Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Ini aneh


__ADS_3

🌺 hem.. 🌺


* * *


'' trima kasih '' Natasya mengangguk samar sembari tersenyum tipis.


Ia lalu menyodorkan amplop coklat pada dua orang pria yang duduk di hadapannya. Mereka ada detektif gelap yang waktu itu membantunya mencari tau tentang Nana.


Dan kali ini ia menggunakan jasa mereka lagi untuk mencari keberadaan sang menantu.


Nana diketahui saat ini berada diluar negeri. Tepatnya di Malaysia.


Karena itu, tak mungkin bagi mereka untuk dapat melanjutkan pencaharian hingga ke sana. .


Hanya nama Han dan nomor telpon sahabat Nana saja yang berhasil diperoleh.


Itupun setelah melakukan penyelidikan dan pencaharian cukup lama dan juga sulit.


Sebab Han tak memberitahu kepada siapapun kemana ia membawa ibu dan adik perempuannya pindah.


Kedua pria tersebut lalu pergi meninggalkannya.


Natasya masih duduk di situ.


Tatapannya mengarah ke seorang wanita yang duduk dipojokan bersama anaknya yang ia perkirakan berusia dua atau tiga tahun.


Seorang bocah laki-laki yang begitu menggemaskan.


Natasya lalu teringat pada Nana. Wanita yang sampai kini masih berstatus istri anaknya . Nana pasti sedang menunggu hari atau mungkin sudah melahirkan .


Natasya tertunduk dan memejamkan matanya kuat.


" maafkan mama Bian "


Untuk beberapa saat ia tetap seperti itu.


Hingga suara notif dari ponsel membuatnya seketika menegakkan kepala.


Usai membaca pesan yang baru saja dikirim oleh Elisabeth, Natasya segera beranjak dan dengan langkah cepat pergi dari tempat tersebut.


* * *


Tadi pagi, pak Tole mengatakan bahwa Bian mengeluhkan perutnya sakit dan memintanya untuk mencari obat ke apotik.


Merasa sang majikan butuh lebih dari sekedar obat, Pak Tole memutuskan untuk memberitahukan hal tersebut pada Elisabeth.


Elisabeth yang khawatir lalu menyuruh pak Tole untuk memanggil dokter ke rumah sebab Bian menolak dibawa ke rumah sakit.


'' sepertinya keracunan makan. Tidak begitu mengkhawatirkan. Jadi, bisa dirawat dirumah.


Saya akan pasang infus .


Setelah itu kalian hanya perlu memantau terus bagaimana keadaannya.


Tapi saya rasa tidak ada yang perlu di cemaskan berlebihan.


Karena kondisinya pun tak lemah .


Masih bisa bergerak dan bangun ''


Elisabeth lega mendengar penuturan dokter usai memeriksa kondisi Bian .


Elisabeth yang tak mampu untuk menaiki tangga terlihat mendongak dengan mata tertuju pada pintu kamar yang terbuka.


Ingin sekali ia melihat untuk memeluk sang cucu.


Ia tau, bukan hanya perutnya saja yang sakit, tapi juga perasannya.


Bian juga pasti menderita karena ditinggal istrinya.


Dan itu semua sebab perbuatannya.


Tak lama setelah dokter pulang, Natasya pun datang.


Sama seperti Elisabeth.


Ia sebenarnya bisa saja naik untuk melihat sendiri bagaimana keadaan anaknya. Tapi ia tak memiliki keberanian untuk melakukannya.


Hanya bi Ganilah perantara mereka yang ditugaskan naik turun untuk mengecek bagaimana keadaan Bian di atas sana.


'' Mister kelihatan gak kaya sakit, bu.


Tadi saya masuk dia lagi duduk nonton TV.


Makannya juga habis '' ucap bi Gani yang baru saja turun sembari menunjukkan piring kosong di nampan yang ia pegang.


Natasya mengangguk sambil mengucapkan terima kasih.


'' jika perhitungan ku tak salah, mungkin saat ini Nana sudah melahirkan . Apa mungkin , yang Bian alami ini karena .. '' meski sedih membayangkannya, namun ia tak bisa menahan bibirnya untuk tersenyum.


Ia berpikir mungkin saja cucunya sedang dalam proses keluar untuk melihat dunia ini. Sebab itu Bian merasakan sakit di perutnya.


Mungkin terdengar tidak masuk akal.


Tapi kuasa Tuhan tak ada yang tau.


Termaksud juga pada hal yang sulit dipercaya seperti ini.


Bagaimana bisa seorang suami merasakan apa yang tengah sang istri rasakan ketika hamil dan melahirkan?


" misi, bu " pak Tole yang dengan langkah terburu-buru hendak melewatinya.


Natasya tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


'' mau kemana kamu ? ''


Langkah pak Tole terhenti seketika.


