Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Liburan


__ADS_3

Happy Reading :)


°


°


°


Tidak selamanya seseorang yang hadir berakhir menjadi teman hidup, terkadang mereka bisa saja menjadi pelajaran hidup.


Maka, jangan pernah berharap lebih jika tidak ingin kecewa. Karena terkadang mimpi yang terlalu tinggi bisa membuat kita jatuh-sejatuhnya jika itu tak kesampaian.


Adakalanya kita cukup mengimbangi semua yang hadir. Wajar jika kita sedikit egois dalam berperan. Nyatanya tidak ada yang terjadi begitu saja secara kebetulan.


Disinilah kami sekarang, kata Ivan 'pantai adalah tempat paling pas untuk cuaca seperti sekarang'. Tidak banyak yang kami bawa, mungkin kami hanya akan sekedar datang untuk berefresing saja.


Ku lihat, Ivan begitu ceria hari ini. Dia terlihat seperti orang yang paling bahagia, seakan tidak punya banyak masalah. Memang benar ada beberapa orang yang memiliki topeng terbaik dalam hidup.


Mereka bisa saja mengelabui banyak orang dengan memperlihatkan betapa bahagianya mereka. Tapi, tidak untuk Ivan, semakin ia berusaha menutupi semuanya semakin aku bisa mahaminya lebih banyak. Ia sedang tidak baik-baik saja. Ia hanya berusaha keras terlihat bahagia agar aku juga tetap kuat dan terhibur.


Jika hidup ini hanya tentang kepura-puraan, maka mari kita berlomba untuk memakai topeng terbaik yang kita miliki.


"Woaah, pantainya indah!" ucap Ivan dengan sedikit berteriak.


"Mari kita menikmati hari ini dengan banyak senyuman," ucapku pelan.


"Kakak, main air yuk!" ajak Ivan yang sudah menarik ku dari tempat duduk ku saat ini.


"Ga mau ah, masih pagi dingin tau!" gerutuku.


"Kita kan bawa baju ganti kak, ayok pokonya!" ucap Ivan memaksa.


"Aaa, Ivan. Awas lo ya!" ucapku yang sudah mengejarnya.


"Sekarang aku jadi mengerti, karena semakin dewasa yang dibutuhkan bukan lagi kata-kata cinta, tapi tempat untuk berbagi cerita," batin Ivan sambil berlari.


"Wah, gue cape banget. Istirahat aja dulu," ucap Sena yang sudah duduk di pasir putih tersebut.


"Ayok, kejar! Segitu doang, tampang doang yang famous tapi ga bisa lari sekencang yang ku kira. Biar ku tebak, kakak pasti nilainya jelek di pelajaran olahraga ya dulu?" Tanya Ivan mengejek.

__ADS_1


"Apa lo bocah! Sini lo," panggil Sena.


"Nih, buat kakak!" seru Ivan dengan menyodorkan botol mineral.


"Makasih!" jawab Sena yang sudah meneguk minuman tersebut.


"Cape banget ya?" tanya Ivan mendekat.


"Hm, Lo dekatan sini kakak mau sandar! Boleh pinjam bahunya?" ucap Sena dengan tatapan memelas.


"Tapi Ivan keringatan kak," ucap Ivan lagi.


"Gapapa. Kakak butuh sandaran!" ucap Sena melemah.


Ivan pun mendekat dan membiarkan seniornya yang sekarang sudah menjadi kakaknya untuk sekedar bersandar dalam bahu yang cukup lebar tersebut "Gimana perasaan kakak?" tanya Ivan.


"Sudah lebih baik. Kita hanya butuh waktu bukan!" seru Sena.


"Gimana dengan kak Rey?" ucap Ivan sedikit berhati-hati.


"Kalau boleh jujur, gue rindu kehadirannya!" ucap Sena tenang.


"Hm, tapi mengapa ia begitu lama. Gue hampir frustasi dengan keadaan seperti sekarang, tiap hari ku lalui dengan banyak sesal. Menyesal karena terlambat menyadari perasaan gue ke dia, menyesal sudah menyia-nyiakan kehadirannya dan gue menyesal untuk semua tentangnya," ucap Sena yang sudah hampir menangis.


"Gue baru sadar kalau ternyata kakak secinta itu sama kak Rey. Pantas hal tersebut mampu membuat kak Jeno berakhir memilih untuk menyerah!" Ucap Ivan lagi yang mampu membuat Sena kembali duduk tegap di sampingnya.


"Entahlah. Antara Jeno dan kak Rey mereka begitu berarti buat gue. Walau nyatanya mereka juga akan pergi pada akhirnya," ucap Sena melemah.


"Kenapa kakak ga berusaha memperbaiki semuanya di mulai dari kak Jeno?" tanya Ivan.


"Bahkan gue bingung harus memulainya dari mana!" ucap Sena.


