Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Tak lagi sama


__ADS_3

🌺 hem... 🌺


* * *


" kau harus ubah panggilmu.


Memanggilnya dengan nama terdengar seperti kalian masih sahabatan.


Hubungan kalian kan gak sama kaya dulu. Jadi panggilan pun harus berubah.


Begitu juga dengan para asisten rumah tanggamu.


Jangan lagi memanggilnya ' Non '.


Nanakan istrimu. Mulai sekarang, kalian semua harus memanggilnya sesuai dengan sebutan yang sesuai untuknya " Ujar Han .


Bian yang sejak tadi begitu seksama mendengarkan menanggapi dengan manggut-manggut.


Ia perhatikan Han sesaat.


Ia akui, sikap dan pembawaan dari pria yang selalu mencepak rapi rambut hitam mengkilatnya itu sangat dewasa.


Han selalu berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu.


Begitupun ketika dirinya dimintai berpendapat.


Kata-kata yang keluar dari mulutnya terkesan bijak dan tak menghakimi.


Bahkan pada hal yang belum pernah ia alami sekalipun. Mungkin ia belajar dari pengalaman hidup dari orang sekitarnya.


Pantas saja Nana begitu mempercayainya.


- -


Bandara.


Nana berjalan semakin cepat , meski kedua tangannya menarik koper. Lalu langkahnya tiba-tiba berhenti . Kepala berputar ke kiri dan ke kanan.


Dari jarak yang tak begitu jauh, Bian yang sejak tadi tak lepas memperhatikannya, tersenyum . Ia tau arti bahasa tubuh itu dan ia pun bisa menebak apa yang Nana cari.


'' sayang, mobilnya disana '' seru Bian dengan telunjuk mengarah parkiran yang ada di sebrang jalan.


Nana menoleh kebelakang dan menatapnya heran.


'' sayang ? ''


Bian semakin melebarkan senyumnya. Ia tau mengapa Nana menyorotinya seperti itu.


'' selamat datang, Non.. eh salah. Nyonya mister ''


sapa pak Tole menghampiri wanita yang seketika memutar leher padanya.


" nyonya mister ? "


Lagi, Nana terperangah mendengar panggilannya yang berubah.


Ia tatap pak Tole dengan cara yang sama saat ia mendengar Bian memanggilnya ' sayang ' tadi .


Tanpa sepatah katapun, Nana lalu menyerahkan kopernya yang dengan sigap di terima pak Tole.


Kini koper beralih ke pak Tole yang membawanya.


Pak Tole lalu menunjuk ke sebuah Toyota berwarna silver seraya mengatakan pada istri majikannya bahwa mobil sport keluaran terbaru itulah kendaraan mereka.


Nana mengangguk paham . Lalu berjalan terlebih dahulu.


Sesampainya Nana di samping pintu mobil, ia yang bermaksud untuk duduk di kursi depan tiba-tiba tersentak dengan bunyi ' tup ' . Suara pintu mobil dikunci.


Nana melotot kan kedua matanya pada sosok yang duduk di kursi kemudi dengan posisi tubuh menyamping.


Entah sejak kapan Han sudah berada didalam sana.


Han tersenyum lalu menekuk sekali lehernya kesamping. Sebuah isyarat yang menunjuk ke kursi penumpang.


Nana menghela nafas .


" awas saja kau nanti "


Nana mundur dua langkah dan mengedarkan pandangan ke sekitar parkiran yang dipenuhi dengan kendaraan roda empat.


Didapatinya pak Tole berada di ujung sana. Pria yang usianya sudah lebih dari setengah abad itu terlihat baru saja memasukkan koper kedalam bagasi mobil yang tak asing di ingatannya.


Mobil lama milik Bian.


Pak Tole lalu memutar langkah , ketika Siti dan seorang perempuan berparas asing menghampiri.


Sambil tersenyum pak Tole terlihat seperti menyapa mereka, lalu membukakan pintu dan mempersilahkan mereka masuk kedalam mobil.


Setelah itu, pak Tole pun bergegas masuk ke kursi depan dan mobil pun melaju jalan.


Nana mendengus kesal. Sepertinya ini semua memang sudah mereka rencanakan.


Nana berbalik . Tangan terangkat untuk membuka pintu mobil dan secara bersamaan Bian juga terlihat membuka pintu disisi satunya.


Mereka pun masuk dan duduk bersebelahan dengan Dion dipangkuan Bian.


