Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Ini awal bukan akhir


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


Nana menatap pantulan keseluruhan diri di cermin berdiri yang diletakkan disisi lemari .


Ia tengah memantapkan hati .


Meyakinkan diri jika yang dilakukan ini sudah benar. Karena memang ia tak punya pilihan lain.


Nana keluar dari ruang ganti dan berjalan menuju ranjang dimana tergeletak koper dalam keadaan terbuka.


Semalam saja ia sudah dua kali memeriksa barang bawaan yang hanya berisi hal-hal yang paling ia butuhkan saja.


Sisanya tetap tertata rapi didalam lemari. Sebab tak mungkin juga ia bisa membawa semuanya mengingat kondisinya yang sedang berbadan dua.


Ia tak boleh berlebihan dalam membawa apalagi sampai mengangkat sesuatu yang berat.


Setelah memastikan segala sesuatunya ada , koper berwarna hitam itupun ia tutup.


Nana lalu beralih pada tas punggungnya.


'' tiket, surat keterangan dari dokter, passpor, hem... dompet.. Ok '' Nana terlihat lega . Sebab semua ada didalamnya.


Nana pun beranjak saat mendapat telpon dari taksi yang ia pesan untuk mengantarkannya ke bandara.


Memang masih dua jam lagi sebelum jadwal keberangkatan. Tapi demi menghindari macet,maka ia harus berangkat lebih awal . Jika tidak, ia bisa saja ketinggalan pesawat.


Dalam pembicaraan singkatnya, si supir ternyata sudah berada didalam komplek perumahan dan menanyakan letak dan ciri rumahnya.


Nana bergegas keluar kamar sambil mendorong kopernya. Lalu dengan perlahan menuruni anak tangga dan mengangkat tempat penyimpanan barang bawaan itu dengan penuh hati-hati.


"untung gak begitu berat "


' tep ' suara kaki yang menginjak lantai rumah usai menuruni tangga terakhir.


" haaa~~ahhh " Nana lega setelah koper mendarat tanpa mengalami kendala saat menuruni tangga tadi.


Kakinya sudah siap melangkah. Begitupun dengan tangannya yang sudah di pegangan koper untuk menariknya.


Namun tak jadi ia lakukan.


Mata Nana membelalak melihat Natasya yang duduk di sofa ruang tamu tengah menatapnya.


Sepertinya ia memang sudah ditunggu.


Natasya memperhatikannya begitu lekat. Nana yakin , sang mertua pasti bisa menembak jika melihat dari tampilannya seperti seseorang yang bersiap pergi. Lebih tepatnya memang akan pergi.


" mau kemana kamu pagi-pagi uda rapi ?


Keluar ? Apa gak puas seharian kemarin ngeluyur ?! " nada bicara Natasya meninggi seiring dengan ia bangkit berdiri.


Nana memegang kuat pegangan kopernya, dan menariknya kebelakang.


Natasya memicingkan mata, memperhatikannya sekali lagi dari atas kebawah.


" mau kemana kamu sampai bawa koper segala ? " Natasya berjalan mendekat namun terhenti karena ponsel Nana yang tiba-tiba berdering.


'' ya, pak .Sudah sampai,ya ?


emm... maaf, pak tapi bisa tunggu sebentar ? "


" ... "


" em, iya..iya.. mkasih, ya pak " Nana pada si supir taksi yang ternyata telah sampai dan sekarang berada didepan rumah .


Nana menarik nafas panjang lalu menatap Natasya . Ia bisa membaca arti guratan di wajah itu.


Natasya pasti penasaran dan menanti mulutnya terbuka untuk menjelaskan.


'' ak-aku mau pergi bibi '' Nana tergagap bukan karena takut. Tapi karena gejolak tangis yang ia tahan .


Dahi Natasya perlahan mengkerut. Ia tatap Nana hampir tak berkedip.


'' drama apa lagi yang sedang kamu mainkan, hah ? "


" bibi.. "


" oo..jadi ceritanya minggat ?


Biar apa ? Biar nanti dicariin Bian ?


Terus setelah itu kamu bisa ngajuin persyaratan kembali asal Bian mau menuruti kemauanmu pisah rumah dan menjauh dari kami. Iya, gitu ? ''


Nana menggeleng.


Ia lepas kopernya berdiri sendiri, lalu berjalan kearah Natasya yang berada di dekat meja.


' tak'tak'tak' Nana meletakkan tiga buah benda dengan hentakan kasar.


