
^^^_In London, October 2021.^^^
....o0o....
Ketika kamu melepaskan beberapa orang yang tidak terlalu mengharapkan keberadaanmu, kamulah pemenangnya.
Kamu kehilangan mereka yang tidak terlalu mencintaimu, sedangkan mereka kehilangan orang yang sangat mencintai mereka.
Tak ada yang bisa di pungkiri, jika sesuatu diharuskan untuk terjadi maka sekeras apapun kau berusaha menahannya ia akan dengan sendirinya berakhir tanpa kau sadari.
Memang sedikit terlihat egois bagi beberapa orang, tapi bisakah kita sedikit berpikir dari sudut pandang yang berbeda.
Adakalanya kita harus berubah dalam beberapa keadaan untuk terlihat baik dalam mempertahankan hidup yang biasanya.
Gue pada akhirnya memilih datang ke negara ini untuk melanjutkan studi dan besar kemungkinannya gue akan merubah jurusan pula.
Dari awal gue emang mengambil jurusan bisnis karena gue berpikir ayah gak punya penerus lagi selain gue. Tapi, semuanya berubah sejak pertemuan kami minggu lalu. Setelah pertemuan kami saat itu, keesokan harinya gue memutuskan untuk terbang dan memilih London sebagai tempat untuk gue memulai semuanya.
Gak ada satu orang pun yang tahu dimana keberadaan gue sekarang. Gue seperti menghilang begitu saja tanpa jejak. Yang tahu keadaan gue baik-baik saja mungkin hanya Ivan. Walaupun dia gak tahu sama sekali, berada dimana gue sekarang.
Gue hanya menghubunginya beberapa kali saja, karena disibukkan dengan banyak hal yang perlu ku urus untuk masuk kuliah.
Dan kalian tahu, kedokteran adalah jurusan yang gue ambil sekarang. Gue cuma butuh 2 tahun untuk berkuliah mengingat gue juga udah sarjana sebelumnya. Dengan berbekal ilmu dan keberanian untuk berjalan jauh. Pada akhirnya gue ke terima di salah satu Universitas kedokteran disini.
Selain mengikuti jalur beasiswa untuk sedikit meringankan beban gue. Gue juga harus memiliki nilai yang sedikit tinggi untuk mendapatkan beasiswa tersebut dan untungnya gue lolos dan mendapatkannya.
Aktivitas perkuliahan akan di mulai minggu depan. Itu artinya gue masih punya waktu beberapa hari untuk mencari pekerjaan sampingan yang bisa membantu gue untuk membiayai hidup disini.
Gue emang punya tabungan yang cukup untuk sedikit lama. Tapi gue juga harus bekerja agar bisa punya simpanan kalau-kalau dibutuhkan uang secara cepat. Apalagi ayah sudah tidak bisa mengirimiku uang lagi karena kartu kredit yang ia berikan untukku sudah kukembalikan setelah pertengkaran kami saat itu.
Gue udah mengambil keputusan terbaik dalam hidup, bahwa gue akan belajar dengan baik dan membiayai diri sendiri tanpa harus adanya keterlibatan orang lain. Gue sudah memutuskan untuk hilang sejenak dari pandangan orang-orang yang pernah hadir namun memilih berubah saat itu.
Menurutku, bukan suatu kebetulan jika gue sudah sampai di titik ini sekarang. Bukan suatu kebetulan juga kalau jalan yang gue lalui di permudah atau pun sebaliknya. Bisa saja itu hadiah dari Tuhan atas kebaikan atau mungkin hal lain yang tidak gue tahu. Atau mungkin doa-doa dari orang terbaik yang tidak pernah putus.
Satu hal gue mau akui. Terlepas dari apapun yang terjadi antara aku dan Papa itu semua tidak akan merubah apapun tentang kami.
Dia tetap Ayahku satu-satunya.
Dia tetap tempat pulangku satu-satunya.
Tidak akan ada yang bisa merubah itu.
Mungkin beberapa hari yang lalu, kami sedang tersulut emosi dan mengucapkan kata-kata yang tidak seharusnya. Tapi, dia tetaplah orang yang tak bisa dilupakan dalam sepenjang masa hidup aku.
Aku mengambil keputusan ini hanya untuk kembali merenung sambil memperbaiki diri. Setelah ku pikir-pikir gue belum dewasa sepenuhnya, jadi tidak apa-apa jika gue harus sedikit menjauh untuk kembali mengintropeksi diri. Gue juga butuh waktu dan pilihan untuk diri sendiri.
"Pa! Maafin Sena! Beri aku sedikit waktu saja untuk hidup sendiri dan menikmatinya tanpa menyakiti banyak orang. Aku janji, satu saat aku akan kembali dan pulang untuk tetap menjadi anakmu!" ucapku di balkon apartemenku di sore itu.
