
🌺 hem... 🌺
* * *
Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Ditengah sibuknya orang berlalu-lalang, Nana ada diantaranya. Sedang berjalan seraya menarik koper.
'' Nana '' seru seseorang berlari kearahnya.
' tap' langkah Nana berhenti seketika .
Senyum tipis terlihat di wajahnya yang lembab.
" dasar .. " menatap miris melihat tampilan Nana yang sayu.
Han teringat ketika ponselnya tiba-tiba berdering tengah malam tadi.
Ia sempat terkejut saat mengetahui jika yang menghubunginya adalah Nana .
Apalagi saat Nana mengatakan tujuan menelfon karena butuh bantuannya.
Han pun dengan rela menempuh perjalanan berjam - jam hanya demi bertemu dan mengantar kepergian wanita sekaligus sahabat yang dicintainya.
Han menghela nafas berat.
Hidup memang sering tak berjalan sesuai harapan.
Begitupun yang terjadi pada hidupnya dan Nana yang penuh dengan hal tak terduga dan sejuta kejutan . Yang bahkan sama sekali tak pernah terlintas di bayangan mereka.
'' jadi benaran mau pergi ? ''
'' em.. '' mengangguk sambil melepas pegangan kopernya.
'' apa gak sebaiknya bicarakan dulu dengannya.
Siapa tau kalian bisa menemukan solusi .
Jadi gak harus sampai pergi kaya gini ?
Ingat ,Na. Kalian itu sudah menikah ''
Nana mengangguk lagi. Tak perlu Han katakan pun ia paham betul apa yang sedang ia lakukan sekarang.
'' karena itu aku memutuskan untuk pergi. Bukan minta cerai ''
'' kau sungguh tega, Nana.
Kau tau kalau itu sama saja dengan menyiksanya ''
'' memang itu tujuanku, Han. Aku ingin mereka merasakan apa yang selama ini kurasakan. Terutama Bian ''
Han menggeleng, tak habis pikir. Katanya cinta bisa mengorbankan dan menahan rasa sakit apa saja .Tapi sepertinya hal itu takkan berlaku bagi Nana.
Buktinya ia bisa dengan tega meninggalkan orang yang juga jelas-jelas mencintainya.
'' sebaiknya kamu pertimbangkan lagi , Na.
Pikirkanlah anakmu ''
'' justru karena dialah aku terpaksa mengambil keputusan ini.
Kamu uda ku jelasin apa alasannya,kan ? ''
'' Omanya ? Ibunya ? Kan kamu bisa minta pisah rumah ''
'' kalau aja bisa semudah itu.. ''
'' ... ''
'' katakanlah kami pisah rumah, masih di kota yang sama. Karena Bian pasti tak mau berjauhan dari keluarganya.
Lalu ditengah pekerjaan yang menuntutnya bolak balik keluar kota, dia juga harus membagi waktunya antara aku dan mengunjungi Omanya.
Belum lagi ibunya.
Huh'. Gak bisa ku bayangkan akan seperti apa lagi nanti ibunya mengataiku .
Aku pasti dibilang egois dan ingin menguasainya sendiri ''
'' itu wajar, Na.
Itu hakmu sebagai istri .
Justru mereka lah yang seharusnya sadar, dan tak ikut campur urusan rumah tangga kalian ''
'' sayangnya, mereka bukan orang seperti itu.
Mereka terlanjur menilaiku tak pernah ada baiknya untuk Bian ''
'' lalu Bian ? Apa dia memperlakukan mu sama seperti Oma dan Ibunya ? ''
'' Bian pun sama saja.
Padahal dia tau bagaimana perlakuan mereka terhadapku, tapi tak ada yang apapun yang dilakukan selain memintaku bersabar ''
...
'' jadi ? ''
'' anggap saja ini caraku membalas mereka.
Sebenarnya aku sangat ingin melihat bagaimana reaksi Bian terhadap mereka.
Apakah dia akan marah ?
