
🌺 hem... 🌺
* * *
Fajar menyingsing.
Diluar sana sudah terang. Cahaya matahari pun membelah masuk melalui celah-celah tirai jendela kamar.
Sepasang suami-istri nampak masih terlelap dibawah selimut tebal yang menutupi tubuh tanpa busana.
Perlahan sepasang mata mulai terbuka. Sayup-sayup hingga akhirnya melebar sempurna.
Meski baru terjaga dari tidur nyenyaknya, tak sedikitpun kesan cantik yang dimilikinya berkurang.
'' Enghnnnn capeknya... '' gumamnya seraya bangkit dan mendudukkan diri.
Lalu merentangkan kedua tangan ke atas untuk merenggangkan otot-otot kakunya.
'' Oughh...pinggang ku..'' pekiknya yang langsung menurunkan tangan dan beralih menekan pinggang bagian bawah tubuh belakangnya yang terasa begitu pegal.
Gara-gara dia.
Nana memalingkan wajah pada pria yang masih tertidur dengan posisi tengkurap di sampingnya.
Ini kali pertama Dion tak tidur bersama mereka.
Kemarin, Dion begitu bersemangat hingga tak ingin sedetikpun melewatkan setiap prosesi acara lamaran Han dan Cecillia . Yang membuat bocah kecil itu enggan untuk beranjak kemana-mana.
Mungkin karena lelah seharian tak istirahat, maka ia pun tertidur lebih awal .Tak lama setelah Susan memandikan dan mengajaknya berbaring dikamar Siti Dion langsung tertidur.
Karena begitu lelapnya, Bian pun tak tega jika harus mengusik apalagi membangunkannya.
Maka Bian pun memutuskan untuk membiarkan saja Dion tidur dikamar sang mertua.
Dibalik itu, tentu saja Bian merasa sangat senang. Karena akhirnya ia punya kesempatan untuk berduaan dengan Nana setelah sekian lama Dion tidur diantara mereka.
Dan begitulah. Malam tadi Bian dan Nana memadu cinta dengan begitu bergelora sebab tak ada yang hal yang membuat mereka was-was hingga harus menahan suara dan mengurangi tekanan agar tak menimbulkan kebisingan.
Mereka melakukannya dengan bebas dan leluasa.
Berdiri, membelakangi, di atas meja ,bahkan di sofa yang selama ini menjadi tempat mereka melakukannya, hingga berakhir di ranjang.
Semua yang ada diruangan itu menjadi saksi bisu bagaimana mereka yang seperti tak ada lelahnya saling menautkan tubuh dengan diselingi ******* yang saling bersahutan .
* * *
Nana tersadar dari lamunannya karena pergerakan dari tubuh yang menggeliat .
Bian berbalik dengan mata yang mulai terbuka.
" Pagi, sayang " menggeser tubuh dan merapat pada Nana yang duduk sambil mengapit selimut dikedua ketiaknya.
" Em, pagi "
" Kok, jutek amat si balasannya ?
Aku ada salah apa lagi emangnya ? " Bian bergelayut manja dengan menyelinapkan tangan dibalik selimut, lalu melingkarkannya di pinggang Nana.
Nana menghela nafas.
" Kamu gak sadar kan ? Kalau semalaman kamu gak pake pengamanan ? Terus kalau nanti aku hamil gimana? "
Bian menepuk jidatnya di pinggang Nana dan tertawa.
" Aku pasti bertanggung jawab sayang " ucapnya membuat Nana ikut tertawa.
Sebenarnya ini bukan kali pertama mereka berhubungan tanpa pengamanan. Berawal dari satu kali ke lepasan. Namun karena Nana tak menunjukkan tanda-tanda hamil maka hal ini pun jadi semakin sering terjadi. Entah itu disengaja ataupun tidak.
Mungkin karena Tuhan belum mengijinkan .
Sebab itu , walaupun sudah sering kali melakukannya tanpa maksud menunda ataupun mendapatkannya, nyatanya hingga kini Nana tak juga kembali hamil.
* * *
Sebulan berlalu. Hari menuju pernikahan tinggal menghitung hari saja.
