dari dalam sana.


Nana dan Bian saling tatap lagi.


'' kak, apa kau ada didalam ? ''


'' eng-i-iya.. '' suara Cecilia terbata.


Sedangkan yang didalam.


Han bergegas memungut bajunya yang teronggok dilantai. Begitu pula dengan Cecilia yang dengan cepat sudah memasangkan kembali pakaian ditubuhnya.


Cecilia berkaca sebentar untuk merapikan tampilannya.


Sementara Han yang juga sudah berpakaian, terlihat memunguti bantalan sofa yang berserakan dilantai dan meletakkannya kembali seperti semula.


' cklek ' Cecilia membuka pintu.


Ia berusaha menampilkan senyum meski rasanya sulit.


Bian dan Nana menatapnya dengan heran sebab gelagatnya yang terlihat tak biasa.


'' Dion.. '' Cecilia mengalihkan perhatiannya pada sang ponakan. Ia mengambil Dion dari gendongan Bian lalu mempersilahkan adik dan adik iparnya itu masuk.


'' eh ? Ada Han ? '' Nana terkejut mendapati sahabatnya duduk di sofa.


Han menyapa dengan ekspresi kaku. Sama seperti yang terlihat pada Cecilia tadi.


Bian yang mulai curiga lantas memperhatikan sekitarnya. Lalu beralih pada dua orang yang nampak salah tingkah.


'' ada yang ingin ku bicarakan dengan mu , kak ? '' ucap Bian tanpa basa basi dan menggunakan bahasa asing.


Selain memang tujuannya datang adalah untuk membahas prihal pekerjaan, Bian juga akan membicarakan hal lainnya.


Cecillia hanya bisa menurut , ketika Bian mengajaknya ke kantin yang tak pernah libur meski di tanggal merah. Sebagai pusat penyedia makanan bagi para karyawan , Kantin adalah salah satu bagian terpenting .


'' ak- aku dan '' Cecilia memulai pembicaraan. Namun terhenti sebab Bian dengan cepat memotongnya.


'' jadi benar dugaan ku '' ekspresi Bian datar menanggapinya.


Ia memang langsung curiga saat melihat Han tadi. Ditambah lagi ia dan Nana sempat mendengar suara eluhan yang begitu khas. Seperti seseorang yang sedang mendesah.


Diam beberapa saat.


'' kenapa dia ada disini ? Inikan hari libur ?


Dan lagi, sedang apa dia diruangan mu tadi ? ''


'' dia-dia sedang menagih jawaban dariku ''


'' jawaban ? maksudmu ? '' Bian mengerutkan dahinya.


'' waktu pulang dari rumah mu kemarin, Han menyatakan perasaannya padaku ''


..


'' lalu ? '' tanya Bian pada Cecilia yang tengah menautkan jemarinya dibawah meja.


'' ... ''


'' apa kalian menjalin hubungan ? '' Bian menatapnya dengan sorot menyidik.


Cecillia menggeleng.


'' aku belum menjawabnya. Bahkan sampai sekarang pun aku masih belum bisa memberinya jawaban ''


'' lalu apa yang sedang kalian lakukan tadi ? ''


Cecillia mengerjap cepat. Jantungnya serasa ditarik dari tempatnya. Ia merasa seperti tengah di sidang.


Ia coba untuk tetap tenang . Sebab tau Bian sedang mencurigainya dan ia tak ingin terlihat semakin mencurigakan.


Cecillia pun menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan untuk menetralisir rasa itu.


'' it-itu tidak seperti yang kau pikir kan ? ''


'' benarkah ? ''


Cecilia mengangguk meyakinkan ,karena memang seperti itulah kenyataan.


Ia dan Han memang hampir, tapi belum sempat melakukannya.


'' kau tau ini tempat apakan ? ''


Cecillia mengangguk lagi. Tentu ia tau dan ia sadar jika Bian saat ini tengah memperingatinya .


'' seharusnya kalian bisa menjaga sikap. Karena ini menyangkut nama baik DSL.


Entah apa pandangan mereka jika mengetahui kalian berduaan diruang tertutup seperti tadi ''


'' maaf, aku tak berpikir jauh sampai kesana. Ak- aku tadi benar-benar terbawa perasaan ''


'' perasaan ?


Kau menyukainya ''


Cecilia mengangguk.


Bian menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi.


Ia tak percaya dengan pengakuan Cecillia barusan.

__ADS_1


Entah apa yang terjadi pada kakaknya ini.


Bagaimana bisa Cecilia menyukai Han , padahal ia sudah memberitahu jika Han menyukai istrinya, Nana.


'' kau percaya padanya ? ''


'' ... ''


'' bukankah sudah kubilang dia menyukai istriku ?''


'' ... ''


'' bagaimana bisa kau percaya padanya, sementara dia tak mengatakan itu padamu ? ''


...