Apa mungkin sampai membentak ibu dan Omanya ? ''
'' Nana.. ''
'' tapi aku ragu Bian akan melakukannya.
Jadi, biarkan waktu yang berbicara dan menjadi saksi bagaimana mereka setelah ini.
Meski aku berharap mereka bisa sadar dan menyesal .Lalu meratapi kesalahan mereka.
Haaahhh...tapi aku lebih kepada tidak mau tau apa-apa lagi tentang mereka ''
Han menghempaskan nafasnya .
Inilah Nana yang selalu kekeh pada keputusannya.
'' baiklah.. terserah mu saja.
Aku hanya berharap kau bisa menjaga dirimu sebaik mungkin ''
'' ... ''
__ADS_1
'' andai saja kau mau ikut denganku.
Meski aku tak bisa menjanjikan apa-apa, tapi aku pastikan akan menjaga dan memperlakukan kalian dengan baik ''
Nana tersenyum. Ia terharu. Han tak berubah.
Tetap paling perduli dan selalu bisa memaklumi sikap dan perbuatannya.
Andai saja ia bisa membuka sedikit hatinya, tentu akan ada pria baik yang akan selalu mencintai dan menjaganya dengan sepenuh hati. Yaitu Han.
'' yang benar, aja kamu.
Laras aja pasti uda bikin kamu frustasi.
Apa kamu pikir aku setidak tau malu itu untuk menambah daftar tanggung jawabmu, hah ? ''
Han tergelak.
Ia sudah lupa dengan hitungannya. Entah ini yang keberapa kalinya Nana menolaknya .
'' aku hanya percaya padamu, Han.
Hanya kau bisa ku andalkan. Sejak dulu dan sampai sekarang.
Maaf jika aku selalu saja egois dan tak pernah mempertimbangkan bagaimana perasaanmu.
Maaf, Han.. maaf, hiks... '' Nana akhirnya tak lagi mampu menahan jatuh air matanya.
Ia tertunduk. Tubuhnya bergetar menahan isak.
Ia sebenarnya malu berhadapan dengan Han dan meminta bantuan pria ini. Namun ia tak punya pilihan.
Ia harus merencanakan sesuatu untuk masa yang akan datang, demi anaknya. Karena tak ada yang tau akan seperti apa yang harus ia jalanin dan akan dihadapi nanti.
'' kurasa kau butuh pelukan ? '' Han merentangkan kedua tangannya.
Tanpa ragu ' pluk ' Nana masuk kedalam pelukannya. Han selalu peka dengan apa yang sedang Nana rasakan.
Termaksud apa yang ia butuhkan saat ini.
Sebuah sandaran untuk mencari ketenangan.
'' aku pergi.. '' Nana melepas pelukannya sembari menghapus air mata di pipinya.
Han mengangguk.
Ia perhatikan Nana yang meraih koper dan berjalan masuk ke gerbang keberangkatan .
Hingga akhirnya Nana sudah tak terlihat lagi saat membaur dalam kerumunan orang-orang yang masuk kedalam sana.
* * *
Sore , pukul 16.45 .
Mobil yang terlihat tak asing berhenti didepan rumah. Bi Gani yang mendengar suara klakson , bergegas membuka pagar dengan lebar.
Mobil yang dikendarai pak Tole itupun masuk dan berhenti di halaman rumah.
Bian keluar dari kursi belakang dan langsung mengambil langkah cepat memasuki rumah.
'' Bian '' suara sang ibu membuat Bian berhenti dan menoleh .
'' nanti dulu, mi '' Bian melanjutkan langkah menuju tangga . Setengah berlari Bian naik dengan menapaki dua tangga sekaligus.
'' Nana '' panggil Bian begitu ia membuka pintu kamarnya.
' srek ' suara gorden yang menutupi pintu balkon terbuka .
Tak ada. Bian lantas beralih ke ruang ganti. Pun tak ada juga.
Bian menghabiskan belasan menit diruang tersebut untuk mengecek isi lemarinya.