Sesuai hasil kesepakatan kedua belah keluarga, pernikahan nanti dilaksanakan di sebuah hotel dan hanya dihadiri oleh keluarga dan juga kerabat terdekat saja.
Selama menjelang pernikahan, persiapan pun semakin gencar dilakukan.
Hampir semua orang terlibat di dalamnya.
Dikediaman Bian, selama seminggu belakangan, para penghuninya terlihat sibuk keluar masuk rumah untuk mengurus berbagai keperluan.
Begitupun dengan Natasya yang selalu setia menemani kemanapun Cecillia pergi.
Keduanya begitu kompak saat memilih apa saja yang dibutuhkan untuk acara besar nanti.
Mereka yang ada di rumah pun tak luput dari tugas.
Siti memegang kendali urusan dapur, dibantu oleh kedua asisten setianya yang selalu membuat susana ruang memasak menjadi riuh penuh kegembiraan.
Sedangkan sang calon mempelai pria, menyerahkan semuanya pada pihak keluarga perempuan. Han dan keluarganya akan datang dua hari sebelum hari 'H'.
Dan Nana , ia berperan hanya sebatas perantara yang selalu dimintai pendapatnya.
Nana memang ingin terlibat, tapi ia cukup sadar jika tak begitu berhak mengeluarkan suara karena bagaimana pun ini adalah pernikahan Cecillia. Jadi sudah seharusnya Cecillia yang mengurus dan memilih sendiri sesuai keinginan.
- -
Pagi itu, mengingat lusa adalah hari pernikahan sang kakak, Bian yang sudah seminggu di bandung memutuskan untuk pulang lebih awal dan langsung mengabari Nana.
Suami istri itu sepakat untuk bertemu di hotel.
Karena Nana sudah terlanjur janjian dengan Natasya dan Cecillia untuk menemani mereka menyambut rombongan keluarga Han yang sedang dalam perjalanan.
- -
'' Nanaaaa '' seru seseorang.
Namun, Nana tak mendengarnya.
Ia yang baru saja memasuki lobby terus berjalan ke arah lift.
__ADS_1
'' Nana '' panggilnya lagi .
Kali ini Nana mendengarnya dan tersentak ketika merasa jika suara itu tak asing di telinganya.
Nana menghentikan langkah, lalu berbalik.
Ia yang menggandeng tangan Dion, mendadak membeku mendapati siapa yang tengah berjalan ke arahnya.
Setengah berlari , dia sampai di hadapan Nana.
Senyum terukir diwajahnya yang terlihat tak lagi sama seperti dulu.
Adit. Laki-laki berkacamata yang pernah menjadi sahabatnya dulu kini berdiri dihadapannya.
Tubuhnya kurus, begitupun dengan wajahnya yang tirus.
Ditambah lagi lingkaran hitam dikedua matanya.
Sama sekali tak seperti Adit yang terakhir kali ia temui.
Adit bak' seperti orang lain.
Hanya suara dan khas bingkai indra penglihatannya itu saja yang membuat Nana mengenalinya .
'' Kukira aku salah orang.. aternyata benar kamu '' Adit membetulkan posisi kacamatanya yang terturun.
Nana masih bergeming. Ia eratkan pegang tangannya pada Dion yang tengah memperhatikan Adit.
'' Na ''
'' A' '' Nana tersadar dari keterdiamanya.
'' Kamu masih kenal aku kan ? ''
'' I- iya iyalah... Adit '' Nana memaksa senyum. Ia tak mau jika Adit akan tersinggung jika sikapnya terlalu mencolok .
'' Heiiii...'' Adit beralih pada Dion yang menatapnya tajam. Dion sepertinya tak suka .
'' Di-Dion sayang.. Ini Om Adit. Teman mama '' Nana menunduk,menatap Dion dan mencoba meyakinkan putranya agar mau berkenalan dengan Adit.
Namun Dion menggeleng dan justru sembunyi dibalik tubuhnya.
