
Satu minggu lagi telah berlalu dengan cepat bagi Fanny, dengan rutinitas yang sama dan dia masih membenci dokter Rani. Rasanya itu tidak akan pernah berubah. Si David Albert itu masih belum terlihat juga batang hidungnya di sekolah, dan orang-orang sudah tidak lagi membicarakannya. Tapi Sara masih mengutuk pemuda itu diam-diam, meskipun dia belum pernah bertemu dengan pemuda itu sekalipun, dan Demian dengan mudahnya terprofokasi. Sekarang dua sahabatnya itu secara harfiah seperti membenci sosok hantu.
Keadaan mulai berubah dengan cepat bagi Fanny. Semuanya tak lagi sama. Saat itu hari Selasa, tiga hari lagi ulang tahunnya Lia. Tentu saja bagi seorang Fanny Prananta hari itu sangat penting, karena itulah dia sudah menyiapkan surat izin cutinya di Donz Resto & Bar dansudah merencanakan sesuatu yang besar untuk hari itu bersama pamannya, Fadi Iskandae. Lia pasti akan menyukainya.
Dia masih memikirkan rencana besarnya itu ketika dia sedang membersihkan meja tamu. Jam sudah menunjukkan pukul 22.45 malam, kurang beberapa menit lagi sebelum tempatnya bekerja itu tutup.
“Apa tempat ini masih buka?” sebuah suara yang berat mengagetkan gadis itu. Dia langsung menghentikan yang dia kerjakan, matanya menangkap sosok seorang pemuda. Pemuda itu berdiri di salah satu sudut pintu masuk, tangannya terlipat di dadanya. Kulit pemuda itu terlihat sangat eksotis dan cerah saat terkena bias cahaya lampu dari luar. Ada jerawat besar di pipi kanannya dan pelipisnya seperti pernah sobek dan dijahit. Matanya sangat tajam, seolah dia tidak pernah menyaksikan kelembutan di dunia ini. Rambut hitamnya dipangkas sangat pendek
seperti seorang petinju. Dia mamakai kaos putih polos yang ditutupi oleh jaket bomber. Dia juga mengenakan jeans.
Sneakers-nya terlihat sangat mahal.
__ADS_1
“Ya, masih buka,” jawab Fanny. Suaranya terdengar aneh bahkan di telinganya sendiri. Dia mengamati pemuda itu dengan hati-hati. Pemuda itu benar-benar tampak seperti seorang petinju yang sedang kesakitan, hanya saja tidak ada memar yang terlihat. Dia tersenyum sekilas ke Fanny, membuka jaketnya, melempar jaket itu
ke meja terdekat, dan duduk.
“Kalau gitu aku mau bir,” ucap pemuda itu tanpa basa-basi. Dia pasti sedang frustasi sekali, pikir Fanny.
Setelah memberikan pemuda itu birnya, gadis itu mulai melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhenti. Tiba-tiba pintu terbuka lagi. Kali ini dua orang berpakaian serba hitam masuk. Dua pria itu mengabaikan Fanny dan terus berjalan menghampiri si petinju.
“Tuan David Albert,” salah satu pria berpakaian hitam itu berkata, dan Fanny hampir saja menjatuhkan kotak tisu yang dipegangnya. Jadi cowok petinju itu David Albert? Fanny membatin tidak percaya. Gadis itu lalu mencuri pandang lewat bahunya sambil terus membersihkan meja tamu.
“Ayah Tuan meminta saya untuk mengantar Tuan pulang sekarang. Ayah Tuan sudah sangat marah mengetahui Tuan tidak masuk sekolah selama seminggu dan sudah ada rumor—”
__ADS_1
“Rumor-rumor itu bisa ada karena dia menyembunyikannku dari dunia hanya karena dia menganggap ibuku cuma pelacur!” David mendesis marah, dan pria yang berpakaian serba hitam itu mendesah.
“Tuan, beliau tidak akan suka melihat Tuan mabuk seperti ini.”
“Aku tidak peduli dengan apa yang dia mau! Jika dia memang peduli padaku, dia pasti akan langsug menjemputku sendiri, bukannya malah mengirimkan kacungnya. Aku bertaruh pasti dia sedang sedang sibuk menari telanjang dengan pelacur-pelacurnya.” David menatap kedua pria berbaju hitam itu dengan pandangan jijik.
“Beliaumengharapkan Tuan untuk pergi ke sekolah besok, atau semua fasilitas yang Tuan dapatkan akan dicabut.” David mendengus mengus mendengarnya.
“Silakan. Toh aku juga tidak pernah memakainya. Sekarang pergi sebelum aku benar-benar marah!” pemuda itu menggeram. Kedua orang man in black itu akhirnya menyerah dan pergi.
“Hei, kamu!” ujar David tiba-tiba, tangannya menunjuk Fanny, membuat gadis itu merasa seperti seorang penjahat yang tertangkap basah. Waktu seakan berhenti untuk beberapa saat.
__ADS_1
David lalu menunnjukkan botolnya yang kosong. “Boleh aku tambah satu botol lagi?” pintanya sambil tersenyum masam. Fanny mengembuskan napas laga dan megangguk. Gadis itu langsung ke belakang untuk mengambil bir lagi. Ketika dia kembali, pemuda itu sudah pergi dengan meninggalkan uang 300 ribu di meja.
Ini sudah malam, aku mungkin lagi mimpi. Fanny menepuk-nepuk pipinya. Uang dan botol bir kosong itu tetap ada di sana. Dia penasaran apa yang akan terjadi jika dia mamberi tahu Demian dan Sara jika David Albert akan pergi ke sekolah besok.