
🌺 hem.. 🌺
Ha' kan mana komentarnya ?
* * *
Bian menghela nafas . Lalu mencoba meraih istrinya. Namun baru maju satu langkah , Nana latad selangkah mundur menjauhi.
'' sayang.. '' Bian memelas.
Nana menggeleng perlahan.
'' maaf terlambat mengatakannya.
Aku tau aku salah ''
'' ... '' Nana memalingkan wajahnya.
Mendengar suara yang begitu lirih saja hatinya seperti diremas. Apalagi jika harus melihat ekspresi wajah Bian yang memohon.
Tidak. Ia tak akan sanggup.
'' Nana, sayang.
Tolong maafin sikapku yang kemarin .
Aku gak peka, aku juga gak perhatiin kamu dan mengabaikan perasaan mu.
Dan karena aku jugalah keadaan kita kaya gini ''
Nana tengah berpikir . Harus seperti apa ia menanggapi situasinya saat ini. Padahal semua sudah sesuai dengan yang ia harapkan.
Sang suami yang tetap setia menunggunya. Lalu permintaan maafnya.
Ditambah lagi keadaan dan situasi tak lagi sama seperti dulu. Dan kini tak akan ada lagi orang yang akan menggangu rumah tangganya .
Seharusnya ia puas, bukan ?
Tapi-tapi kenapa perasaannya jadi tak jelas seperti ini ?
Nana menghapus air matanya yang lolos tanpa bisa dicegah. Ia menarik nafas dan bersiap untuk bicara. Namun -
'tok. tok. tok. '
Nana dan Bian sama-sama menoleh ke pintu kamar.
'' Naaa.. '' panggil Siti dari luar sana.
'' mamaaaaaa '' menyusul suara Dion yang terdengar serak.
Nana bergegas membuka pintu kamar. Didapatinya Siti yang menggandeng Dion .
Si bocah langsung melepas diri dan memeluk Nana.
Siti mengatakan jika Dion terbangun dan mencarinya. Karena Dion menangis dan tak bisa dibujuk, maka Siti terpaksa membawanya.
Nana mengangguk paham . Meski dari kecil selalu bersama Siti , namun setiap malam Dion selalu terjaga hanya untuk memastikan jika sang mama ada bersamanya.
Dion tak bisa tidur tanpanya.
'' iya, gak papa mak. Mak istirahat aja.
Biar Dion tidur sama aku ''
Siti mengangguk dan dengan berat hati melangkah pergi.
Padahal ia sudah berencana untuk memberi waktu bagi suami istri itu melepas rindu berduaan. Tapi apalah dayanya jika Dion ternyata tak bisa diajak bekerja sama.
Nana menutup pintu. Lalu membawa Dion masuk dan langsung menuju kamar mandi.
Bian yang melihatnya menyusul masuk ke ruang yang dimasuki anak dan istrinya.
Langkah Bian berhenti di mulut pintu yang sengaja tak Nana tutup.
Dilihatnya Nana tengah membantu Dion membuka baju .
Air yang tadinya ia persiapkan untuk berendam bersama Nana, justru sekarang Dion lah yang ada didalamnya.
Dan itu berarti harapannya untuk mandi bersama pupus. Namun Bian tak akan mempermasalahkan hal tersebut.
Ia perhatikan Nana yang menggosok tubuh Dion yang terendam air hangat sambil tak berhenti berceloteh.
Memang di setiap ada kesempatan, Nana pasti akan mengajak Dion berbicara.
Hal tersebut adalah bagian dari terapi yang dianjurkan oleh dokter spesialis khusus tumbuh kembang anak.
Meski telah lama melakukannya, namun respon dan kemajuan Dion terbilang lambat.
Belasan menit berlalu. Nana sudah selesai memandikan dan juga membantu Dion mengenakan pakaiannya.
Setelah itu mereka berdua menuju ranjang , dimana Bian tengah duduk di pinggirannya.
'' anak papa kenapa , em ? '' Bian menyambut Dion dengan meraih jemari dan menggenggamnya.