'' sa-saya dipanggil Mister, bu ''


'' ada apa ? ''


'' gak tau, bu. Pokoknya tadi ditelpon disuruh buruan naik . Gitu katanya, bu. Saya permisi, ya bu.


Takut nanti Mister ada perlu apa-apa ''


Natasya mengangguk lalu mengambil dua langkah kesamping ,memberi jalan untuk pak Tole lewat.


* * *


Bian dan pak Tole terlihat menuruni anak tangga dan bergegas menuju pintu keluar rumah.


Natasya yang kebetulan melihat pun memburu langkah untuk menghampiri.


Tepat sebelum Bian masuk kedalam mobil, Natasya berhasil menahannya.


'' kamu mau kemana, Bi ?


Kamu kan lagi sakit '' memperhatikan Bian yang wajahnya terlihat masih pucat dan pada tangan yang tadi dipasang infus.


'' ... '' Bian menatap datar pada sang ibu yang nampak begitu mengkhawatirkannya.


Menyadari Bian tak akan mau menanggapinya, Natasya pun mundur.


Ia biarkan Bian masuk dan mobil pun berlalu dari hadapannya.


Diperjalanan.


'' maaf mister. Gara-gara saya sembarangan beli makanan, misteri jadi sakit '' ucap pak Tole dengan ekspresi bersalah.


'' bukan salah, bapak kok.


Kan saya yang minta dicariin makan yang aneh - aneh '' Bian tersenyum agar supirnya ini tak terbebani dengan rasa bersalah yang berlebihan.


'' trus. Ini kita mau kemana ,Mister ? '' memutar lehernya sesaat untuk melihat pada sang majikan yang duduk di kursi belakang. Lalu dengan cepat mengembalikan pandangan ke depan.


'' keluar kota, pak. Ada satu tempat yang harus saya datangin ''


Mobil dipacu sedikit kencang sebab tempat yang menjadi tujuan berjarak lumayan jauh. Belum lagi harus mencari alamat yang berada di daerah yang sama sekali tak pernah pak Tole telusuri.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih enam jam, karena sempat terjebak kemacetan panjang di gerbang keluar kota. Ditambah lagi harus berkeliling daerah asing untuk menemukan apa yang mereka cari.


Akhirnya , menjelang pukul 9 malam mereka sampai ditempat tujuan.


Mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah sederhana yang berada di pemukiman rumah penduduk yang lebih mirip seperti sebuah perkampungan.


Bian turun sementara pak Tole ia suruh untuk berkeliling mencari penginapan terdekat untuk mereka menginap malam ini.


Bian menatap layar ponselnya, lalu mencocokkannya pada nomor yang ada di sisi kanan pintu rumah tersebut.


Bian melangkah pasti.


' tok. tok. tok '


ketukan yang tak begitu kuat.


'' ya, siapa ? '' suara seorang wanita dari dalam sana.


Selang beberapa detik saja, pintu pun terbuka. Ratih terlihat kaget melihat sosok bertubuh besar dan berparas asing berdiri didepannya.


" eh? kok ada bule? nyasar kali, ya?


Waduh gimana, nih? " Ratih nampak bingung.


Ia yang tak bisa berbahasa Inggris berpikir bagaimana jika si pria di hadapannya ini bertanya sesuatu.


" malam, bu " sapa Bian ramah.


Mata Ratih melotot dengan kedua alis terangkat sejajar. Terkejut sekaligus takjub mendengar bule berbahasa Indonesia.


" siapa, bu " suara lainnya berbarengan dengan langkah kaki keluar.


Laras yang tengah menggendong bayinya nampak terkejut melihat sang ibu tengah berhadapan dengan seorang pria asing.


" siapa, bu " tanya Laras setengah berbisik pada sang ibu, usai memperhatikan sekilas pada pria yang berdiri didepan mulut pintu .


Ia mengernyit. Pria ini sepertinya tak asing di ingatannya. Ia seperti pernah bertemu. Tapi dimana ? berpikir sambil mengayun bayi dalam gendongannya.


" eng, maaf sebelumnya.


Apa benar ini rumah Johan?


Saya Bian, suami Nana "


Laras dan Ratih kompak mengangguk lalu mempersilahkan Bian untuk masuk.


Kini Laras ingat. Pantas saja ia marasa tak asing.


Sementara sang ibu menemani tamu yang datang mencari Han, Laras masuk untuk menghubungi kakaknya.


" kakak bilang sudah di perjalanan pulang .


Sebentar lagi nyampe " ujar Laras seperti yang Han katakan dalam telponnya tadi.


Benar saja. Tak sampai lima menit suara deru motor berhenti didepan rumah.


Han muncul di mulut pintu yang memang sengaja tak ditutup.

__ADS_1


" Han " sapa Bian seraya berdiri dari duduknya.


