
“Entah itu Kencan atau Kehidupan tidak Ada yang Mudah”
✨✨✨
Bagaimana ini?
Bahkan sudah seminggu berlalu aku terus saja menghindar darinya. Ini yang paling tidak aku sukai, dasar mulut gak bisa terkontrol! Bagaimana nanti sikapnya jika ia bertemu dengan ku? Bahkan aku belum siap dia benci sama gue.
Keadaan seperti ini benar-benar membuat gue terpenjara oleh tingkah konyol itu. Gue gak ada cara lain selain terus berjalan dan menghadapi apa yang ada di depan.
“Suasana yang benar-benar membuatku frustasi sumpah! Sena akan benci gue setelah apa yang gue lakuin,” ucapnya gusar di taman kampus karena sengaja datang pagi untuk menemui orang yang di maksud.
“Gak ada cara lain selain temui dia, dan minta maaf padanya! Pisah dan gak ketemu dia selama seminggu ini benar-benar membuat gue hampir gila,” ucapnya menunggu kedatangan orang yang dimaksud karena sebelumnya sudah janji untuk bertemu di taman kampus.
Setelah beberapa menit menunggu....
“Sena mau gak ya ketemu gue? Gue tunggu ajalah!” ucapnya pasrah.
“Haiii, udah lama?” tanya Sena yang baru tiba dan mengambil tempat di sebelahnya.
“H-Haii. Belum lama kok,” ucapnya gugup.
“Lagian kenapa sih ngajak ketemu aja pake di taman segala, gak di kelas aja. Ini juga masih terlalu pagi tau!” ujar Sena panjang lebar.
“Maaf!” ucapnya tanpa melihat wajah orang yang diajak bicara.
“Kenapa?” tanya Sena dengan tatapan tajam mengarah ke Jeno.
“Gue gak tahu! Waktu itu gue gak bisa kontrol diri” jawabnya.
“Tapi kenapa harus gue!” teriak Sena yang tidak peduli dengan keadaan yang masih pagi dan beberapa orang yang lalu lalang ditempat itu.
“Maafin gue! Gue janji gak akan kek gitu lagi. Gue janji itu yang terakhir, lo boleh marah sama gue tapi please jangan benci gue!” ucap Jeno penuh harap dengan tatapan hangat.
“Lo gak tahu gimana frustasinya gue saat itu! Okelah orang lain boleh bilang itu hal biasa bagi kita yang memang pada masanya. Tapi bagaimana dengan gue? Gue gak pernah alami hal itu sebelumnya. Dan lo tahu disaat yang sama pula orang terdekat gue nyium gue di tempat yang sama. Gimana rasanya kalau lo ada di posisi gue?” ucap Sena penuh penekanan.
“Maksud lo?” tanya Jeno yang masih setia menatapnya.
“Ia. Dia juga lakuin hal yang sama saat itu!” ucap Sena jujur entah dorongan dari mana ia bisa mengatakan kejadian dimana ia juga di cium oleh seniornya saat itu.
“Kak Rey nyium lo saat gue pergi dari tempat itu?” tanya Jeno serius.
“Hm,” gumam Sena disertai anggukan.
“Bagaimana bisa?” tanya Jeno tak percaya.
“Bisalah. Karena itu semua gara-gara lo! Udahlah gue gak mau memperpanjang masalah, gue hanya marah saat lo lakuin itu tapi lo gak pernah muncul lagi setelah itu. Gue butuh penjelasan lo saat itu!” ujar Sena.
“Maafin Gue! Gue janji gak akan lakuin hal itu lagi” ucap Jeno yang sudah menggenggam tangannya.
“Lupain aja. Gue juga udah maafin lo!” jawab Sena yang sudah berdiri dan hendak pergi dari tempat itu.
“Eh lo mau kemana?” tanya Jeno yang sudah berhasil menahan tangannya.
“Gue kesini mau kuliah, lo masih gak mau masuk kelas juga?” ucap Sena sinis.
