
6 bulan kemudian...
...Akan ada hal-hal yang kita akan rindukan seiring kita menjalani hidup. Hal-hal yang tidak kita ketahui saat itu. Dan kita baru mengetahuinya sekarang....
Jeno Pov
Banyak hal yang gue inginkan untuk diputar kembali. Ada banyak cara yang udah gue siapkan untuk memperbaikinya jika boleh saja ia terulang sekali lagi.
Namun, hukum selalu pada jalurnya. Bahwa penyesalan datang selalu di akhir. Ya, penyesalan itu yang tengah gue alami sekarang.
Menyesal karena tidak menghargai keberadaannya.
Menyesal karena tidak pernah sekali memberinya kesempatan untuk tahu beberapa hal.
Menyesal karena dia udah berkali-kali mengalah untuk membuat semuanya kembali baik namun tidak pernah ada kesempatan untuknya. Dan menyesal karena seandainya, seandainya dan seandainya semua terjadi. Mungkin ia tidak akan pergi.
Menyesal karena membuat luka terlalu dalam untuknya. Sampai untuk kembali tertatih saja sudah tak mampu ia lakukan.
Gue tahu, ia begitu sakit dan mungkin sangat sakit. Baik luka dari teman-temannya, saudaranya, keluarganya dan bahkan luka yang gue torehkan membuatnya mengalami luka yang lebih dalam.
Kesalahan terbesar gue adalah menunda waktu untuk kembali dan berbalik padanya. Itu yang sering gue sesali.
Maaf See, bahkan untuk berusaha mencari lo aja, gue gak mampu. Gue bahkan gak punya informasi apapun. Apa pantas gue mengharapkan lo kembali lagi?
Beberapa bulan ini gue habiskan dengan penyesalan. Badan kurus dan tak terurus, tidak ke kantor selama beberapa bulan. Dan mungkin gue udah gak ada niat hidup lagi sekarang.
Gue bahkan bosan dari teriakan Bayu dan kak Leo melihat keadaan gue yang sekarang.
Seperti " Yak Jeno! Apakah kau akan mati? Atau "Mati sajalah jika kau hanya terus menyiksa diri seperti ini. Dan masih banyak lagi yang mereka ucapkan didepanku.
Sudah banyak orang yang gue hubungi untuk mencari tahu keberadaannya tapi sampai detik ini pun tak sama sekali ada titik terangnya.
Gue udah berkali-kali ke rumah Sena untuk bertemu Ivan dan menanyakan padanya. Tapi sampai detik ini pun ia tak pernah mau menemuiku.
Deringan ponsel terdengar dari sudut meja kamar Jeno.
Ivan'is calling....
Sebelum gue angkat. Gue sedikit terkejut ketika melihat nama yang terlihat dilayar ponsel gue saat ini.
__ADS_1
Secepatnya gue meraih ponsel dan menggeser tombol hijau.
"Halo"
"Bang! Ayok bertemu!" Ujarnya setelah helaan nafas yang terdengar jelas ditelinga gue saat ini.
"Gue ke rumah sekarang!" Ujarku langsung bangkit dan mencari jaket dan kunci mobil.
"Mari bertemu di kafe X. Gue hendak kesana sekarang!" Ujarnya mengakhiri telpon.
Dengan kecepatan kilat gue bahkan udah di mobil dan siap menancap gas ke tempat tujuan.
Sesampainya di sana....
Dapat gue lihat, sosok Ivan dengan setelan kampusnya. Yang gue perkirakan mungkin ia baru dari kampus dan langsung kesini.
"Hai, sorry gue terlambat!" Ujarku mengambil tempat didepannya.
"Oh, bang Jeno! Silahkan!" Ivan tersenyum datar.
"Mau makan apa? Biar gue yang traktir deh!" Seruku tersenyum.
"Okelah. Gue pesan minum juga mba!" Ujarku pada pelayan. "Gimana kabar Lo?" Tanyaku basa-basi.
"Seperti yang lo liat bang! Lo sendiri!" Ivan sedikit menatap lebih lama sosok yang di depannya sekarang.
"Ah, gue juga seperti ini. Baik mungkin! Kuliah lancar?" Tanyaku lagi.
"Lagi nunggu jadwal ujian buat skripsi bang!" Ivan menyesap minumnya.
"Bagus deh. Berarti dikit lagi dong!" Jawabku tersenyum.
"Lo ngapain aja selama ini bang?" Ivan sedikit menilik setiap sisi dari sosok didepannya.
"Ah,, lebih tepatnya gue gak kerja selama beberapa bulan ini." Ujarku menggantung.
"Ah, ya! Sebenarnya gue udah lama mau ketemu lo bang! Cuma lagi sibuk banget akhir-akhir ini," ujar Ivan menggantung.