" sini sama mama " Nana hendak meraih tubuh anaknya, namun Bian tak mau menyerahkannya dan justru merapatkan duduk hingga tubuh mereka menempel.


Sedikit menunduk , Bian mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri.


' cup ' kecupan singkat dibibir yang membuat mata itu seketika membelalak tak percaya.


Bian tak perduli . Meski Han melihatnya.


Kedua sudut bibirnya pun seolah tak lelah dan terus tertarik ke atas.


Namun tiba-tiba 'plak ' sebuah pukulan ringan mendarat di bibirnya . Bian menatap kaget saat telapak tangan kecil itu kembali ke posisi semula.


Dion menatapnya dingin. Ia jelas terlihat tak suka pada apa yang baru saja Bian lakukan pada Nana.


Sang anak lalu beringsut dari pangkuannya dan beralih pada Nana.


Dion yang sudah mendudukkan diri dipangkuan Nana mengadahkan kepalanya. Tangan mungilnya menyentuh bibir Nana dan mengusapnya.

__ADS_1


Seolah ingin menghapus jejak Bian tadi.


Bian yang melihat kecemburuan itupun menjadi gemas dan semakin merapat pada anak dan istrinya.


Namun Dion menahan dengan menekan telapak tangan di dadanya.


' p-pfffttt ' yang didepan tak dapat menahan tawanya.


Mobil kemudian dijalankan dan membawa mereka meninggalkan pusat transportasi udara dan memulai perjalanan menuju rumah .


Sesekali Han melirik mereka yang duduk dibelakangnya.


Bian nampak asik menggoda anaknya .


Dion yang tak suka , terlihat berusaha menghalangi setiap kali Bian mendekat. Sebab ia tau Bian pasti akan mencium mamanya lagi.


Tapi tetap saja, tubuh kecilnya tak sebanding dengan sang papa. Alhasil ia selalu kecolongan dan Bian berhasil melakukannya lagi dan lagi.


Lama-kelamaan Dion lelah. Entah karena tak sanggup lagi meladeni Bian atau mungkin juga lelah karena penerbangan tadi.


Jadi ia membiarkan saja Bian yang secara bergantian menciumnya dan juga Nana. Namun lebih sering Bian mencium sang mama.


Bian yang melihat bendera putih berkibar itupun langsung mengangkat dan mendudukkan Dion di pangkuannya.


Bocah itu mendongak, menatap Bian dengan ekspresi lugunya.


Ia tak tau pasti kenapa pria yang dikenal sebagai papanya melakukan hal tersebut pada sang mama.


Namun dari yang pernah Siti jelasakan padanya, sang papa sama sepertinya.


Papa adalah laki-laki yang disayangi dan juga sangat menyayangi mamanya.


Papa juga pria baik yang tak akan pernah menyakiti mama.


Dan papa juga bisa membuat mama senang dan bahagia.


Dan Sitipun menjelaskan lagi, jika hal itu sama seperti yang selama ia lakukan ketika mamanya pulang kerja. Rasa capek sang mama akan hilang seketika jika sudah bertemu dan memeluknya.


Dan bukan hanya itu saja, sang nenek juga mengingat jika nanti ia akan dan harus mau berbagi mama pada papanya.


Dion masih bingung akan maksud perkataan sang nenek.


Namun kini, Dion sedikit mengerti. Jika selain dirinya ada seorang lagi yang juga sangat membutuhkan dan juga dibutuhkan mamanya.


Pandangan Dion kini beralih pada Nana yang sejak tadi bergeming pasrah.


Sebab Nana tak mungkin menahan Bian . Pun ia juga tak bisa menampik jika dirinya rindu akan prianya ini. Jadi, ia tak keberatan akan perlakuan Bian yang memang wajar mengingat waktu yang telah mereka lewati tanpa saling bicara dan bertemu .


Mereka tentu saling merindukan satu sama lain.


Disela-sela dua orang yang sejak tadi tak berhenti bergerak, Nana nampak begitu memperhatikan suaminya.


Bian tak berubah. Baik secara fisik maupun sikapnya.


Rambut ikal coklatnya juga tetap sepanjang bahu dan terikat asal. Tampilannya begitu maskulin dengan bulu-bulu wajahnya yang tipis.


Tubuhnya pun terlihat bugar. Karena memang Bian menjaga dirinya dengan baik.


Ya. Bian selalu berusaha merawat diri dan kesehatannya .Ia lakukan untuk menyambut datangnya hari ini.


