
...☕☕☕...
Halo gengs👋👋
Maafkan Aku. Setelah perjalanan panjang dalam kurun waktu beberapa bulan terakhir ini. Akhirnya, hari ini bisa kembali ke rutinitas.
Maaf baru bisa update kembali sekarang. Aku baru saja mengurus banyak hal untuk persiapan wisuda. Setelah drama Tugas Akhir yang panjang kemarin. Barulah ada sedikit titik terangnya.
Ku harap kalian sehat-sehat dan bahagia 🌹🌹
Terimakasih juga untuk kalian yang masih tetap menanti kelanjutan Cerita ini :)
...☕...
.
.
.
.
...“Semua yang pergi akan pulang pada tempat dan waktu yang tepat. Nanti saat kau yang menjadi pergi, baru kau paham betapa melegakannya perjalanan panjang setelah pulang.”...
...°°°...
Kapan terakhir kalinya kita bersama?
Saling memandang dengan waktu yang tak terbatas. Melihat setiap senyuman, tawa, bahagia, sedih dan banyak hal dihabiskan waktu itu. Dan kembali mengingat entah kapan pastinya ia pernah pergi dan bisa kembali saat ini.
Saat mengingat waktu itu membuat kita paham. Ternyata dengan kehilangan kita bisa belajar banyak hal.
Belajar menghargai selagi masih ada dan bersama dengan kita. Belajar memahami bahwa kehilangan tak selamanya hanya tentang perpisahan yang menyedihkan. Tapi tentang bahagia dan rasa lega yang kita miliki seperti hari ini.
Melihat satu persatu keluarga ini, kembali aku jadi semakin paham. Dari aku yang menjadi saksi mata keruntuhan mereka. Banyak kisah sedih maupun bahagia yang mereka lewati.
__ADS_1
Aku Jeno adalah saksi dari keadaan terpuruk keluarga om Reza aku udah ada dan melihat semuanya. Tapi hari ini mereka menjadi lebih baik dan bahkan orang yang tak kuduga perlahan menunjukkan diri bahkan sebagai bagian dari keluarga itu.
Dari meninggalnya istri om Reza. Segala jatuh bangunnya Sena aku ada disana. Perginya om Reza. Datangnya Ivan. Diikuti Bang Rey dan kembalinya mereka hari ini. Aku masih ada dan lebih lagi aku bahkan menunggu kepulangan Sena.
Semua itu tak pernah luput dari penglihatan dan bahkan apa yang aku rasakan.
Mereka adalah deretan orang baik yang pernah ku kenal. Mereka juga mungkin saksi di banyak penantian yang aku habiskan. Dan Sena adalah sosok yang paling tahu setiap sisi kehidupanku sampai ia pun memilih pergi.
Jika saja kali lalu, aku lebih dulu memahami seperti hari ini. Aku bahkan bisa menebak fatamorgana apa seharusnya yang pas ku rasakan.
“Bagaimana kabarmu Nak?” om Reza bertanya padaku di sela lamunanku di tengah kebersamaan ini. Kami baru saja tiba di rumah karena menjemputnya barusan.
“Baik om! Om sudah banyak berubah ya!” ujarku memandangnya dengan senyum.
“Heheh, kita terakhir kali bertemu waktu kamu masih mahasiswa sih, kamu juga sudah tumbuh lebih dewasa sekarang.” ujar Reza terkekeh.
“Ya, benar sekali om. Waktu itu kami masih mahasiswa. Saya tidak banyak berubah kok om,” ujar Jeno tersenyum.
“Lebih tepatnya hanya fisik yang berubah om. Kalo sikapnya masih sama seperti dulu lho om!” timpal Bayu yang disambut kekehan dari mereka.
“Masih cengeng kek dulu juga Pa!” sambung Rey ikut mengejeknya.
“Gituin aja gw gapapa. Gw mah apa, dikit-dikit di ancam juga,” ujar Jeno meminta pertolongan agar di bela.
