
🌺 hem... 🌺
* * *
Cecilia pergi tanpa sepatah kata.
'' apa kau yang menyarankan itu padanya ?'' tanya Bian pada Nana . Tak lama setelah kakaknya keluar dari kamar yang mereka tempati.
Nana mengangguk . Ia tak menyangkalnya karena memang benar ia yang menyarankan agar Han mundur . Sebab ia tak mau melihat Han mengemis sesuatu yang dapat membuatnya kehilangan harga diri.
'' kenapa Nana ? Apa kabur selalu jadi pilihan yang menurutmu paling baik ? ''
Nana menatapnya lekat. Kenapa Bian harus menghubungkan hal ini dengan mengungkit masalah yang telah lalu. Kesalahan yang tak ingin ia kenang apalagi harus diungkit.
...
'' maaf, aku tak bermaksud - - '' Bian yang kelepasan menyadari kesalahan bicaranya.
Ia mendekat , duduk di depan Nana yang sejak tadi tengah menemani Dion menonton televisi.
'' jika iya , kenapa ?
Bukankah cara itu lumayan efektif ? ''
'' sayang ''
'' kau benar. Bagiku, kabur saat itu adalah pilihan terbaik. Meski kini sangat kusesali.
Tapi jika aku tak kabur, oma dan Ibumu mungkin tak akan pernah berubah.
Dan kau pun belum tentu sadar akan ketidak pekaannu.
Lalu Han.
Menurutmu , setelah dia tau kalau kau tak pernah benar-benar menaruh kepercayaan yang sesungguhnya padanya , apa kau pikir dia masih bisa bekerja dan bersikap seperti biasa ? ''
'' ... ''
'' Han dan aku tau , alasan kenapa kau baik padanya selama ini karena kau merasa berhutang budi.
Bukan karena kau percaya padanya.
Dan Han tak nyaman akan hal itu ''
'' Nana.. ''
'' sepertinya kita sudahi membahas tentang Ha. Aku lelah.
Lagipula sekarang kau sudah bisa bernafas lega, karena masalah Han dan kak Cecil selesai seperti yang kau harapkan ''
Bian menghela nafas. Benarkah ini yang ia inginkan ?
Kemarin ia memang berharap demikian.
Tapi ketika itu benar-benar terjadi, kenapa rasanya jadi tak nyaman begini ?
Dan kenapa juga ia jadi merasa bersalah seperti ini ?
* * *
Hari berganti.
Han tak masuk lagi.
Sepertinya ia benar-benar tak akan pernah datang lagi untuk bekerja.
Hal tersebut memaksa Bian untuk tinggal lebih lama dan tak tau kapan bisa kembali ke ibu kota.
'' Bi '' sapa Cecilia pada adiknya yang baru saja selesai rapat dengan para kepala bagian DSL.
Dalam rapat darurat yang diadakan secara mendadak tadi, Bian menyampaikan ke pada para kepala bagian , jika untuk sementara waktu mereka akan bekerja lebih ekstra . Sampai ia menemukan pengganti untuk mengisi posisi Han.
Bian tersenyum tipis.
Sama seperti Han. Cecilia pun sepertinya tak berniat lagi untuk bekerja.
Bian pasrah. DSL Bandung akan kembali menjadi tanggung jawabnya. Dan itu berarti waktu bersama anak istrinya akan semakin berkurang karena ia akan sering bolak-balik keluar kota lagi.
Beruntung DSL yang ada dibeberapa kota lain tak menuntut harus selalu di kunjungi .
Dalam setahun , hanya dua atau tiga kali saja ia akan mengunjungi satu persatu DSL yang ada di kota-kota besar lainnya.
'' aku tidak akan pulang ke Kanada ''
Bian berdiri dari duduknya, kemudian berjalan menghampiri Cecilia yang berdiri berhadapan dengan meja kerjanya.
'' aku sudah memutuskan. Aku akan menemuinya dan akan kukatakan padanya kalau aku menerima perasannya.
Aku tak perduli bagaimana pendapat mu atau orang lain.
Aku hanya akan menuruti apa yang hatiku inginkan.