Nana tersentak kecil saat Bian mendapati jika ia tengah di perhatikan. Bian tersenyum menatapnya.


Nana terenyuh. Ia tak bisa memalingkan pandangannya.


Tatapan Bian pun masih tetap sama seperti saat dulu beradu tatap dengannya . Dan tatapan ini juga sama seperti ketika mereka masih menjadi sahabat dulu.


Hanya saja saat itu ia tak tau jika Bian tengah memendam rasa cinta padanya.


Nana palingkan wajahnya ke jendela sebab tak tahan dengan degup jantung yang mulai maraton .


Tak berselang lama mobil berbelok memasuki sebuah komplek perumahan yang masih dalam tahap pengembangan.


Sesaat setelah melewati gerbang masuk tadi, terlihat di sisi kiri dan kanan jalan tumpukan material bangunan yang menandakan jika sedang ada proses pembangunan.


Mobil semakin jauh masuk ke dalam kawasan tersebut.


Jejeran rumah dengan bentuk dan model serupa terlihat disepanjang mata memandang.


Lalu berubah ukuran,warna dan bentuknya ketika mereka melewati satu persatu gerbang bertuliskan nama komplek yang tengah mereka masuki.


Nana memutar leher kembali melihat Bian kini tengah menepuk punggung Dion dengan lembut.


Dion tertidur.


'' em. Rumah lama sudah dijual karena terlalu besar. Sedangkan para penghuninya hanya tinggal aku dan para pengurus rumah saja ''


'' ... '' Nana bergeming. Bian menoleh.


Meski bibir Nana tak berucap ,namun ia tau maksud sorot mata itu.


Bian menggenggam jemari yang Nana letakan di atas pangkuannya lalu meremasnya lembut.


'' kita sudah sampai .Selamat datang dirumah kita, sayang '' ucap Bian ketika mobil melambat didepan sebuah rumah berlantai dua .


Nana menarik tangannya lalu memutar leher kesamping jendela.


Ia memfokuskan penglihatannya pada pagar yang tingginya menutup hampir sebagian rumah.


Pagar berwarna hitam itu perlahan mulai terbuka .


Han membelokkan stir dan membawa mereka masuk hingga mobil berhenti tepat didepan halaman rumah .


Satu persatu dari mereka turun .


'' selamat datang Nonya mister '' sapa bi Gani yang membuat Nana tersentak m


Nana mengangguk seraya tersenyum tipis lalu mengalihkan tatapannya pada Bian.


'' mereka bilang uda capek gonta-ganti majikan.Jadi aku tawarin ikut aku. Dan mereka mau '' ucap Bian menunjuk seorang lagi yang tengah berdiri didepan mulut pintu.


Susan menyapanya dari kejauhan dengan mengangguk dan senyuman lebar .


Nana pun membalasnya dengan hal serupa.

__ADS_1


Beberapa detik ia terpaku ditempatnya berdiri.


Matanya masih tertuju pada Susan dan nampak begitu memperhatikan sekeliling wanita itu.


Nana menarik nafas panjang ketika cemas mulai menghampirinya dan mulai merasa was-was.


Hingga sebuah sentuhan di pinggang membuatnya kembali terkejut dan seketika membuat apa yang tadi memenuhi isi kepalanya buyar.


Bian merangkul pinggangnya . Dan dengan sedikit dorong , ia menuntut Nana masuk sambil menggendong Dion yang tertidur.


Begitu memasuki rumah yang ukurannya dua kali lebih kecil dari rumah lama, seketika itu pula Nana mengedarkan pandangan.


'' aku bawa Dion kekamarnya dulu '' ucap Bian melangkah meninggalnya .


Nana hanya mengangguk dan menatap lalu saat Bian membuka pintu dan masuk ke ruangan yang ada di sisi tangga.


Nampak Siti yang memang telah sampai lebih dulu, memperlihatkan dirinya sesaat sambil melemparkan senyum padanya. Lalu kembali masuk ke dalam .


'' Nhana '' seru Cecilia yang membuat tubuh Nana reflek berputar.


Nana yang tak siap hampir saja terjungkal karena kaget mendapatkan sambutan dari kakak iparnya berupa pelukan erat.


Setelah basa-basi sesaat, keduanya dihampiri Bian.


Nana mengangguk permisi pada Cecilia saat Bian menarik tangannya menaiki tangga menuju lantai dua . Dimana kamar mereka berada.