"Gapapa, kakak udah berusaha sebaik mungkin sebelumnya dan percayalah, kecewa tapi tidak marah itu adalah sabar yang luar biasa. Dan kakak pernah berada di posisi itu!" Ucap Ivan tersenyum kecut.


"Lalu, kakak harus bagaimana?" tanya Sena penuh harap.


"Berhentilah. Semakin keras dirimu untuk selalu peduli, maka semakin besar peluangmu akan tidak dihargai. Gue bahkan tau banyak hal tentang kehilangan yang kakak alami," ucap Ivan.


"Tapi bukankah jika kita ga dikasih sakit, kita ga akan pernah tahu indahnya sembuh?" ucap Sena bertanya.

__ADS_1


"Betul. Tapi, berdamai dengan keadaan juga perlu, semua sudah digariskan berdasarkan ketetapan terbaik. So, cobalah kembali bangkit dan kembali baik!" ucap Ivan tersenyum hangat kemudian memeluk tubuh Sena hangat untuk dapat menguatkannya kembali.


"Ayok, kita menikmati liburan hari ini saja!" Ucap Ivan lagi yang sudah berjalan menuju bibir pantai dengan tertawa ria.


Mereka pun kembali baik setelah hari yang panjang terlewatkan dengan banyak momen terjadi.


Diantaranya, makan di alam terbuka dengan sangat lezat, melakukan bakar-bakaran ikan di pinggir pantai, bermain perahu, menyelam di sekitaran pantai, menjemur diri di bibi pantai, membenamkan tubuh di dalam pasir dan masih banyak lagi. Dan itu semua mampu membuat mereka tertawa bahagia tanpa kembali mengingat keterpurukan hidup dan orang-orang di sekitarnya.


Setelah mereka mengganti pakaian yang sudah basah. Mereka pun kembali untuk duduk di pinggir pantai menikmati senja sore ini.


Sena yang sudah selesai berganti pun hendak keluar dan berjalan cepat menuju tempat di mana mereka memesan meja yang pas untuk bisa melihat senja, di sana terlihat Ivan tengah meneguk minumannya dengan santai sesekali memandang jauh di lautan.


Karena fokus melihat tingkah Ivan ia pun berjalan tanpa memperhatikan keadaan sekitar,


BRRUUKKK!!


"Aissh, siapa sih!!" ucap orang tersebut.


"Maaf. Maa-" ucapan Sena terpotong melihat siapa yang ia tabrak sekarang.


"...."tidak ada jawaban selain tatapan tajam kepadanya saat ini.


"Jeno!" seri Sena tak percaya, ia bahkan tak sadar jika tubuhnya sekarang di tahan kuat oleh Jeno agar tidak jatuh ke tanah.


Perlahan Jeno melepaskan tubuh Sena agar berdiri kembali dan berlanjut pergi meninggalkan Sena yang mematung tanpa bicara sedikit pun.


Setelah Sena kembali sadar, ia sudah tidak melihat sosok Jeno lagi selain senja yang tampak indah di pojok barat sana.


"Cepat berlalu. Jika nanti aku tak ada waktu untuk melihatmu, jika ragaku tak sempat lagi memelukmu. Maka senja yang sama kita lihat itu untukmu," gumamnya di persembunyiannya agar tak dapat di lihat oleh orang yang tengah berusaha keras mencarinya senja itu.


"JENO!!" panggil Sena yang masih terus mencarinya.


"Jeno, lo dimana? Jeno.... Bilang sama gue, lo di mana???" Teriakan Sena di sore tersebut mampu membuat beberapa pengunjung melihatnya heran.


"JENO!! gapapa lo menjauh dari gue, tapi please bilang sama gue kenapa harus kek gini. Gue butuh alasan JENO!!" teriak Sena pasrah dan di sampingnya sudah ada Ivan yang memenangkannya.


"Dia kenapa sih, Van? kenapa Jeno sebenci itu sama gue?" Ucap Sena yang balik bertanya pada Ivan sekarang.


"Maafin gue, untuk saat ini salah satu keputusan dan pelajaran yang gue buat adalah mengikhlaskan apa yang ga bisa gue kendalikan, Lo ga salah dalam hal ini!" ucapnya yang keluar dari persembunyiannya serta melangkah pergi dan menjauh dari tempat tersebut, namun ia tak menyadarinya bahwa sepasang mata tengah memandangnya dan melihat setiap langkah dan tapakan kakinya yang semakin jauh. Ya, Ivan melihatnya dalam keadaan memeluk Sena dalam diam.

__ADS_1


"Gue sekarang tengah berpikir, orang hidup dengan mengerti satu sama lain karena dia  rasional, dan kalo memang lo yang sekarang tengah melangkah dan menjauh adalah orang yang cukup rasional. Harusnya lo bisa menghargai dia dan semua yang terjadi sekarang," batin Ivan mengiringi langkah seseorang yang semakin menjauh dalam penglihatannya.


__ADS_2