Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Ada yang Sedikit Mengganas


__ADS_3

°


°


°


Happy Reading :)


Perpisahan adalah hal yang wajar terjadi. Saat naik kelas kita berpisah dengan teman-teman sekelas, saat pulang kerja kita berpisah dengan teman-teman kerja, saat mulai hidup mandiri kita berpisah dengan orang tua.


Mungkin perpisahan-perpisahan ini menimbulkan kesedihan yang tingkatannya berbeda-beda. Namun, ikatan emosional tetap tidak akan putus asalkan kita menjaga hubungan itu. Orang yang pergi dan tak pernah mau menemui kita lagi tak pantas untuk dikenang.


Atau pun orang yang sudah tidak menerima kita dan tak mau bertemu dengan kita lagi, tak juga pantas kita menghabiskan waktu hanya untuk meyakinkannya. Ada kalanya kita menjadi lelah, kita menjadi merasa percuma, jika saja ternyata kita memang tak di harapkan.


Satu hal yang perlu kita pahami dan pelajari bahwa semua persoalan apapun akan tetap pada jalurnya meskipun sekeras apa kita bertahan. Kita juga perlu berhenti untuk menghadapi sikap seseorang yang tak punya titik temu untuk di pahami.


"Dan itu adalah akhirnya?" Ivan merasa penasaran dengan apa yang di alami sang kakak dengan permasalahannya.


"Hm, mendramatis bukan?" Sena terkekeh.


"Dia bahkan mau untuk tidak saling mengenal lagi, setelah apa yang ia lakukan beberapa tahun terakhir ini?" Ivan semakin tidak percaya.


"Hufhh, terkhusus untuk beberapa orang mungkin hanya sekedar pemuas rasa penasaran jika ia pernah berjuang sekeras waktu itu!" ucap Sena mengingat bagaimana Jeno dulu yang mati-matian mengejarnya dan berusaha selalu mendekatinya.


"Yaah, ternyata tentang perasaan ada yang sedangkal itu. Ku kira tidak ada yang bisa mengalahkan apapun jika itu tentang perasaan!" Ivan menampilkan wajah sedikit berpikir.


"Perasaan manusia bisa berubah Ivan!" sela Sena dengan tatapan datar.


"Oke, gapapa. Bukankah kakak juga gak pernah punya perasaan yang sama terhadap kak Jeno kan?" tanya Ivan meyakinkan.


"Ya. Lo benar, kenapa gue harus segigih itu kemarin untuk memperbaikinya jika saja dari awal perasaan juga tidak pernah tertuju padanya. Tapi, sedikit tidaknya gue udah bersikap baik sebagai manusia," Sena percaya diri berbicara demikian.


"Hm. Terus apa rencana kakak selanjutnya?" Tanya Ivan.


"Bekerja sambil menghabiskan waktu untuk mungkin!" ucap Sena dengan sebelah alisnya terangkat.


"Di perusahaan cabang?" tanya Ivan.


"Iya. Tapi, belum tahu di terima apa gak!" Seru Sena merenung.


"Loh, kenapa gak di terima? Kan kakak yang megang tuh perusahaan!" Ivan bertanya karena bingung.


"Ya, iya sih. Tapi lo juga harus tau, Papa paling gak suka main-main soal perusahaan. Gue baru bisa mimpin tuh perusahaan kalo sudah benar-benar dewasa dan paham soal bisnis dan masih banyak pencapaian untuk itu. Lagian, ada orang kepercayaan Papa di cabang yang mengurus semuanya. Gue gak jamin bisa kerja di sana," ucap Sena.


"Kakak di rumah aja. Nanti biar Ivan yang kerja sambilan di kafe," Ivan tersenyum manis.


"Eh, bocah. Gak usah drama lo. Gayaan mau kerja kuliah aja Senen Kamis. Gue udah ada cadangan pekerjaan kalo gak di terima di perusahaan cabang!" Seru Sena bangga.


"Kakak sampai kapan akan bekerja di tempat lain kalo gak ke terima di perusahaan cabang?" tanya Ivan.


"Kan kakak kerjanya cuma sementara doang biar gak bosan di rumah. Sambil nunggu lo selesai wisuda dan kita akan-" ucap Sena menggantung kata-katanya.


"Hah! Kakak yang jelas ih, bercandanya gak lucu!" Ivan tak percaya.