“Ya maaf. Habisnya gue takut ketemu lo saat itu!” jawab Jeno yang sudah berjalan berdampingan dengannya.
“Sekarang lo ngapain temuin gue?” ucap Sena lagi.
“Kita kan udah baikan. Lo tenang aja selama seminggu full gue traktir deh mau makan apa atau lo mau kemana juga tinggal bilang sama gue,” ucap Jeno yang sdah berdiri didepannya.
__ADS_1
“Kalau gue minta apa aja bisa gak?” tanya Sena berbinar.
“Bisa. Apa sih yang gak buat lo!” jawab Jeno santai.
“Serius?” tanya Sena tak percaya.
“Serius gue!” jawab Jeno antusias.
“Ok. Deal!” jawab Sena yang mengangkat jari kelingkingnya diikuti Jeno juga untuk membuat janji.
Tak apalah jika sesekali kita harus beda dalam beberapa pandangan. Karena terkadang mereka yang mampu memahami adalah orang-orang yang sudah berusaha keras untuk memahamimu selama hidupmu. Jadi, bersyukurlah kepada mereka yang terus ada dan tak pernah bosan mengelilingi hidupmu dengan berbagai segi entah pertengkaran, pertikaian, kebaikan, ketulusan atau kasih sayang.
Karena defenisi sahabat tidak hanya ia yang terus mendukungmu disetiap sisi, adakalanya ia juga jadi pemberontak dalam beberapa sisi.
Di kelas...
“Yeaah,,, bau-bau kedamaian nih!” ucap Bayu dengan pandangan mengejek kepada dua mahkluk yang baru datang secara bersamaan di ruangan tersebut.
“Ku bilang juga apa, mereka tuh hanya sedang bermain petak umpet aja. Yang satunya hobi bersembunyi yang lainnya berusaha mencari seperti detektif,” ucap Selly tertawa lepas melihat kedua orang yang jadi objek mereka berdua.
“Diam lo berdua!” ucap Jeno sambil menatap tajam kedua orang yang tengah duduk.
“Halah, kemarin aja lo ngemis-ngemis ke gue buat nanya si hmmpt-” ucapan Bayu terpotong karena Jeno yang sudah membekap mulut embernya itu.
“Diam ku bilang!” ucapnya lagi karena takut teman laknatnya bocorin semuanya.
“Aneh kalian! Sena, barusan kak Rey nyariin lo!” ucap Selly yang menghampiri tempat duduk mereka berdua.
“Ngapain dia nyariin gue?” tanya Sena.
“Gak tahu. Eh lo udah baikan sama Jeno?” tanya Selly.
Ia merasa heran melihat ada beberapa notifikasi di ponsel tersebut.
Papa☻
Selamat pagi sayang,
Papa mau ngasih tau kalo akhir bulan ini gak balik.
Soalnya Papa lagi banyak kerjaan yang belum kelar.
Maafin Papa ya!
Nanti kalau gak sibuk papa hubungi lagi!
Setelah membaca pesan dari ponsel tersebut. Ia pun merenung sesaat.
“Tumben papa gak balik. Mungkin lagi benar-benar sibuk kali ya!” gumamnya.
“Lo kenapa?” tanya Selly yang melihat sahabatnya melamun.
“Papa akhir bulan ini gak balik!” ucapnya dengan sedikit kecewa.
“Lo tenang aja. Gue bakal temani lo full time kemana pun!” seru Selly antusian. Ia tahu betul keadaan dan suasana yang dirasakan oleh sahabatnya.
“Hm!” jawan Sena.
Sementara itu, ruangan kelas menjadi sangat ribut karena pemberitahuan dari keting barusan yang mengatakan bahwa dosen yang mengajar hari ini tidak bisa masuk.
Yang lain sudah melangkah dengan jurus kaki seribu menuju kantin tempat ternyaman dan terfavorit dikawasan kampus. Bagaimana tidak tempat tersebut salah satunya tempat berkeluh kesah entah itu karena dosen, kuliah atau materi yang tidak bisa terkontrol tiap harinya.