Sebuah ruang tidur yang cukup luas , yang hanya di isi tempat tidur , lemari tiga pintu berukuran besar, cermin seukuran tubuh dan sebuah meja rias di sudutnya.


'' aku ke kamar mandi dulu '' ucap Bian setengah berbisik ditelinga Nana seraya melepas pegangan tangannya.


Sapuan nafas tadi menyentuh permukaan kulit lehernya. Membuat bulu di sekitar area tersebut meremang.


Nana menoleh saat Bian melangkah menuju pintu yang masih menyatukan di ruangan yang sama dan masuk ke dalamnya.


Nana mengambil melangkah untuk mengitari ruangan tersebut.


Tak ada balkon. Namun ketika ia sibak gorden yang yang berjarak lima langkah dari sisi tempat tidurnya, dinding tersebut ternyata adalah kaca yang menghadap ke luar .


Nana lalu berbalik dan beralih ke lemari pakaian berwarna coklat .


Ia buka dan ia lihat jejeran dan lipatan baju yang tak seberapa. Matanya memicing ketika mendapati hal yang tak ia duga.


Dan tanpa sadar, jemarinya sudah menyentuh helai demi helai pakaian lamanya yang ia tinggal dulu.


'' air mandinya sudah siap . Kita mandi bareng, yuk ''


Bian berucap begitu lembut dengan tangan yang perlahan melingkar dipinggang Nana.


Nana menarik nafas panjang. Sejak tadi, sudah tak terhitung berapa banyak ia dikejutkan.


Tubuh Nana menegang saat merasa Bian meremas dan memaksanya untuk berputar.


Nana pun berbalik, berhadapan dengan pria yang begitu ia rindukan.


Sorot mata mereka bertemu.


Memancarkan hal yang sama. Rindu.


Nafas keduanya mulai tak beraturan saat sesuatu yang lama terpendam mulai bangkit.


Bian mendekat, meraup bibir istrinya yang sengah terbuka.


Nana yang juga menginginkan hal yang sama pun menyambut ciuman itu . Kedua tangannya pun terangkat, memegangi lengan Bian yang tak bisa sepenuhnya dibalut oleh telapak tangannya .


Ciuman mereka semakin dalam, panas dan mulai menjalar ke semua indra perasa.


Namun mata yang tadinya tertutup tiba-tiba terbuka .


Nana menarik diri, lalu mendorong tubuh Bian dengan kasar.


Ia tersadar jika mereka tak bisa langsung seperti ini mengingat apa yang pernah terjadi lalu.


Nana memalingkan wajahnya. Mencoba menahan diri dari gejolak yang telah menguasainya.


'' sayang '' Bian mendekat, namun Nana justru mengambil langkah menjauh .


Nana menghindarinya.


Bian menghela panjang dan mencoba untuk memahami keadaan.


Ia sadar telah terburu-buru. Seharusnya ia memberi waktu untuk mereka menyelesaikan apa yang belum sempat mereka bicarakan.


'' Oma uda gak ada '' ucap Bian membuat Nana seketika berbalik.


Nana nampak shock.


Bian mengangguk. Membuat Nana tak bisa menahan ekspresinya.


'' dia meninggal setelah tau kalau kau sudah melahirkan ''


' nyut ' rasanya nyeri.


Meski memendam rasa kesal dan marah pada sosok renta itu, namun Nana tak sampai membenci apalagi dendam.


Mungkin salah satu penyebab ia pergi adalah untuk menghindarinya. Tapi alasan utamanya adalah karena ia butuh waktu untuk berpikir dan menenangkan diri.


Bian mendekat hingga berhadapan tanpa jarak dengannya. Bian menangkup kedua pipi Nana yang membuat pemiliknya menaikan kepala .


Mereka kembali saling tatap.


'' aku uda ngabarin kedatanganmu dan Dion ke mami.


Tapi dia bilang ,dia cukup tau saja.


Dia gak akan menemuimu dan berjanji gak akan pernah muncul di hadapanmu lagi.


Jadi, kamu gak perlu khawatir.


Karena sekarang gak akan ada lagi yang mengganggu rumah tangga kita ''


Nana mengerjapkan mata yang mulai terasa basah. Rasa nyeri di hati kian terasa dan menekankannya.


Semuanya kini berubah. Sudah tak lagi sama seperti dulu.

__ADS_1


Aeharusnya ia merasa lega, bukan ?


Tapi kenapa justru sesak dan sakit seperti ini yang ia rasa ?


__ADS_2