'' lalu kau sendiri ? ''


'' aku ? aku kenapa ? ''


'' Nana begitu percaya pada Han. Hal yang belum tentu bisa ia lakukan padamu.


Lalu bagaimana bisa kau percaya pada istrimu begitu saja ? ''


'' apa kau lupa yang ku katakan padamu waktu itu ? Perasaan Han itu sepihak. Nana tak pernah menyukainya .Karena itu aku percaya pada istriku.


Jadi kasus mu dan aku berbeda.


Karena itu, tak ada alasan bagimu dan aku untuk percaya jika dia memiliki perasan padamu ''


'' ... '' Cecilia menunduk.


Baru saja ia merasakan perasaan luar biasa yang belum pernah ia rasakan. Namun kini semuanya harus pupus sebab yang Bian katakan terdengar sangat masuk akal.


'' kembalilah ke Kanada.


Aku akan mengurus tiketmu .


Dan - jangan katakan ini padanya ''


* * *


Disaat yang bersamaan.


'' ngapain kamu ada di sini ? '' tanya Nana yang duduk berhadapan dengan sahabat yang paling ia percaya.


Han tersenyum keki.


'' jangan bilang kamu lagi deketin kakak iparku ? '' tebak Nana sambil memperhatikan Dion yang sedang berjalan dengan mengedarkan pandangan ke sekitarnya.


Han tersenyum lagi seperti tadi .


'' kamu suka kakak iparku ? ''


'' ... '' memalingkan wajahnya karena malu.


'' serius, kamu ?! " volume suara Nana reflex meninggi. Membuat Dion menghentikan langkah dan menatapnya heran.


" eheheh " Nana tertawa garing sambil mengenangkan anaknya yang memang sangat sensitif pada suara bernada tinggi.


Dion pun kembali melanjutkan langkahnya seperti tadi.


" kamu beneran suka sama kak Cecil ? " Nana kembali bertanya dengan serius.


Han mengangguk tegas. Menunjukkan keseriusannya.


Nana melongo sesaat. Sempat ragu dan tak percaya .Namun juga tak bisa menganggap Han bercanda.


'' em... mungkin sejak kami mulai bekerja bersama '' Han nampak begitu yakin.


Nana lega sekaligus cemas. Lega karena kini Han tak lagi menyimpan perasaan padanya. Namun juga cemas karena yang Han sukai adalah Cecilia, kakak perempuan Bian.


'' tapi - - ''


'' kamu gak percaya sama aku ?


Apa kamu pikir aku masih belum bisa move on dari kamu ? ''


'' ... ''


'' hah ! Pede amat jadi orang.


Kamu kira aku masih ada rasa sama kamu ''


''... ''


'' emmm... Mungkin benar .


Tapi rasa itu tak lagi sama kaya dulu.


Sekarang yang kurasakan ke kami itu cuma sebatas keperdulian ku saja sebagai teman.


Gak lebih ''


'' bukanya begitu Han.. Aku percaya sama kamu.


Tapi masalahnya..em, apa mereka bisa percaya sama kamu ? ''


Han mengangguk . Ia tau dan itu memang sedang ia pikirkan . Bagaimana meyakinkan mereka jika ia benar-benar serius dan perasannya tulus pada Cecillia.


'' mungkin gak mudah dan butuh waktu untuk meyakinkan mereka.Terutama Bian suamimu.


Tapi yang penting sekarang aku uda tau, kalau Cecili juga punya perasaan yang sama kaya aku ''


'' o, ya ? ''


Nana tersenyum lebar . Ia senang mendengarnya. Tapi tetap saja itu tak cukup untuk bisa menepis kekhawatirannya.


Han laki-laki dan teman yang sudah begitu baik padanya. Dan ia tak ingin melihat Han patah hati dan terluka karena tak bisa memiliki perempuan yang ia sukai . Seperti ia yang dulu menolaknya berkali-kali.


Tak lama berselang, Bian dan Cecilia kembali.


Bian lalu mengajak Nana dan Dion pergi dengan alasan jika malam nanti ia memiliki janji temu di sebuah hotel .


Bian berusaha menampilkan sikap seperti biasa. Meski sebenarnya susana hati dan pikirannya saat ini sedang kacau .


Bian dan Nana pun pamit pergi.


Tinggallah Han dan Cecilia yang kini terlihat canggung.


'' ak- ''


'' phulanglah, Han '' Cecilia memotong ucap Han tanpa menatapnya.


Han beranjak berdiri.


Lalu melangkah menuju pintu keluar dan berhenti tepat dimulut pintu. Ia berbalik menatap Cecillia.


'' aku akan datang lagi ''

__ADS_1


'' thidak boleh '' Cecilia menggeleng.


'' kenapa ? ''


'' thak nyaman jikha dilihat karyawan ''


'' kalau begitu kita cari tempat diluar ,karena masih ada hal yang harus ku bicarakan denganmu "


Cecilia menatapnya. Han melangkah mendekat dan berhenti di hadapan Cecillia .


