
🌺 hem.... 🌺
Trims buat yang uda setia baca, like, komen dan hadiahnya juga...
Selamat membaca 🤗
* * *
Tak sedikitpun Bian memalingkan pandangannya. Ia terus menatap Nana yang berjalan semakin dekat kearahnya.
Sang istri lalu ikut duduk ditepian ranjang, menyamping tubuh agar bisa berhadapan dengannya.
" kenapa kamu gak bilang kalau mami sering datang ? "
" ... "
" apa dia juga sering mengataimu seperti tadi ,hem ? " tangannya terangkat dan membelai rambut Nana yang basah.
" memangnya kalau aku kasi tau, apa yang akan kamu lakukan ? "
" ... ''
Nana menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar serata memalingkan wajahnya. Ia kesal .
Sebab tau pun Bian , itu tak akan merubah keadaan.
Ia khawatir justru akan membuat mereka meradang dan menuduhnya mengadu domba.
" kamu tau atau enggak gak, juga gak akan ada bedanya, Bi " Nana mengembalikan posisi kepalanya ke depan, menatap Bian.
" Na " Bian memegang kedua pundak Nana.
" jawab aku Bi. Memangnya kalau aku kasi tau , apa yang akan atau yang bisa kamu lakukan ke mereka ?
Apa kamu akan membelaku ? ''
'' ... ''
'' uda, la Bi. Aku gak mau bahas ini. Toh kamu juga uda liat dan dengar sendiri tadi bagaimana mereka,kan ? "
" trus kamu mau aku bersikap gimana sama mereka ? "
" kalau aku minta kamu untuk tegas ke mereka, apa kamu bisa ? "
" tegas ? Tegas gimana ? Bentak ? Marah gitu maksudmu ? ''
'' ... ''
Bian menggeleng.
'' aku gak bisa ninggiin suara aku ke mereka "
Nana mengangguk. Tak seperti perawakannya. Pria bertubuh besar ini memang memiliki hati yang lembut.
Ya, benar. Tetaplah seperti ini, Bi.
Tetaplah lembut.
Tetaplah menyayangi dan mencintai walau bagaimana pun mereka terhadap ku.
Jangan pernah berubah...
Tetaplah dengan pribadi mu yang sekarang ini dan terus begitu sampai nanti.
Biar aku dan caraku yang bekerja ...
Beberapa detik berlalu dengan saling diam.
" kalau aku minta pisah rumah gimana ? "
Bian bergeming. Pegangan dipundak Nana mengendur, lalu dengan perlahan merosot dan jatuh.
Meski tadi hal itu ia jadikan ancaman pada ibu dan Oma nya, namun tak pernah sekalipun terbesit untuk melakukannya.
Terlebih pada Elisabeth. Ia tak sampai hati meninggalkan ,lalu membiarkan sang Oma seperti dulu. Dimana Elisabeth selalu mengeluh kesepian dan inginkan ia pulang.
" gak bisa juga kan ? ! "
" ... "
Nana berdecak kesal. Sudah ia duga. Bian tak akan bisa merubah keadaan.
Haruskah ia menjadi egois dan meminta Bian untuk memprioritaskannya ?
Tidak. Bian tak akan bisa melakukannya.
Jika disuruh memilih antara ia dan keluarganya, sang suami pasti memilih keduanya.
" kalau gitu kita sudahi pembicaraan ini.
Aku uda cukup dengan semua hal yang mamimu katakan tadi.
Jadi, jangan kamu juga ikut-ikutan minta aku harus bagaimana atau seperti apa .
Tuntutan mamimu aja belum tentu bisa ku sanggupi. Bisa gila aku , kalau kamu juga mau menuntut sesuatu dariku "
" maaf, Nana "
" kenapa kamu minta maaf ? Memang kamu salah apa ? "
Tatapan Bian terlihat pilu. Nana terhenyak dan tak tega.
" semua ini terjadi karena keadaan ku, Bi.." menjatuhkan tangan di atas punggung tangan Bian yang tergeletak di kasur, lalu meremasnya.
'' maaf, karena dalam situasi ini aku gak bisa menjanjikan apa-apa padamu.
Tap-tapi aku berusaha memberi mereka pengertian .
Jadi, aku minta kamu untuk bersabar.. Bertahanlah sebentar lagi "
Kepala Nana sedikit menunduk dan terlihat mengangguk samar.
