
🌺 hem... 🌺
* * *
Setahun kemudian.
" Aku sudah tak tahan lagi " ucap Bian seraya menghela nafas berat yang panjang .
Nana mengangguk. Ia paham apa yang dimaksud sang suami .
" Aku benar-benar tak habis pikir . Sudah setahun ! Tapi, kenapa mereka tak mau menjenguk Adit ?
Apa tak sedikit pun hati nurani mereka tergerak untuk menemui Adit ? '' Bian berdecak kesal.
Ia marah dan kesal pada keluarga Adit yang tak pernah sekalipun datang mengunjungi Adit dirumah sakit jiwa.
Bahkan ketika ditelpon pun mereka tak pernah memberi kepastian kapan bisa datang.
'' Adit memang telah melakukan kesalahan. Tapi apa harus mereka sampai menelantarkannya seperti ini ?! "
Nana mengangguk lagi.
Benar. Tak terasa waktu sudah setahun berlalu.
Dan selama kurun waktu itu pula,Nana dan Bian rutin mengunjungi Adit di rumah sakit jiwa .
Berkat dukungan dan semangat yang tak pernah putus mereka berikan, kondisi Adit pun berangsur membaik.
Kini Adit tak lagi ditempatkan di ruangan khusus.
Ia yang mentalnya dinilai telah stabil dan juga sudah bisa mengontrol diri, di beri kebebasan dalam beraktivitas meski masih dalam ruang lingkup rumah sakit.
Adit bahkan sudah mau dan bisa diajak ngobrol.
Hal tersebut tentu saja membuat Nana dan Bian senang . Karena itu berarti Adit bisa sembuh dan kembali normal seperti sediakala.
Hanya saja ada satu hal yang membuat mereka terbebani hingga selalu kepikiran.
Setiap kali mereka berkunjung Adit selalu menanyakan keluarganya . Yang jangankan mengunjungi, menelponnya saja mereka tak mau jika bukan Nana atau Bian yang menghubungi lebih dulu.
Seolah dapat merasakan kesedihan Adit, Nana dan Bian pun dibuat tak tega karena Adit yang selalu mempertanyakan hal yang sama. Kapan keluarganya akan datang ?
Bian sudah di ujung batas kesabarannya.
Ia memutuskan akan ke Dubai untuk menemui keluarga Adit.
" Aku harus pergi menemui keluarga Adit dan akan bicara dengan mereka. Aku janji gak akan lama " janji Bian seraya mengelus dan mengecup pipi Nana.
* * *
Beberapa hari setelah Bian berangkat ke Dubai.
Pukul 11 , waktu menanjak siang. Susana di rumah tampak sepi.
Bi Gani ke pasar. Susan dan pak Tole sedang menjemput Dion ke sekolah .
Sementara Nana menemani Siti dirumah sambil menunggu mereka semua pulang.
'' Mamaaaaa '' suara Dion menggema memenuhi seisi rumah.
Suara langkah kakinya terdengar memasuki rumah.
Begitupun dengan Susan yang mengekor dibelakang sambil menenteng tas sekolah dan tempat bekalnya.
Nana yang sedang berada di dapur bergegas keluar untuk menyambut sang jagoan .
Dion menghamburkan pelukkan pada Nana.
'' Gimana sekolahnya ? '' pertanyaan yang sama yang selalu Nana lontarkan ketika Dion pulang sekolah.
Sudah enam bulan, sejak Dion menyelesaikan terapi dan di nyatakan siap untuk berinteraksi dan berhadapan dengan banyak orang.
Nana pun penuh antusias memasukkannya ke sekolah.
'' Papa hali ini pulang ya, ma ? '' tanya Dion yang masih tak bisa menyebut kata ' r ' .
Nana mengangguk.
'' aiya, nanti malam papa sampai ''
Dion tersenyum sumringah. Menunjukan betapa ia sangat senang jika sosok yang dinanti dan yang sangat ia rindukan pulang.
'' Ya, uda. sekarang Dion ganti baju dulu sana.
Habis itu nyusul mama ke dapur ,ya.
Nenek lagi buat kue kesukaan Dion ''
Bocah lima tahun itu berjalan meninggalkan sang mama menuju kamar pribadinya yang terletak di sisi kamar Siti.
Dion sudah tak lagi tidur sekamar dengan orang tuanya.
Nana sebenarnya tak tega berpisah tidur dengan anaknya.
Namun ia harus bisa membiasakannya.
