
✨✨✨
Dua motor yang tengah membelah jalanan kota itu akhirnya terparkir rapi di samping gedung besar tersebut.
Di mall..
"Jeno, Lo ada mau beli apaan?" tanya Sena.
"Gak ada!" jawab Jeno dengan muka datarnya.
"Terus lu ngapain ke sini?" tanya Sena.
"Lagi gabut aja gue di rumah," Jeno.
"Serah lo deh!" Sena.
"Ya udah biarin aja dek, lagian kasihan juga Jeno sendiri di rumah," ucap Rey menengahi.
"Kita kemana dulu nih?" Sena.
"Kamu mau belanja apaan emang?" Rey.
"Lihat-lihat dulu aja, bingung juga mau beli apa," Sena.
"Kalau gak ada yang mau di beli ngapain datang ke sini!" Jeno
"Eh, li diam deh!" Sena.
"Dek, temanin kakak cari hadiah ulang tahun buat mama dong!" ajak Rey.
"Oh, Yau udah!" Sena.
"Kira-kira hadiah yang cocok buat mama apa ya?" Rey.
"Tergantung sih, emang dia sukanya apa?" Sena.
"Gak tau makanya bantuin ya!" Rey.
"Mama kamu biasanya suka barang apa aja?" Sena.
"Mama paling suka koleksinya kek macam perhiasan gitu sih," Rey.
"Ya udah kita carinya itu aja. Soalnya aku gak terlalu paham juga sih yang kayak gitu, lebih tepatnya gak pernah ngasih hadiah ultah ke orang lain. Palingan papa kalau ultah pun cuma di ajak makan, biasanya papa gak terlalu suka di beri hadiah gitu!" ucap Sena sambil menggaruk kepalanya.
"Serius, kamu gak pernah ngasih hadiah ke orang lain? " tanya Rey menatap Sena.
"Iya," Sena
"Terus teman kamu gitu?" Rey.
"Palingan Selly kalau ulang tahun juga udah request hadiah apa yang dia mau, Aku gak pandai tebak kesukaan orang masalahya," Sena.
"Jadi beli gak sih?" tanya Jeno malas mendengar cerita kedua orang di depannya sekarang.
"Ya udah ayok!" Sena.
.
.
.
.
__ADS_1
"Pilih anting atau kalung?" tanya Rey.
" Dua-duanya bagus. Bingung!" Sena.
"Harus pilih satu dong!" ucap Rey antusias.
" Kalung aja kalo gitu!" Sena.
"Atau cincin?" tanya Rey.
"Itu juga bagus!" Sena.
Sambil melihat-lihat perhiasan yang terpajang di sana, ia pun merasa bosan dan seketika menyesal sudah datang ke sana tanpa tujuan. Ia pun mendekati salah satu dari kedua orang di depannya.
"See, badan gue gak enak ni. Pulang aja yuk!" bisik Jeno.
"Mana! Sini gua cek!" ucap Sena sambil menempelkan tangannya di kening Jeno.
"Biasa aja tuh. Lo balik duluan aja, gak enak gue sama kak Rey," bisik Sena.
"Kenapa dek?" tanya Rey yang dari tadi melihat mereka tengah sibuk berbincang sendiri.
"Oh, gapapa kak. Udah jadi ambil hadiahnya?" Sena.
"Kakak ambil kalung yang tadi!" ucap Rey tersenyum.
"Bagus deh!" Sena.
"Habis ini kita makan ya!" ajak Rey.
"Ga usah kak. Kita udah makan tadi!" Sena.
"Gak bisa. Kita harus makan, disini ada makanan kesukaan kakak lo. Kamu pasti suka!" Rey.
"Kamu diet dek?. Jangan diet badan kamu udah pas tuh," tanya Rey. Salahkan Jeno yang bicara asal.
"Gue gak diet ya Jeno!" Sena.
.
.
.
.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya disinilah mereka di restoran yang cukup mewah.
"Mau pesan apa dek?" tanya Rey.
"Hmm, kak kayaknya gue gak u-" ucapannya terpotong oleh Rey.