Kartu ATM, Kartu kredit, dan benda berbentuk lingkaran yang selama ini melingkar dijari manisnya. Cincin yang Bian semat di hari mereka menikah.


Sesaat ia terdiam dengan tatapan mengarah pada benda yang selama ini menjadi simbol pernikahan yang baru berjalan tiga bulan.


Nana mencoba untuk tidak menangis. Tapi tak bisa.


Air matanya lolos. Perlahan ia mulai terisak.


Hal tersebut ternyata didengar dan mengundang yang lainnya bermunculan .


Nampak Elisabeth didorong Susan keluar kamar dan berhenti tak jauh dari Nana dan Natasya yang berdiri saling berhadapan.


Nampak pula bi Gani di sudut ruangan. Ia yang tadinya sedang membersihkan rumah ,berhenti seketika saat mendengar suara-suara sang majikan.


Mata mereka semua tertuju dan memperhatikan apa yang sedang terjadi .


Nana terlihat menghela nafas panjang sembari menghapus air mata yang tak mau berhenti mengalir. Membuat wajahnya memerah dan permukaan kulitnya terasa lembab.


'' bukannya ini yang kalian inginkan ?


Kalian terus-terusan mengatai ku. Menatapku sinis. Seolah jijik padaku.


Kalian pasti sangat membenciku, kan ? ''


'' ... ''


'' aku sudah tidak tahan lagi. Hiks.. ''


'' ... ''


BI Gani yang melihatnya terlihat meremas lap yang tadi ia gunakan untuk menyeka perabotan. Hatinya seolah bisa merasakan betapa Nana menahan perih selama ini.


'' kalian tak perlu khawatir. Karena aku tidak sedang main-main. Aku pergi. Benar-benar pergi.


Dan aku jamin, kalian tidak akan pernah melihatku lagi ''


Nana mendongak. Menahan air matanya yang kian tak bisa terbendung.


Ia berusaha untuk menepis sakit hatinya kala mengingat semua perlakuan mereka .


Apa sehina itu dimana mereka tentang apa yang pernah hampir ia lakukan ?


Hingga mereka dengan tega memperlakukannya seperti seseorang yang sudah kehilangan harga dirinya ?


'' ka-kau bilang apa ? Mau pergi ? Lalu bagaimana dengan Bian ? ''


'' bukankah ada kalian ? ''


Raut wajah yang tadinya memancarkan keangkuhan yang siap menindas, kini berubah pias.


Rasa was-was mulai menyelimuti.


Takut jika sang menantu benar-benar melakukan seperti yang dikatakan.


Nana akan meninggalkan Bian ? Apa itu berarti anaknya akan dicampakkan oleh sang istri ?


Bibir Natasya bergetar.


Rasa takut kini mengikat kuat hati dan otaknya.


Ia tatap Nana lagi dan coba menilai dari mimik wajah sang menantu.


Ia bersidekap.


Nana terlihat bersungguh-sungguh.


'' ap-apa kau lupa kalau kau itu istrinya ?


Apa kau juga sudah lupa pada pengorbanannya ?!


Pada semua hal yang sudah dia berikan dan yang dia lakukan selama ini untuk mu ?!


Berani-beraninya kau mau pergi meninggalkannya .


Kau anggap pernikahan kalian itu main-main, HAH ?! " suara Natasya melengking hingga memenuhi seisi ruangan.


'' tentu tidak, bibi.

__ADS_1


Tapi bibilah yang memaksa ku harus mengambil keputusan ini.


Sejak awal pertemuan kita , Bibi tak pernah benar-benar melihatku.


Memintaku untuk mengganti panggil layaknya seorang menantu pada mertuanya ,pun tidak.


Apa sebegitu sulitnya bibi menerimaku ? Tapi kenapa ?


Bahkan sampai akhir pun , aku tak pernah terlihat baik dimatamu ? ''


'' sampai akhir ? Apa maksud mu ?


Apa kau mau mengakhiri pernikahan kalian ?


Jadi karena itu kau mau pergi ?


Apa kau pikir cukup dengan alasan itu untuk mengakhiri sebuah pernikahan, HAH ?! "


Suara Natasya kembali melengking dengan kedua mata melotot pada Nana.


Bi Gani yang melihatnya lagi-lagi hanya bisa meremas kain lapnya, lebih kuat dari sebelumnya.


Hal yang sama juga dirasakan Susan. Ia bahkan sampai tersentak dan merinding .