Sebab semakin Dion beranjak besar, maka semakin pula ia akan penasaran akan banyak hal.
Dan itu membuatnya khawatir.
Ia tak ingin kejadian dimana sang anak pernah memergokinya dan Bian tengah bercumbu di sofa , terulang lagi.
Karena itu, Nana menyakinkan diri jika sudah waktunya ia mengambil langkah tegas.
Semua demi kepentingan dan kebaikan bersama.
Pun dengan demikian , ia jadi memiliki ruang privasi dan bisa dengan bebas bersama sang suami.
" Nenek " sapa Dion yang telah berganti pakaian rumah . Ia peluk Siti seperti telah lama berpisah.
Dion memang sangat lengket dan begitu menyayangi Siti. Karena seperti itu jugalah yang selama ini ia dapatkan dari Siti.
Kasih sayang dan kelembutan cinta yang tak terukur besarnya.
Siti membelai lembut punggung cucunya, lalu meminta Dion agar melepas pelukannya.
Ia beralasan tengah tanggung dengan pekerjaannya yang sedang mengadon kue.
Dion mengkerucutkan bibir sambil menjauh dengan raut wajah masam.
Ia kecewa sebab berpikir jika neneknya lebih mementingkan membuat kue daripada dirinya.
Dion lalu menghampiri Nana yang duduk di sisi meja dapur.
Dahi bocah itu mengkerut, melihat celemek yang menempel di tubuh Nana.
Tumben ? pikirnya heran.
__ADS_1
Sebab ia memang tak pernah melihat mamanya mengenakan atribut khas dapur itu. Nana bahkan sangat jarang menginjakkan kaki di dapur.
Alasan kenapa Nana tak ikut menjemputnya adalah karena ia tadi berniat untuk membantu sekaligus belajar membuat kue dengan Siti.
Namun tekat dan tak berbakat membuatnya menyerah ditengah jalan.
Alhasil Siti yang mengerjakan semuanya.
Nana hanya menjadi penonton saja.
" Ma " Dion mendongak.
" Eng ? Kenapa sayang ? " Nana menunduk.
" Adek Dion kapan lahilnya ? "
" Emmmmm... Mungkin dua bulan lagi " Nana menaikan kedua bola matanya, seperti tengah mengingat - ingat dan menghitung sesuatu.
Dion mengangguk.
" Nanti jumat sore kita pergi ke sana sama papa '' Nana merekahkan senyum.
Dion mengangguk lagi dengan senyuman yang serupa.
Ibu dan anak itu jadi tak sabar menunggu datangnya Bian dan hari jumat nanti.
Bukan. Bukan Nana.
Nana tidak sedang hamil. Atau lebih tepatnya belum dipercaya untuk kembali hamil lagi.
Yang dimaksud adik oleh Dion adalah anak dalam kandung Cicilia yang kini sudah memasuki trimester tiga.
Dan menurut hasil USG, Cicillia dan Han akan dikaruniai calon bayi kembar yang belum bisa dipastikan apa jenis kelaminnya.
Malam tiba.
Bian sampai dirumah dan di sambut oleh pelukan hangat bermakna rindu dari anak , istri dan juga mertuanya Siti.
Setelah makan malam , para penghuni rumah tersebut lanjut bercengkrama diruang keluarga seperti biasa.
Jarum jam menunjuk ke angka 10. Satu persatu dari mereka mulai pergi ke kamar masing-masing.
Tapi tidak dengan Dion.
Beralasan rindu pada papanya, ia pun minta diijinkan tidur dikamar orang tuanya.
" Malam ini caja..ya , ma, ya ? ... Bole ya , maaaa " ucap Dion dengan sorot mata memelas .
Ia tunjukkan ekspresi itu hanya pada mamanya.
Sebab ia tau jika papanya tak mungkin menolak permintaannya.
Meski sebenarnya Bian merasa sedikit kecewa lantaran tak bisa bermesraan dengan sang istri untuk melepaskan rindu setelah hampir seminggu tak bertemu.
Tapi ia lebih tak bisa lagi menolak permintaan Dion.
Toh tak setiap hari anaknya akan menganggu waktunya bersama Nana.
Sama seperti Nana.
Sejak hari dimana Dion melihat ia dan Nana sedang berhubungan intim, Bian kini lebih berhati-hati.
Kejadian itu seakan memberi trauma padanya.
Bagaimana tidak. Dion yang saat itu penasaran lantas menghujaninya dengan banyak dan berbagai pertanyaan.
