Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Papa Tidak Kembali


__ADS_3

"Woahh,,, hari ini mendramatis sekali.


Banyak hal terjadi gak sesuai sama ekspektasi. Ingin menyerah saja rasanya. Mau marah, mau protes tapi kepada siapa?


Mereka ataupun aku sama-sama gak tahu harus melakukan apa.


Beberapa berusaha untuk memperbaiki dan dan membantuku yang lainnya seakan penyebab dari banyak drama itu sendiri.


Cuma mau bilang, saya lelah, saya capek, saya butuh waktu, saya butuh jeda dan saya butuh istirahat.


Nyatanya. Semuanya akan berjalan tanpa harus menyenangkan.


Kata mereka yang terjadi kemarin dan hari ini adalah untuk membuatku tambah kuat lagi.


Aku banyak menangis hari ini heheh.


Aku mau berteriak saja. Kalau pun memilih menyerah kasian mereka yang sudah bertarung untukku.


Berharap akan baik besok maupun lusa. Ketika aku mengeluh pun kasian juga mereka yang membuang waktunya hanya untukku.


Bagaimana lagi?


Proses memang seperti itu, selalu seperti. Memukul kuat aku pada akhirnya.


Dan mirisnya cuma aku yang seperti itu dibuatnya.


Di meja pojok ini sambil menikmati capuccino hangat malam ini dengan deru ombak di pantai yang menemani.


Membuatku sadar akan ada yang lebih baik menunggu dalam beberapa waktu kedepannya yang tidak aku tahu itu kapan?


Proses memang seperti ini adanya.


Sakit, nyeri, sesak dan menyedihkan.


Terimakasih sudah mengukir momen ini sekarang.


Aku masih bisa untuk bertahan. Kalo kata mama dulu waktu aku baru mengenal bagaimana hidup yang sebenarnya bahwa 'proses itu tak melulu soal rasa dan perjuangan, ia ada untuk bersama tak apa terluka, sebab jalan kita sudah nampak jauh  kita gak butuh rasa, kita hanya butuh peluk.


Mereka yang beberapa di pihakku terus mendorong untuk mengatakan, jangan hanya diam saja.


Mungkin aku berhak bersuara bahkan


berteriak selantang mungkin. Tapi


tidak disuasana yang seperti ini, dikondisi yang agaknya yang tau hanya diri sendiri. Care, mengerti, orang lain hanya menjadi pendengar

__ADS_1


cerita pun itu sudah cukup baik.


Tidak perlu menambah kesan derita agar mereka peduli. Jadi, jangan berambisi untuk jadi yang paling dimengerti, karna merekapun manusia yang memiliki banyak masalah hidup hanya saja caranya berbeda ketika menceritakan pada dunia".


'


'


'


Di rumah....


"Halo," ucapnya datar ketika berhasil mengangkat telpon pada dering ketiga.


"Kamu apa kabar?"


"Untuk apa?" tanyanya dingin.


"Maaf. Papa gak punya pilihan!"


"Sudahi saja. Jika itu tidak penting!" jawabnya datar.


"Papa cuma mau tahu bagaimana kabarmu? Hm!"


"Baiklah. Belajar yang rajin, kamu akan baik-baik saja,"


"Gak ada yang lebih paham tentang diri saya kecuali saya sendiri!" ujarnya sedikit menahan amarahnya.


"Hm, kamu benar. Kadang berkeras kepala pada beberapa kondisi juga perlu!"


"Akhiri saja. Saya ingin sendiri, tolong jangan ganggu saya," ucapnya dan mengakhiri telpon secara sepihak.


Tut !


"Kakak gak harus seperti itu," Ivan menenangkannya.


"Kenapa semua orang bertingkah seakan paling mengerti? Haiss!!" Sena mendecih pelan.


"Maaf kak. Gue mungkin gak tahu banyak permasalahan kakak. Tapi setidaknya kakak harus bisa mengendalikan emosi agar bisa lebih tenang," Ivan menepuk pelan bahu sang kakak.


Bagaimanapun juga sikap Sena barusan kurang sopan terhadap sang ayah. Ivan tahu betul bagaimana mereka dan karakter mereka masing-masing, walaupun tidak semua konflik keluarga tersebut ia tahu.


