Tak Lagi Sama

Tak Lagi Sama
Mengapa?


__ADS_3

✨✨✨


Pagi yang cerah, tidak ada yang istimewa selain kembali bangun, menjalani hari dan kembali pulang, makan, tidur dan terbangun lagi selalu seperti itu.


“Kak banguuun udah siang!!” teriak Ivan dari belakang pintu kaena kamar mereka bersebrangan dilantai dua.


“Oii kak! Gak ke kampus lo? Buruan udah telat banget ini!” seru Ivan sambil menggedor pintu kakaknya yang entah kenapa dan di mana penghuni kamar tersebut sehingga tak kunjung membuka pintu.


“Apaan teriak-teriak lo bocah? Tau gue udah pagi,” jawab Sena yang muncul di belakang pintu dengan tampang yang tidak beraturan mengcirikan baru baru bangun ketika melihat pelaku keributan pagi ini.


“Heheh, gak teriak kok cuma manggil aja tadi,” cengir Ivan yang sudah rapi saja.


“Manggil sambil teriak maksud lo? Mau kemana lo pagi-pagi gini?” tanya Sena melihat tampang bocah didepannya sekarang.


“Gak kemana-mana cuma mood gue baik aja hari ini, sekalian mau ke kampus sih bentaran lagi. Oh, lupa karena gue gak semalas orang lain aja,” jawab Ivan tersenyum mengejek.


“Maksud lo?” ucap Sena dengan tatapan tajam.


“Gak bermaksud apa-apa. Cepatan siap udah lapar gue kak.” Ucap Ivan memelas dan merengek.


“Ciri-ciri bocah, seperti didapanku sekarang!” ucap Sena yang sudah menutup pintu dan menuju kamar mandi.


“Yak!! Gue bukan bocah lagi!!!” teriak Ivan kesal dari luar.




Di kampus...


“Kakak di kampus lama?” tanya Ivan sambil menerima helm yang di pakai Sena dan memarkirkan motornya.


“Gak tahu, gue cuma masukin berkasnya buat daftar wisuda aja setelahnya pulang mungkin!” jawab Sena yang sudah meninggalkan Ivan di parkiran.


“Yah, berarti kita gak bisa balik bareng entar masih ada jam kuliah tambahan gue kak!” seru Ivan.


“Biar gue baliknya sendiri aja,” jawab Sena tanpa menoleh lagi.


Ivan pun berjalan menyusuri lorong kampus menuju ruang kuliahnya. Sementara Sena menuju ruangan jurusan untuk mengantarkan berkasnya pada operator jurusan, setelah ini mungkin tinggal menunggu wisuda saja.


“Permisi bu, selamat pagi!” ucap Sena ketika membuka pintu ruangan operator tersebut.


“Ia. Sena mau mendaftar wisuda?” tanya Operator.


“Ia Bu. Tinggal memasukkan berkasnya saja, saya sudah mendaftar bebebara hari lalu Bu!” ucap Sena tersenyum.


“Baiklah, kesinikan berkasmu,” ucap Operator tersebut.


“Ini Bu. Terimakasih banyak sudah membantu saya sejauh ini!” seru Sena dengan ucapan yang tulus.


“Sudah menjadi tugas saya kan,” seru Operator terkekeh.


“Ia sih, oh ia Bu kalau boleh tau kira-kira yang daftar wisuda dari angkatan saya udah banyak apa belum Bu? Soalnya beberapa teman angkatan saya hubungi tapi tidak ada respon dari mereka, padahal sayakan cuma mau ngajak bareng buat antar berkasnya kesini dari kemarin!” tanya Sena penasaran sambil tersenyum.


“Oh, belum semua mengantar berkasnya ke sini nak! Mungkin sebentar atau besok,” jawab operator tersenyum sambil merapikan berkas mahasiswa.


“Hm, ya udah kalo gitu saya pamit Bu. Sekali lagi terimakasih!” ucap Sena.