Untuk di beberapa waktu perlu sabar dalam menyikapi beberapa hal. Gak semua harus terjadi sekarang. It takes time to get better, menghargai sebuah
proses adalah hal terbaik yang
bisa di lakukan.
__ADS_1
'
'
'
^^^Indonesia, 08.00 AM^^^
..._***_...
"Sekali lagi, kalau boleh jujur, aku ingin membuat banyak sekali kenangan tentangnya. Karena jika memang nanti kita ditakdirkan tidak untuk bersama, maka setidaknya ada tumpukan kenangan yang mampu menghangatkan saat kita sudah berada pada lembaran yang berbeda," gumamnya sambil menyesap kopi paginya ditemani beberapa berkas yang perlu ia kerjakan hari ini.
"Oee! Pagi bener lo!" ujar Bayu yang sudah muncul di pintu ruangannya.
"Ngapain lo ke sini?" Jeno fokus pada laptopnya tanpa menatapnya balik.
"Cah elah, gue kesini di permasalahkan, kalo gak kesini lebih bermasalah lagi. Maksud lo apa?" kesal Bayu.
"Ya udah sih. Lo buat kopi sendiri noh," ujar Jeno.
"Gue tamu ya, kalo lo lupa!" Ujar Bayu kesal.
"Terus?" Ucap Jeno memicing.
"Ya udahlah, gue gak mau ngajak ribut," ujarnya dan berlalu untuk membuat kopi di meja yang tidak jauh dari tempat mereka duduk.
"Eh, bro!" Panggil Jeno.
"Apaan?" Bayu fokus pada kegiatannya.
"Kalo gue sih, lo emang harus mulai memperbaikinya. Kasian permasalahan kalian gak pernah di singgung beberapa tahun ini. Bahkan lo gak sadar juga kan, kalo lo udah hampir 2 tahun gak baikan sama Sena!" Ujar Bayu mengingatnya.
"Lo benar. Kayaknya malam ini setelah balik gue harus ke rumahnya!" Ucap Jeno pasti.
"Perlu gue juga ikut?" tanya Bayu.
"Hm, untuk sementara gue kesananya sendiri dulu kali ya!" ucapnya sambil berpikir.
"Ia sih. Lo juga butuh waktu buat bicara berdua sama dia," jawab Bayu.
Di perjalanan sepulang kerja....
"Setelah sejauh ini, apa masih pantas gue kembali dan sedikit lebih egois lagi?" gumamnya sambil meremas setir mobilnya sesekali.
"Apa masih pantas hubungan kami diperbaiki? Ah, lebih tepatnya ku perbaiki? Apa masih bisa gue dapat maaf darinya? Kenapa gue baru sadar sekarang sih!!" gumamnya sambil mempercepat laju mobilnya menuju tempat yang mungkin sudah lama tidak pernah ia kunjungi dalam beberapa waktu terakhir ini.
Dengan langkah yang sedikit cepat gue turun dari mobil dan sedikit berlari menuju pintu rumahnya. Entah dorongan apa, seakan-akan ada yang mengatakan jika gue sedikit terlambat mungkin gue akan merasakan sedikit penyesalan entahlah. Tapi yang jelas gue mau lihat mukanya secepatnya, gue mau merengkuh tubuh kecilnya dalam dekapan ku, gue mau mengelus dan mengacak rambutnya. Gue mau semua kembali dari awal. Saat gue yang terus menerus mengejarnya, mengatakan cinta secara terang-terangan padanya. Dan masih banyak lagi. Sampai....
Tok tok tok!!
Setelah beberapa kali pintu ini gue ketok akhirnya dibukan oleh seorang wanita paruh baya yang gue ingat persis dia adalah satu-satunya maid di rumah mereka yang sudah bekerja begitu lama.
"Eh, nak Jeno! Udah lama gak ke sini. Silahkan masuk nak!" Ucap bibi Im tersenyum ramah padaku.
__ADS_1
"Permisi Bi. Iya Jeno baru kesini sekarang, kemarinnya lagi sibuk banget soalnya." Ucapku tersenyum dan masuk ke dalam rumah ini. Satu hal yang menarik perhatian gue adalah cara penataan ruangan ini sudah berbeda, bahkan hampir semua lukisan yang menghiasi dinding sudah terlihat baru semua. Dan satu lagi, foto keluarga yang terpampang rapi di depan ruang tamu sudah tidak ada lagi. Seketika gue merasa asing memasuki rumah ini. Padahal dulu, disini adalah rumah kedua gue, tempat gue makan, main, tiduran dan masih banyak lagi.
Sekarang semuanya seakan hilang dan berubah bahkan suasana dan pewangi ruangan pun sudah berbeda dan terasa asing.
Apa sudah seasing ini gue untuk kembali masuk dalam kehidupannya? Itu adalah pertanyaan yang pertama kali muncul di pikiran ku.
