Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Maaf menjadi Akhir


__ADS_3

Terkadang saya masih memandangi


nama itu setiap membuka nama-nama kontak di ponsel. Padahal dulu saya bisa menghubunginya kapan saja, mengajaknya bicara sepuasku, memarahi tingkah konyol dan masih banyak lagi tentangnya.


Sekarang saya hanya diam menatap namanya cukup lama, dibungkam rasa penasaran oleh pertanyaan yang selalu sama 'bagaimana keadaannya sekarang? dan mengapa kita sejauh ini? Apa alasannya? Apakah saya begitu jahat pada masa itu?'.


Selalu terngiang pertanyaan itu setiap melihat dan mengingatnya. Saya tidak tahu persis sebesar apa kesalahan saya. Saya bahkan lupa kapan terakhir kalinya kita bersama-sama dan saling mengejek dan beradu mulut.


Bahkan kita sudah lulus dan wisuda saja sekarang tanpa pernah lagi saling sapa setiap kali bertemu dan berpandangan.


Dan keputusan yang ku ambil saat ini adalah yang tepat menurut pikiran ku saat ini. Aku harus memperbaikinya atau setidaknya aku harus memahami kejelasannya sampai sejauh ini.


Ya, saya tengah berada di sudut kafe bersama dengan manusia rumit ini. Saking rumitnya sampai gue gak bisa nemuin titik temunya permasalahan di antara kami.


Pada akhirnya gue sedikit mengesampingkan ego untuk mengajaknya bertemu dan mau tahu bagaimana dan kenapa kami sampai di fase ini. Hampir setahun lebih sudah tak pernah saling sapa dengan permasalahan yang tidak ku pahami sama sekali sampai detik ini.


"Yak, Jeno! Bisakah kau memberiku alasan singkat saja mengapa kita jadi seperti ini?" tanyaku dengan nada sedikit sinis melihat tampangnya yang seakan tak ada persoalan sama sekali.


"Maksud lo?" Jeno memicingkan matanya dengan tampang datar.


"Berhenti berpura-pura bego untuk sekarang! Gue mau tahu alasannya!" ucapku tegas.

__ADS_1


"Tentang apa?" Jeno bingung dan masih fokus menatapnya lekat.


"Aiss! Tentang kita!" ujarku singkat dan sedikit kesal.


"Kita? Kita kenapa?" Jeno memasang wajah bodoh.


"Hahah, beri gue alasan kenapa kita jadi seperti ini? Bukankah dari dulu kita berteman baik? Lalu mengapa sekarang lo malah menjauh dari gue?" tanyaku pada akhirnya.


"Hah? Tapi, bukankah kita memang tidak pernah berteman baik dari dulu?" ucapnya terkekeh.


"Oke. Mari memperbaikinya! Jika kesalahan gue terlalu besar buat di maafkan. Gue mohon lo beri gue kesempatan sekali lagi untuk memperbaikinya, walaupun sampai detik ini gue gak paham apa yang terjadi dan apa kesalahan gue sebenernya!" ucapku serius dan balik menatapnya.


"Kalo lo gak tahu kesalahan lo apa. Kenapa lo minta maaf? Lo gak salah, cuma gue aja yang memang membatasi diri untuk tidak bertemu lo lagi!" Jawab Jeno jelas.


"Gua gak pernah tuh, nganggap lo teman! Jadi gak usah merasa penting di kehidupan gue. Apalagi sampai membahas hubungan antara kita. Gue rasa dari awal kan kita emang gak pernah punya hubungan apa-apa!" tegas Jeno.


"Oke. Apapun itu, semua tentang lo gue anggap udah kelar. Gue udah berani melawan ego untuk menemui lo disini dan membicarakan ini. Dan ternyata cuma gue yang merasa kita pernah berteman karena lo gak pernah merasakannya. So, percuma kalo gue minta alasan atau penjelasan sekarang. Toh, kita tidak sedang dalam masalah juga ternyata!" ucapku kecewa, ia gue benar-benar kecewa sekarang, gue udah mau memperbaikinya tapi ternyata gak ada yang perlu diperbaiki.


"Yap lo benar! Gue cuma gak mau berada disekitar orang seperti lo, yang hidupnya hanya bisa merugikan orang disekitar lo. Jadi, gak salahkan kalo gue berusaha menjauh dari lo? Cara hidup kita juga beda. Kalo lo bisa hidup dengan cara membulli, merugikan orang lain, menjadi sumber masalah dalam kehidupan orang lain, menghabiskan malam di tempat-tempat yang gak bener, dan hidup dengan cara munafik karena kurang perhatian bahkan gak bisa menjaga diri dengan baik. Lalu mengapa gue harus lo paksa atau harus beri alasan kenapa gue menjauh?" ucap Jeno dengan tatapan bencinya.