“Ia, sama-sama” jawab operator yang terus memandanginya dengan senyuman sambil sena beranjak membuka pintu ruangan tersebut.


“Eh, nak Sena!!” panggil operator ketika Sena hampir keluar dari ruangan tersebut.


“Ia Bu, ada yang harus saya lengkapi lagi?” tanya Sena yang kembali menoleh.


“Gak ada. Apa kamu baik-baik saja?” tanya operator tersebut.


“Hm, saya...... baik!” jawab Sena sedikit heran.


“Oh, ya udah!” jawab operator tersenyum.


“Ibu gapapa?” tanya Sena melihat senyuman dari wajah wanita paruh baya tersebut sedikit memudar namun terus menatapnya dalam.

__ADS_1


“Setiap orang akan sering melihat kurang kita. Banyak alasan dari mereka untuk mengungkapkannya, ada yang menyenangkan adapun yang membuat kita tidak enak perasaan. Gapapa jika baik burukmu tergantung pada kata mereka. Jangan sakit hati dengan setiap mereka, bukankah nama kita akan selalu busuk dan bau dimulut mereka yang tidak menyukai kita? Jangan lupa kamu masih punya diri sendiri!” ucap wanita tersebut sambil tersenyum penuh arti.


“Hm, Apa ibu baik-baik saja?” tanya Sena khawatir.


“Ya, saya baik-baik saja. Kamu bisa keluar sekarang,” ucap wanita itu tersenyum hangat.


Sena pun berjalan keluar dari ruangan tersebut dengan merasa heran dan bingung apa yang disampaikan operator tadi.


“Hahh, membuatku pusing saja. Tapi kenapa dia berkata seperti tadi?” ucap Sena masih penasaran.


“Ah, sudahlah. Lebih baik aku menemui dosen pembimbingku saja untuk berterimakasih padanya!” ucp Sena melangkah menuju ruangan dosennya.


Setelah tiba diruangan...


“Permisi pak!” sapa Sena tersenyum.


“Oh, Sena. Gimana, bukankan anda sudah selesai ujiannya? Ada urusan apa?” tanya pak Edo singkat karena ia termasuk dosen yang cukup killer dan tak bicara banyak jika tak punya kepentingan.


“Oh, itu pak. Saya kesini untuk meminta waktu bapak sedikit buat berbincang,” jawab Sena sedikit pelan.


“Saya sedang sibuk. Anda langsung pada intinya saja!” tegas pak Edo.


“Baik pak. Jadi, saya kesini cuma mau mengucapkan terimakasih karena sudah membimbing dan membantu saya dalam menyusun tugas akhir selama ini.


Termakasih banyak juga untuk setiap waktu yang bapak buang percuma untuk mengurus semua yang berkaitan untuk saya. Mungkin semua waktu bapak selama ini terbuang percuma menurut bapak, tapi untuk saya semua begitu luar biasa dan saya bersyukur untuk itu. Sekali lagi terimakasih dan Maaf untuk semua hal yang terjadi selama ini,” ucap Sena menunduk.


“Gapapa, itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab saya. Semua mahasiswa juga demikian tidak hanya anda saja yang diperjuangkan seperti itu. Jika tidak ada yang mau di bicarakan lagi silahkan anda keluar karena saya masih banya pekerjaan yaang masih menumpuk!" tegas pak Edo.


“Baik, saya permisi pak!” ucap Sena berbalik dan pergi.


“Pada intinya percaya pada diri anda sendiri. Karena hidup anda adalah tentang anda!” ucap Pak Edo yang terlihat fokus dengan beberapa berkas di tangannya ketika Sena sedikit menoleh ke belakangnya.


“Maaf pak. Permisi!” ucap Sena dan melangkah pergi dari ruangan itu.


“Mengapa orang-orang terlihat aneh hari ini?” ucap Sena bingung.