"Gue serius kali. Kakak udah punya rencana dan masih belum pasti. Kan lo bentaran lagi wisuda cepat kan? So, kita bakal melakukan sebuah misi dulu sampai kapan gue gak tahu. Intinya, lo akan tahu setelah lo wisuda!" Seru Sena.

__ADS_1


"Dahlah. Kakak tuh kayak misterius banget buat beberapa hal. Eh, tapi kenapa kakak gak coba hubungi kak Leo saja? Kan bisa kerja di perusahaan dia kan!" seru Ivan antuasias.


"Ya ampun dek! Sampai kapan lo harus berpura-pura tidak tahu bagaimana keadaan sekitar? Lo gak nyadar banyak orang udah pergi dari kehidupan kita!" ucap Sena dengan pandangan jauh.


"Termasuk kak Leo? Bukankah dia udah kembali beberapa bulan yang lalu?" taya Ivan.


"Sekarang gue tanya sama lo. Kapan terakhir kali lo ketemu kak Leo?" Sena balik tanya.


"Hah! Yang pertama kali datang mungkin!" Jawab Ivan sedikit ragu.


"Hm, betul. Dan dia gak akan kembali untuk bertemu kita lagi!" Ujar Sena pada akhirnya.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Ivan.


"Oke. Sepertinya lo juga berhak tahu!" ucap Sena yang bersiap untuk memberitahukannya.


Flasback On


Sena berjalan dengan penuh ketenangan, menghampiri seseorang yang sudah menunggunya di sebuah meja yang sudah ia tahu mana letaknya di kafe tempat ia sering ke sana.


"Hai kak! Maaf terlambat, udah lama ya?" tanyanya pada orang itu.


"Hai. Santai, kakak juga belum lama di sini! Mau mesan apa?" tanya Leo yang sudah menyodorkan buku menunya.


"Gue minum aja," jawabnya.


"Cokelat hangat kan?" Tanya Leo tersenyum.


"Kakak masih ingat aja!" jawabnya sedikit terkekeh.


"Dek!" Panggil Leo pelan.


"Hm," jawabnya sambil menatap seseorang yang ia sudah anggap sebagai kakak.


"Maaf!" Ucap Leo menunduk.


"Kenapa minta maaf?" tanyanya bingung.


"Maaf gak bisa terus-terusan menjaga lo dengan baik! Maaf juga untuk banyak hal yang kakak lakukan dan lo sendiri gak tahu!" ujar Leo sedikit menatapnya dalam.


"Maksud kakak?" Tanyanya heran.


"Kakak udah ngambil keputusan terbaik sekarang. Kakak akan pergi jauh, sejauh-jauhnya. Untuk tidak berada di sisi lo lagi!" ucap Leo makin menatapnya dalam.


"Mengapa? Bukankah kakak baru aja balik? Dan kenapa harus pergi lebih jauh lagi?" tanyanya.


"Karena lo akan lebih aman dan baik-baik aja jika gue gak ada di sekitar lo!" jawab Leo.


"Kenapa?..... Kenapa semua orang selalu seperti ini kek gue? Gue bingung sebenarnya. Apa yang terjadi?" tanyanya semakin melemah.


"Karena kita akan menjadi pembawa musibah buat lo, kalo terus berada di sekitar lo!" Jawab Leo.


"Ah, berhenti! Gue udah sering menghadapi hal seperti ini sebelumnya. Hm, pergilah! Walaupun gue gak tahu sefatal apa keberadaan gue di sekitar banyak orang. Tapi yang jelas, gue akan baik-baik aja!" ujarnya dengan pandangan berubah ke arah lainnya.


"Maaf!" Ucap Leo lagi.

__ADS_1


"Berhenti meminta maaf!! Karena gue sendiri bahkan gau tahu apa sebenarnya yang tengah terjadi!" teriaknya kesal dengan lebih kuat menahan air matanya.


"Senaa!" panggil Leo serius.


Ia yang di panggil pun beralih menatapnya sedikit heran karena baru kali ini ia dapat mendengar di panggil seperti itu.


"Mungkin ini bakal berakhir tanpa belum sama sekali dimulai. Tapi, gue mau sedikit egois soal yang satu ini. Gue mungkin setelah ini akan menghilang tanpa jejak lagi! Tapi gue mau jujur satu hal-" ucap Leo menggantung.


