
🌺 hem.. 🌺
* * *
'' emmmm..... '' Nana menggumam sambil memperhatikan pakaian yang menggantung ditangannya.
Kedua tangannya silih berganti naik turun siring dengan kepalanya yang bergerak ke kiri dan ke kanan.
Nana cukup lama terpaku pada apa yang ada ditangan kirinya.
" haruskah ini yang kukenakan ?'' suara dalam hatinya.
Nana menggeleng. Tidak. Suara lain menjawab.
Ini terlalu mencolok. Suara itu lagi menambahkan .
Lingerie hadian pernikahan pemberian Oma . Terbesit pilu dihatinya mengingat sosok yang begitu Bian sayangi dan kini telah menjadi almarhum.
" maaf , Oma.
Aku janji, setelah ini aku pasti mengunjungi mu "
Nana lalu meletakkan pakaian super minim itu ke tempat semula dan memutuskan untuk mengenakan pakaian yang ada ditangan kanannya.
Nana tersenyum penuh harap.
Setelah berganti pakaian yang dipilihnya tadi, Nana kemudian duduk disofa.
Ia menunggu Bian dengan gelisah.
Tiga puluh menit berlalu. Masih belum ada tanda-tanda Bian akan kembali.
Nana yang tadinya duduk tegak kini menyandarkan tubuhnya.
Satu jam berikutnya.
Bian tak juga muncul.
Lama kelamaan, Nana yang mulai jenuh tak lagi melihat jam untuk menghitung sudah berapa lama ia menunggu.
Hingga tanpa sadar matanya sudah terpejam .
Pukul 12 lewat 15 menit, Bian masuk kedalam kamar.
Pencahayaan di ruang tidurnya sudah temaram. Sebab lampu utama telah dipadamkan dan hanya lampu tidur yang ada di meja sisi ranjang saja yang menjadi sumber penerangan.
Setelah menutup pintu dengan perlahan Bian hendak mengambil langkah tak sengaja menoleh ke kanan dimana sofa barunya diletakan .
Dilihatnya Nana berbaring disofa, memeluk erat bantalan dengan posisi meringkuk.
Bian menatapnya sesaat, lalu mendekat.
Setengah berjongkok ia kini berada di belakang Nana yang wajahnya menghadap sandaran sofa.
Bian mengelus lembut rambut panjang Nana yang tergerai , terasa halus ketika sela jemarinya menyisir mahkota beraroma harum itu.
Ditambah lagi warna hitam pekatnya yang berkilau indah, membuat Bian tak bisa berhenti untuk menyentuhnya.
Apalagi ketika matanya beralih dan mendapati pemandangan yang sudah lama ia rindukan.
Seingatnya tadi Nana mengenakan pakaian santai, kaos oblong berwarna pink dan celana selutut.
Tapi kini yang membalut tubuh sintal sang istri adalah setelan tidur hitam berbahan satin . Bagian atasnya bertali seukuran satu jari sedangkan bawahannya celana sependek pangkal paha.
Lekuk tubuh Nana begitu tercetak jelas . Mengekspos seluruh tubuhnya.
Bian menarik nafas yang terasa berat. Jantungnya pun mulai berdetak tak beraturan . Memacu aliran darahnya dengan cepat.
Sesuatu dalam dirinya perlahan bangkit .
Bian mengukir senyum sambil kedua tangannya menyusup ke celah kaki dan punggung Nana.
Ia angkat sang istri dengan perlahan untuk memindahkannya ke tempat tidur.
'' Bi ''
Melihat mata sang istri yang terbuka lebar, Bian pun menurunkannya dengan perlahan.
Ia dudukan Nana di sofa.
'' Bi '' suara Nana halus tertahan.
Sebab tak ingin sampai terdengar Dion dan membangunkannya.
'' tidurlah, ini sudah malam ''
Bian hendak melangkah, namun Nana dengan cepat meraih tangannya .
Bian memutar leher, melihat Nana yang tengah mendongak sambil menggeleng.
'' Bi '' nada suara yang sama dengan sorot mata memelas . Nana memohon.
Bian menghela nafas. Lalu mendudukkan diri dan menatap Nana yang tepat di sampingnya.
' sruk' Nana merapat. Ia naikan dagunya untuk bisa lebih dekat lagi bertatapan dengan sang suami.
Bian terenyuh dengan tatapan Nana.
