Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Tak Lagi Sama, Topengnya


__ADS_3

Rahang David mengeras. Kulitnya seperti mengeluarkan aura keemasan saat terkena efek bias cahaya lampu. Mata cokelatnya sangat menghipnotis Fanny.


“Kamu gak layani tamu malam ini,” ujar pemuda itu sambil meminum birnya yang baru saja dia pesan. Suaranya yang berat membuat Fanny menggigil. Gadis itu menganggkat bahunya, lalu dia mengelurkan ponselnya dan bertingkah seolah-solah dia baru saja mendapatkan pesan penting. Apapun, asalkan dia bisa mengalihkan


pandangannya dari David.


“Di mana teman-temanmu?” tanya David, seolah itu bahkan penting baginya. Fanny tidak menjawab, tetapi matanya langsung tertuju ke tempat Sara berada. Gadis itu kemudian meminum lagi jusnya.


Tampaknya mereka berdua tidak akan pernah berhasil memecahkan dinding di antara mereka. Itu membuat Fanny tidak nyaman. David terlihat sangat kaku, dan harga dirinya yang terlalu tinggi itu sanggup membuat Fanny menciut. David bukan orang yang mudah untuk dijadikan teman. Fanny tidak suka fakta itu.


Donz semakin ramai ketika Fanny sekali lagi, ditinggal sendirian. Kali ini oleh David. Matanya sesekali masih menagkap sosok Demian dan Sara yang tengah sibuk bersenang-senang. Fanny merasa semakin bosan setiap detiknya.


Tempat itu sudah tidak membuatnya nyaman. Bukannya dia tidak terbiasa dengan bau alkohol, tapi memang gadis itu sangat membutuhkan udara segar. Fanny kemudian memutuskan untuk keluar setelah dia mengirimkan pesan singkat ke Sara kalau dia akan pulang. Lagipula, dia sudah berjanji untuk sampai di rumah sebelum jam


sebelas.

__ADS_1


Udara malam  di luar membuatnya segar kembali. Lampu-lampu di jalanan menyala dengan redup. Dia bisa saja memesan grab, tapi dia ingin berjalan kaki. Fanny merasa jika dia harus menikmati kesunyian malam yang menenangkan ini sedikit lebih lama.


Tapi tiba-tiba saja mobil audi putih mengarah langsung ke tempatnya berdiri. Fanny hanya bisa membeku. Ketika audi itu berhenti tepat di hadapannya, pintunya terbuka dan Fanny nyaris saja melotot pada sosok yang keluar dari audi itu. Harusnya dia sudah bisa menebak dari awal kalau pemilik audi itu adalah David.


Sosok pemuda itu terlihat seperti Hermit di bawah lampu jalan yang temaram. Matanya menatap Fanny tidak suka hingga membuat pipi gadis itu memerah.


“Kamu gak mau pulang dengan jalan kaki kan?” tanyanya.


“Memang rencanaku begitu,” jawab Fanny dengan ketus.


Fanny menggigit bibirnya ketika matanya menangkap sosok laki-laki lain yang berkeliaran di sekitar, dan seketika dia tahu jika pulang bersama David merupakan ide yang bagus. Ketika gadis itu berjalan ke arahnya, David langsung membukakan pintu penumpang, dan dengan tidak tahu diri, apalagi berterima kasih, Fanny langsung membanting pintu itu hingga tertutup ketika dia sudah berada di dalam.


Di dalam audi hitam itu terasa hangat dan nyaman, hingga Fanny mendesah lega karenanya.  Ketika David masuk dan duduk di depan kemudi, udara terasa lebih hangat lagi. David lalu menyalakan radio, dan lagu tak lagi sama milik band Noah mengalun dengan lembut.


Setelah Fanny memberi tahu David alamatnya, pemuda itu mulai mengemudi dengan kecepatan

__ADS_1


stabil sambil bergumam mengikuti alunan lagu.


“Kamu tinggal dengan orang tuamu?” tiba-tiba David bertanya.


Fanny menggeleng. “Aku tinggal dengan tanteku,” jawab Fanny. Alis David langsung terangkat.


“Dan ibumu?” tanyanya lagi.


Fanny mengangkat bahunya. “Aku gak tau sekarang dia ada di mana,” gadis itu bergumam. Dia melihat rahang David mengeras lagi. Sepertinya pemuda itu tidak suka jika dia tidak mendapatkan jawaban pasti akan pertanyaannya.


Audi itu lalu dipenuhi dengan kesunyian setelah percakapan yang canggung itu, dan Fanny mulai merasa idak nyaman. Sejak awal, segala hal tentang David memang membuatnya tidak nyaman. Ketika mereka akhirnya mereka sampai, kunci otomatisnya terbuka, dan Fanny langsung membuka pintunya dan melompat keluar.


“Asal kamu tahu aja,” David mulai berujar lagi. Suara beratnya berubah menjadi getir. “Aku juga gak


ngeri kenapa ibuku ninggalin aku.”

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya, Fanny terpaku. Tapi matanya masih melihat dengan jelas ketika pintu audi itu tertutup rapat dan David pun menghilang dari pandangannya. David ternyata memang benar-benar jauh dari anggapan orang-orang dan media. Dia mungkin saja terlihat seperti petinju yang siap bertanding setiap saat, tapi dia tidak sekejam dan sekasar itu.


__ADS_2