Dion mengadah, menatap sang mama yang mengangguk sambil melepas pegang tangan mereka.
'' Dion sama papa dulu, ya.
Mama mau mandi ''
Dion mengangguk. Setelah Nana masuk ke kamar mandi dan menutup pintunya, Dion lalu memutar pandangannya pada Bian.
'' Dion mau tidur lagi, gak ? '' Bian mengangkat tubuh anaknya dan membaringkannya di atas tempat tidur.
Bian pun ikut merebahkan tubuh di samping putranya dan mulai berbicara apa saja. Dion nampak begitu memperhatikan dan mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut papanya .
' klek ' suara pintu kamar mandi terbuka, membuat Bian seketika menoleh dan menghentikan ocehannya.
Matanya menatap penuh kagum pada istrinya yang mengenakan kamer jas dengan handuk membungkus mahkotanya.
Nana berjalan menuju lemari , membuka dan mengambil pakaian lamanya.
'' mandilah '' ucap Nana yang membuka gulungan handuk di kepalanya dan menatap sekilas pada Bian .
Rambut yang panjangnya hampir menyentuh bokong itu menjuntai bebas.
__ADS_1
Bian bergeming.
Tampilan Nana yang basah membuatnya tak bisa memalingkan pandangannya.
Kalau saja tak ada Dion, mungkin ia sudah membawanya ke atas ranjang, menelanjangi dan menggaulinya.
Khayalan Bian seketika buyar mengingat jika dikamar ini mereka tak hanya berdua saja.
Ia lirik Dion seraya menghela nafas.
Sepertinya malam ini ia tak bisa menyalurkan hasratnya dan harus menahan desakan dibawah sana.
Bian pun bringsut dengan malasnya menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, ia yang sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian .
Bian berjalan dan berhenti tepat di depan ranjang dimana anak dan istrinya tengah berbaring saling berhadapan.
Dion dan Nana menatapnya heran sebab Bian menatap mereka dengan kening mengkerut.
Sedangkan yang tengah diperhatikan terlihat mulai menggerakkan kedua bola matanya secara bergantian ke kiri dan ke kanan.
Haruskah ia mengambil posisi di sisi anaknya dan menjadikan Dion berada di tengah-tengah mereka ?
Benak Bian yang mulai berkecamuk.
Bian memfokuskan tatapannya pada Dion .
Tapi ia sangat ingin memeluk wanitanya, merengkuh dan kalau bisa melakukannya.
Bian menggeleng.
Ia ingin . Tapi lebih ingin lagi memeluk wanitanya, merengkuh dan kalau bisa melakukannya.Tapi ia sadar jika hal tersebut sangat kecil kemungkinannya bisa terjadi .
Dan hal itu membuat Nana dan Dion yang memperhatikannya bertambah heran.
Kali ini ekspresi Bian berubah.
Ia mengangguk dengan mata terpejam.
Dan dengan tiba-tiba terbuka .
Matanya kini berfokus pada Nana.
Ya, ia memang ingin mengakrabkan diri dengan Dion. Tapi itu tak mungkin bisa langsung begitu saja terjadi. Ia butuh proses.
Setelah menimbang-nimbang. Akhirnya ia putuskan untuk berbaring disebelah Nana.
Bian naik perlahan dan merapat pada Nana yang berbaring dengan tubuh menyamping.
Sempat dilihatnya Dion yang memperhatikan dan menatapnya datar.
Entah apa yang ada dibenak si polos itu.
Bian yang tak bisa menembak isi kepala anaknya, memilih melemparkan senyum lalu membenamkan wajahnya di ceruk Nana. Kedua tangannya memeluk erat tubuh sang istri. Menunjukkan betapa rindunya sudah meluap ingin disalurkan.
'' aku merindukan mu, sayang '' bisik Bian membuat Nana bergidik geli.
Nana menggeliat . Perlahan nafasnya mulai tak teratur saat telapak tangan tadi berpindah masuk kebalik bajunya.
