Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Tak Lagi Sama, Tentangnya


__ADS_3

“David Albert? Albert yang itu?” mata Sara nyaris membulat sempurna. Banyak orang mulai memperhatikan


mereka bertiga, dan Demian mengangguk khidmat.


“Siapa dia?” tanya Fanny bingung, kenapa tiba-tiba nama David Albert sekarang lebih penting dari apapun.


“Kamu gak bercanda ‘kan?” Sara menyalak lagi, seolah-olah tidak terima jika berita itu tidak benar. Tapi Demian tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya sedang bercandasaat ini.


“Gak mungkin!” Sara menyilangkan tangannya, bertingkah seolah-olah dia adalah polisi yang sedang tidak mempercayai pengakuan tersangka.


“Beneran!” Demian menjawab dengan sama keras kepalanya.


“Noah Albert gak mungkin punya anak. Dia bujangan bajingan. Dia pakai uangnya yang banyak itu bukan untuk menikah, tapi untuk bayar perempuan-perempuan supaya mau tidur di ranjangnya. Apa kamu gak pernah baca berita?” ucap Sara sambil mendengus.


“Tepat sekali,” Demian mencicit senang, “Noah Albert itu terlalu sering gonta-ganti pelacurnya. Tentu saja ‘kecelakaan’ bisa terjadi,” ucapnya dengan berapi-api.

__ADS_1


“Siapa itu Noah Albert?” tanya Fanny lagi.


Sara meringis. “Aku gak bisa bayangin kalau dia benar-benar punya anak,” ujarnya.


“Kenapa? Dia vokalis salah satu vokalis band termahal, dia juga warisi saham yang beasr di greenlight. Dia punya segalanya. Banyak laki-laki seperti dia yang bahkan lebih parah.” Demian mengangkat bahunya. “Masuk


akal kalau dia memang punya anak.”


“Dan berapa umur anaknya? 18? Kenapa anaknya bisa gak ke ekspos sama media?” Sara menghela napasnya. Sepertinya dia mulai merasakan nyeri di kepalanya.


“Sumpah ya, aku bener-bener gak suka ada Albert lain di sekolah ini. Buah gak mungkin jatuh jauh dari pohonnya,” gadis itu menggumam diikuti sumpah serapah. Fanny tetap diam. Dia sama sekali tidak tahu dan tidak tertarik untuk mau tahu lagi apa yang sebenarnya kedua sahabatnya itu bicarakan.


“Gimana mungkin kamu bisa gak tahu siapa Noah Albert?” desak Demian ketia dia dan Fanny berjalan menuju ke halaman luar sekolah di mana mobil jemputan Sara terparkir.


Fanny mengangkat  bahunya. “Aku terlalu sibuk ngambil kerjaan part time,” jawabnya.

__ADS_1


Sara sudah menunggu mereka berdua. Dengan satu tangan memaikan ikal rambut cokelatnya, dan tangan satunya mengetikkkan sesuatu dengan cepat di layar ponselnya. Dia terlihat seperti seorang model yang sedang melakukan photo season untuk branding ponsel keluaran terbaru.


Demian langsung duduk di kursi samping Pak Salim, sopirnya Sara, sedangkan Fanny duduk di belakang.


“Sara, ayo cepat masuk! Hp terus!” ucap Demian dengan suara yanng meninggi. Meskipun merasa terganggu, Sara akhirnya duduk juga di samping Fanny.


“Aku lagi baca-baca berita tentang Noah Albert. Dia di blow up lagi sama media.” Sara menggumam sambil terus memainkan layar ponselnya.


Fanny memutar bola matanya. “Bisa enggak kita jalan beli es krim sekarang?” tanya gadis itu tidak sabar.


“Duh, ya udah, jalan Pak Salim,” kata Sara degan malas. Fanny dan Demian sama-sama menghembuskan


napas lega, Pak Salim menangguk, dan mobil pun bergerak.


“Sekali lagi Noah Albert berhasil mengejutkan kita, dengan pura semata wayangnya David Albert yang tiba-tiba saja mucul ke publik, dan tampaknya pemuda berusia 18 tahun itu tidak mirip dengan Noah, sehingga menimbulkan beberapa spekulasi di beberapa kalangan orang. Noah sendiri enggan berkomentar mengenai hal tersebut.” Sara membacakan berita tentang Noah dan David Albert yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Fanny. Dia terlalu sibuk memikirkan es krim apa saja yang harus dia beli untuk Gio.

__ADS_1


Ketika sudah sampai di kafe yang dituju, tempat itu ternyata masih sepi. Kafe itu hampir seperti rumah kaca. Terang, hampir tidak ada sudut yang gelap. Para waitress langsung menyambut mereka, dan mereka pun langsung


memesan. Fanny memesan es krim chocelate chip, Demian memesan yang mint, dan Sara vanilla. Percakapan mengenai Albert-albert itu menguap begitu saja.


__ADS_2