Dan aku inginkan dia. Aku juga ingin percaya padanya ''
Bian mendekat lalu menghapus air mata yang mengalir dari kedua mata sang kakak.
Bian tersenyum dan menatapnya penuh kasih, lalu memeluknya .
'' jika itu kata hatimu dan itu juga menurutmu yang terbaik, maka pergilah.
Aku akan menyuruh Pak Tole mengantarmu ke rumahnya ''
Cecilia terharu. Tak ia sangka akan semudah ini meluluhkan Bian.
Atau memang ia sudah lupa. Jika adiknya tipikal seorang yang tak bisa memaksakan kehendaknya.
* * *
Sudah tiga jam Cecilia menunggu di depan rumah Han.
Ia yang duduk didalam mobil nampak gelisah dengan terus menatap rumah yang pintunya tertutup rapat.
Tadi pak Tole ia suruh ke sana untuk memeriksa keadaan rumah itu.
Layaknya seorang yang akan bertamu, Pak Tole pun mengetuk pintu beberapa kali.
Namun sama sekali tak ada jawaban. Yang menandakan jika penghuninya sedang tidak ada.
Tak patah semangat. Cecilia pun memutuskan untuk menunggu. Meski ia tak tau sampai kapan.
'' non. Non. Non Cecil '' panggil pak Tole berkali-kali, mencoba menyadarkan Cecilia yang tertidur.
'' engh.. ya pak '' saut Cecilia dengan mata separuh terbuka.
'' itu, Non.
Ada motor baru aja datang.
Kayanya si aden Han ''
__ADS_1
Cecilia langsung melebarkan matanya dan menegakkan duduknya.
Dilihatnya teras yang tadinya kosong, kini sudah terparkir sebuah motor . Senyumnya seketika merekah dengan kedua bola mata penuh binar harapan.
' cklek ' pintu dibuka.
'' perlu ditemanin ,gak Non ? '' tawar pak Tole saat kedua kaki Cecilia sudah menginjak tanah.
'' ghak usah phak ''
Dengan penuh semangat Cecilia memacu cepat langkahnya.
' tok. tok. tok. '
'' yaaaa, siapa ? '' suara wanita dari dalam sana.
' deg ' Cecilia tersentak mendengar suara yang baru pertama kali ia dengar.
Apalagi saat pintu dibuka oleh seorang wanita.
" eh, ada bule ? " Ratih memperhatikan sosok wanita berparas asing yang berdiri di hadapannya ini.
" aduh, kalau dia ngajak ngomong gimana jawabnya ? " Ratih terpaku. Ia lalu teringat jika pernah mengalami kejadian serupa.
'' maaf, ibhu.. apha benar ini rhumah Han ? '' Cecilia mencoba berbasa-basi dengan sopan.
" eh, bisa bahasa Indonesia rupanya "
Ratih tersenyum lega.
Tapi tunggu. Tadi dia bilang Han, ya ?
Si Johan maksudnya ?
" non bule nyari Han ? "
Cecilia mengangguk cepat
" Johan ? " bertanya lagi untuk memastikan jika memang anaknya lah yang dicari si wanita bule ini.
Cecilia kembali mengangguk.
" maaf, tapi non bule ini siapa ya? Ada perlu apa nyari anak saya? "
" anak ? owgh, dia ibunya Han ? "
" eng.. shaya shatu kherjaan sama Han, ibhu "
'' oh, jangan-jangan non bule ini kakaknya iparnya Nana itu ya ? ''
Cecilia mengangguk.
Namun baru saja mengulas senyum, tiba-tiba sesuatu terbesit di pikirannya dan membuat senyumnya perlahan surut.
" ibu Han tau siapa aku ? "
Cecilia menggeleng dalam hati. Sebab bukan itu yang harus ia khawatirkan.
Ia yakin ibu Han pasti tau jika Han dulu pernah menyukai Nana.
Lalu akan seperti apa responnya nanti saat tau jika kini Han menyukainya yang merupakan kakak dari suami Nana ?
Rumit. Rumit.
Cecilia jadi cemas membayangkan jika nanti ia akan memperoleh penolakan.
Baiklah. Apapun itu, pikirkan saja nanti. Sekarang aku harus fokus pada Han.