'' tau apa bibi soal pernikahan ? Menikah saja bibi tidak kan ? ''


'' ka-kau berberaninya... ''


'' ya, bibi memang tidak menikah. Tapi bibi pasti tau bagaimana rasanya hidup bersama dengan orang yang kita cintai.


Tapi apa yang bibi jalani berbeda dengan pernikahan.


Menikah adalah dua orang yang disatukan dalam sebuah ikatan yang suci.


Di dalamnya bukan cuma ada cinta, tapi juga komitmen untuk saling menghargai dan memprioritaskan.


Dan dalam pernikahan kami, itu semua tidak ada.


Tidak pernah ada kata cinta.


Pernikahan ini terjadi karena kami saling membutuhkan satu sama lain.


Kami pikir tadinya tak masalah.


Karena kami ini sudah lama mengenal dan tau betul bagaimana pribadi masing-masing.


Dan kami pun berkomitmen untuk menjalani pernikahan ini dengan sungguh-sungguh.


Tapi ternyata, menjalaninya tak semudah yang kami bayangkan.


Selain tak pernah ada kata cinta diantara kami, aku juga tak akan pernah bisa menjadi prioritasnya.


Itu kusadari setelah bertemu dan berhadapan dengan kalian .


Sampai kapanpun , jika aku dan Bian masih tinggal dan berdampingan hidup dengan kalian , maka aku akan selalu jadi pihak yang dikesampingkan ''


'' ... ''


'' kenapa ? Apa kalian tidak percaya ?


Tapi memang itulah yang terjadi.


Bian memang selalu membelaku dan berusaha untuk melindungku di hadapan kalian.


Tapi pada kenyataannya , akulah yang selalu di minta untuk mengalah dan memaklumi kalian .


Di ingin aku bertahan tanpa mempertimbangkan apakah aku sanggup atau tidak.


Aku bahkan tak tau peran seperti apa yang sedang kujalani selama ini.


Dan aku menyerah. Aku uda gak sanggup lagi.


Aku akan melepaskan Bian dan terserah pada kalian.


Kalian mungkin bisa mencarikannya seseorang yang sesuai dengan harapan kalian. Yang bukan hanya bisa membuat dia bahagia, tapi juga bisa membuat kalian puas "


" Nana " Elisabeth maju dengan mendorong kedua rodanya sendiri.


" Nana, jangan seperti ini . Kau tak boleh meninggalkannya '' Elisabeth yang telah sampai, segera meraih telapak tangan cucu mantunya itu.


Tapi Nana tak mau melihatnya dan memalingkan wajahnya.


Sama seperti Natasya. Elisabeth pun diliputi rasa takut .


Sebab ia adalah satu-satunya orang yang tau , sedalam apa dan seserius apa perasaan Bian pada sang istri.


Elisabeth mendongak.


Ia mengangguk samar.


Mengakui jika perbuatannya memang sudah sangat kelewatan. Menganggap seolah Nana orang asing yang tak pantas dilihat dan dihargai perannya dirumah ini . Ia menyesal.


'' Bian mencintaimu, Nana.. '' Elisabeth berucap dengan bibir gemetaran.


Nana menoleh, menatapnya dengan sorot mata tak percaya.


" apa Bian tak mengatakannya ? ''


'' ... ''


'' bagaimana mungkin, setelah semua perlakuannya padamu, kau masih tidak menyadarinya juga ? "


Nana menggeleng tegas.


Karena memang Bian tak pernah mengatakannya.


Ia memang berharap dan berpikir mungkin Bian ada rasa terhadapnya saat pria itu beberapa kali menunjukkan perhatian dan kecemburuannya.


Tapi ia selalu ragu dan takut untuk mempercayainya. Ia takut kecewa.


" mung-mungkin dia belum sempat mengatakannya karena berpikir kau masih menyukai Adit "


Nana memalingkan wajahnya lagi , seraya menarik tangannya dari genggaman Elisabeth.


'' tidak adakah sedikit pun cinta di hatimu untuknya, Nana '' Elisabeth dengan tatapan memelas.


Nana bergeming. Ternyata mereka selama ini telah saling salah paham karena tak satupun ada yang mau menyatakan perasaan duluan.


Mengetahui jika Bian juga mencintainya, tentu saja ia merasa sangat senang. Karena ternyata cintanya tak bertepuk sebelah tangan .


Tapi itu tak cukup untuk bisa merubah keputusannya yang sudah final.


Nana tetap pergi.