“Tapi, Papa liat Jeno banyak perubahan sekarang kok. Dia seperti tampang yang lebih sukses sih,” ujar Reza terkekeh.
“Lebih sukses Bang Rey kok om,” ujar Jeno merendah.
“Iya Pa. Saking berubahnya bisa pulang balik luar negeri buat temuan perusahaan!” sambung Ivan belum menyerah.
“Kemarin aja baru balik dari Singapur ya Jen!” tambah Bayu.
“Pulangnya langsung dong di bayarin di Club kan guys!” ujar Rey yang kebetulan juga ikut waktu acara suksesnya perusahan mereka.
“Udahlah. Berhenti memojokkan gw guys.” Ujar Jeno.
__ADS_1
“Maaf Tuan. Makan malamnya sudah siap!” ujar maid.
“Ok. Mari kita makan dulu. Dan setelah ini, om bisa minta waktu buat ngobrol sama kamu Jeno!” ujar Reza mendahului mereka ke meja makan.
“Iya, Om.” Ujar Jeno yang mengikuti Rey didepannya.
Merekapun makan malam bersama sambil membicarakan pekerjaan, pengalaman dan masih banyak lagi. Dan jangan lupakan Ivan yang menjadi korban jahil jika mereka melucu. Bagi Jeno, ketika melihat ketiga laki-laki yang sebentar lagi menjadi keluarga yang bersatu adalah suatu kemungkinan yang awalnya tidak mungkin menjadi mungkin setelah melihat banyak hal yang terjadi pada akhirnya ketika mereka kembali saat ini.
...***...
Setelah makan malam. Sementara Rey, Bayu dan Ivan memilih bersantai di pinggir kolam saat malam dan Jeno yang menemui Reza di ruang kerjanya. Setelah tiba di depan ruang kerja ia pun menyapa, “ Permisi Om,” ujar Jeno yang di persilahkan masuk.
Mereka hanya sekedar minum dan terdiam beberapa waktu. Bagi Jeno ini cukup canggung. Tapi, ia tetap menunggu perbincangan kapan di mulai. Sampai, “Dia Tak Lagi Sama!” ujar Reza membuka perbincangan mereka. Jangan lupakan Jeno yang masih fokus mendengarkan ucapan selanjutnya seperti apa lagi.
“Mandirinya bohong. Bahagianya hanya cerita. Dia lemah. Pundaknya begitu banyak beban. Dia tidak pernah mendengarkanku dengan baik. Sudah dibilangin juga untuk tidak lemah. Dia bukan yang dulu lagi.” Ujar Reza yang beralih menatap Jeno seakan membutuhkan sanggahan dari ucapannya.
Yang ditatap tak ada niat untuk menjawab. Entah masih mereka ulang kisah, ucapan atau kenyataan tak bisa ditebak. Sampai ucapannya tak sadar keluar begitu saja, “Siap ataupun tidak, manusia memang akan berubah Om,” ujar Jeno yang juga menatap Reza serius.
“Bukankah lebih baiknya, mereka kembali saja seperti dulu agar tak membuat bingung saat bertemu! Ya, saya hanya berucap karena tidak tahu apa yang ia lalui yang tidak saya tahu, bagaimana dia sebelumnya?” tanya Reza tak kalah serius.
“Jika tentangnya, mungkin ada benarnya bahwa, kita gak pernah tahu takaran kebahagiaan yang mana untuknya, bisa saja yang menurutku gak seberapa, bisa jadi sangat berharga baginya. Yang menurutku gak ada nilainya, bisa jadi sangat bernilai bagi beberapa dari mereka. Semua kembali tentang takaran mana kita berada dan berimbang.” Ujar Jeno mengalihkan pandangan di luar kaca pembatas diluar sana ada pemandangan malam yang bisa di lihat saat malam. Karena kebetulan ruang kerja Reza di lantai atas.