Ia mengernyit sambil memperhatikan baju dan beberapa barang Nana yang tersusun dan bergantung rapi di tempat penyimpanan pakaian.
Tapi sepertinya berkurang. Atau hanya perasannya saja.
" mungkin lagi dicuci " pikirnya .
Tapi dimana dia ? Kenapa telponnya sejak pagi tadi mendadak tak bisa dihubungi ?
Bian keluar dari ruang ganti dan menuju ke kamar mandi.
Kosong. Bahkan tanda-tanda keberadaan sosok yang ia cari pun tak ada.
Bian mulai diliputi cemas.
Hati dan pikirannya sudah tak tenang.
Ia pun bergegas keluar kamar dan turun.
Didapatinya Natasya berdiri di depan tangga. Sepertinya memang menunggunya turun.
Natasya mengerjap cepat.
Ia gugup. Bian pasti tengah mencari-cari istrinya.
'' maaf, mi. Tapi aku harus menemui Oma dulu ''
Untuk kedua kalinya Bian melewatinya.
Tak ada yang bisa Natasya lakukan. Ia tak bisa mencegah sebab tau apa yang sedang diburu anaknya.
Ia pun hanya bisa melihat bagaimana punggung besar itu berlalu dan masuk ke kamar Elisabeth.
" maafkan mami, Bian... maaf... "
* * *
" Oma "
Elisabeth yang tengah duduk di sofa menoleh. Susan yang menyadari jika majikannya butuh privasi segera keluar dari kamar.
'' Bian ..'' Elisabeth tersenyum kaku .
Ekspresinya sama seperti yang terlihat pada Natasya tadi.
Elisabeth nampak gugup.
Kedua tangan yang ia letakkan di atas pangkuan terlihat saling remas.
Bian mendekat lalu duduk di sisi Elisabeth.
" Bian, sayangku.. " mencoba menyapa seperti biasa dengan bibirnya yang gemetaran .
" Oma.. Nana dimana ? Apa dia keluar lagi ? "
Elisabeth menaikan wajahnya untuk melihat lebih jelas raut wajah sang cucu. Didapatinya bagaimana sorot mata itu memancarkan kecemasan yang mendalam.
__ADS_1
" oh, Tuhan.. apa yang sudah kulakukan... "
Elisabeth menunduk dan memejamkan matanya.
" Oma.." Bian memegang kedua pundak Elisabeth dengan sedikit menekannya .
Yang secara tak langsung memaksa agar sang Oma menegakkan kepala dan mau menatapnya.
" apa terjadi sesuatu, Oma ?
Karena sejak pagi dia gak bisa dihubungi . Kalian juga tidak ada yang mengabariku seharian ini "
" Bian.. " Elisabeth memegang kedua tangan yang semakin kuat mencengkram pundaknya .
" ng ' maaf, Oma " Bian yang menyadari hal tersebut sontak melepas l dan menarik kedua tangannya.
Kini raut wajah itu menunjukkan penyesalan dan rasa bersalah karena telah menyakiti fisik sang Oma.
" tidak, Bian.. Oma lah yang seharusnya minta maaf... "
Elisabeth terlihat memutar tubuhnya. Tangannya terulur untuk membuka laci meja yang ada disisi sofa yang ia duduki.
Di keluarkanya ,kemudian ia letakkan tiga benda yang tadi pagi Nana tinggalkan .
Bian terhenyak.
Ia tau betul apa yang Elisabeth taruh dihadapannya.
'' Bi... '' Elisabeth meraih kedua tangannya lalu ditumpuk jadi satu di atas pangkuannya.
'' Bian dengarkan Oma.
Oma akan menceritakan apa yang telah terjadi.
Oma tak akan melebih-lebihkan apalagi berbohong padamu.
Jadi percayalah dengan apa yang akan oma katakan ini.
Setelah itu, terserah padamu.
Apapun yang akan kau lakukan,kami akan menerimanya ''
Elisabeth menarik nafas panjang, lalu memulainya.