'' Ma-maaf dit. Dia emang kaya gini anaknya. Rada susah kalau dikenalin ke orang baru ''
'' Gak papa.. Wajar aja, kalau sama orang asing emang gak boleh sembarangan.
Justru itu bagus '' Adit terlihat berusaha bersikap seperti tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka.
Dan hal tersebut membuat Nana menjadi serba salah dan tak nyaman.
Diam beberapa saat.
Nana nampak memperhatikan sekitarnya yang ramai .
Ia pun sedikit merasa lega. Sebab kecil kemungkinan akan terjadi hal yang tak diinginkan karena mereka berada di tengah keramaian.
Namun begitu tatapannya bertemu dengan Adit, ia jadi gugup. Sebab Adit menatapnya begitu lekat.
Ia menyesal tadi tak minta ditemani pak Tole.
'' Aku ? Masa kamu gak bisa lihat sendiri ?
Aku - - Ka-cau '' ekspresi Adit mendadak dingin. Tatapan tajam, seperti hendak menusuk lawan bicaranya.
'' ... ''
Lalu Raut wajah itu berubah lagi menjadi sumringah.
'' Kamu kok bisa ada disini ? ''
'' Eng- itu... Ku kira kamu di Dubai.
Kok sekarang ada disini ? Lagi liburan ? '' Nana memilih tak menjawab dengan mencoba mengalihkan pembicaraan .
'' Aku ? Aku tidak pernah kembali ke Dubai ''
' deg ' Nana reflek mundur satu langkah.
'' Nana '' suara Adit membuat bulu kuduk nya meremang. Bagaimana tidak. Senyum dan ekspresinya berubah lagi . Kini lebih menyeramkan dari yang tadi.
Rasa takut mulai menyelimuti Nana .
'' A-adit.. '' Nana memalingkan wajahnya, menengok ke bawah . Dion pun terlihat sama sepertinya. Takut.
'' Kenapa Nana ? Ada apa denganmu ? ''
''Ak-aku tidak apa-apa, Dit.
Aku hanya.. eng, aku sedang buru- bu - ''
'' Kamu mau pergi ? Kenapa ?
Apa kau takut padaku? Atau kau tak suka bertemu dengan ku ? ''
'' Buk- bukan seperti itu ,Dit..
Ak-aku beneran lagi buru-buru ''
'' Sepertinya benar. Kau tak suka bertemu denganku.
Sama seperti yang terakhir kali kau katakan .
Kau masih ingat, bukan ? ''
'' ... ''
'' akarena kata-katamu itu.. Aku jadi tak bisa melanjutkan hidupku dengan baik ''
'' ... ''
Nana mundur lagi selangkah dengan pikiran menerawang ke masa lima tahun silam.
Saat dimana ia dan Adit berdebat. Dan berakhir dengan kalimat tajam yang ia ucapkan pada Adit.
__ADS_1
" *Dari dulu, aku tak pernah menganggapmu lebih dari sekedar teman.
S*ekarang pun itu lebih tak mungkin lagi.
Apalagi setelah tau sikapmu yang seperti ini.
Aku tak sudi dengan lelaki seperti mu "
" Bagaimana ? Apa kau sudah mengingatnya ?" Adit tersenyum sambil terus menyorotnya.
Ia tau jika wanita di hadapannya ini telah berhasil ia intimidasi.
Nana menarik nafas panjang. Lalu menegakkan kepalanya.
" Em. Tentu saja aku ingat " Nana mengangguk mengiyakan dengan memasang tampang tegas.
Adit menatap dan mengukir senyuman sinis.
" Kau benar-benar tak berubah, Nana.
Kau memang tak pernah dan tak mau menaruh sedikit pun hati mu untuk ku.
Aku tak mengerti, dimana kurangnya aku dibanding Bian ?
Padahal jika kau mau memberiku kesempatan, aku pun bisa memberikan kehidupan yang seperti sekarang kau dapatkan dari Bian.
Bahkan mungkin lebih.
Seperti cita-citamu yang menginginkan suami dengan berkelimpahan materi .
Aku bisa Nana.. Tapi kenapa kau tak mau memberiku kesempatan itu ? "
" Ya, mungkin. Tapi satu hal yang tak mungkin bisa kau lakukan.
