Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
TAK LAGI SAMA, KEDATANGANNYA


__ADS_3

Fanny membanting pintu toilet hingga tertutup. Masih terlalu pagi baginya untuk berada di sekolah. Tapi rupanya bukan hanya dia saja yang datang lebih awal pagi itu. Dia melihat Demian sedang berjalan ke arahnya diikuti Sara. Demian tampaknya sedang kesal dengan Sara sehingga tidak membiarkan gadis itu mendekatinya.


Demian adalah seorang pemuda yang berambut cepak hitam dan kurus dan lumayan berotot


daripada anak-anak lain seusianya.


Sara, di satu sisi, adalah gadis berambut cokelat gelap, wajahnya oval sempurna seperti barbie. Dia adalah tipe gadis yang akan selalu terlihat menonjol di keramaian.


“Demian, kamu benar-benar bodoh!” Fanny mendengar Sara mengumpat.


 “Hei, ada apa ini?” Tanya Fanny ketika mereka berdua sudah berada di hadapannya.


“Aku benci sama kamu, Demian!” Sara menggeram, dan Jordan hanya mendengus kesal. Itu


membuat Sara mengeluarkan jari tengahnya.


“Kamu bikin maslaah apa lagi ke Sara?” Tanya Fanny ke Demian.


Sekarang pemuda itu menyibukkan diri dengan ponselnya, dan mengangkat bahunya. “Aku gak ingat,”  dia bergumam.


“Kamu gak ingat?” Sara hampir saja menjerit.


Demian mengangkat bahunya lagi, bersamaan dengan bunyi bel masuk kelas. Akhirnya mereka bertiga berjalan menuju koridor 11 IPS. Pelajaran berlangsung sangat memosankan. Materi yang diberikan oleh guru sejarah merka sudah seperti lagu pengantar tidur saja. Tapi itu tidak berlaku bagi Fanny dan Sara.


Kedua gadis itu tampak tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing, terutama Sara. Dia sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun selama pelajaran, membuat Fanny yang duduk sebangku dengannya merasa tidak nyaman.


Waktu makan siang datang dengan begitu sangat lambat, dan tanpa ada hasrat untuk makan, di kantin. Fanny mengeluarkan tas make up-nya dan mulai bersolek, mengabaikan tatapan aneh Demian yang tidak lagi memedulikan nasi goreng yang sedang di makannya.

__ADS_1


“Kenapa sih, cewek itu suka baget make up?” tanya Demian tiba-tiba. Fanny mendengus mendengarnya. Mata gadis itu berkontrasi mengaplikasikan maskara dan eyeliner. Satu tangannya memegang cermin kecil yang dia ambil secara paksa dari Sara.


“Ini buat aku ngerasa lebih baik,” jawab Fanny sambil mengangkat bahunya.


 Saat Fanny mulai memakai lipstick, Sara akhirnya kembali duduk di sampingnya dengan membawa


semangkok mie ayam.


“Sejak kapan kamu mulai piercing?” tanya Sara tiba-tiba ketika pandangan gadis itu tidak sengaja terarah ke kuping Fanny. Sebenarnya Sara cemburu. Dia juga ingin piercing tapi ibunya tidak mengizinkannya.


Fanny mengangkat bahunya. “Baru empat minggu.”


“Tapi gimana bisa ibumu ngebiarin kamu buat piercing?” tanya Sara, hampir terdengar seperti Gio jika sedang protes.


Fanny mengangkat bahunya lagi. “Aku tinggal dengan tanteku.”


Fanny menggeleng. Dia lalu merapikan kembali peralatan make up-nya. “Aku tinggal dengan tanteku semenjak aku pindah ke sini.” Fanny mulai merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan mereka. Untungnya, Sara segera bisa


mencairkan situasi.


“Meskipun kamu baru di sini selama seminggu, rasanya seperti sudah lima tahun aku kenal kamu,” ujar Sara. Matanya dengan intens menatap Fanny. Mata itu jujur dan murni.


“Ya, ku memang punya efek seperti itu ke orang-orang,” kata Fanny dan Demian mendengus,“kamu beruntung karena kamu bukan satu-satunya anak baru di sekolah ini,” gumamnya.


Fanny mengangkat alisnya, menuntut jawaban tanpa suara ke Demian. Sara juga sepertinya terlalu penasaran dan melupakan kekesalannya tadi pagi. “Siapa?” tanyanya.


Di SMA 11 Surabaya, semua murid di sini saling kenal satu sama lain. Bahkan meskipun Fanny sudah

__ADS_1


bersekolah di sini selama seminggu, orang-orang masih saja menatapnya seolah dia ini mainan baru.


“Aku dengar Bu Inggrit bicara dengan Pak Indra kalau ada murid baru yang mau gabung di jurusan IPA,”


ujar Demian. Fanny mencoba untuk bersikap wajar dan tidak terlihat terlalu penasaran.


“Oh, ya?” Sara hampir menjerit lagi. “Siapa namanya?” tanyanya, mendesak Demian untuk segera memberi


tahu nama murid baru itu.


“David Albert.”


                                                                                        ***


 


 



                                            Sara Ermas Gürsel


 



                                                                            Demian Niel Hardja

__ADS_1


__ADS_2