Setengah jam berlalu....


Disinilah gue, di kantin seorang diri. Selly sepertinya tidak datang yang lainnya pun mereka ada tapi tidak ada satu pun yang bergabung dengan gue. Mungkin karena kami kuang akrab atau apalah. Tapi suasannya sedikit mengganjal sih ku rasa.


Ketika gue tengah duduk santai dan sesekali bermain ponsel dengan tidak merasa terganggu sama bisikan-bisikan disekitar, biasalah kantin kan selalu jadi tempat gibah terfavorit.


“See,” panggil Selly di pintu kantin tak lupa ada Ivan disampingnya juga. Tapi mengapa suasana kantin menjadi hening hanya dengan panggilan Selly, entahlah.


“Oiii, baru nongol lo! Tuh bocah ngapa malah datang ke kantin sini?” tanyaku pada kedua orang tersebut dengan tampang mereka yang seperti kehabisan nafas, ah sepertinya mereka berlari ke sini tadi.


“Hikss, lo baik-baik aja kan?” ucap Selly terisak sambil memelukku erat tak lupa Ivan juga memandangku dengan tampang kasihan.


“Bentar. Ini kalian kenapa jadi aneh kek gini? Siapa yang meninggal?” tanyaku dengan polosnya karena heran.


“Kenapa? Kenapa lo bahkan gak tahu apa yang terjadi hah!” teriak Selly yang hampir membuatku kaget.


“Kalian kenapa?” tanyaku yang sudah berdiri dan berusaha melepaskan pelukan Selly.


“Nih!” ucap Ivan menyodorkanku ponselnya.


“Apaan sih?” ucapku tanpa menunggu gue pun menerima dan melihat apa yang terjadi disana,


Dapat ku lihat sebuah pengakuan seperti berita hot di kampus bahkan sudah tersebar sejak subuh tadi dan menjadi trending news di kampus.


Iya. Tentang gue pada tentunya.


Gue yang membunuh mama gue sendiri dengan kecelakaan yang terjadi, gue yang di tuduh ada hubungannya dengan Rey yang menghilang tahun lalu, gue yang terlibat dalam kasus penceraian orang tua ivan hanya karena dikira merebut ivan dari mereka, dan gue dengan skandal pengguna obat terlarang karena ada beberapa foto yang di posting juga, ya gue ingat waktu itu gue mengonsumsi beberapa obat penenang melampaui dosis, dan yang lebih parahnya lagi gue masuk dalam daftar mahasiswa yang menghabiskan malam di club dan menjual diri karena terlalu frustasi dengan hidup berakhir mencari kesenangan disana.


Beberapa kasus pembulian di kampus dengan gambar yang mereka ambil saat aku memukul senior yang mengataiku saat itupun termasuk.


Gak ada lagi pergerakan, semuanya tak bisa ku jelaskan lagi. Tersisa sakit dan sesak sekali di dada gue sekarang.


Gue bahkan gak nangis!


“Segitunya,,,” gumamku melemah dan terjatuh dalam pelukan Ivan sekarang.

__ADS_1


Aku pun berlari keluar dari kantin tersebut, berlari dan terus berlari sehinga keluar dan menghindar dari tatapan banyak orang saat ini. Mereka terlihat dengan tatapan benci padaku.


Waktu tak bisa di putar lagi, gue berpapasan dengan Jeno yang sekarang berdiri dan menatap tajam ke arahku di depan parkiran.


Tak ada ucapan apapun selain senyuman mirisnya melihatku dengan pandangan yang terlihat muak, dan setelahnya ia berjalan melewatiku begitu saja dan masuk kedalam lingkungan kampus.


Aku terus menatap setiap tapakan kakinya yang terus melangkah sampai menhilang di penglihatan ku, dan pada akhirnya perlahan beban tubuh tak dapat ku kuasai lagi tersisa suara dari kedua orang yang memanggilku karena tersisa mereka yang ada di pihakku saat ini.