'' ayo non bule, silakan masuk '' Ratih mempersilahkannya masuk .
Wanita berdaster batik itu berbalik lalu menuntut langkah Cecilia masuk kedalam rumah sederhana yang kini hanya ia tempati bersama anak sulungnya.
'' sebentar, ya. Ibu panggil Si Johan.
Tadi si lagi mandi . Mungkin sekarang uda selesai ''
ucap Ratih yang kemudian masuk kedalam.
Cukup lama Cecilia ditinggal sendiri.
Kurang lebih lima belas menit . Waktu menunggu yang membuatnya kian merasa dag.dig.dug. tak karuan.
Berkali-kali ia coba menarik nafas, mencoba menetralisir gugup yang tengah menyelimuti perasannya.
Hingga suara tirai penyekat antar ruangan terdengar disibak dan muncullah sosok yang ia tunggu sejak tadi .
Bibir Cecilia otomatis tertarik untuk mengukir sebuah senyuman . Namun perlahan surut saat melihat raut wajah Han yang datar.
Han menatapnya sesaat. Kemudian memalingkannya seraya melangkah menghampirinya.
Han duduk di kursi tunggal yang berhadapan dengannya.
'' Han ''
'' ada perlu apa kamu kesini ?'' tanya Han cetus.
Cecilia tersentak.
Sebelumnya, Han tak pernah bersikap seperti ini padanya. Bukan hanya merasa tengah di acuhkan. Pertanyaan yang tadi keluar dari mulut Han pun terkesan kasar. Menegaskan jika kedatangannya sama sekali tak diinginkan.
Cecilia tertunduk lesu.
Sepertinya Han benar-benar berniat menutup pintu hati untuknya. Kalau begitu sia-sia saja dia datang.
Cecilia semakin tertunduk.
'' maaf, Han '' Cecilia berucap dengan suara pelan.
Han sebenarnya tak tega. Namun ia teringat akan ucapan Nana kemarin . Karena itu ia segera mengingatkan diri jika ia harus tegas kalau memang ingin dipercaya.
Ternyata tak salah ia mendengar dan mengikuti apa yang kemarin sahabatnya itu sarankan.
'' minta maaf untuk apa ? ''
'' un-untuk... '' Cecilia bingung sendiri.
" iya, ya. Kenapa aku minta maaf? " Batin Cecilia, seraya berusaha berpikir apa yang harus ia lakukan atau ia katakan untuk mengutarakan tujuan kedatangannya.
Han perhatikan saja sikap serba salah Cecilia yang mulai memancingnya untuk tersenyum. Andai saja hanya ada mereka berdua di rumah, mungkin sudah ia terkam Cecilia seperti kemarin. Lalu melakukan apa yang kemarin tertunda.
Tapi keinginan itu terpaksa ia tahan. Sebab ia ingin lihat sampai dimana ia berhasil menaklukkan wanita yang ada dihadapannya ini.
Diam beberapa saat.
Han biarkan saja Cecilia yang masih terlihat kebingungan.
Ia nampak begitu menikmati ekspresi Cecilia yang terkadang mengerjap cepat.
Sesekali terlihat menghela nafas. Dan juga mengigit sudut bibirnya.
__ADS_1
'' baiklah. Langsung ke intinya saja.
Apa tujuanmu sebenarnya datang kemari ? ''
'' ak-akhu mahu khamu ''
" mau aku ? maksudmu ? "
" ya, mahu khamu. Masya khamu ghak ngherti " ucapnya setengah bergumam.
" kalau kamu ngomongnya gak jelas gitu , gimana aku bisa ngerti ! " Han masih pura-pura acuh .
Cecilia menegakkan kepala dan menatapnya.
Dilihatnya Han masih melihatnya seolah jengah untuk bertatapan.
Cecilia merasakan kulitnya panas, matanya perih karena hampir tak berkedip karena menahan sesuatu yang ingin tumpah.
Dan dengan cepat ia memalingkan wajahnya .
Namun sia-sia.
Air matanya tetap jatuh juga.
Perlahan butiran bening mengalir dari kedua pelupuk matanya .