"Tolong beri saya waktu untuk sendiri," ucap Sena datar.


"Baiklah. Kakak jangan lupa makan!" seru Ivan sambil menoleh ke arah nampan yang berisi makanan di atas meja di samping balkon.

__ADS_1


"Hm," jawabnya datar.


.


.


.


At Los Angeles....


Seorang lelaki paruh baya tengah duduk termenung di sudut ruangan sambil memandang jauh pemandangan malam dari lantai teratas.


Banyak yang berkecamuk dalam pikirannya sekarang, perusahaan, keluarganya maupun beberapa banyak hal yang tengah ia hadapi. Tapi yang dominan dalam pikirannya adalah putri satu-satunya.


Ia tidak ingin menyakitinya, tidak ingin mengecewakannya, tidak ingin membebaninya tapi semua itu sudah terjadi di waktu yang bersamaan.


"Maafin Papa Nak!


Akan ada saatnya kamu sadar dan merasa bahwa kamu akan baik-baik saja. Kamu akan merasa semua bebanmu seakan hilang.


Suatu saat nanti kamu akan merasa lebih bersemangat untuk menjalani hari-harimu. Kamu pasti memiliki banyak harapan," gumamnya dengan pandangan yang datar.


"Papa gak punya pilihan Sea, selain memilih untuk tidak kembali walau nyatanya aku begitu merindukan suasana rumah. Dengan apa yang papa alami sekarang membuat papa merasa seakan tidak punya rumah lagi untuk pulang. Maafin Papa!" serunya dengan posisi kedua tangannya berada dalam saku celananya.


"Papa tahu betul kamu butuh papa disaat dan kondisimu yang terpuruk saat ini. Papa paham dan tahu semua yang terjadi atasmu beberapa hari lalu. Tapi, apa yang bisa ku lakukan, nyatanya papa cuma mempercayakan orang lain mengurus semua permasalahan yang tengah kamu hadapi. Baik-baiklah! Apa yang terjadi padamu beberapa hari itu, akan ada beberapa yang mempertanggung jawabkan semuanya. Saya pastikan itu! Papa gak akan membiarkan mereka hidup dan bahagia setelah apa yang kamu peroleh!" ucapnya pasti karena ia sudah tahu semua yang sedang dialami putri semata wayangnya.


"Maaf pak, meetingnya akan dimulai beberapa menit lagi!" seru asisten pribadinya membuyarkan lamunannya.


"Baiklah. Atur segala yang dibutuhkan!" ucapnya dan melangkah pergi dari ruangan yang menjadi saksi bagaimana keadaannya beberapa tahun terakhir ini.


Begitulah setiap permasalahan hidup. Terkadang kita harus berada di fase tak bisa memilih namun harus dipaksakan untuk tetap memilih. Juga terkadang beberapa pilihan bisa menyakiti beberapa pihak namun itu yang terbaik untuk dilakukan.


Tidak apa-apa, semuanya akan pulih meski harus tertatih. Tak apa jika hari ini bersedih, karena perlahan pedih itu akan menghilang dengan sendirinya.


Yang terpenting bukan tentang melupakan tapi bagaimana kita menjadikan rasa sakit itu sebagai sebuah pembelajaran dalam menjalani hidup.


Jika pada akhirnya, kita pun tak bisa untuk kembali setidaknya ada beberapa momen yang sudah kita toreh dan masih bisa membekas pada orang yang merasa paling tersakiti saat itu.


Walaupun pada kenyataannya, akan ada beberapa pihak yang akan merasa paling tersakiti, paling berada di posisi terendah. Namun, pelan-pelan suatu saat ia akan berada di fase sadar bahwa kenyataannya masih ada yang lebih merasakan sakit dibandingkan dengan apa yang ia rasakan.


Disitulah ia sadar dan menyesal. Dan bukankah penyesalan selalu datang di akhir. Hidup punya siklus seperti itu. Siapapun tidak akan bisa terlepas dari hal itu.


So, be happy if you are still given the opportunity to be happy :)


_Agst. 2021

__ADS_1


__ADS_2