
“Fanny, kamu kenapa?” tanya Sara. Dia terlihat benar-benar khawatir. Fanny menggeleng lemah. Bersamaan dengan itu, beberapa murid mulai berinisiatif untuk memisahkan David dan Andika sebelum para guru turun tangan. Mata David menangkap sosok Fanny yang terlihat seperti anak kecil yang sedang gelisah. Mengabaikan segala teriakan dan kegaduhan yang ada, tatapan mereka berdua seolah tidak ingin terlepas satu sama lain. Dan pertanyaan apa kamu baik-baik saja? terucap dalam diam.
Kerumunan orang-orang itu akhirnya mengurai dengan sendirinya ketika para guru mulai berdatangan dan membawa David yang hidungnya terus mengelurkan darah serta Andika yang sepertinya jari-jarinya patah ke ruang uks.
Fanny tidak mendengar kabar pasti tentang David setelah itu, meskipun gosip dan rumor sudah tercipta di antara anak-anak lain seperti api yang liar. Sebagian orang bilang kalau David dan Andika akan terkena sanksi berat, tapi sebagian orang lagi meragukannya karena David mempunyai uang. Semakin banyak orang yang menerka-nerka, semakin Fanny ingin menemui David untuk memastikan. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. David pasti sudah dipulangkan.
Ini benar-benar meganggu Fanny. Bukan hanya karena David terluka, tetapi karena ayahnya adalah Noah Albert! Pemuda itu jelas memiliki reputasi nama besar ayahnya untuk dijaga, terlepas dari segala kontrofersi yang ada. David mungkin saja hanya mendapatkan dari para guru di sini dengan bantuan uang, tapi di rumah saat dia bersama ayahnya? Hanya memikirkannya saja membuat Fanny merinding.
Sisa hari itu di sekolah berlalu dengan sangat cepat. Guru-guru mengajar lebih disiplin dari biasanya dan membebani mereka semua dengan tugas dan pekerjaan rumah yang menumpuk. Meskipun begitu, hari ini rasanya mereka tidak ada yang berani mengeluh terang-terangan. Guru-guru mereka itu sudah cukup marah dengan apa yang terjadi tadi pagi.
Ketika Fanny pulang, gadis itu langsung merasa jika Lia tahu jika dirinya tidak melakukan sesi terapi bersama dokter Rani seperti seharusnya, tapi wanita itu tidak mengatakan apapun. Suaminya, Fadi, memasak untuk makan malam hari ini. Masih dalam rangka ulang tahun Lia. Ruang makan sudah didekorasi dengan balon-balon dan pita. Fanny memberikan tantenya itu hadiah dua tiket konser Peterpan, band favoritnya sejak tahun 2004.
__ADS_1
Fanny malam ini ada jadwal shift di Donz, jadi setelah dia menghabiskan makan malamnya dia langsung naik ke kamarnya untuk menata rambutnya, memakai seragam, dan menyapukan make up tipis di wajahnya. Dia lalu menutupi seragamnya itu dengan jaket bomber dan menyambar tas kecilnya.
“Aku pergi,” ujar Fanny, mencium sekilas tangan dan pipi Lia saat dia berjalan keluar.
Donz malam ini sangat ramai. Fanny terus bergerak ke sana ke mari melayani para tamu yang memesan makanan dan minuman. Untungnya, ketika jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, para tamu sudah banyak yang meninggalkan tempat itu. Hanya beberapa orang yang masih enggan mengakhiri malam mereka. Fanny lalu menyibukkan diri dengan mengerjakan tugas sekolahnya di tablet.
“Ternyata kamu masih belum pulang.” Sebuah suara berat yang familiar membuat Fanny menghentikan yang sedang dia kerjakan. Matanya membelalak pada dua orang man in black yang berada di belakang David, seolah mereka sudah berubah wujud menjadi anjing polisi. Sangat kontras dengan penampilan David yang sangat manusiawi. Sedikit terluka, dan ditambah dia hanya mengenakan celana jeans denim, sneakers, dan kaos greenlight hitam, dia benar-benar tampak seperti remaja pada umumnya.
Fanny menaikkan alisnya, dan pemuda itu mengambil tempat duduk persis di hadapannya dan berujar, “satu botol bir bintang yang kecil.”
David lalu mengambil botol itu dan langsung meminumnya. Rambutnya terlihat sedikit berantakan akibat gerakan yang tiba-tiba itu, dan dengan bodohnya Fanny mengelurukan tangannya sendiri untuk merapikannya. Beruntung David terlalu sibuk dengan minumannya hingga tidak memperhatian.
__ADS_1
“Apa kamu diskors?” tanya Fanny yang memang seharian ini sudah sangat penasaran. David menangguk. “Tiga hari,” ujarnya. “Rasanya seperti sekolah lagi ngasih aku waktu buat fokus latihan di Hellionz.” Fanny memutar matanya.
“Lukamu sepertinya sudah kering,” Fanny bergumam. David menyeringai. “Banyak orang bilang kalau jari-jari Andika sekarang patah, dan dia gak bisa main tinju selama setidaknya sebulan.” Fanny memberi tahu pemuda itu. David terlihat semakin pongah.
“Aku gak heran. Aku jauh lebih kompeten daripada dia untuk urusan tinju.” Ya. Fanny tidak meragukannya.
“Apa kamu sering kerja di sini, Fanny?” tanyanya.
“Seminggu, aku kerja di sini tiga malam... buat bantu Tante,” Fanny bergumam, dan David mengangguk. Ponselnya tiba-tiba berdering keras. Ketika dia melihat siapa yang menelpon, David langsung mengeluarkan sumpah serapahnya, tapi dia sama sekali tidak bergerak untuk menganggkat telepon itu. Pasti dari ayahnya, Fanny membatin.
“Kamu harus pulang. Balik lagi ke sini besok,” ujar Fanny. David langsung menatapnya seolah barusan dia berkata bahwa dirinya sedang bertelur.
__ADS_1
“Apa kamu masih ada di sini besok?” tanyanya. Suaranya terdengar sangat lembut dan penuh harap.
“Ya.” Fanny berjanji. “Dan mungkin kamu bisa jelasin gimana bisa cuma hidung kamu aja yang gak selamat dari tinju Andika,” ujar Fanny ketika David berjalan menjauh. Gadis itu masih bisa melihat dengan jelas seringai David yang menyebalkan itu.