Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
•••


__ADS_3

"Diam-diam sebagian orang mulai menghapusmu dalam rencananya. Diam-diam sebagian orang mengagumi mu dalam rencananya. Diam-diam sebagian orang tetap menatap punggungmu setelah kau berbalik jalan pulang. Diam-diam sebagian orang masih memperhatikan mu, menjengukmu sesekali di beranda linimasa.


Sebagian lagi mengabadikan mu seperti mengerti bahwa tidak akan ada lagi pertemuan-pertemuan yang baru. Ada yang mendoakan mu hanya karena berterimakasih pada pertemuan yang telah melibatkan perasaan. Meski akhirnya, bukan kita yang paling keras untuk tumbuh, hingga damai sampai gugur dengan tenang.


Dimana waktu-waktu yang telah diisi adalah waktu yang beruntung. Sebagian orang percaya bahwa cinta punya banyak cara untuk sampai, dan salah satunya adalah menghilang dan membiarkannya gugur.  Barangkali kita mungkin adalah orangnya. Tumbuhlah dengan baik sembari memerhatikan kesehatan"._sajaktanpaabjad


.


.


.


"Selalu seperti ini. Tidak pernah berubah. Bagaimana bisa untuk tetap kuat saat fisik dan batin tak lagi searah." Ujarnya pada diri sendiri di ruang kerjanya.


Ya, akhirnya ia masuk juga dalam dunia yang sesungguhnya. Dunia kerja yang betul-betul nyata. Lebih pekat dari pada cobaan dosen saat melakukan konsultasi tugas akhir.


Tapi mau seperti apapun kita untuk ingin bebas pada akhirnya kita akan kesini juga. Kerja. Kerja dan Kerja.


Sedikit lebih awal sepertinya bukan masalah juga bukan!


"Permisi Dok. Pasien yang membuat janji Minggu kemarin sudah berada di ruang tunggu. Apa langsung di suruh ke ruang konsultasi dok?" Tanya perawat muda yang sebaya dengannya.


"Aaa. Saya akan menemuinya di ruang konsultasi saja." Ujarnya sibuk melihat jadwal operasi ditangannya.

__ADS_1


"Baik dok." Perawat tersebut berlalu dari ruangannya


Senyuman tipis muncul kala melihat jadwalnya yang cukup padat hari ini. Setelah kepulangan Jeno dua bulan yang lalu ia telah wisuda dan bahkan ia sudah ditempatkan di rumah sakit ternama sekarang.


Sena cukup menikmati semuanya ini. Ya, Sena akhirnya menjadi dokter. Ia tak pernah pulang sejak kedatangannya waktu itu ke negara ini. Bahkan kabar dari orang-orang terdekatnya hilang begitu saja. Oh, lebih tepatnya ia yang menghilang begitu saja.


Ayahnya bahkan sudah pulang setahun yang lalu, kembali ke rumah dan bekerja dari rumah. Enam bulan yang lalu Rey yang ternyata juga merupakan anak angkatnya sudah ia angkat menjadi CEO di perusahaan keluarganya. Sena bahkan tidak tahu kalau Rey yang ia temui di masa lalu adalah sosok yang ternyata menjadi kakak angkatnya.


Semua dilewati banyak oleh Sena sendiri. Tanpa tahu bagaimana kabar sang ayah. Ivan dan teman-temannya juga. Ia hanya mau merasakan bebas saja sekarang. Tanpa ada orang-orang yang menyakiti dan melihat semua yang terjadi padanya di masa lalu.


Biarkan ia seperti ini dulu untuk beberapa tahun lagi mungkin atau kapan itu berakhir.


Di ruang periksa.


"Sedang kami usahakan yang terbaik. Anda harus lebih memperhatikan kesehatan anda!" Ujar Sena tersenyum hangat.


"Jangan memberikan saya harapan yang tidak pasti dok. Saya mau dengar kenyataannya sekarang. Agar saya bisa mempersiapkan diri lebih baik." Balas pasien tersebut dengan senyuman yang penuh arti.


"Sudah banyak kejadian seperti ini saya temui. Sebagaimana manusia lainnya, saya juga perlu memberikan anda motivasi untuk mendukung proses kesembuhan anda.  Kita tidak tahu apa yang terjadi kedepannya, apakah kamu percaya yang namanya mukjizat?" Tanya Sena serius menatap lekat wajah pasiennya.


