
Tak ada yang tahu tentang hati manusia, kemarin mungkin terlihat seperti biasanya saja. Namun hari ini akan berubah seiring dengan keadaannya.
✨✨✨
"Kak, gue cuma mimpikan?" tanya Sena tak percaya dengan apa yang terjadi.
"Lo gak mimpi dek!" seru Rey tanpa ekspresi.
"Kenapa sih tuh anak?" kesal Sena yang berlalu menatap arah kepergian Jeno.
"Lo gapapa?" tanya Rey tak menghiraukan pertanyaan Sena.
"Hah! Gue gapapa kak! Benar-benar tuh anak, ngeselin banget sumpah," ujar Sena kesal.
"Mana sini!" ucap Rey ambigu.
"Apanya?" tanya Sena bingung.
"Pipi kamulah, biar ku hapus bekasnya," ucap Rey yang sudah mendekatkan wajahnya.
"Hah! Gimana caranya?" tanya Sena makin bingung.
"Makanya kesini biar kakak hilangkan!" seru Rey yang sudah memegang pipi lembut Sena.
"Eh, mau ngapain kak?" tanya Sena.
"Nurut aja. Coba merem!" seru Rey yang terus menatapnya.
"Tapi, mau ngapain kak?" tanya Sena lagi.
"Percaya sama kakak. Udah cepatan meremnya!" ucap Rey yang sudah memegang kedua pipinya dengan kedua tangannya.
Sena yang tak tahu harus melakukan apa dan bingung juga dengan apa yang barusan menimpanya pun mengikuti apa yang dikatakan seniornya.
Cup!
Cup!
Cup!
Rey kembali menciumi kedua pipi Sena dengan penuh kehangatan yang mampu membuat Sena merasakan suasana yang cukup nyaman baginya dan juga mampu mengalihkannya dari kenyataan yang terjadi.
"Udah kakak hapus tuh, gak usah merem terus!" ucap Rey membuyarkan lamunannya.
"A-apa yang kakak lakukan barusan?" tanya Sena gagap.
"Masih belum tahu barusan aku ngapain?" tanya Rey tersenyum nakal.
__ADS_1
"Atau mau di ulangi lagi?" tanya Rey dengan smirknya.
"Gak! Gak mau lagi!!" seru Sena kesal.
"Hmm gak lagi!" jawab Rey yang gemas dengan tingkah Sena yang gugup.
"Waaah!! Kenapa sih dengan orang-orang?" ucap Sena kesal.
"Orang-orang yang mana?" tanya Rey lagi yang masih setia mengganggunya.
"Kalian ngapain coba nyium gue!" tanya Sean kesal.
"Karena kamu bikin gemes!" jawab Rey santai.
"Yaaah! Ada apa denganku? Apa aku udah mulai gila atau frustasi ya sampai orang-orang hari ini begitu aneh!" seru Sena yang sudah kembali meneguk minumannya sampai tandas.
"See," panggil Rey serius.
"Hmm?" jawab Sena.
"Mau tahu gak, siapa cewek yang kakak ceritain waktu itu?" ucap Rey dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Hm? yang mana?" tanya Sena lagi.
"Yang waktu itu. Kakak pernah cerita sama kamu!" ucap Rey lagi dengan tatapan berharap akan respon darinya.
"Ia." jawab Rey pasti.
"Gak lah. Gue gak mau kepoin urusan kakak!" jawab Sena mengalihkan pandangannya dari tatapan Rey.
"Yaah! Padahal kakak mau kasih tau tuh!" ucap Rey kembali memelankan suaranya.
"Ya udah lanjutkan makannya udah mau malam nih!" tambah Rey lagi yang sudah merasa makin dingin.
•
•
•
Paginya....
"Waaaah!!! Benar-benar gila! Bisa-bisanya gue sampai nyium Sena kemarin," ucap Jeno gusar.
"Gimana kalau gue ketemu dia hari ini! mau ditaruh dimana muka gue. Mati ajalah!" ucapnya lagi.
Semua terjadi begitu saja tanpa direncanakan. Apa yang Jeno lakukan terhadap Sena kemarin adalah suatu hal yang tak mampu di mengerti dengan akal sehatnya sendiri. Belum lagi ia frustasi karena kejadian itu juga tidak luput dari penglihatan seniornya.
__ADS_1
"Untuk hari ini gue gak usah ketemu dulu dengan mereka. Masih terngiang-ngiang di pikiran gue akan kejadian itu!" gumam Jeno yang sudah tersenyum mengingat hal tersebut.
Pada akhirnya, ia pun memutuskan untuk tidak ke kampus hari ini.
Di kampus....
Seorang dengan kecepatan langkahnya terus membawanya ke tempat tujuannya. Ia melangkah dengan terus bergumam tanpa memperdulikan keadaan di sekitarnya yang heran melihatnya.
"Liat aja lo. Hari ini gue bakalan bunuh lo Jeno!" ucapnya yang terus mempercepat langkahnya di koridor kampus.
"Gara-gara Lo. Bahkan tidur gue gak senyenyak sebelumnya lagi. Dan gara-gara lo pula kak Rey akhirnya lakukan hal yang sama lagi kek gue. Gue jamin lo gak akan baik-baik hari ini!" seru Sena yang sudah tiba di pintu ruangan kelas.
"JENO!!!!" teriaknya di depan kelas. Namun orang yang dicari tidak terlihat sama sekali di pandangannya.
"Apaan sih? Masih pagi woii jang teriak kek di hutan" teriak Bayu di kursi paling belakang.
"Lo juga teriak dodol!" ucap Alda yang sudah melempar kertas ke muka Bayu.
"Ya gue cuma responlah!" ucapnya tak mau kalah.
"Jeno mana!!" ucap Sena dengan suara yang agak tinggi.
"Ngapain lo nyari dia. Biasanya juga lo selalu hindari si makhluk satu itu!" jawab Bayu heran.
"Jeno kemana gue tanya!!" bentak Sena yang sudah kesal.
"Dia belum datang!" jawab Keting dalam kelas tersebut.
"Hahh! Gue pastiin dia gak akan bernyawa lagi jika sampai ia datang hari ini!" seru Sena begitu yakin.
"Si Jeno apain lo lagi kali ini? bukannya ia selalu jadi pengganggu!" tanya Alda.
"Waaah! Dia udah keterlaluan kali ini Al!!" jawabnya yang sudah mengambil tempat untuk duduk.
" Udahlah pusing gue liat kalian selalu bertengkar dengan hal yang gak masuk akal," jawab Alda capek.
"Bayu. Jeno gak hubungi lo gitu?" tanya Sena dengan tatapan datar.
"Dia barusan chat gue bilang gak masuk hari ini. Memangnya kalian berdua kenapa lagi sih? Berantem mulu, jodoh baru tau rasa lo berdua!" ucap Bayu.
"Mulut lo! di jaga baik-baik jangan sampai gue lakuin hal yang gak wajar terhadap lo ya!" ucap Sena geram.
"Dih! seram amat lo! Maaf dah gak lagi!" ucap Bayu.
Tetapi siapa yang tahu kejadian yang telah dialami Sena kemarin juga mampu membuat seseorang frustasi dan katakanlah ia juga merasakan betul bahwa ia tidak suka akan hal tersebut.
"Gue gak akan biarin lo lebih dulu dimiliki orang lain. Lo akan jadi milik gue cepat atau lambat. Karena sekarang gue udah paham betul apa yang tengah gue rasain. Benar, gue udah jatuh cinta sama Lo sejak itu!" gumamnya sambil melangkah pergi.
__ADS_1