Kau tak akan pernah bisa membuatku mencintaimu.
Tidak dulu, atau bahkan sampai kapanpun.
Karena aku hanya mencintai Bian. Dan itu berlaku hingga maut yang memisahkan kami "
Adit tergelak sinis, seperti tak terima akan pernyataan Nana .
" Sungguh beruntung Bian mendapatkan mu.
Padahal dulu kita ini teman akrab.
Tapi bagaimana bisa kalian begitu tega padaku.
Kalian benar-benar membuatku iri setengah mati.
Kalian hidup bahagia , sementara aku ?
Apa kalian tau apa yang kualami selama lima tahun ini?
Aku... " Adit tak sempat meneruskan kalimatnya sebab seseorang menyerukan nama Nana.
Adit dan Nana serempak menoleh pada sosok pria bertubuh tinggi berparas bule tengah berjalan kerah mereka.
Nana membelalakkan matanya.
Ingatannya tak mungkin salah mengenali. Itu Conor, ayah mertuanya.
Conor baru saja tiba dari penerbangannya. Ia sengaja tak memberi kabar untuk memberi kejutan pada anak-anaknya dan juga Natasya.
Berbekal pesan WhatsApp yang Bian kirim beberapa hari lalu, Conor minta pada supir taksi untuk mengantarnya ke hotel yang akan menjadi tempat diselenggarakannya pernikahan Cecillia.
Dan saat memasuki lobby untuk reservasi, ia yang tengah memperhatikan sekelilingnya tak sengaja melihat sosok seperti sang menantu. Istri anak laki-laki nya, Bian.
Untuk memastikan jika penglihatannya tak salah, ia pun terus memfokuskan pandangannya pada sosok wanita yang tengah berhadapan dengan seorang laki-laki .
Melihat ekspresi ketakutan dari wanita yang ia masih belum ia yakin apakah benar sang menantu atau bukan, maka ia pun memutuskan mendekat.
Sekalipun bukan Nana, ia berharap dapat membantu jika memang seseorang sedang butuh pertolongan.
Perlahan Adit pun mengambil langkah mundur, lalu pergi sebelum Conor sampai .
" Dedi ( Daddy) '' sapa Nana begitu Conor menghentikan langkah dihadapannya.
Conor tersenyum senang, karena ternyata ia tak salah mengenali.
Namun ia teringat pada pria yang tadi berhadapan dengan Nana.
Conor pun memutar leher dan mengedarkan pandangan mencarinya.
'' who is he ? '' bertanya pada Nana dengan jempol menunjuk pada Adit yang baru saja menghilang entah kemana.
Nana mengangkat bahunya sekali dan menggeleng.
Isyarat yang sama sekali tak bisa di mengerti Conor .
Kendala bahasa diantara mereka memang menjadi penghalang untuk berkomunikasi.
Nana yang sama sekali tak mengerti bahasa Inggris, begitu pun dengannya yang belum begitu paham menggunakan bahasa.
Karena itu, Conor pun memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut .
'' hei, Dion right ? '' Conor berjongkok sambil mengulurkan tangan pada Dion.
Senyum dan tatapannya yang hangat, membuat Dion dengan mudahnya terbujuk dan mau mendekat setelah menoleh sesaat pada Nana.
'' Opa sayang.. panggil Opa '' ucap Nana seraya mengangguk.
Dion mengakatan tangan dan menjatuhnya ditelapak terbuka Conor.
Dengan sedikit tarikan, tubuh kecil itupun Conor bawa masuk dalam pelukannya.
Conor lalu berdiri sambil menggendong Dion.
Conor menatap Nana dengan menunjuk telunjuknya yang ia ayunkan ke atas .
Nana mengerti yang dimaksud Conor adalah naik ke lantai atas.
Mereka pun berjalan menuju lift dan masuk kedalamnya.
__ADS_1
Sempat terlihat oleh Nana sebelum pintu lift tertutup , Adit yang berdiri disudut lobby. Pria itu menatapnya dengan tatapan yang tak biasa.