" ya, Bi. Aku memang hanya bisa bertahan sebentar lagi "
Pembicaraan selesai dengan perasaan tak nyaman dan hati yang tak terpuaskan.
Rasanya seperti masih ada yang menggantung.
Tak berselang lama, terdengar suara bi Gani memanggil untuk makan malam.
" aku masih kenyang . Kamu aja yang turun dan temani Oma makan malam " Nana beralasan ketika Bian mengajaknya untuk keluar kamar.
Bian menurut. Ia pun sebenarnya tak lapar. Namun ia tak mungkin membiarkan Elisabeth makan malam seorang diri.
Usai makan malam dan mengantar Elisabeth ke kamarnya, Bian bergegas ke lantai dua.
Di langkah cepatnya menaiki anak tangga, ia membayangkan jika seandainya pisah rumah.
Bisa jadi kerepotan seperti inilah yang akan dihadapi .Atau bahkan lebih dari ini.
Masuk ke kamar, didapatinya Nana sudah merebahkan tubuh di atas ranjang dengan bedcover menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Bian berjalan mendekat lalu naik ke ranjang.
Disaat ia mulai menjatuhkan diri .Dan bersamaan pula Nana menyampingkan tubuh membelakanginya.
Malam itu, Nana tak terdengar bersuara lagi.
Meski Bian berusaha membujuk dengan terus mengajaknya bicara dan memintanya untuk berbalik menghadapnya. Nana bergeming .
Ia tetap tak bergerak, membuat Bian akhirnya menyerah dan memilih mengalah.
Ia peluk tubuh itu dari belakang sambil mengucapkan maaf berulang kali.
* * *
Hari baru datang.
Nampak Nana dan Bian turun bersamaan untuk sarapan .
'' pagi, Oma '' Bian dan Nana menyapa secara bersamaan, dengan suara Bian yang terdengar lebih dominan.
'' pagi juga '' Elisabeth menyambut dengan senyum sumringah .
Tak seperti kemarin yang acuh dan hanya mau menatap Bian saja, senyum dan sorot mata itu kini ditujukan juga pada Nana.
Sepasang suami-istri pun terlihat saling lirik. Heran namun mencoba menganggapnya sebagai perubahan yang baik.
'' Oma, lusa Bian ke Bandung lagi - -
sa-sama Nana '' Bian terbata diujung kalimatnya sebab ragu. Pasalnya hal tersebut belum ia bicarakan sama sekali pada sang istri.
Ia sengaja melakukannya untuk melihat bagaimana respon Elisabeth.
Wajah ceria tadi perlahan memudar. Elisabeth menghentikan aktifitas makannya .
Ia letakan sendok dan garpu di kedua sisi piringnya.
'' kalian tidak sedang berencana untuk - - '' Elisabeth menatap Bian, meneruskan ucapannya lewat isyarat yang dipancarkan melalui sorot matanya.
'' Bian cuma mau ngajak Nana melihat seperti apa pekerjaan Bian di sana , Oma.
Sekalian jalan-jalan juga. Kasian kalau dia selalu Bian tinggal pergi '' Bian tersenyum tipis, lalu memalingkan wajahnya pada wanita yang duduk disebelahnya.
__ADS_1
Nana tak menanggapinya dengan terus melanjutkan mengisi mulutnya dengan makanan.
Nana nampak acuh.
Hal yang sama juga di sadari oleh Elisabeth.
Padahal ia dan Bian sama-sama berhenti makan dan tengah memperhatikannya.
Nana selesai dengan makannya, ia beranjak berdiri lalu pamit lebih dulu tanpa mau menunggu .
'' Oma ak- '' Bian yang hendak menyusul Nana.
Namun Elisabeth dengan cepat mencegahnya.
" apa kalian bertengkar ? "
" ... "
" apa karena kemarin ? Apa dia mengatakan sesuatu padamu ? Apa dia mengadukan kami ? "
Bian mengernyit.
" apa masih ada sesuatu lagi yang belum Bian ketahui Oma ? ''
" buk-bukan begitu Bian. Oma hanya tidak ingin ada kesalahan pahaman diantara kita.
Mana tau dia mengadukan hal yang tidak-tidak tentang kami "
Bian mendengus kesal mendengarnya.
" Dia tidak bilang apa-apa, Oma.
Bahkan saat ku desakkpun dia tak mau bicara ''
Elisabeth terlihat salah tingkah. Kedua bila matanya bergerak ke sana kemari seperti pula. pikirannya yang tengah berlarian mencari alasan.