'' justru karena aku sangat mencintainya makanya selama ini aku bertahan.


Aku pun mencintainya, Oma.


Sangat-sangat mencintainya.


Tapi sekarang ada hal yang lebih penting daripada dia.


Ada tanggung jawab yang harus ku jaga.


Dan selama ada kalian diantara kami, aku tak yakin .


Apa aku bisa mempertahankannya atau tidak.


Aku tak mau kehilangannya.


Jadi sebagai gantinya,aku memilih meninggalkan Bian ''


Elisabeth dan Natasya saling tatap sesaat , lalu sama-sama kembali melihat Nana.


'' apakah, Bian tau ? '' Elisabeth menatap dengan mata berkaca-kaca. Ia tak habis pikir bagaimana bisa Nana setega ini. Hatinya sakit memikirkan akan seperti apa perasaan Bian jika sampai mengetahuinya.


'' menurut kalian, jika dia tau apa kalian akan terkejut seperti ini ? ''


Natasya tergagap. Kakinya melemas. Rasanya tak sanggup menopang lebih lama lagi berat tubuhnya.


'' bukan kah kalian yang menyarankannya untuk tidak memiliki anak ? ''


Natasya menatap sekilas lalu tertunduk. Rasa bersalah dan sesal bukan hanya memenuhi dirinya.


Tapi juga sudah tak tertampung lagi.


'' Bian mengikuti apa yang kalian inginkan.


Dia bilang untuk menundanya dulu.


Dia lakukan itu demi kalian.


Dia bahkan lagi memperhatikanku.


Jadi, apakah ada alasan bagiku untuk memberitahunya tentang ini ? ''


Nana menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan.

__ADS_1


Ia lalu mengambil langkah menuju koper dan bersiap menariknya.


Namun sebelum itu.


'' tunggu, Nana... '' Natasya berjalan menghampiri.


'' kau tak boleh pergi.


Bagaimana mungkin kau bisa setega ini ??


Sampai hati memisahkan anak dan ayahnya..Bahkan memberitahunya pun tidak ''


Natasya mencekal lengan Nana kuat.


Ia dan Nana saling adu tatap.


'' kalau begitu. Beri aku alasan kenapa aku harus mengatakan padanya, jika aku sedang mengandung anaknya ?


Apa setelah dia tau, situasinya akan berubah ? ''


'' ... ''


'' tidak. Tidak akan ada yang berubah.


Biar pasti tetap memintaku untuk bertahan.


Lalu apa aku harus menurutinya ?


Apa aku harus tetap disini sementara masih ada kalian diantara kami ?


Jika aku minta pisah dan menjauh dari kalian, apa kalian akan menyetujuinya ?


Bisakah aku memiliki Bian sepenuhnya ?


Tidak. Bukan kalian yang seharusnya kutanyai. Tapi Bian.


Apakah dia bisa memisahkan diri dari kalian ? ''


Nana menggeleng.


'' tidak. Dia tak akan bisa apalagi mau menuruti ku. karena bukan amunhal terpenting dalam hidupnya ! Tapi kalian ! ''


'' ... ''


'' setelah semua perkataan yang kalian lontarkan.


Cara kalian menilai dan menatapku.


Dan untuk semua perlakuan yang sudah aku terima dari kalian.. Apa kalian pikir aku akan tetap bertahan meski aku mencintainya ?


Tidak. Aku bukan tipe orang yang mengedepankan perasaan dari pada logika.


Jika aku memaksakan diri terus berada disini, aku mungkin saja akan kehilangan janin yang sedang ku kandung .


Jadi, untuk terakhir kalinya. Untuk kebaikan kita bersama. Aku memang harus pergi.


Sudah cukup sakit yang kalian berikan. Aku tak mau lagi merasakannya. Karena itu benar-benar sangat menyakitkan ''


Nana melepaskan cengkraman Natasya hingga terlepas. Terasa kebas dan nyeri .


'' kalian tau. Aku sering berpikir untuk membalas semua yang telah kalian lakukan padaku.


Tapi aku tidak tau bagaimana caranya.


Jadi, ku harap dengan apa yang sedang kulakukan ini, kalian akan mengerti dan merasakan sesakit apa yang kurasakan selama ini.


Kalau yang Oma katakan benar, jika dia memang mencintaiku . Maka lihatlah bagaimana reaksi Bian terhadap kalian nanti saat tau aku pergi .


Dan jika kalian memang bernyali, katakanlah padanya jika aku pergi dalam keadaan hamil.