Ia menceritakan kejadian tadi pagi.
Saat Nana hendak pergi. Apa saja yang Nana lontarkan pada mereka . Dan alasan kenapa Nana bisa sampai tega meninggalkan sang suami.
Bian terdiam mendengarkan. Dengan kedua mata tertuju pada kartu ATM, Kartu kredit, dan yang paling lama ia tatap adalah cincin yang ia sematkan dijari manis Nana.
Tatapan Bian kosong. Begitu pun dengan hati dan pikirannya .
Ia kehilangan kata-kata dan tak tau harus bagaimana atau melakukan apa.
'' Bian , Nana telah pergi meninggalkan mu sayang.. '' Elisabeth mengakhiri ceritanya dengan derai air mata.
Ia hendak meraih tubuh besar di sampingnya itu, namun Bian yang tau jika akan dipeluk seketika berdiri dan beranjak pergi tanpa mengatakan apapun.
' cklek '
'' Bian, nak '' Natasya muncul ketika pintu kamar terbuka.
Ia yang memang sejak tadi menunggu didepan pintu kamar pun mendekat. Ia ingin meraih anak bungsunya. Namun sama seperti yang Bian lakukan pada Elisabeth tadi.
Ia menepis kala tangan Natassa hampir menyentuh pundaknya.
'' Bian, maafkan mami nak..
Mami gak tau kalau dia .. ''
Langkah Bian terhenti, ia berbalik dan menoleh pada Natasya yang terlihat menghapus air mata di salah satu sudut matanya.
'' kalau dia apa,mi ? '' Bian menatap dengan sorot mata sendu. Ia tak percaya jika setelah membuatnya kehilangan istri pun sang ibu masih ingin mengelak dari kesalahannya.
'' ... ''
'' mami... siapapun, jika diperlakukan seperti itu pasti akan melakukan hal sama .
Setiap manusia punya batas kesabarannya.
Sama seperti mami yang sudah tak tahan lagi dengan dady...
Begitupun dengan Nana.. ''
'' Bian, nak.. Mami.. Mami mengaku salah.. tap-tapi Mami sama sekali gak bermaksud membuat hubungan kalian sampai seperti ini .Percayalah...''
'' kalau gak bermaksud sampai seperti ini, memangnya seperti apa yang sebenarnya mami inginkan dari Nana ?
Menjadi menantu yang bisa mami atur ?
Yang akan tetap diam saja meski mami omelin setiap hari ? ''
Natasya menggeleng.Karena memang bukan seperti ini yang ia harapkan.
Ia hanya berniat memberi Nana pelajaran. Itu saja.
Tapi, ia kini ia harus menyadari jika caranya salah dan sudah kelewatan batas.
Pun ia tak pernah menyangka. Jika Nana yang selalu menanggapinya dengan diam, bisa memutuskan untuk pergi.
'' apa sekarang mami puas ? Inikan yang mami inginkan.. '' Bian menatapnya dengan mata memerah.
Entah berusaha menahan tangis atau amarah.
Natasya menggeleng. Air matanya mengucur deras.
Tatapan Bian syarat akan keputusasaan. Hatinya sakit .
Ia tak menyangka, jika akan sampai seperti ini reaksi Bian.
Kali ini ia benar-benar menyesal .
Rasa bersalah kini menyelimuti keseluruhan dari dalam dirinya.
Perlahan tubuh Natasya mulai merosot hingga akhirnya terduduk dilantai.
Dengan langkah yang dipaksakan, Bian tinggalkan Natasya yang terdengar sesenggukan untuk kembali ke kamar.
* * *
Bian sampai didepan pintu kamarnya.
Ia tekan kenop dengan perlahan dan pintu pun terbuka .
Bian tak lantas masuk dan berdiri tepat di mulut pintu .
Ia pandangi ruang tidur yang biasanya ia tempati bersama Nana .
__ADS_1
Ia menatap nanar. Hatinya berdenyut nyeri sebab merasa begitu hampa .