Karena tak merasa puas dengan jawaban yang ia berikan, Dion kemudian bertanya pada siapa saja yang ada dirumah. Membuatnya dan Nana harus menahan malu ketika berhadapan dengan para assisten rumah tangga mereka.
Sebab kejadian seperti ini tak jarang terjadi dirumah tangga lainnya.
Meski ini bukan hal yang pantas terjadi.
Setelah mendapat teguran dan pengertian dari Siti, ia dan Nana pun sepakat untuk berpisah tidur dari anaknya.
Dan sejak itu pula, Bian dan Nana sebisa mungkin tak bermesraan didepan Dion . Agar tak menimbulkan pertanyaan seperti waktu itu.
Karena Dion yang tak berhenti meminta, Nana dan Bian akhirnya menyerah. Malam ini Dion akan yidur bersama mereka .
Hanya malam ini, saja. Begitu yang Nana tegaskan pada Dion.
Dikamar , keluarga kecil itu sudah berbaring di kasur dengan Bian berada antara Nana dan Dion.
Dion lah yang meminta agar Bian tidur tengah.
Ia ingin sebelum tidur ditepuk telapak besar sang papa.
' Shek. shek. ' suara tubuh bergeser.
Bian tengah membalikkan badannya usai menepuk dan berhasil menidurkan putranya.
Sekarang giliran meniduri istrinya . Bian terkekeh kecil.
Didapatinya wajah jelita sang istri yang dihiasi senyuman.
Keduanya sama-sama mendekatkan wajah dan
mengecap singkat bibir satu sama lain.
Bian menyelipkan tangan besarnya ke tubuh Nana yang berbalut kimono, lalu menarik dan membawa masuk kedalam dekapannya.
" Jadi gimana ? " tanya Nana yang menempelkan wajahnya ke dada bidang sang suami.
" Besok kita pergi membawanya menemui Adit "
Nana menghela penuh kelegaan karena tak sia-sia Bian ke Dubai .
Bian pulang dengan membawa kabar baik.
Tak hanya bicara , Bian ternyata berhasil meyakinkan mereka untuk datang dan mengunjungi Adit.
Bian kembali ke Indonesia bersama Ida, ibu Adit. Rencananya besok, mereka akan menjemput Ida ke hotel tempatnya menginap, setelah itu mengantarkannya untuk bertemu Adit.
* * *
Di rumah sakit jiwa , tempat yang selama setahun ini menjadi rumah sekaligus dimana Adit menjalani perawatan untuk memulihkan mentalnya.
'' Tante '' Nana menyentuh bahu Ida dengan lembut.
Wanita paruh baya itu menoleh dan tersenyum tipis .
Nana meraih tangan kiri Ida dan ia letakkan di lengannya.
Bermaksud agar Ida berjalan bersamaan dengannya.
Ida mengangguk.
Kedua wanita itu berjalan lebih dulu . Sementara Bian berbelok menuju ruang administrasi.
__ADS_1
Sudah menjadi kewajiban, siapapun yang datang berkunjung harus melapor terlebih dahulu.
Setelah mendapat ijin, Bian bergegas menyusul Nana dan Ida ke ruang khusus untuk kunjungan.
Sekitar lima belas menit menunggu, Adit datang dengan didampingi seorang perawat laki-laki berseragam putih .
Langkah Adit melambat saat melihat siapa yang duduk di samping Nana.
Sementara Bian berdiri dibelakangnya.
Adit berhenti melangkah.
Matanya memerah dan air matanya mengalir tanpa bisa ia cegah.
Segera ia berbalik untuk menyembunyikan wajahnya yang basah karena air mata yang tak terkendali.
Melihat itu, Ida beranjak dari duduknya.
Ia pun tak dapat lagi menahan jatuh air matanya.
Tak pernah sekalipun ia membayangkan. Jika anak yang dulunya ia banggakan karena sikapnya yang lembut dan juga penurut , kini justru ada di rumah sakit jiwa.
Hati ibu mana yang tak miris melihat keadaan anaknya yang seperti ini ?
Adit bahkan terlihat tak lagi sama seperti terakhir kali ia melihatnya.
Inilah alasan ia tak datang untuk mengunjungi anak keduanya itu.
Ia tak sanggup .
Masih terekam jelas di ingatannya, saat menerima telpon dari polisi yang memberitahu prihal Adit yang tersandung kasus kriminal.