"Hm. Tenyata pemahaman lo tentang gue sedangkal itu ya! Gue gak percaya seorang Jeno bisa terpengaruh sama ucapan mulut-mulut gak bertanggung jawab. Gapapa, semuanya hanya karena gue belum bisa ngungkapin semua kebenarannya saja. Dan gue rasa, setelah ini mungkin gue akan berhenti menyelidiki kejadian tahun lalu mengapa gue dipojokkan saat itu. Karena pada akhirnya mereka yang memang benci akan tetap membenci gue. Sementara yang lain mungkin gak butuh alasan karena mereka menerima gue apa adanya!" ucapku tersenyum miris.

__ADS_1


"Woah. Tenyata lo masih mencari tahu tentang kejadian itu ya? Ngapain, mau memutar balik fakta? Gak usah berjuang terlalu keras toh semua orang juga udah tahu bagaimana lo!" jawab Jeno sinis.


"Ya. Makanya mulai sekarang gue akan berhenti. Karena alasan gue cari kebenarannya adalah untuk membuktikan ke lo kalo gue gak seperti itu. Soal banyak orang yang tahu itu, gue gak peduli karena gue cuma mau jelasin ke lo. Tapi, akhirnya gue paham sekarang kalo semuanya bakal sia-sia juga," ucapku terkekeh.


"Hm. Mari kita akhiri semuanya disini. Jangan pernah saling bertemu lagi. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal dan gak akan pernah! Karena itu akan semakin membuat gue benci sama diri gue sendiri yang pernah hidup di sekitar lo dan bodohnya lagi pernah mencintai lo yang gak tahu caranya menghargai perasaan orang lain! Jadi, mari berhenti disini!" Ucap Jeno tegas.


"Ya. Lo benar, kita memang gak seperti ini dan gak bertemu seharusnya, jika tahu akan jadi kek gini. Setidaknya gue masih datang dan punya niat memperbaikinya. Baiklah. Gue jamin kita gak akan pernah bertemu lagi. Maaf pernah menoreh banyak hal sia-sia antara kita.


Woah, seharusnya gue mengucapkan kata perpisahan dengan akhirnya 'sampai bertemu'. Tapi nyatanya ini adalah akhir. Jadi, mari berhenti!" ucapku dengan senyum kekecewaan dan meninggalkannya di sudut kafe itu.


Ya. Gue paham, gue gak bisa memaksa beberapa hal dalam hidup termasuk keberadaannya.


Gue sadar gue banyak salah pada akhirnya. Jadi biarlah ini berakhir dengan baik dan seharusnya.


"Gue akan ingat ini sampai kapanpun. Ditempat ini gue merasa tercampakkan sebagai teman. Sebagai sahabat dan sebagai orang yang gak paham apa yang terjadi sebenarnya. Gue gak akan pernah kesini lagi dan kafe itu akan menjadi tempat yang tak akan pernah ku singgah sampai kapanpun. Gue akan pergi dan menghilang sejauh mungkin dari pandangan lo. Bahkan semua tentang gue gak akan lo dengar lagi. Maaf!" batin Sena yang tengah berjongkok di pinggir jalanan dan menangis tanpa suara. Dan itu benar-benar sangat menyakitkan untuknya ketika bisa menangis dalam diam.


"Maafin gue. Gue gak ada pilihan selain buat lo semakin jauh dari sisi gue. Gue sadar semua sikap gue sangat menyakiti. Bahkan begonya sampai detik ini gue masih cinta dan sayang sama lo terlalu dalam. Gue sakit liat lo dibuat seperti itu. Maaf belum bisa memberi lo alasan sekarang. Gue tahu gue brengsek. Tapi, jika ini bisa membuat lo baik-baik kenapa gak bisa gue lakuin? Gue mau lo bahagia terlepas apapun kebenarannya dari semua tuduhan itu. Gue tetap cinta sama lo See!" Batin Jeno dengan tatapan prihatin melihat Sena tengah jongkok sambil menangis tanpa suara, ya dia mengikuti langkah Sena ketika pergi meninggalkannya di kafe tadi.


Pada akhirnya. Kejadian tahun lalu tentang ungkapan bagaimana jeleknya Sena dimulut orang-orang masih membekas di setiap mereka yang dekat dengannya. Siapapun gak akan menerima itu dengan mudah. Ditambah lagi Sena belum sama sekali mengklarifikasi semua itu karena kurang bukti. Jeno pun demikian ia akan bersikap demikian juga pada akhirnya.


Pelan-pelan. Semua akan kembali baik nantinya.

__ADS_1


_13 sept. 2021


__ADS_2