Nana semakin gelisah saat Bian berulang kali mendaratkan kecupan di leher dan bahunya. Bahkan menghisapnya.
Sementara Bian yang sudah menghayalkan akan menghabiskan malam ini dengan penuh gairah, terus-terusan menghela nafas.
Tanpa ia sadari jika sapuan angin dari mulut dan hidungnya itu membuat Nana tak bisa tidur.
- -
Pagi datang disambut mentari yang bersinar begitu terang.
Nana turun bersama Bian yang menggendong Dion.
Keluarga kecil itu mendapat sapaan dari satu persatu mereka yang sudah berkumpul di ruang makan.
Nana membalas dengan sapaan serupa namun dengan senyum yang dipaksa sambil ekor matanya menyapu wajah mereka semua.
Tak ada Natasya.
Nana menghela nafas tertahan.
Entah mengapa ia kembali merasa dadanya seperti dihimpit. Sesak.
Pandangannya lalu terpaku pada para assisten rumah tangga yang juga turut duduk mengitari meja makan.
Bi Gani,Susan dan pak Tole mengangguk seraya tersenyum padanya.
Nana pun melakukan hal serupa meski senyumnya terlihat begitu canggung.
Seingatnya, dulu ketika para majikannya makan, mereka selalu melayani dan tak pernah sekalipun duduk diantara tuannya seperti ini.
Tapi tidak sekarang sebab Bian memperlakukan mereka dengan cara yang berbeda.
Meskipun diperlakukan demikian, ketiga pembantu rumah itu tau akan batasan dan untuk bersikap sebagaimana mestinya. Mereka menjaga jarak, dengan duduk di bagian ujung meja .
Nana menjatuhkan bokongnya di kursi sambil menatap pria yang juga tengah mendudukkan diri di sampingnya.
Mereka lalu memulai sarapan bersama .
Detik berganti menit.
Satu persatu piring yang tadinya berisi mi goreng buatan Bi Gani mulai berkurang . Bahkan ada yang sudah habis tak bersisa.
Hanya piring Nana saja yang terlihat masih banyak isinya.
Mereka yang ada di meja makan sejak tadi diam-diam memperhatikan Nana yang terlihat muram dan sepertinya tak berselera makan.
Mungkin lelah karena penerbangan kemarin. Atau mungkin juga karena hal lainnya.
Entahlah, Tak ada yang tau pasti kenapa Nana nampak begitu tak bersemangat.
" aaaaa... pasti karena anaknya yang tadi malam tidur bersama mereka. Jadi mister ama nyonya mister gak bisa ehem-ehem .. "
Pak Tole manggut-manggut . Tanpa ia sadari jika ia tengah diperhatikan.
Seolah bisa membaca apa yang ada dipikirannya, merekapun ikut manggut-manggut dan mengerti .
__ADS_1
Hari itu berlalu dengan mereka semua berkumpul dan menghabiskan waktu seharian di rumah.
Dion menjadi pusat perhatian semua orang.
Silih berganti Bian dan Cecilia mengajaknya bercengkrama dengan ditemani Nana dan Siti.
Sesekali Han juga terlihat mengajak Dion berbicara meski tak begitu di tanggapi sebab Bian dan Cecilia lebih mendominasi untuk mendapatkan perhatian si bocah .
Sedangkan Nana. Ia hanya diam sambil memperhatikan saja. Dengan pandangan tak tentu arah.
Namun sejak pagi ia selalu menatap ke arah pintu rumah.
Tak ada sama sekali tanda-tanda akan hadirnya seseorang. Sepertinya perkataan Bian memang benar adanya. Natasya tak akan datang .
Dan entah mengapa hal itu membuatnya lagi-lagi merasa tak nyaman .
Malam kembali datang dan Dion masih enggan berpisah tidur dari Nana.
Malam inipun Bian terpaksa harus menahan keinginannya lagi.
* * *
Beberapa hari kemudian.