"Gapapa. kalau gitu samain aja dengan punya kakak ya!. Jeno lo mau pesan apa?" Rey.
"Gue gak makan. Pesan cokelat panas aja!" Jeno.
"Oh, ya udah. Makannya samain aja dua ya mba. Minumnya jus Alpukat 2 sama Cokelat panas satu," ucap Rey kepada pelayan.
"Lo gila ya? Mau makan di resto seafood?" tanya Jeno dengan berbisik pada Sena.
"Oh, itu gue udah gapapa. Santai aja!" Sena sambil melirik Jeno yang masih menatapnya tajam.
"Kalau sampai lo kenapa-kenapa. Lihat aja nanti!" ucap Jeno.
__ADS_1
"Kamu kenapa dek?" tanya Rey.
"Gapapa kak. Oh ya, bagaimana tugas akhir kakak?" tanya Sena mengalihkan pembicaraan.
"Hmm.. Masih dalam proses, kakak kendalanya di dosen pembimbing!" ucap Rey.
"Permisi makanan sudah siap!" ucap Pelayan.
"Makasih mba," ucap Rey.
Mereka menikmati pesanan sambil sesekali bertukar cerita tidak hanya tentang kampus tapi keseharian mereka juga.
"Jeno, lo masih main basket?" tanya Rey.
"Masih kak. Tapi jarang sih soalnya lagi sibuk akhir-akhir ini, teman-teman yang lain juga pada sibuk," ucap Jeno sambil menyesap minumannya.
"Gimana kalo minggu sore ini kita main bareng di lapangan kota?" tanya Rey.
"Boleh. Udah lama juga gak main," jawab Jeno.
Jangan salah, Jeno juga cukup di kenal seniornya karena jago main basket. Kebanyakan juga ia lebih akrab dan dekat dengan senior dibandingkan kawan angkatannya jika di kampus.
"Kok badan gue gak kaya biasanya sih! Jangan bilang gue..... gak mungkin juga!" batin Sena.
.
.
.
.
"Makasih ya kak, udah ngajak gue jalan!" ucap Sena dengan senyum yang hampir terlihat di paksa.
"Harusnya aku yang terimakasih karena udah bantuin kakak buat pilih hadiah ulang tahun," ucap Rey.
"Santai saja kak," ucap Sena.
"Kamu gapapa? Muka kamu ke pucat gitu?" Rey.
"Gapapa kak. Mungkin kelelahan aja, heheh" ucap Sena.
"Ya udah kakak balik ya! Jeno jangan lupa minggu sore, gue duluan ya!" Rey.
"Iya kak. Gue tunggu!" ucap Jeno.
Setelah kepergian Rey....
"Lo masih mau bilang gapapa?" Jeno yang dari tadi belum balik karena sudah mengira akan terjadi sesuatu.
"Gapapa sih, cuma gue rasa badan gue gak kayak biasanya," Sena.
"Gue bilang juga apa, gak usah makan seafood lagi. Dibilangin keras kepala banget sih!" marah Jeno.
"Jeno. Gue pusing!" ucap Sena sambil berusaha meraih tangan Jeno untuk jadi tumpuannya sekarang.
"Kita ke rumah sakit aja, lo kayaknya bakal kambuh lagi deh," ucap Jeno memapah tubuh Sena.
Bruuuuuk!!!!....
Belum sempat Jeno membawanya masuk ke rumah, tubuh Sena sudah tumbang. Alerginya kambuh lagi. Sena dari kecil paling anti makanan seafood dikarenakan ia mempunyai alergi terhadap makanan tersebut.
"Anak ini gak pernah dengar omongan dokter apa?. Heran gue udah tau gak bisa makan yang begituan masih maksa diri buat makan hanya karena perasaan sama orang," ucap Jeno yang sudah memapahnya ke mobil yang sudah di siapkan oleh mang Edi.
__ADS_1
Mereka menuju ke rumah sakit malam itu ditemani mang Edi. Sepertinya ia akan melakukan pemulihan yang agak lama lagi seperti biasanya.