Tangannya terangkat lalu menyentuh pipi lembut itu.


'' aku mencintaimu, Cecil ''


Cecilia merasa hatinya seperti disayat .


Padahal seharusnya ia senang. Tapi ucapan Bian terlanjur memenuhi isi kepalanya.


Cecilia sanksi akan pengakuan yang keluar dari mulut pria di hadapannya ini.


'' aku pulang dulu. Nanti kalau sudah sampai rumah aku telpon.


Dan kalau nanti malam hujannya reda, kamu siap-siap, ya.


Aku akan jemput . Kita kencan ''


Karena Cecilia masih bungkam, Han pun tak kunjung beranjak.


'' ada apa ? ''


Cecilia menggeleng dan mendorong tubuh Han mundur hingga sampai keluar.


'' jhangan sheperti ini, Han.


Tak enak kalau ada yang lihat '' Cecil berdalih.


Han tersenyum mengangguk. Benar juga. Begitu pikirnya.


Dan Han pun memutar arah kakinya dan melangkah pergi.


* * *


Diparkiran.


Han yang baru saja melenggang pergi tak menyadari jika Bian tengah mengawasinya dari dalam mobil .


Nana yang menyadari jika ada yang berbeda dari sikap suaminya itupun mencoba bertanya. Namun Bian tak begitu mau menanggapinya dan memilih diam.


Malamnya, mereka kini sudah berada dihotel dan baru saja selesai makan malam bersama pasangan lansia yang tertarik pada DSL milik Bian.


Dan di penghujung pembicaraan tadi, pasangan lansia itu memutuskan akan tinggal dan menjadikan DSL sebagai rumah terakhir untuk menghabis masa tua mereka di sana.


Dion yang kelelahan, tertidur lebih dulu.


Nana dan Bianpun jadi punya waktu untuk berdua.


Mereka terlihat duduk di sofa panjang menghadap keluar jendela.


Nana duduk bersandarkan tubuh sang suami .


'' kau percaya padanya ? '' tanya Bian pada Nana setelah istrinya itu menceritakan pembicaraannya dengan Han tadi.


Bian terdengar tak suka.


'' ya, aku mempercayainya. Karena dia selalu konsisten dengan perkataannya.


Setahuku, Han bukan orang yang mudah untuk jatuh cinta. Dia tak sembarangan dalam menaruh hati . Apalagi untuk menjalin kedekatan dengan seorang perempuan "


Bian membuang pandangannya kelain arah. Enggan bersitatap dengan sang istri.


" kalau tak percaya padanya , lalu kenapa kau sekarang berteman bahkan menjadikannya orang kepercayaan mu ? ''


'' itu berbeda, sayang.


Seperti katamu barusan, aku percaya karena dia orang yang bertanggung jawab .


Tapi aku tidak bisa percaya pada perasaannya.


Urusan hati siapa yang tau ?


Kau barusan bilang kalau dia bukan orang mudah untuk jatuh cinta ,kan ? Jadi apa semudah itu juga dia bisa melupakan mu ? ''


Nana mengernyit.


'' tapi itu dulu.


Kalau memang perasannya begitu dalam padaku,


dan kalau dia memang mau, ada banyak kesempatan untuk nya bisa berbuat nekat untuk bisa memilikiku ''


'' kau membelanya ? Kau berpihak padanya ? ''


'' aku hanya prihatin padanya.


Apa salah kalau aku perduli padanya sama seperti yang pernah dia lakukan untuk ku ? ''


'' tetap saja aku tak bisa mempercayainya. Dan aku tak mau dia mendekati kakakku "


'' kau tak percaya padanya ? Lalu kedekatan kalian selama ini itu apa ?


Apa kau sengaja memanfaatkannya karena ku ? ''


Nana menegakkan tubuh, berbalik dan menatap suaminya .


" ck '' Bian berdecak tanda kesal. Ia lalu beringsut dari duduknya meninggalkan Nana menuju ranjang.


Nana menghela nafas. Ia tau Bian tak ingin berdebat untuk masalah yang sebenarnya bukan urusan mereka.


Pun Nana juga demikian.


Ia tatap sang suami yang sudah merebahkan tubuh disamping tidur anak mereka.


'' maaf, sayang.


Aku tak bisa memihak mu.


Bukannya aku tak mau mengerti perasaan mu.


Tapi aku percaya Han.


Dan aku tak bisa melihatnya menderita karena patah hati.


Han sudah terlalu baik padaku. Dia selalu membantuku tanpa pernah menuntut balasan.


Jadi, mungkin ini adalah kesempatan bagiku untuk membalas semua kebaikannya.


Maaf, sayang. Maaf.


Aku tak bisa diam dan jadi penonton saja.

__ADS_1


Aku terpaksa ikut campur ''


__ADS_2