
Hidup terkadang memang selalu begitukan? Padahal gue berpikir kalo gue udah melakukan hal yang tepat, tapi kenyataannya gue ngerasa berat sekali dalam menjalaninya.
Gapapa kan kalo gue sedikit merasa lelah di perjalanan atau sedikit merasa seperti tersesat mungkin?
Gue salah memilih untuk ke sini ternyata! Gue kira, gue akan diterima dengan baik dan diperlakukan dengan baik pula. Nyatanya, apa yang tengah gue hadapi sekarang?
Selain, duduk diam dengan terus menatapnya yang juga tengah menatapku tajam saat ini.
Ya, Papa sudah berubah seiring banyaknya mereka yang berubah. Ku kira dialah satu-satunya orang yang akan berpihak padaku saat ini. Namun, gue salah. Dia bahkan menatapku dengan nyalang, berbeda sekali ketika ia menyambut gue dengan hangat di kantornya tadi.
Apakah semua itu hanya kepura-puraan?
Bodoh, sudah jelas ia hanya berpura-pura. Mengapa masih saja berusaha untuk menerka?
"Apa kau tak punya otak untuk sedikit mengerti dan memahami perkataanku di hari lalu? Saat kau menghubungi ku!" ucapnya membuka percakapan dengan suara lantang.
"Apa kau tak punya pendengaran yang baik? Apa kau juga tak punya perasaan untuk sedikit mengerti orang lain? Berapa kali harus aku katakan. Kau tak perlu menemuiku lagi!" teriaknya dengan amarah.
"Untuk apa kau kesini? Apa kau tuli dan buta dengan kenyataan yang terjadi antara kita?" selidiknya mengintimidasi.
"Sudah berapa kali kukatakan. Jangan temui aku! Apa perlu aku mengatakannya lagi sekarang?" tanyanya dengan wajah memerah.
"Setiap keberadaanmu selalu mengingatkanku tentangnya. Sialnya, aku tidak suka akan suasana itu! Apa kau tidak tahu seberapa berjuangnya aku untuk merelakan dan mengikhlaskan kepergiannya? Aku sudah berusaha selama bertahun-tahun Sena!
Kau mau tahu kan mengapa aku tidak pernah kembali setelah akhir tahun itu?" Tanyanya penuh amarah dengan terus menatapku tajam dan sayangnya aku pun masih kuat menatap dan mendengarkan semuanya dengan jarak kami yang hanya 2 meter mungkin.
"Karena dengan melihatmu. Membuat aku merasa sia-sia berusaha untuk melupakannya jika pada akhirnya aku harus kembali merasa bersalah dan tak bisa merelakan semua tentangnya!" Ujarnya tegas.
"Pa!" ucapku dengan tatapan penuh arti.
"Jangan memanggilku seperti itu! Jika kau saja terus menyiksaku seperti ini! Lebih baik kau hidup dan jauh dari penglihatanku! Itu akan sedikit membantuku!" tegasnya dengan penuh harap.
"Kau sudah dewasa bukan? Hiduplah dengan dirimu sendiri, jika kau masih ingin ku anggap akan keberadaan mu!" Ucapnya melemah.
"Jika menurutmu manusia lebih takut kehilangan seseorang. Maka menurutku, manusia lebih takut kehilangan kenangan yang ditinggalkan seseorang dibandingkan dengan perpisahan. Dan, jika perpisahan adalah satu-satunya solusi untuk tetap miliki kenangan itu, kenapa tidak ku lakukan?" ucapnya tersenyum tipis.
"Kita bisa berpisah dengan baik-baik bukan? Menikmati hidup sendiri-sendiri?" tanyanya sambil menatapku.
Beberapa menit kemudian, dengan posisi yang masih sama....
"Sepanjang aku hidup. Hari ini aku baru tahu dan baru dengar kalo ternyata seorang ayah dan anak bisa berpisah dengan baik-baik karena salah satunya tidak mau kehilangan kenangan yang tertinggal dari kepergian seseorang yang tak akan pernah kembali!" ucapku terkekeh.
__ADS_1
"Maka. Kau akan menjadi tahu sekarang bukan?" ucapnya begitu percaya diri.
"Bagaimana bisa kau mengatakan dirimu seorang suami yang akan terus menjaga kenangan yang ditinggal istrimu, jika kau saja tidak menginginkan keberadaanku?" ucapku sedikit sinis di hadapan dengan tak percaya apa yang tengah ku dengar barusan.
"Sangat bisa! Bagiku itu bisa ku lakukan!" Ucapnya.
"Dengan membuat kita menjadi tak saling kenal sekalipun? Anda masih tetap menganggap bahwa anda sedang menjaga kenangan?" tanyaku penuh selidik.
"Ya!" Jawabannya pasti.
"Hahah-, Dan hari ini juga anda sendiri yang berhasil mematahkan suatu prinsip yang ku tanam bersamamu sejak dari kecil. Bahwa ayah adalah teladan yang hidup dan contoh baik untuk ku! Aku bahkan tidak percaya itu lagi sekarang! Apa perlu juga anda menghitung untung ruginya anda menghidupi saya dari kecil?" tanyaku miris.
"Tidak perlu. Kau cukup pergi dan menjauh dariku sudah terbayar semuanya!" Ujarnya.
"Baik. Sampai hari ini pun, anda masih melupakan suatu hal penting dalam hidup anda!" seruku tertawa miris.
"Hiduplah dengan melakukan apa yang mau anda lakukan mulai sekarang, anda tidak perlu menganggap ku ada. Karena saya juga melakukan demikian. Silakan ada pergi dan jangan pernah temui saya lagi!" ucapnya mengakhiri perbincangan kami pada sore itu.