Cecilia menghapusnya. Tapi lagi-lagi air mata itu kembali membasahi pipi mulusnya.
Han terhenyak. Ia tak bisa lagi menahan diri.
Ia pun beranjak dan pindah duduk di samping Cecilia.
Ia raih kedua tangan Cecilia dan menggenggam.
Membuat tangis wanita itu semakin menjadi-jadi.
'' Cecil ''
Yang disebut namanya masih menghadap ke arah lain.
'' jelaskan padaku . Kau bilang mau aku, itu maksudnya ' mau ' bagaimana ? ''
Cecilia bergeming.
" mau tarik ulur denganku, rupanya? Baiklah kalau itu mau mu " Han lalu membuka telapak dan menarik tangannya.
Sontak saja Cecilia berbalik menolehnya.
Ia tatap Han dengan sinis. Tak suka karena merasa dipermainkan.
Cecilia lalu meraih kedua tangan yang tadi mengenggamnya, dan kini berbalik ia yang menggenggamnya.
Han tergelak.
" dasar "
Han menarik satu tangannya , sementara yang satunya ia biarkan tetap dalam balutan telapak tangan Cecilia.
Lalu dengan tangan itu, ia mengusap kedua pipi Cecilia secara bergantian dengan lembut .
" aku mencintaimu, Cecilia "
" me to "
" apa sekarang kau benar-benar percaya padaku ? "
Cecilia mengangguk. Air matanya kembali lolos dan Han menghapusnya.
" kalau begitu , maukah kau menikah denganku ? "
" ... "
Cecilia melepas genggamannya. Raut wajahnya berubah sendu. Ia tak tau harus berkata apa sebab ini diluar prediksinya.
" kenapa ? Apa kau masih ragu padaku ? ''
'' buk-bukhan begithu hanya sajha thidakkah ini therlalu therburu-buru ? '' Cecilia menggeleng.
Han menatapnya lekat.
'' kita sudah bekerja bersama selama satu tahun. Kurasa itu waktu yang cukup bagi kita saling mengenal satu sama lain.
Usiaku sudah bukan masanya lagi untuk pacaran. Dan aku juga tak berniat untuk menjalin hubungan jika cuma sekedar kekasih.
Aku ingin seseorang akan selalu mengisi di keseharian ku dari pagi hingga malam.
Aku ingin ada yang menemani tidur malamku.
Dan aku ingin berbagi semua rasa dengannya ''
'' it-ihu kan bisa khita lakukan thanpa harus menikah ? ''
Han menggeleng.
'' maaf, tapi aku tak bisa.
Dan aku juga tak akan memaksamu ''
'' thap-thapi Han.. menikah ithu bukhan perkara ghampang.
Bhagimana dhengan kheluargha khita ? ''
'' ibuku sudah tau . Tadi sebelum keluar menemuimu, aku sempat menjelaskannya secara singkat ''
''... ''
'' ibu tidak keberatan dan akan menghormati apapun yang akan menjadi keputusanku ''
Ratih muncul dari balik tirai dengan membawa nampan berisikan tiga cangkir teh hangat berserta pisang goreng buatannya.
Ratih menebar senyum pada dua sejoli yang duduk di hadapannya itu.
Setelah meletakkan nampan di atas meja, iapun duduk .
'' jadi, gimana ? Jadi ibu punya mantu bule ? '' Ratih tersenyum sumringah pada anak dan si wanita yang ia anggap sebagai sang calon mantu.
Cecilia tak mampu berucap. Semua kekhawatirannya menguap saat itu juga. Ia tatap Han.
Pria itu membalas tatapannya sambil mengangguk.
Cecilia masih bingung. Keputusan apa yang harus ia ambil.
Satu sisi ia senang. Namun disisi lain ia sangat takut.
Senang karena ia dan Han tak jadi berakhir.
Tapi perkara menikah bukan hal yang bisa dengan mudahnya di putuskan begitu saja.
Bagaimana pun ia harus memikirkannya terlebih dahulu dan membicarakan hal tersebut pada keluarganya .
__ADS_1
Dan yang paling utama adalah, ia akan meminta pendapat Bian .