Kuharap kalian juga mau menjelaskan padanya .


Jika yang membuatku tak bisa bertahan lagi adalah karena semua perlakuan kalian.


Dan juga karena dia yang selalu mengedepankan kalian ketimbang aku ''


...


'' Susan.. '' panggil Elisabeth pada perawat pribadinya yang langsung bergegas menghampirinya.


'' ya, Oma ''


'' HP ku...ambil HP ku dikamar sekarang.


Cepat.. ''


'' Bian sedang ada pekerjaan penting, Oma.


Kalau Oma menelponnya dan memberitahunya pun percuma.


Karena ketika dia sampai , aku pasti sudah tidak ada disini lagi ''


Susan melihat majikan tuanya yang sudah tak berniat lagi meneruskan perintahnya.


'' semalam dia menelpon. Dia bilang akan segera pulang begitu urusan pekerjaannya selesai.


Jadi, jangan sampai membuatnya terburu-buru pulang.


Karena apa saja bisa terjadi dalam perjalanan .


Oma gak mau sesuatu terjadi padanya, kan ?


Biarkan dia tenang di perjalanan. Baru setelah sampai rumah ,kalian bisa mengatakan apa yang terjadi ''


Nana selesai. Ia sudah menumpahkan segala yang ia pendam.


Sambil menarik koper, ia melangkah pergi dari rumah tersebut.


Beberapa saat setelah kepergiannya, suasana rumah masih sunyi.


Natasya dan Elisabeth terdiam tak mampu berkata apa-apa lagi.


Bahkan tak berkutik sedikit pun.


Begitupun dengan susan Dan Bi Gani yang menjadi saksi dan mendengar semuanya.


Mereka teringat dan mulai membandingkan dengan kejadian yang pernah terjadi dirumah ini.


Dulu, beberapa diantaranya majikan sebelumnya adalah perempuan yang berstatus kan simpanan maupun istri yang disembunyikan.


Ada dari mereka berakhir dengan dipergoki oleh istri sah yang kemudian diusir dengan penuh hinaan. Semua hal yang pernah diberikan diambil. Mereka ditendang tanpa boleh membawa apa-apa.


Dan ada pula yang ditinggal begitu saja hingga masa sewa rumah habis dan bernasib kurang lebih sama. Selain dicampakkan, tak ada juga barang berharga yang bisa mereka bawa serta.


Namun hal berbeda dengan apa yang baru saja mereka saksikan.


Sang perempuan pergi dengan sendirinya. Tanpa membawa apapun karena memang tak mau mengambilnya.


Dengan kata lain, Nana pergi untuk melindungi harga dirinya. Agar tak lagi terhina dan terinjak oleh orang-orang yang tak menyukainya.


* * *


Di dalam taksi, Nana yang sedang dalam perjalanan menuju Bandara terlihat sedang mencoba menghubungi seseorang.


'' kamu dimana ? '' suara laki-laki terdengar menyambut telponnya.


'' aku uda dijalan. Kalau gak begitu macet mungkin 15 menit lagi sampai ''


'' em, ok. Kalau gitu aku tunggu di gerbang keberangkatan ''


Panggilan berakhir.


Nana memasukkan ponselnya kedalam tas.


Seperkian detik kemudian, dering ponselnya terdengar. Menandakan jika sedang ada panggilan.


Nana mengeluarkan ponselnya untuk melihat siapa gerangan yang sedang menelponnya.


Tangannya menggantung, tatapan kedua matanya tertuju pada layar ponsel yang memperlihatkan kontak si pemanggil.


Nana terlihat tak berniat mengangkatnya dan ia biarkan begitu saja hingga panggilan tersebut berakhir dengan sendirinya.


Tak berselang lama, ponselnya kembali berdering.


Nana lalu mengubah pengaturannya ke mode silent dan kembali ia masukkan dalam tas.


" sudah berakhir.. " Nana bersidekap. Matanya memerah. Ia menunduk, melihat pada jemari yang saling bertautan.


Mungkin mustahil untuk bisa melupakan semuanya.


Tapi ia berusaha meyakinkan diri bahwa ia bisa menjalaninya . Sama seperti yang kesulitan yang sudah pernah ia hadapi dan ia lewati .


Ini bukan akhir .


Ini adalah awal.


Awal untuk menata kembali hidupnya dan bersiap menyambut kedatangannya si penyemangat baru.

__ADS_1


__ADS_2