"Gue tahu gue sedikit egois tentangnya. Karena gak mau terlalu berlarut makanya gue memutuskan untuk bertemu. Gue akhirnya sadar, kita perlu bicara bang!" Ivan menatap lurus.
__ADS_1
"Lo benar. Gue juga butuh ketemu lo buat lurusin ini!" Ujarku menunggu ucapannya.
"Dia pergi. Setelah mencoba memberikan kesempatan terakhir kepada beberapa orang. Dia terlihat begitu lelah saat itu. Jika mengingatnya, gue seperti ingin menangis. Dia memutuskan untuk pergi sehari setelah Bang Jeno ketemu sama kak Leo waktu itu. Kenapa gue bisa tahu, karena gue dengar semua pembicaraan kalian dikafe saat itu.
Gue sedikit miris, ketika mendengar kenyataannya bahwa semua yang kalian lakuin semata untuk tetap membuatnya aman tapi terkesan sia-sia.
Dia pergi ke Los Angeles waktu itu,,,
Dia terlihat seperti memaksakan untuk bahagia karena akan bertemu Papanya. Tapi, sesuatu terjadi diluar kendalinya. Ia tidak di terima dan mungkin hubungan antara ayah dan anak itu, sampai sekarang tidak sedang lagi baik menurut perkiraan gue.
Malam itu, dia menelpon gue, dan bilang kalo dia kembali jatuh lagi...
Ya, Om Reza mengusirnya malam saat ia pertama bertemu dengannya.
Dia pernah bilang ke gue "Ketika kita melepaskan beberapa orang yang tidak terlalu mengharapkan keberadaan kita, maka kitalahlah pemenangnya.
Kita kehilangan mereka yang tidak terlalu mencintai kita, sedangkan mereka kehilangan orang yang sangat mencintai mereka." Saat itu, gue cuma membayangkan bagaimana sisa kenangan bersamanya untuk direkam baik-baik. Dia mungkin gak akan kembali dengan mudah atau secara cepat.
"Ternyata pertemuan kami saat berpapasan malam itu dan ucapan terimakasihnya adalah kata perpisahan yang ia ucapkan!" Ujarku lirih.
"Hiduplah dengan baik mulai sekarang. Gue kesini bukan untuk membicarakan bagaimana cara untuk kita bertemu dengannya.
Tapi, gue kesini buat ngasih tahu lo bang, please biarkan dia sendiri untuk kali ini saja. Dia sudah terlalu sakit dan jatuh terlalu dalam.
Masa lalunya terus merenggut kebahagiaannya, kalo sampai lo kembali dan masuk lagi ke kehidupannya. Gue tahu lo masih mengharapkan dia, tapi dia juga butuh waktu bang. Biarin dia bebas mengekspresikan dirinya.
Nanti kalo udah waktunya dia akan kembali dengan sendirinya." Ucap Ivan sedikit tegas.
"Ta-tapi, apa gak ada lagi kesempatan buat gue sekali saja! Gue gak cuma mau ketemu dia Van.
"Bahkan keberadaannya saja kita gak tahu bang! Dan gue mohon sama lo bang, please jangan berusaha mencarinya lagi. Dia sudah terlalu lelah. Biarkan kali ini saja.
Adakalanya kita perlu merenung kembali tentang masa lalu, bagaimana hidup memperlakukan kita. Dia terlalu baik untuk disakiti sebenarnya. Tapi kenapa dia harus hidup ditengah-tengah orang seperti mereka. Gue tahu lo cinta sama dia. Gue tahu lo pengen ketemu dia. Biarkan cinta lo sekarang lebih dalam dan lebih banyak lagi memahami perasaan lo bang. Kalian udah dewasa, sudah saatnya memilih jalan masing-masing. Kalau dia emang buat lo dia akan kembali dengan sendirinya. Percaya sama gue bang!" Ujar Ivan penuh harap.
"Lo benar. Gue harus memperbaiki diri lebih baik lagi untuk masa kedepannya. Dia butuh waktu juga. Gue sadar dia udah terlalu sakit dari masa ke masa. So, mari kita memilih jalan ini masing-masing!" Ujar ku yang pada akhirnya memukul pelan bahu Ivan dan tersenyum.
"Pada akhirnya, kita akan memilih jalan pilihan kita sendiri sembari memperbaiki diri dalam menyiapkan segala sesuatu untuk apa yang akan ada dan datang menemui kita di masa depan. Dimana pun lo sekarang, lo akan tetap menjadi ratu satu-satunya di hati gue. Gak akan ada yang bisa ngegantiin lo dari masa ke masa. Terimakasih atas banyak hal dan banyak pengalaman yang lo korbankan buat gue. Gue sadar sekarang, gue udah jatuh terlalu dalam ke lo. Gue gak akan kemana-mana, gue akan tetap ada entah lo pulang atau gak yang jelas gue akan menunggu!" Batin Jeno
^^^_06 Des. 2021^^^
__ADS_1