"Hahah, disaat saya sudah seperti ini. Bagaimana mungkin saya melahirkan harapan untuk itu!" Ujar Pasiennya.


"Adakalanya sebagai manusia yang penuh kesalahan. Menjadi tidak tahu malu untuk saat tertentu juga perlu dilakukan. Apa bisa anda mencoba untuk percaya, bahwa kesembuhan akan anda dapatkan!" Sena berusaha meyakinkan. Ia tahu pasiennya yang sekarang ini tidak berani berserah lagi pada Tuhan nya karena semasa hidupnya ia banyak mengecewakan Tuhannya.

__ADS_1


"Ku rasa aku tidak pantas untuk berserah diri lagi," ujarnya putus asa.


"Apapun itu, saya mau anda berusaha untuk sembuh. Agar kami punya semangat lebih untuk berusaha," ujar Sena tersenyum.


"Jika demikian. Perkiraan anda sebagai dokter, tersisa berapa lama lagi waktu saya?" Pasien itu butuh kejujuran yang sebenarnya.


"Jika tak ada harapan untuk mendapatkan donor, kurun waktu yang dekat ini jantung anda akan semakin mengalami pembengkakan yang dahsyat dan mungkin akan keluar nanah. Beberapa minggu kedepannya ini, anda akan mengalami sakit yang lebih dari ini. Perkiraan kami, tidak sampai sebulan. Namun, jika boleh berdoalah juga pada Tuhan mu agar anda baik-baik atau menikmati waktu tersisamu dengan baik." Jelas Sena pada akhirnya.


"Woah,,,, anda adalah salah satu dokter yang cukup keren. Ku kira anda akan terus menyembunyikan hal ini sampai saya menjadi tiada sambil berusaha. Tapi, terimakasih atas semua yang telah dokter lakukan kepada saya," jawab pasien tersebut dengan senyum lebarnya.


"Saya bersikap seperti ini untuk membuat anda memilih suatu pilihan yang tepat dengan waktu yang terbatas ini. Anda harus perlu ingat jika sudah melupa, bahwa hidup ini sekali saja. Hidup ini indah, Dalam waktu yang sekali ini, hidup ini panjang untuk mereka yang mau melakukan banyak hal untuk menghabiskan hidup. Saya tahu terkadang keadaan bisa berubah kapan saja." Ujar Sena menjeda ucapannya. Sambil tersenyum penuh arti dengan menatap wajah pasiennya yang masih mau mendengarkan kelanjutannya.


"Selama atau sepanjang saya hidup, saya menghabiskan banyak waktu dengan melakukan berbagai hal. Saya pernah berada di fase seperti tidak ingin mempertahankan hidup lagi saat semua orang tak berada di pihakku. Mereka seperti monster menakutkan setiap aku bersama mereka, hingga akhirnya saya berada di sini.


Sendirian.


Tanpa keluarga, sahabat atau siapapun. Mereka bahkan ga tahu kemana saya saat ini. Namun, setelah sejauh ini, saya mulai berpikir bahwa hidup ini sebentar saja, melakukan banyak hal dan membahagiakan orang-orang terdekat adalah hal yang akan kita rindukan saat badan tak lagi kuat atau ingin tak lagi sampai.


Ada banyak orang yang mau menghabiskan kesempatan hidup ini dengan berusaha lebih baik dalam hidup ini. Jadi, dengan begitu apakah anda masih saja tak mau berusaha?" Tanya Sena pelan.


"Entahlah. Bagi saya hidup ataupun tidak tidak akan merubah apapun." Balas pasien tersebut putus asa.


"Saya harap anda bisa menikmati hidup ini dengan baik!" Sena akhirnya memutuskan untuk tidak merayu orang yang tidak mau bertahan hidup lagi.

__ADS_1


Menurutnya, Hidup ini terus berjalan dengan tak memperdulikan apa dan bagaimana kita berjuang. Untuk mencintai hari-hari yang baik sudah sepatutnya melakukan banyak kebaikan. Sama halnya, jika kita terus berputus asa saat hidup masih memberikan kelonggaran maka sia-sia semua juangmu untuk hidup lebih baik." Batin Sena menatap lekat pasien di depannya dengan putus asa dalam meyakinkan.


__ADS_2