'' apa perlu, Bian bertanya pada pekerja dirumah ini untuk mencari tau apa saja yang sudah terjadi selama aku pergi kemarin ?"
" apa maksud mu apa yang sudah terjadi ?
Tidak ada apapun yang terjadi.
Dia saja yang sensitif. Terlalu melebih-lebihkannya "
" ... ''
Elisabeth nampak semakin gelisah.
Jemarinya terlihat saling bertautan.
Dalam hati ia merutuki diri, kenapa bisa mulutnya terceplos begitu saja mengatai Nana .
'' Nana minta untuk pindah rumah " suara Bian terdengar dingin. Begitupun dengan tatapannya pada Elisabeth.
" di-dia apa ? Dia minta pindah rumah ? "
Pindah rumah ? Apa dia berniat memisahkan Bian dariku ? Jadi dia ingin menguasai Bian ?
Tautan jemarinya terlepas berganti mengepalkannya dengan kuat .
'' lalu ? ''
" aku menolaknya "
" sudah, hanya begitu saja ?
Apa kau tidak memberinya pengertian seperti yang kau lakukan kemarin pada Oma dan ibumu ?
"Apa Oma berharap kami bertengkar ? ''
'' ... ''
'' tidak.Oma. Tidak akan pernah ada pertengkaran di anatara kami.
Semalaman Nana diam .
Dan sampai pagi ini pun dia masih tak mau bicara. Bahkan melihat ku sekalipun tidak "
" kau sedang dibodohinya, Bian. Dia sedang meraju.
Itu hanya akal-akalan dia saja, supaya kamu mau menuruti kemauannya.
Bagaimana jika dia tetap seperti itu ? Lalu apa yang akan kau lakukan , hah ? "
" kalau memang tak ada pilihan, maka aku akan menurutinya Oma "
" Bian ?! "
" sudahlah, Oma.
Kalau yang Bian katakan kemarin bukan sekedar ancaman.
Bian gak bisa kehilangan Nana ''
Bian beranjak berdiri dan bergegas menyusul Nana .
Begitu kakinya masuk ke kamar, Bian langsung mengedarkan penglihatannya, mencari sosok sang istri.
Nampak olehnya Nana berdiri di balkon, sedang melakukan panggilan vidio call bersama Siti.
" Nana bile nak datang, em ? " suara dengan logatnya yang khas terdengar jelas.
Langkah Bian seketika berhenti.
Ia teringat janji yang belum sempat ia tepati.
" gak tau, la mak.
Bian lagi sibuk.
Kalaupun Bian gak bisa, Nana ke sana sendiri gak papakan ? "
" mane bole macam tu.
Tak baek tau, istri pegi sorang-sorang.
Mak tak ape. Masi bole tunggu korang datang bedue.
Sebab mak rindu, teringin sangat nak jumpe Bian.
Mak nak tengok macam mane rupe mantu mak tu "
" kan ada fotonya, mak juga uda pernah video call sama dia "
" tak puas ati, laaaa...Mak nak tengok die langsung "
" mak gak rindu Nana ? " memasang mimik muram. Sebab yang Siti bahas dan inginkan sejak tadi adalah Bian.
" rindu.. tapi masi bole ditahan " Siti terdengar cekikikan.
Bian melanjutkan langkah dan berhenti tepat dibelakang Nana. Ia rapatkan tubuhnya hingga Nana tersentak di pembatas balkon.
'' mak '' sapa Bian dengan tangan yang melingkar di pinggang Nana.
Nana memutar leher dan mendongak.
' cup' Bian mengecup bibirnya. Tak perduli dilihat oleh wajah yang tertera di layar ponsel Nana.
'' iyuh, tak tau malu '' Siti mencibik dengan senyum.
Ia senang melihat kemesraan itu.
Bian tertawa ,begitupun dengan Nana yang tersipu malu.
'' uda dulu, mak ya.. Nanti kita sambung lagi ''
'' em. Sehat-sehat, ye. Mak harap korang bedue lekas bagi mak kabar baek,em ? Taukan ape maksud mak ? ''
Nana mengangguk paham. Sementara Bian hanya bisa tersenyum hambar.
'' mak juga, ya.
Dah, maaakkk... ''
'tut' panggilan berakhir.
Bian sedikit membungkuk, mengendurkan pelukannya seraya menjatuhkan dagu di bahu Nana.