Tangan kanannya terangkat, menyentuh dan membelai lembut pipi chubby Nana dan mengecupnya.
'' aku mencintaimu '' ucap Bian bernada rendah .
Nana yang semakin tersentuh lalu berdiri. Kedua kakinya dibuka lebar, lalu naik keatas pangkuan suami.
Nana mendudukkan diri dengan posisi berhadapan.
'' maaf '' ucap Nana lirih sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Bian. Lalu menjatuhkan kepalanya di pundak Bian.
Bian menyamping wajahnya dan mengecup bibir istrinya singkat. Kedua tangan pun terangkat dan mendarat dipunggung Nana.
Nana nampak begitu menikmati sentuhan telapak tangan yang secara bergantian naik turun mengurut punggungnya dengan lembut.
Pelukan suami memang yang terbaik. Nana merasa sangat nyaman .
Ternyata benar yang Han katakan. Jika Bian lah yang ia butuhkan untuk mendapatkan ketenangan.
Persisi seperti yang ia rasakan saat ini.
'' Bi '' Nana menegakkan tubuhnya. Menatap dekat wajah suaminya.
Kesal Bian sirna melihat wajah sembab Nana.
Yang tersisa hanya iba bercampur rindu yang begitu mendalam.
Bian luluh.
Ia kecup bibir polos itu sambil mengusap permukaan wajah Nana yang basah.
'' Bi, ma-maafkan ak-aku .. aku yang sudah begitu tega padamu. . '' Nana tersendat karena desakan yang sudah diujung pelupuk matanya.
__ADS_1
Bian tersenyum sambil menggeleng .
Ia kecup lagi bibir Nana yang bergetar karena isak telah menguasainya.
'' ak-aku ju-juga sudah bersikap keterlaluan padamu ''
Lagi. Bian menggeleng .
Kali ini ia tak mengecup, namun ******* bibir Nana. Membungkamnya agar tak lagi bicara.
Tapi tangis Nana semakin menjadi.
Bagaimana bisa Bian luluh dengan mudahnya ?
Tapi memang seperti inilah pria yang ia cintai ini.
Bukan hanya penuh kelembutan , tapi Bian juga memiliki hati seluas samudera.
Bian adalah pribadi penyayang dan mudah memaafkan.
Nana tersedu-sedu, membuat Bian melepas tautan bibirnya.
'' sssttt . Dion bisa bangun kalau kau terus menangis '' Bian menujuk kearah ranjang dengan memalingkan wajahnya.
Nana mengangguk.
Dan berusaha meredam tangisnya.
'' maafkan aku, Bi. Maaf karena terlambat menyadari kesalahanku ? ''
Bian memeluknya.
Lalu membisikan kata cinta berulang kali untuk menenangkannya.
'' aku mencintaimu,sayang . Sangat mencintaimu. Jadi tak ada yang perlu dimaafkan , em ? ''
'' tapi kau mengacuhkan ku '' Nana membenamkan wajahnya dibahu Bian.
Air matanya yang masih saja keluar kini membasahi baju dan menebus ke permukaan kulit Bian.
'' berhentilah menangis, sayang
maaf, aku tak bermaksud membuat mu merasa bersalah seperti ini.. aku hanya sedikit kesal saja ''
Nana menarik diri, menatap letat-lekat kedua manik coklat Bian.
'' berjanjilah jangan pernah pergi meninggalkanku, apalagi memisahkanku dari Dion lagi, em ? ''
'' em '' Nana mengangguk.
'' kamu juga ! Jangan pernah lagi bersikap menyebalkan seperti hari ini '' sambung Nana bernada manja.
'' em '' Bian mengangguk .
...
'' ya, sudah . Dekarang sebaiknya kita tidur.
Ini sudah sangat larut '' Bian hendak berdiri namun Nana menahannya dengan enggan beranjak dari pangkuannya .
'' kamu gak kangen aku ? '' menggoda dengan menurunkan salah satu tali bajunya hingga bagian dari atasannya itu melorot.
'' menurutmu , apa tujuanku membeli sofa ini? '' Bian mengerlingkan matanya seraya menepuk tempat yang didudukinya.
'' ssttt.. Nanti Dion bangun ''
Bian terkekeh sambil kedua tangannya mulai bergerilya ria ditubuh Nana.
Malam semakin larut. Disaat semua orang sudah terlelap dalam alam bawah sadar, namun tidak dengan kedua insan ini.