"Baik. Jika ini kemauan anda. Tapi anda melupakan satu hal, kalo saya juga sebenarnya adalah salah satu kenangan yang ia tinggalkan untuk anda!" ucapku bangkit dan pergi menuju pintu keluar ruangan itu. Namun...
"Dan kau juga melupakan satu hal bahwa kehadiran mu adalah kenangan terpahit yang ia tinggalkan untukku. Jika saja anda tidak ada mungkin ia tidak akan pergi saat itu!" ucapnya yang hampir membuat pertahanan ku runtuh namun masih bisa ku tahan.
"Ku kira beriringnya waktu. Ia akan pulih dan berhenti menyalahkan ku atas kepergiannya. Tapi, ternyata tidak untuk sampai hari ini. Bahkan kami bukan keluarga lagi menurutnya mulai saat ini," gumamku mengiringi langkah dan membawaku pergi jauh dari tempat itu.
Namun, jauh sekali dari yang ku duga. Ku kira, aku akan menangis sekencang mungkin untuk merasa lega. Tapi, tak ada jejak air mata sekalipun saat ini. Selain pandangan lurus, tatapan kosong dan pikiran ku yang terus meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja.
Tapi, ini sangat sakit. Dadaku sesak sekali rasanya. Bahkan saat aku bernafas pun terasa sangat sulit.
Ya, pada akhirnya aku berhasil memendam rasa sakit ini sendiri lagi. Yang mungkin akan meluap kapan saja kalau aku mau.
Aku pun kembali terjatuh saat ini.
'
'
Malam harinya....
Gue merasa, gue gak perlu menyakiti diri sendiri untuk tetap menyimpan rasa sakit yang mereka torehkan. Karena waktu adalah obat dan gue pun akan sembuh dengan sendirinya.
Pada akhirnya, yang kita mau sebenarnya adalah hidup bersama dengan orang yang kita sayangi. Sesederhana itu saja. Karena terlalu sederhana sampai gue lupa, bahwa gue punya masa lalu yang gak bisa diterima oleh orang yang gue mau sekarang.
__ADS_1
Hidup bahagia bersama orang-orang yang kita sayangi, sampai kita gak perlu takut untuk menaruh kepercayaan, menyandarkan bahu yang lelah dan tempat pulang yang nyaman.
Hidup dengan mereka yang paling mengerti akan kita sampai takut dengan keadaan yang membuat kita sampai kenapa-kenapa adalah sebuah keinginan yang cuma singgah menjadi 'seandainya' bagi gue sekarang.
Ternyata takdir memang sebercanda itu kadang.
Sekarang semua menjadi tinggal seandainya.
Deringan telpon ku pun tersambung pada orang yang ku tuju...
"Halo" ucapnya dengan suara dan nada lembutnya yang selalu sama. Membuat ku sejenak merasa tenang dan kembali baik setiap kali mendengarnya jika sedang berceloteh karena marah, mengejek atau pun saat kami sedang bercanda ria.
"Van! Gue berhasil untuk kembali jatuh pada akhirnya!" ucapku tanpa menjawab sapaan dari orang diseberang.
"Ceritakan saja," jawabnya selalu sama bahkan.
"Padahal rasanya wajar kalo gue ngerasa lelah dan bingung sama kehidupan ini. Bukan karena gue gak tahu diri atau gak bersyukur menjalani hidup. Tapi, manusia tetaplah manusia. Dan gue juga adalah manusia yang punya hati, punya ekspektasi, punya kemampuan yang ada batasnya. Apa gue salah?" ujarku.
"Kak! Lo berhak marah, kecewa, lelah dan bahkan berhak berekspektasi! Kenapa? Gak berjalan sesuai rencana?" Tanya Ivan disana.
"Bahkan semuanya terjadi di luar nalarku!" jawabku melemah.
"Kak," ucapan Ivan ku potong.
"Iya. Kakak menemuinya!" ujarku menjawab pertanyaan yang belum ia lontarkan.
"Woah. Bahkan gue pun gak salah dalam menerkanya!" Serunya di sana.
"Hm, lo memang akan selalu seperti itu. Dan entah sampai kapan gue gak bisa untuk gak bercerita ke lo tentang semua persoalan ini!" ucapku.
"Jangan pernah berhenti seperti ini. Kita keluarga dan selamanya akan selalu seperti ini," ujar Ivan tersenyum walaupun Sena tak bisa melihatnya.
"Bahkan lo adalah yang paling tahu bagaimana gue hidup dan bernapas saat ini!" Ucapku dengan mata yang berkaca-kaca. Menyadari bahwa dia yang bukan keluarga atau saudara kandung ku pun sangat memahami ku dengan baik.
"Gue adalah sosok yang sulit dipahami. Sosok yang memiliki perubahan emosi secara cepat. Terkadang gue juga menjadi sosok yang egois, yang mengharapkan orang lain memahamiku dengan baik tanpa pernah memahami juga, padahal gue sendiri bahkan gak memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri dengan baik juga!" ujarku terkekeh mengingat dan merenung bagaimana aku yang sebenarnya.
"Tapi, sayangnya. Aku adalah sosok yang akan berusaha untuk mengerti kakak!" Jawab Ivan terkekeh pula diseberang sana.
"Jangan merasa sendiri. Hidup saja seperti biasanya. Seperti sedang tidak ada beban dan persoalan apapun. Kak!" Panggil Ivan diakhir katanya.
"Hm," jawabku dengan masih fokus mendengarnya.
__ADS_1
"Pulanglah! Aku ada dan sedang menunggu kepulangan kakak!
Aku akan menjadi keluarga sekaligus tempat pulang paling nyaman untuk kakak. Kapanpun!" Ucap Ivan lembut dan tak ada paksaan sama sekali.