Telapaknya perlahan mulai menyusup kedalam dan mulai mengelus perut Nana yang masih rata.
Nana pun terlena oleh perlakuan lembut sang suami, hingga tanpa sadar ia memejamkan matanya.
Rasa nyaman karena jemari yang tengah bermain itu menyentuh permukaan kulitnya langsung.
'' maaf, belum bisa menepati janjiku..''gumamnya.
''ya, mau gimana.
Kerjaan kamu lagi sibuk-sibuknya. Dirumah juga ada masalah.
Aku pergi kesana sendiri juga gak papa ''
'' gak boleh '' Bian mengigit daun telinganya dengan gemas.
__ADS_1
Nana memekik . Ia memutar tubuh, berhadapan dengan Bian dan tanpa ba-bi-bu Bian memegang kedua sisi pinggangnya dan menariknya.
Bian raup bibir yang sejak semalam tertutup rapat tak ia sentuh.
Nana terkejut. Awalnya ia tak siap , namun perlahan ia mulai mengimbangi ciuman panas Bian.
Mulutnya terbuka menyambut indra pengecap rasa dan mempertemukan dengan miliknya.
Lama mereka saling bertautan dan bertukar rasa didalam sana.
'' Na '' Bian berucap begitu lembut usai ciuman mereka terlepas.
Ditatapnya dalam-dalam kedua mata Nana yang sayu.
* * *
Dua hari berlalu.
Ada perubahan yang Nana rasakan pada sikap Oma .
Kadang ia begitu ramah. Tapi sering pula ia menatap tajam.
Nana tak mengerti.
Begitupun dengan Natasya yang tak terlihat menunjukkan batang hidungnya.
Ia tak datang dan juga tak memberi kabar apapun saat Bian mencoba menghubungi dan mengiriminya pesan .
Jumat sore.
Nana dan Bian bersiap untuk perjalanan mereka ke Bandung.
Bukan tanpa alasan Bian memilih berangkat diakhir pekan.
Walau sudah bisa dipastikan jika di perjalanan nanti akan berhadapan dengan kemacetan, Bian bulat memutuskan pergi supaya bisa berlibur dihari sabtu dan minggu bersama istri tercinta.
Dan benar saja. Jalan utama ibu kota di penuhi berbagai macam kendaraan dengan masing-masing keperluannya.
Hal sama juga terjadi saat mereka akan melewati gerbang tol.
Antrian panjang sudah terlihat dari jarak 500 meter .
Jejeran kendaraan roda empat yang akan keluar dari kawasan kota sudah bersusun rapi sejak beberapa jam lalu.
Meski demikian, Nana terlihat tenang. Ia lega karena sepanjang perjalanan tak ada keluhan dari si penghuni rahimnya. Tak ada mual dan juga rasa tak nyaman lainnya.
Ia pun jadi bisa menikmati perjalanannya dengan perasaan ringan tanpa beban
Dan sebagai gantinya, justru Bianlah yang merasakan rasa yang tak karuan. Terlebih saat mereka terjebak kemacetan panjang.
Pusing , mual, muntah yang kemudian berganti rasa lapar hingga membuat tubuhnya lemas karena sudah berulang kali mengeluarkan isi perutnya.
Tak hanya itu. Bian juga gelisah. Berkali-kali ia memutar tubuh, mencari posisi nyaman untuk sekedar bersandar dan memejamkan mata.
Perjalanan selama beberapa jam terasa seperti beberapa hari baginya. Bian nampak begitu menderita.
Pak Tole pun sampai dibuat bingung olehnya.
" si mister gak biasanya mabok? "
Sedangkan Nana terlihat begitu senang.
Senyumnya tak luntur setiap kali melihat penderitaan sang suami.
Jahat memang, namun ia menikmati proses yang tak ia alami.
Hanya ketika Bian menjatuhkan kepalanya dipangkuan Nana, dengan wajah menghadap ke perut, barulah Bian bisa merasa nyaman dan dapat tertidur.
Sesampainya diBandung.
Usai menyelesaikan pekerjaan, Bian langsung ke tujuan utamanya.
Bian membawa Nana berkeliling kota .Mereka habiskan akhirnya pekan dengan bersenang-senang.
Senin pagi, Bian mengajak Nana ke lokasi pembangunan DSL yang sedang dalam tahap finishing.