Pasangan yang telah lama berpisah kini tengah memadu kasih. Menyatukan tubuh untuk melampiaskan rindu dan menyalurkan hasrat yang lama tak terlampiaskan.
Suasana begitu sunyi .
Tapi dikamar ini, sesekali samar terdengar ******* yang saling bersahutan.
Nana dan Bian bercumbu dengan begitu lembut. Meski nafsu tengah di puncak tertingginya, namun keadaan yang tak memungkinkan membuat mereka tak bisa melakukannya dengan lebih leluasa.
Mereka tak ingin Dion terjaga dan memergoki apa yang tengah mereka nikmati saat ini.
Hingga akhirnya mereka sampai di puncak permainan. Keduanya sama-sama mencapai pelepasan bersamaan.
Nafas yang memburu, peluh yang membasahi sekujur tubuh mereka menjadi bukti betapa percintaan ini begitu memuaskan.
Beberapa menit setelahnya, Nana dan Bian beranjak dari sofa dan berjalan menuju ranjang.
Sebelum naik keranjang, Bian terlihat menggeser perlahan tubuh anaknya yang nampak begitu lelap hingga tak sadar jika tubuhnya diangkat dan dipindahkan .
Barulah setelah itu, ia dan Nana naik ke atas tempat tidur dengan perlahan dan berbaring dengan posisi tubuh menyamping.
Bian memeluk punggungnya, merapatkan tubuh mereka tanpa jarak.
" love you, Bi " ucap Nana dengan suara pelan.
Ia yang baru saja akan terlelap, tiba-tiba saja membelalakkan mata ketika merasa pergerakan dibalik bedcover yang menutupi tubuh mereka.
'' Bi, uda dong..jangan lagi ? '' Nana menggeliat, mencoba menahan tangan Bian yang mulai tak terkendali.
Nana pun menoleh kebelakang . Dan Bian dengan cepat menutup kedua matanya.
'' akh' ssshhh..Bhi '' ******* lolos dari mulutnya saat tangan yang berada dibawah sana berhasil meloloskan bawahannya.
'' Bi, nanti Dion bangun gimana ? '' Nana disela-sela rintihannya yang tertahan sebab merasa sesuatu mulai merangsek masuk .
'' makanya tahan suaramu '' bisik Bian yang sudah kembali menyelaminya.
* * *
Keesokan paginya. Dion terjaga lebih dulu.
Matanya mengerjap perlahan saat mendapati kedua orang tuanya yang tidur dengan posisi saling berpelukan.
Seketika Dion merasa lega dihatinya .
Senyum tipis menghias di wajahnya, ia senang karena sepertinya hubungan mama dan papanya sudah kembali seperti kemarin.
Dion lalu bangun dengan perlahan . Ia tak ingin menganggu tidur dua orang yang masih nampak begitu lelap.
Sesaat , bocah yang menanjak usia lima tahun itu memperhatikan sekitar tempat tidurnya.
Sepertinya ada yang berbeda.
Berpikir sejenak , ia pun menyadari apa itu.
Bukankah semalam ia tidur ditengah ?
Namun pertanyaan itu tak mampu dijawab oleh otaknya yang masih polos.
" Dion.. " suara serak Nana membuatnya seketika menoleh.
__ADS_1
Dengan mata yang masih terasa berat untuk dibuka, Nana mencoba bangun.
Namun ia segera tersadar mengingat tampilannya.
" Bi.. Bi.. bangun sayang " Nana menoleh kebelakang sambil mendekap selimut agar tubuhnya yang hanya berbalut pakaian tipis tak terlihat Dion.
" eng ? " Bian menjawab dengan mata masih tertutup rapat.
" Dion uda bangun "
Bian membuka matanya perlahan. Sama seperti Nana, iapun kesulitan menaikkan kelopak matanya .
Mungkin karena baru tidur tiga jam membuat indra penglihatannya masih ingin terpejam lebih lama lagi.
" Bi, kamu bangun temenin Dion dulu.
Aku gak bisa.
Pakaian ku kaya gini. Trus celanaku juga gak tau kamu taro dimana " Nana berbisik sambil sikunya menekan dada sang suami.
Bian tergelak lalu tertawa ringan.
" awgh. " Nana memekik tertahan saat telapak tangan itu meremas salah satu bongkahannya.
Bian yang bertelanjang dada itupun bangun dan langsung menghampiri Dion.