"Gue sebenernya gak yakin lo sadar atau gak terhadap hal ini. Gue... Gue cinta sama lo dari awal! Gue sayang sama lo sebagai seorang cowok yang memandang lo sebagai seorang cewek. Gue udah pendem rasa ini jauh sebelum Rey, bahkan sebelum Jeno dan yang lainnya.


Woaah, akhirnya hari ini bisa gue ungkapkan juga!


Gue bukan kakak yang baik bukan? Gue udah terlebih dahulu sayang lo sebagai cewek pada umumnya dan berujung memilih untuk tetap berada di sekitar lo dengan menjadi kakak yang baik. Tapi, gue kalah juga pada akhirnya.


Semakin gue berusaha buat lawan perasaan ini, semakin gue cinta sama lo dek!!" ucap Leo bahkan sudah menjatuhkan air matanya tanpa ada pergerakan dari lawan bicaranya.


"Gue ternyata gak hebat dalam hal bertahan sesuai ekspektasi gue saat itu! Maaf!" ucap Leo pada akhirnya.


"Hm. Gue udah tahu jawabannya sekarang. Jadi, mari hidup dan menghadapi apa yang sedang terjadi dan akan terjadi. Gue bahkan bingung sama apa yang lo ucapkan sekarang" ucap Sena bangkit dan beranjak pergi dan tempat itu.


Flashback Off


"Dan satu hal lo harus tahu dek! Kafe itu adalah tempat yang sama gue sama Jeno mengakhiri persahabatan kami kemarin!" ucap Sena tersenyum miris.


"Dan itu sebabnya, kakak gak pernah mau ke kafe itu lagi?" tanya Ivan.


"Hm." Gumam Sena.


"Banyak hal boleh terjadi kak.


Terkesan seperti biasa saja mungkin ketika berbaur di tengah banyak orang dengan keadaan yang semakin mengganas.


Kalo kata beberapa orang 'ada yang sedikit ganas tapi bukan kita'.


Tapi kita masih berusaha tampak sewajarnya saja. Benar. Kemana pun kita tidak aka terlepas dari hukum bersosial.


Beberapa orang memang terlahir dan hidup sedikit beda dari yang lainnya. Tak jarang kita bisa menemui beberapa dari mereka sedikit totalitas, sedikit protektif, sedikit objektif dan pesimis dalam beberapa hal. Banyak orang dengan warnanya masing-masing bertemu dalam suatu wadah dan ruang yang sama.


Jika ada yang tidak bisa merangkul perbedaan dengan baik maka mungkin akan sedikit kewalahan dalam bersosial.


Di tambah mengganasnya sudah keadaan dan keberadaan, kita semakin mempertipis kebersamaan. Nyatanya kadang semua kegiatan dan perjalanan hidup dan apapun seakan-akan bersifat maya saja.


Coba kakak memandang jauh dan melihat beberapa orang yang sedang lalu lalang sambil mengamati beberapa dari mereka hidup dengan warnanya yang berbeda.


Kita ataupun mereka gak berubah, hanya sedikit beda dari biasanya setelah istirahat panjang yang hampir terlewati beberapa tahun terakhir ini.


Namun. Ada satu hal yang cukup menarik bukan. Ada beberapa orang yang terlihat sedikit aktif dalam roller coaster emosi. Yang dapat kita tanggap adalah mereka sedang mempersalahkan keegoisan dalam kebersamaan seperti yang kita dengar dari perbincangan mereka di meja sebelah sana," ucap Ivan sedikit melirik beberapa orang yang sedang berdebat di sebelah meja tempat mereka duduk sekarang.


"Bukan bermaksud apa-apa. Hanya saja bagaimana cara beberapa dari temannya menenangkan yang sedikit menarik perhatian bukan?.


Ada yang pura-pura peduli karena penasaran. Ada yang berusaha mengerti namun nyatanya tidak paham sama sekali. Ada juga yang hanya sekedar menjadi pendengar tanpa menyampaikan apapun untuk menenangkannya. Ya, itu menurut pendapatku saat ini.


Dari sini gue sedikit paham bahwa pura-pura tidak tahu dan tidak peduli juga perlu. Ceritanya hari ini sedikit mirip dengan apa yang kita alami," ucap Ivan panjang lebar tanpa ada jawaban lagi dari sang kakak selain memandang jauh dan berpikir akan apa lagi yang terjadi.


_21 sept. 2021

__ADS_1


__ADS_2