Hampir seharian waktu yang mereka habiskan berada di tempat yang sebentar lagi akan mulai beroperasi sebagai sebuah Wisma.
Kemanapun kaki Bian melangkah, ia selalu menggandeng Nana .
Seolah tak mau berpisah barang sedetik pun.
Dan di hari kelima, nampak pak Tole yang sudah bersiap membawa mereka pulang ke rumah.
Perjalanan pulang tidak seperti perjalanan saat pergi . Itu karena Bian tau cara ampuh agar ia bisa terhindar dari rasa mual dan tak nyamannya .
Meski harus membuat Nana kram karena memangku kepalanya.
Tapi apa bole buat. Karena hanya itu saja yang bisa membuat perasannya tenang dan nyaman selama di perjalanan.
" sepertinya mereka merasa nyaman jika saling berdekatan "
Nana menatap iba melihat wajah yang menempek di perutnya. Ingin rasanya ia urungkan niat pergi meninggalkan Bian dan mengatakan padanya tentang kehamilannya.
Tapi-
'' Na '' Bian ternyata sejak tadi memperhatikannya yang tengah melamun.
'' em ''
Bian hanya tersenyum.
Waktu baru menanjak malam ketika mereka tiba dirumah .
Sementara pasangan suami istri itu turun dan langsung masuk kedalam rumah, Pak Tole terlihat menurunkan barang bawaan dari bagasi mobil.
Langkah mereka melambat ketikan baru saja melewati mulut pintu.
Natasya duduk di ruang tamu sambil menonton televisi.
Wanita yang sudah berusia kepala lima itu hanya melihat sekilas lalu kembali menatap layar tivi.
'' kamu naik aja dulu ke atas '' ucap Bian seraya melepas pegangan tangannya.
Nana tak menjawab pun juga tak kunjung beranjak ketika Bian sudah berjalan mendekati Natasya.
Seperti biasa, Bian memeluk dan mencium pipinya meski sang ibu tak begitu menghiraukannya.
" mama harap kamu sama seperti papa, sayang.
Tak pernah memendam amarah apalagi dendam, tak perduli apapun keadaannya "
" mami kapan datang ? " Bian duduk di samping Natasya dan menggenggam telapak yang ada dipangkuan.
Setelah merasa hubungannya dan Nana membaik. Kini giliran memperbaiki hubungannya dan sang ibu.
Begitulah Bian. Mudah melupakan dan memaafkan.
Entah terbuat dari apa hatinya bisa sempai selapang dan sehangat itu. Tak heran jika Elisabeth dan Natasya begitu perduli padanya. Sebab ia memang pantas mendapat yang terbaik. Sebaik ia memperlakukan orang disekitarnya
'' temui Oma. Sejak di tinggal pergi, beberapa hari ini kondisinya kurang baik "
Bian mengangguk lalu beranjak berdiri.
Ia hampiri Nana terlebih dahulu, meminta sekali lagi agar sang istri ke kamar tanpanya.
Nana menggeleng. Ia akan menunggu.
Bian meraih lagi tangan Nana dan menariknya .
Tepat didepan kamar Elisabeth, Bian melepaskan pegangan tangan mereka.
" tunggu disini sebentar, aku gak akan lama " ucapnya yang dalam hitungan detik sudah hilang di telan pintu.
Nana mengambil langkah mundur.
Namun terhenti saat mendengar langkah kaki mendekat. Ia putar tubuhnya perlahan .
Natasya sedang berjalan ke arahnya.
" ku dengar kau minta pindah rumah? '' ucap Natasya tepat di saat ia menghentikan langkah kedua kakinya.
Nana berbalik, menghadap dengan kepala tegak di depan wanita yang hanya berjarak dua langkah darinya.
'' apa kalian pergi untuk mencari tempat tinggal ?
Sudah dapat ? Dimana ?
Dan kapan kalian akan pergi ?! " Natasya tanpa basa basi menghujani pertanyaan yang sungguh sangat menyebalkan.
Nana menghela nafas. Mencoba tenang agar dapat membalas tatapan Natasya yang tajam.
Setajam kata-kata tak berperasaan yang selama di lontarkan padanya.
Nana tersenyum.
" sebentar lagi ,bibi "
" ... "
Nana melebarkan lagi senyumnya.
" mungkin tak lama lagi, Kita tidak akan pernah bertemu lagi "
__ADS_1
Sontak kedua pupil matanya melebar. Natasya menatap tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.