Han mengangguk membalas sapaan suami sahabatnya itu dan mempersilahkannya untuk kembali duduk.


Laras dan Ratih yang tau jika mereka butuh ruang untuk bicara lantas meninggalkan mereka dan masuk kedalam.


" kau terlihat tak terkejut melihat ku datang kemari.


Jadi, kurasa kau pun pasti tau apa yang tujuanku menemuimu ? ''


Han mengangguk . Ia memang sudah menduganya.


Dan mungkin inilah saatnya ia harus menghadapi apa yang pernah Nana katakan saat meminta tolong padanya waktu itu.


Meski terkesan seperti ia terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka. Tapi peran Han sebenarnya adalah tak lebih sebagai perantara.


'' em... maaf - eng.. ''


'' Bian. Panggil saja aku Bian ''


'' baiklah. Bian.


Jadi, begini. Bukannya aku tak mengatakannya padamu.


Dan kurasa pun kau tau kalau Nana tak berada disini.


Dia di Malaysia bersama mak Siti ''


Bian mengangguk. Ia tau tak akan menemukan Nana disini. Dan tujuannya pun bukan untuk mencari Nana.


Ia hanya merasa perlu bertemu Han. Firasatnya mengatakan jika Han lah satu-satunya orang yang bisa menjawab semua pertanyaan yang selama ini memenuhi benak dan kepalanya.


'' tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakannya ''


'' tap- tapi ''


'' percayalah ,padaku Bian.


Aku akan mengatakan apapun yang ingin ketahui .


Dan aku akan menjelaskan semuanya apa yang tak sempat Nana sampaikan padamu ''


Entah mengapa Bian tiba-tiba merasa gugup dan mulai penasaran. Hal apa yang sebenarnya akan Han beritahukan padanya.


'' kalau kau tak percaya padaku, kau bisa menginap disini kalau mau.


Kau bisa tidur dikamar ku dan aku bisa tidur diruang tamu.


Aku bukan tak mau mengatakannya sekarang.


Hanya saja ada hal yang lebih penting yang ingin kutunjukkan padamu. Aku ingin kau bersabar dan menunggu. Hanya sampai besok pagi ''


Bian mengangguk paham. Ia tatap pria berparas tampan dengan ekspresi meyakinkan.


Menunjukkan kesungguhan akan kata-katanya.


Lalu terdengar dari luar suara mobil berhenti . Disusul suara pintu terbuka dan tertutup. Kemudian langkah kaki terdengar mendekat.


Dan disambung suara pak Tole memberi salam.


Mengetahui sang supir datang, Bian beranjak berdiri. Dengan Han mengekor dibelakang mereka keluar.


'' ada , mister. Di tepi jalan raya, gak jauh dari jalan masuk kesini . Tapi hotelnya bukan yang bintang lima '' jelas pak Tole yang membawa kabar baik.


'' iya, gak papa pak ''


Bian lalu berbalik pada Han yang berdiri tiga langkah darinya.


'' besok aku akan kesini lagi ''


'' aku saja yang akan pergi menemuimu ''


Bian mengernyit.


'' kau tadi sudah lihat sendirikan , kalau dirumah ini ada bayi.


Kita nanti tidak akan bisa bicara dengan tenang jika berisik.


Jadi aku saja yang akan datang kesana ''


Sekali lagi Han memasang ekspresi yang meyakinkan.


Bian yang sebenarnya sudah diujung rasa penasarannya itupun tak berdaya dan hanya bisa menyetujuinya saja.


Setelah saling bertukar nomor telpon, Bian lalu pamit.


Pak Tole lalu membawanya ke sebuah hotel sederhana yang akan menjadi tempat mereka mengistirahatkan diri setelah lelah berjam-jam berada dijalanan.


Tubuhnya terasa begitu lelah. Begitu pula dengan pikirannya.


Bahkan setelah mandi pun, ia masih merasa lesu dan tak bersemangat.


Ada rasa membuncah tapi ia tak tau apa.


Seperti habis melakukan olahraga seharian, penat di sekujur otot tubuhnya. Nafasnya pun tiba-tiba memburu . Seperti tengah berkejaran.


Bian merebahkan tubuhnya dan terlihat berkali-kali menghela nafas.


Perlahan ada rasa baru yang mulai menghampirinya. Rasa yang benar-benar tak bisa ia artikan.


Dan secara tiba-tiba, dada yang tadinya sempat terasa sesak, kini seperti terlepas dan berganti lega.


Ini aneh. Karena ia sama sekali belum pernah merasakan hal seperti ini.

__ADS_1


Dan perlahan , semua rasa yang bercampur aduk sejak tadi membuat matanya sayup-sayup mulai meredup.


Bian tertidur begitu saja.


__ADS_2