“See, kak!” ucap Selly dan Ivan bersamaan dan setelahnya pun aku sudah tak sadar lagi.


Tapi siapa yang bisa memahami dengan baik saat kau tengah berada dititik paling rendah menurut hidup. Ku rasa hanya sedikit orang yang akan mampu melakukannya dan aku maupun mereka saat ini adalah beberapa diantaranya yang tidak mampu dalam hal itu.


Terdengar terlalu mendramatis memang tapi itulah kenyataannya yang terjadi. Setiap yang kita lalui terlalu drama bagi siapa saja yang mendengarnya.


Aku terlalu mendalami dan akhirnya terluka lebih dalam, disitulah aku tersadar bahwa di dunia ini, jangan terlalu percaya pada siapapun. Orang lebih menakutkan dari pada hantu.


Orang bisa melukai perasaanmu, mereka juga punya hasrat dan emosi dan itulah yang membuat mereka terlihat begitu menakutkan.


Padahal kalau dilihat hari-hari yang kulalui terkesan biasa dan wajar-wajar saja, aku hidup dan tidak sepenuhnya bergantung kepada siapapun.


Aku kebanyak hidup dan menikmati apa yang ku usahakan dalam hal apapun ketika memang sudah tak punya tempat untuk berbagi.


Saat inilah aku kembali memahami bahwa ‘mereka yang tidak menyukaimu akan tetap membencimu tidak peduli seberapa baiknya kamu, begitu juga sebaliknya mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan alasan untuk itu. Mereka hanya menyukaimu dengan versimu yang terlihat dari sudut mereka’.


Waktu yang kulalui pun hanya dijalani sewajarnya, lalu mengapa hidup bisa sesadis ini untuk seorang gadis lemah seperti ku?


Apa aku memang akan hidup dan pantas diperlakukan demikian?


Mama yang pergi dan tak akan kembali, Papa yang memilih untuk tidak pulang, teman-temanku juga perlahan menghilang dan berubah beriringnya waktu.


“Kenapa... kenapa... kenapa harus gue??” teriakku di pantai yang sudah sepi dari pengunjung karena sudah hampir gelap dan tak ada cahaya apapun sekarang.


“Dan kenapa gue sesakit ini sekarang?


Mana diri gue yang begitu kuat?” gumamku dalam tangis ketika merasa begitu sesak sekarang.


“Mungkin gue pantas seperti ini,” ujarku melemah dan terduduk dibibir pantai.


Terkadang seperti itulah kenyataannya. Tidak semua orang bisa memahami serumit dan sekacau apa kita sekarang.


_13 Agust. 2021 _:)


**Halo para reader's👋👋


Apa kabar kalian?


Heheh, author cuma mau mengucapkan DIRGAHAYU NKRI untuk yang ke 76 kalinya 🎉🎉


Woahh,, gak terasa ya. Setelah menghabiskan waktu dengan rebahan panjang satu tahun terakhir ini, semua hal kita lakuin dari rumah ternyata udah 17san aja sekarang.


INDONESIA MERDEKA.


MERDEKA BERPIKIR


MERDEKA BERKEYAKINAN


MERDEKA BERTUMBUH dan BERKEMBANG


MERDEKA BERARGUMEN


MERDEKA MENENTUKAN PILIHAN


Merdeka dalam Berkarya, Menulis banyak hal.


Merdeka mempertahankan status Jomblo,


dan Merdeka dari para Kang Ghosting 😌😁


Semoga Negara kita Lekas Pulih 😌🌹


Dan terimakasih juga buat kalian para reader's yang sampai hari ini masih setia membaca karya-karyaku yang banyak kurang dan banyak hal.

__ADS_1


Maafkueen juga jika banyak typo dalam penulisan akhir-akhir ini 🤗


Annyeong 👋👋**


__ADS_2