Suasana terasa ramai sejak kedatangan Nana, Siti terutama Dion si pendiam yang begitu mengemaskan.
Tak terasa sudah di penghujung minggu. Besok Cecilia dan Han akan kembali ke Bandung .
'' Na '' sapa Cecilia saat mereka semua baru selesai sarapan.
'' ya, kak ''
'' akhu bole bawa Dion jhalan-jhalan gak ? ''
Nana melirik suaminya yang telah selesai dengan makan paginya .
Bian mengangkat sekali bahunya sejajar.
Pertanda ia tak tau menahu dan juga terserah padanya akan memberi ijin atau tidak.
'' akhu perghinya shama Han, jugha kok '' Cecilia mengerjap cepat beberapa kali pada pria yang duduk bersebrangan dengannya.
'' mak ikut, ye ? '' Siri menawarkan diri.
Ini tak sama sekali mereka rencanakan.
Namun agaknya mereka tau jika Nana dan Bian sama sekali belum mendapat waktu untuk melepas rindu .
Karena itu Cecilia berinisiatif mengajak keluar Dion untuk memberi waktu agar Nana dan Bian bisa berduaan.
Han dan Siti pun sepertinya paham akan maksud tujuannya itu.
'' Dion ? '' sebut Siti begitu lembut pada cucunya yang duduk di antara ia dan Nana.
Dion menggeleng, menatap Siti yang tak sedetikpun melunturkan senyum.
'' anti nak ajak jalan, Dion mau tak ? Nenek pon ikot ''
Dion mengangguk.
Namun ia langsung memalingkan pandangannya pada Nana.
'' mama maseh leteh. Jadi mama kat rumah ,je.Mama kene rehat.
Dion tak payah risau.
Ade papa jage mama . Acam mane, mau ye ? ''
Beberapa saat Dion terdiam tanpa memalingkan pandangannya dari Nana.
Setelah dibujuk, Dion akhirnya mau diajak keluar tanpa Nana.
- -
Namun baru separuh perjalanan, Han dengan terpaksa putar balik untuk kembali ke rumah.
Dion sesenggukan inginkan Nana . Ia yang sebenarnya senang ketika diajak jalan-jalan , merengek agar mereka kembali ke rumah untuk mengajak sang mama serta.
Mereka pun tak berdaya . Walaupun Dion tak berteriak histeris. Namun melihatnya membenamkan wajah pada Siti dan mendengar suara tangis kecilnya , membuat mereka semua tak tega dan memutuskan menuruti kemauannya.
Sesampainya dirumah, Dion langsung melangkah kan kaki kecilnya begitu pintu mobil dibuka.
Bergegas ia masuk kedalam rumah dan disusul oleh langkah laju Han dibelakangnya.
Ketika sudah didalam rumah, Dion yang bermaksud naik ke lantai dua ditahan oleh Han.
Han raih tubuh Dion dan menggendongnya.
Dilihatnya Bi Gani dan Susan yang berdiri di sisi pegangan tangga dengan kepala mendongak ke atas.
Tak berselang lama, langkah Cecilia dan Siti terdengar mendekat dan berhenti ,tak jauh dari bi Gani dan Susan berpijak sejak tadi.
Cecilia dan Siti yang penasaran pun bertanya pada siapa saja yang mereka tatap secara bergantian.
Pada Bi Gani, pada Susan dan pada Han .
'' tadi gak lama setelah aden, ibu ama nona pergi, mister ngajak nyonya ke atas.
Terus kaya ada suara kencang-kencang gitu.. ''
Cecilia menatap Han yang sedang memasang tajam pendengarnya.
Wajah pria itu nampak serius.
Cecilia yang tak sabar pun melangkah maju. Namun baru satu anak tangga yang ia naiki, Han menahannya.
Ia menggeleng. Isyarat agar ia tak meneruskan langkahnya.
'' biarkan mereka '' ucap Han.
Seketika semua mata tertuju pada Han.
Soroti mata mereka semua sama.
Penuh heran ,tanya dan menantikan penjelasan.
__ADS_1