__ADS_1
Siapapun akan merasa cukup lelah di penghujung waktu, kuliah memang tidak semudah kata yang terucap.
“See, kantin yuk!” ajak Selly yang sudah tidak bisa menahan diri lagi. Bahkan rasanya kedua kakinya sudah meronta liar ingin melangkah cepat.
“Ayok! Gue juga lapar nih” ajak Sena yang sudah bangkit dari kursinya.
“Eh tunggu-tunggu, gue yang traktir!” ucap Jeno yang sudah berjalan didepan mereka karena mengingat ucapannya tadi pagi.
“Gak usah Jen, gue hari ini bawa uang kok!” ucap Sena serius.
“Gapapa. Lagian gue udah janji sama lo. Ayok!” jawab Jeno yang kembali mengajak mereka tak lupa Bayu sahabatnya juga di ajak.
“Bagus dong kalau Jeno yang traktir. Kenapa lo masih nolak?” ucap Selly makin semangat.
“Ya udah ayok!” jawab Sena pasrah.
Di kantin.....
“Oh, kantin. Benar-benar tempat ternyaman setelah tempat tidur gue di rumah. Tempat yang paling memahami di saat gue lagi dalam keadaan terpuruk sekalipun. Gue gak bisa bayangin kalau di kampus ini gak ada kantinnya sama sekali. Mungkin dunia kampusku akan seperti penjara bawah tanah bagiku!” ucap Selly mendramatis.
PLAAKK!!
“Aw, sakit dodol!” teriak Selly sambil mengusap kepalanya akibat pukulan tersebut.
“Jangan terlalu mendramatis!” jawab Sena tanpa dosa setelah memukul kepala sahabatnya.
“Untung hari ini gue dikelilingi kebaikan, kalau gak lo akan gue tuntut telah melakukan kekerasan dan penganiayaan!” ucapnya lagi.
“Sinting lo!” ucap Sena lagi.
“See, lo mau pesan apa?” tanya Jeno yang bosan melihat mereka bertengkar.
“Nasi ikan, sama minumnya jus jeruk,” jawab Sena yang disetujui oleh mereka bertiga karena malas memilih makanan lagi.
“Berarti semuanya sama ya?” tanya Jeno memastikan.
Setelah itu, ia pun berlalu untuk memesan.
“Hai, Lo yang namanya Sena?” ucap seorang cewek dengan kedua temannya yang sudah berdiri disamping kursi Sena.
“Iya. Kenapa ya?” Jawab Sena yang juga menatap ketiga orang tersebut.
“Kenalin, gue Mira temannya Rey” ucap salah satu cewek yang berdiri persis disamping Sena.
“Oh!” jawab Sena singkat.
“Lo selain perebut ternyata gak sopan juga ya!” ucap cewek yang bernama Mira.
“Maksudnya?” tanya Sena yang diiringi anggukan Bayu dan Selly yang merasa heran dengan apa yang barusan dibicarakan oleh cewek bernama Mira tersebut.
“Lo gak kenal gue? Gue senior lo masa!” jawab Mira sinis.
“Oh, maaf kak. Kita gak tahu kalau kakak senior disini. Habisnya kita jarang lihat kakak!” seru Selly santai dan sopan.
“Gak usah minta maaf. Gue ke sini Cuma mau ketemu teman lo ini, setelah selesai ini temui gue di kantin lantai atas. Ada Rey juga di sana!” ucapnya santai.
“Emang mau ngapain kak?” tanya Sena penasaran.
“Udah nanti lo ke sana aja. Ditunggu ya!” ucapnya yang sudah berlalu pergi.
Setelah kepergian ketiga orang tersebut mereka pun menikmati makanan yang sudah dipesan sambil sesekali bercerita dan berkeluh kesah.
__ADS_1