Ia kemudian menggendong sang jagoan ke kamar mandi .
Tak berselang lama, ayah dan anak sudah keluar dan bersiap untuk keluar kamar.
" aku sama Dion duluan ke bawah, ya.. " ucap Bian setelah selesai mengenakan atasan.
" eng " Nana yang masih terkulai di tempat tidur menjawab .
" badanku sakit semua "
- -
Setelah sarapan bersama, Han dan Cecilia pun bersiap untuk kembali ke Bandung. Dimana tempat tinggal dan tempat kerja mereka berada.
Sebelumnya mereka lebih dulu pamit pada para penghuni rumah tersebut.
Termasuk juga pada para assisten rumah tangga .
Nana nampak berjalan menghampiri Han lebih dulu ke mobil untuk memasukkan tas miliknya dan juga barang bawaan Cecilia.
'' Han ''
Han menoleh sambil tangannya menyelesaikan apa yang tengah buat kerjakan.
' tup ' pintu bagasi mobil tertutup. Ia pun berbalik menghadap sahabatnya.
'' hati-hati dijalan '' ucap Nana sambil menyunggingkan senyum sumringah.
Han menggeleng. Dia masih Nana yang sama.
Seorang yang tak bisa menyembunyikan susana hatinya.
'' kayanya uda baikan ? '' ucap Han yang membuat wajah Nana seketika merona.
Keduanya lalu melirik pada Bian yang tengah bersama Cecilia dan Siti diteras rumah.
Mereka bertiga terlihat saling bicara dengan pandangan ke bawah, dimana Dion berdiri ditengah-tengah mereka.
'' haaahhh.. gak seru. Tadinya kupikir akan akan sedikit berbelit. Biar bisa lihat drama lagi '' Hanya membuat Nana melotot dan mencibir.
Gelak tawa Han menarik perhatian mereka dari kejauhan .
'' istrimu dan Han kelihatan akrab ,ya ? '' ucapan Cecilia pada Bian dalam bahasa asing.
'' em, begitulah. Karena mereka sudah berteman dari SMA ''
Cecilia manggut-manggut.
Pandangan dua saudara kandung itu sama-sama tertuju kearah Nana dan Han . Entah apa yang mereka bicarakan hingga terlihat begitu asik.
'' dia dulu menyukai Nana ''
'' eh ? '' Cecilia tersentak. Tak percaya dengan apa yang baru saja Bian katakan.
Bian menoleh . Mendapati ekspresi terkejut Cecilia, ia pun mengangguk untuk menyakinkan ucapannya barusan.
'' itu dulu.
Dan kuharap sekarang tidak lagi '' Bian kembali menatap ke sana.
'' kau tidak cemburu ? ''
Bian mengangkat sekali kedua bahunya.
'' aku percaya pada istriku ''
Cecilia terdiam dengan ekspresi datar.
Ia memalingkan wajahnya. Enggan melihat lebih lama dua orang yang masih terlibat perbincangan.
Ia tak suka melihatnya.
Entah karena cemburu atau karena merasa jika hubungan antara Nana dan Han terkesan tak masuk akal.
Hatinya berdenyut . Rasanya sulit menerima kenyataan yang baru saja ia ketahui.
Baru pertama kali merasakan jatuh cinta, namun cintanya bertepuk sebelah tangan.
Tapi yang lebih membuatnya tak terima adalah karena wanita yang disukai Han ternyata adik iparnya sendiri.
" bagaimana mungkin kau bisa berteman dengan pria yang menyukai istrimu ? ''
'' Karena Han bukan pria seperti itu.
Dia baik dan sangat bertanggung jawab .
Karena itu Nana sangat percaya padanya.
Begitupun denganku.
Meski cemburu itu selalu ada. Tapi aku percaya pada pada mereka.
Mereka tak akan pernah melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan ''
'' baiklah. Karena kau sudah berkata seperti itu. Maka aku tak akan pernah mempermasalahkannya ''
ucap Cecilia yang akhirnya pamit .
Ia peluk adik laki-lakinya lalu mengecup singkat pipi kanan Bian.
'' aku akan mengunjungi mu minggu depan '' ucap Bian yang setelah itu menutup pintu mobil dimana sang kakak duduk.
Cecilia mengangguk.
__ADS_1
Dan mobil pun mulai melaju jalan, meninggalkan rumah tersebut.