“Agak sedikit sulit dalam pandanganku untuk menemukan garis bijaksana dalam memperlakukannya. Mengingat mungkin saya sedikit kurang dekat dengannya untuk beberapa tahun terakhir ini atau mungkin sudah terlalu larut. Semua berawal dari ibunya pergi dari situ saya membiarkannya hidup dengan melakukan apa yang bisa ia lakukan, kupikir ia akan paham dengan sendirinya, tapi-“ ucapan Reza menggantung.
“Tidak ada yang patut di pojokkan menurutku, setiap kita seringkali tersandung dan jatuh dalam melihat dan meperlakukan diri sendiri untuk takaran yang tepat. Bahkan kita acap kali melakukan banyak kesalahan dan kekeliruan. Mungkin kusimpulkan saja menurut asumsiku. Ia hanya perlu waktu sebentar untuk paham dan kembali ke takaran yang sebenarnya.” Jawab Jeno yang membuat Reza mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Banyak orang sering berbicara tentang kedewasaan terlebih dalam berbagai hal tapi lupa menerapkanya dalam proses yang ada. Jika dilihat anak itu banyak melewati beberapa hal tak berujung dalam hidupnya. Kadang sering terpikir hal apa yang bisa ku lakukan untuk membuatnya kembali seperti sebelum ia mengenal dunia luar yang kejam. Terkesan saya menjaganya begitu nyata tapi terasa fatamorgana semata. Pada akhirnya, saya tak menjaganya dengan baik, saya sadari itu dikemudian hari. Saya bahkan tak menjamin ia akan kembali dengan baik setelah ini, atau malah tak kembali sama sekali.” Ujar Reza mengingat masa lalu yang kilas balik mampu membuat banyak perubahan.
“Terkadang ada orang yang bangunnya kesiangan, suka telat tapi tetap santai menjalani harinya. Yang ku tahu dewasa bukan soal umur Om. Aku yakin Sena dalam lingkaran itu. Aku mengenalnya dengan baik setelah tak ada kesempatan untuk ku lagi baru aku memahami itu.” ujar Jeno mengingat bagaimana menyesalnya ia setelah kehilangan dan ditinggal pergi.
“Ku harap kita lebih baik kedepannya sambil menunggunya kembali. Ia baik-baik saja tapi tidak dengan pikirannya. Om percaya kamu. Kamu bisa menjaganya dengan baik saat kalian bersama-sama. Mari kita hidup dengan tak mempersalahkan apapun atau siapapun. Anggap saja yang ada dan yang belum kembali, jalan panjang sedang menggiring mereka. Baik Ivan, Rey ataupun Sena mereka adalah anak-anak yang baik. Terimakasih sudah hidup ditengah-tengah mereka nak! Aku tahu kamu banyak kali campur tangan di banyak hal antara mereka. Jadi, mari kita sama-sama bangkit dan bersama-sama kedepannya!” ujar Reza menepuk pelan punggung Jeno seraya tersenyum hangat. Ia memang harus berterimkasih dan menerima beberapa orang yang mau berada di sekitar dan di perjalanannya sepanjang ia hidup.
“Hidup ini memang penuh dengan perpisahan. Menghabiskan hari demi hari dengan mengucapkan selamat tinggal. Andai tidak perlu berpamitan, kita tidak akan tahu betapa berharganya momen ini. Betapa terbatasnya waktu. Saat seseorang pergi, kenangan itu akan bertahan selamanya. Perpisahan selalu menyakitkan. Tapi beberapa hari terakhir, kita akan sangat bahagia. Mungkin saat kita harus berpisah dengan seseorang, akhirnya kita menjadi sadar betapa kita sangat mencintai orang itu_Drakor NWABU” Batin Jeno sambil melangkah turun dan kelur menemui ketiga orang yang sedang bercanda ria di tepi kolam malam itu.
^^^31 Desember 2021^^^
__ADS_1