"Sebentar ya Nak. Bibi panggilkan den Ivan kesini. Kamu minum dulu!" Ujar bibi Im sambil menaiki tangga yang gue tahu betul itu adalah tangga menuju kamar Sena. Tapi, yang membuat gue sedikit bertanya adalah katanya ia akan memanggil Ivan ke sini. Lalu, oh gue baru ingat Ivan kan yang Junior kami di kampus dan sudah menjadi anak angkat dari om Reza sekarang. Dan pada tentunya dia juga adalah saudara Sena sekarang.
Setelah puas menilik sampai pada titik sudut ruangan ini. Gue akhirnya beralih pada seseorang yang gue kenal betul tengah berdiri dengan tatapan tanpa arti di pertengahan tangga. Yang menjadi pikiran gue saat ini adalah apa kamar Ivan juga dilantai atas sama dengan Sena?
Ah, sudahi saja. Sepertinya gue harus sedikit menahan diri sekarang. Pelan-pelan saja semuanya akan terjawab.
"Hai bro!" Sapa gue ke Ivan yang sudah hampir duduk di sofa depanku sekarang.
"Hm," jawabannya terlihat tidak seperti biasanya.
"Apa kabar? Sorry, gue kesininya gak bilang dulu, pasti lagi sibuk ya?" ucapku sedikit tertawa ringan.
"Oh, gapapa. Gue emang sedikit sibuk sih," ujarnya dengan tatapan masih sama menjurus pada gue sekarang.
"Kenapa?" Tanya gue tak sabar karena melihat dia tak melepaskan tatapannya sama sekali.
"Ah, gue hanya sedikit lama buat natap lo. Ternyata lo udah banyak berubah ya, kita bahkan jarang bertemu setelah 2 tahun ini, padahal kita masih dikota yang sama!" ujarnya sedikit terkekeh.
"Ya. Lo bener kita bahkan gak pernah bertemu! Gimana kabar lo?" Gue masih berusaha mencari tahu banyak hal mungkin mulai dari kabar.
"Ya, seperti yang lo liat sekarang. Lo sendiri?" Ujarnya balik bertanya.
"Baik gue. Oh, ya Sena gak lagi di rumah?" tanyaku pada akhirnya karena dari tadi gue sama sekali gak melihat keberadaannya selain bibi Im yang berlalu lalang.
"Iya. Dia lagi gak di rumah!" ujarnya tersenyum penuh arti.
"Oh. Pasti dia lagi sibuk banget ya!" seruku sambil menyesap minuman di depanku.
"Ya, sibuk sekali. Sangat sibuk lebih tepatnya!" Ujarnya makin tersenyum tapi yang kulihat seperti bukan senyum bahagia pada tentunya.
"Hm, ya. Memang seharusnya di usia kita yang sekarang pasti berada di tingkat sibuk yang sangat sibuk!" Ujarku tersenyum juga.
Setelah beberapa menit kemudian....
Kalo kalian berpikir waktu yang terlewat tadi kami menghabiskan untuk berbagi cerita, pada tentunya kalian salah. Kami hanya menghabiskan waktu tersebut untuk diam dengan pikiran masing-masing dan sesekali gue meneguk minuman gue tentunya.
"Oh, ya. Kesini mau ngapain kak? Apa ada keperluan?" tanya Ivan setelah kami diam dengan pikiran kami sendiri.
"Gue kesini sebenarnya mau ketemu Sena! Apa dia baliknya masih lama?" ujarku pada akhirnya.
"Ahh. Sepertinya mungkin sedikit lama. Gue juga gak di kasih kabar bisa baliknya kapan," jawab Ivan dengan tatapan menjurus keluar jendela.
"Oh, ya sudah. Biar gue kembali besok aja ya. Sampaikan salam ku padanya!" Ujar ku dan pamit pulang.
"Ya, nanti ku sampaikan. Hati-hati di perjalanan!" ujar Ivan mengantar ku di depan.
"Apa Sena gak mau ketemu sama gue? Apa benar dia sedang keluar? Atau ah, sudahlah besok gue kesini lagi dah!" Gumamku dan menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Sementara mobil hampir hilang dari penglihatannya ia berucap dengan jelas sekali, "ngapain lo kesini? Dasar bodoh, bahkan lo gak merasa sama sekali perubahan yang gue ciptain dari perbincangan kita. Gue berharap lebih, untuk lo memang gak akan punya kesempatan lagi bertemu dengannya. Gue sendiri lelah melihat dia terus berada di sekeliling orang-orang seperti kalian! Kakak gue berhak bahagia dan bahagianya tanpa adanya kalian dihidupnya. Kalau pun gue tahu keberadaannya sekarang, gue gak akan mau mempertemukan kalian apapun yang terjadi. Gue tahu betul dan sangat paham, bagaimana dia berusaha keluar dari semua ini. Jadi, gak mungkin sekali gue merusak semua usahanya demi orang-orang seperti lo!" ucap Ivan dan kembali memasuki rumah.