Saat itu Ida shock hingga frustasi.
Ditambah lagi saat mengetahui jika vonis yang dijatuhkan pada sang anak adalah di kirim ke rumah sakit jiwa.
Ida hampir gila memikirkannya.
Rasanya ia tak sanggup lagi mendengar apalagi jika harus melihatnya.
Hati, otak dan seluruh tubuhnya sakit setiap kali mengingat keadaan Adit.
Namun secara bersamaan, rasa rindu dan ingin bertemu sering kali mendesaknya untuk pergi menemui Adit.
Namun butuh waktu baginya untuk mempersiapkan hati.
Jika saja Bian tak datang dan memberi pengertian juga menjelaskan bagaimana keadaan Adit, mungkin sampai saat ini ia belum tentu mau datang kemari.
Kedatangan Bian telah membuatnya sadar. Sahabat anaknya itu meyakinkannya, bahwa ia tak bisa lagi menghindar dari kenyataan .
Bagaimana pun keadaannya, Adit tetaplah anaknya.
Yang sudah seharusnya ia rangkul bukan ia tinggal sendirian. Karena memang seperti itulah yang sudah selayaknya dilakukan seorang ibu pada anaknya.
'' Ha- Hadit.. '' suara Ida serak memanggil .
Adit yang sesenggukan perlahan membalikkan tubuh kurusnya.
Wajah tirus nan pucat itu membuat tangis Ida pecah.
Ia rangkul tubuh anaknya yang terasa ringkih.
'' Ma-maafkan mama Adit.. maaf... '' Ida mengeratkan pelukannya.
'' Mama gak salah ma.. Adit yang salah..
Maafkan Adit uda banyak ngecewain mama '' Adit membenamkan wajahnya di pundak Ida.
Nana merapat pada Bian ,lalu membenamkan wajahnya di dada Bian. Bian mengelus punggung Nana.
Nana menangis. Ia terlalu hanyut dalam keharuan ibu dan anak yang terjadi di hadapannya .
Sebagai seorang ibu , meski tak sepenuhnya tau, tapi ia bisa mengerti perasaan Ida.
Karena ia seperti apa rasanya mengandung, melahirkan dan mencintai anak yang lahir dari rahimnya.
Tak bisa ia bayangkan bagaimana hancurnya Ida saat ini.
Ida masih memeluk Adit yang tak henti-hentinya mengucapkan maaf.
'' Ha-Adit... '' Ida melepas pelukannya dan menekan tubuh Adit hingga terdapat jarak diantara mereka.
Ia tatap Adit sambil kedua tangannya menghapus air mata yang membasahi seluruh permukaan wajah putra terkasihnya.
'' Ha- - A-Adit, mama datang untuk membawamu pulang, nak.
Kamu mau kan , em ? ''
Dengan bibir gemetar ,Adit mengangguk.
Lima tahun kemarin ia di abaikan .
Lalu selma setahun ini ia merasa telah di buang dan dilupakan .
Tapi ia sadar kenapa keluarganya bersikap sampai seperti itu terhadapnya. Dan ia pun tak bisa menyalahkan mereka.
Karena itulah selama ini ia hanya bisa menunggu, memendam rasa rindu akan kehangatan keluarganya.
Setelah apa yang Ida ucapkan beberapa detik tadi, Adit tentu saja merasa senang.
Ia tak menyangka jika akan di ajak pulang.
Tak sabar rasanya untuk bisa segera kembali berkumpul bersama kedua orang tua dan kakak perempuannya.
'' Teima kasih, Bi.
Trima kasih, Na.
Terima kasih karena kalian sudah berbesar hati memaafkanku.
Terima kasih juga karena kalian mau menerima dan masih menganggap ku sebagai sahabat.
Dan Terima kasih untuk semua waktu yang sudah kalian luangkan untuk menemaniku selama ini.
Mungkin seumur hidup aku tak akan berhenti mengucapkan terima kasih pada kalian.
Karena aku tak tau dengan cara apa aku bisa membalas segala kebaikan kalian padaku.
Trima kasih ''
🌺 selesai 🌺
Makasi buat semuanya.
Meski dikit yang ngikutin dan juga baca, tapi tetap senang karena masih ada yang selalu setia ngikutin karya saya.
Sampai jumpa di karya selanjutnya.
__ADS_1
Yang pasti cerita berikutnya akan berbeda dari yang lainnya.
Salam sehat untuk kita semua. amin. 🙏.