
Lia memutuskan untuk membuat makan malam lebih awal setelah dia melihat Fanny menghabiskan berjam-jam bermain lego dengan Gio hingga membuat mereka berdua kelelahan. Lia memasak bakso dan membakar gurame untuk keluarga kecilnya itu.
Ketika dia meletakkan piring di hadapan Fanny, perut gadis itu berbunyi karena lapar. Semua orang tertawa karenanya.
Fanny mengambil pekerjaan paruh waktu di bar resto akhir-akhir ini, dan meskipun Lia dan suaminya sudah sering protes karena tidak suka gadis itu harus sif malam tiga kali dalam seminggu, Fanny tetap saja keras kepala. Dia tidak ingin selalu begantung ke uang yang ditinggalkan ibunya, apalagi tantenya. Rasaanya tidak adil jika Fanny tidak melakukan sesuatu untuk sedikit meringankan beban keluarga ini. Lagipula, dia sudah berusia delapan belas. Dia sudah bisa bekerja.
Jadi begitulah, setiap keping uang yang dia punya langsung di masukkan ke dalam rekening keluarga ini.
Lagipula, Lia sudah memenuhi hampir semua kebutuhannya. Dan jika gadis itu butuh untuk membeli sesuatu, Lia juga sudah memberikannya kartu kredit untuk jaga-jaga. Kartu kredit itu hampir tidak pernah digunakan, dibiarkan berdebu di dalam nakas kamar gadis itu.
Sambil menikmati kolang-kaling hangat sebagai pencuci mulutnya, Fanny melangkah dengan santai menuju kamarnya. Dia kemudian membuka pintu dengan kakinya, menaruh mugnya di atas nakas, dan mengambil seragam resto bar-nya.
Menata rambutnya, itu yang sulit. Dia harus mengikat dan menggulung rambutnya serapi mungkin. Saat dia bekerja, itu adalah waktu yang sempurna baginya untuk memamerkan piercings yang dia punya di kedua
telinganya.
Bosnya sebenarnya tidak menyukai hal itu, tetapi masih dapat mentoleri karena semua itu ada di telinga. Perhiasan yang ada di tangan, itu tidak dapat ditawar-tawar karena bisa membuat tangan tidak steril saat melayani makanan dan minuman untuk tamu. Fanny terkadang penasaran apa nantinya yang akan terjadi jika dokter Rani menemukan semua piercings itu.
__ADS_1
Setelah selesai menata rambutnya, Fanny lalu menambakan eyelids cokelat gelap dan memulaskan lip tint ke bibirnya untuk menyempurnakan penampilannya. Dia kemudian langsung menyambar tas kecil untuk menyimpan hp dan beberapa lembar uang tunai sambil memesan grab.
Tempatnya bekerja hanya berjarak empat blok, jadi sebenarnya dia bisa saja berjalan kaki seperti saat
siang hari, tapi dia tidak mau mengambil resiko di malam hari. Lia dan suaminya juga tidak akan mengizinkannya.
Fanny tiba di Donz Resto & Bar tepat pada pukul 6 malam.
Dia langsung menggantung tasnya di tempat yang sudah disediakan mengambil buku captain order & bar order dan pulpen, lalu menekan fingerprint untuk presensi. Dia juga membalas sapaan beberapa karyawan lain hingga akhirnya matanya menemukan Benny Chandra, karyawan Donz Resto & Bar yang hampir setiap saat ketika tidak sibuk mengurusi tamu, bersembunyi di sekitar konter yang terbebas dari cctv supaya bisa melihat video porno sepuasnya. Dia menyeringai dan mengedipkan matanya pada Fanny ketika pemuda itu menangkap tatapan tajam Fanny.
sudah siap untuk memesan. Meja itu dipenuhi oleh beberapa orang, kemungkinan berusia dua puluhan. Dia menyiapkan wajahnya untuk selalu tersenyum selama lima jam ke depan, dengan pena dan buku captain order & bar order ditangan, siap untuk memulai malamnya yang sesungguhnya.
Sekitar jam 10 tempat Fanny bekerja itu sudah sepi, dan jam kerja gadis itu tinggal satu jam lagi. Dia sedang memainkan ponselnya, begitu juga dengan Benny dan dua anak magang lainnya. Sara, sahabat barunya di sekolah, baru saja meninggalkan pesan untuknya. Rupanya sahabatnya itu ingin dia dan Demian menemaninya berburu es krim besok. Ada kafe baru yang ingin dia coba Dasar anak manja, Fanny membatin.
“Fanny,” Benny berbisik. Ketika dia berhasil mendapatkan perhatian gadis itu, dia menunjuk dengan dagunya ke arah tamu yang baru datang. Fanny langsung meletakkan ponselyadan menghampiri tamu itu. Dari jarak dekat, dia tau jika tamu baru ini sudah meminum whisky sebelum ke sini. Dia bisa menciumnya. Fanny masih mencoba membiasakan diri untuk menghadapi pemabuk.
“Selamat malam, maupesan apa?” tanyanya.
__ADS_1
“Bir,” pemuda mabuk itu menjawab, suaranya berat. Fanny menulis dengan tekun.
“Dan kamu sebagai hidangan penutupnya,” pemuda mabuk itu menyeringai.
Fanny menaikkan alisnya, lalu dia segera beranjak pergi dan hendak memberi tahu Benny supaya
dia saja yang melayani orang mabuk ini.
Tapi sebelum benar-benar beranjak dari sana, tiba-tiba saja gadis itu merasakan sebuah
tangan sedang memegang bokongya. Dia langsung menepisnya.
“Kamu sudah keterlaluan! Jika kamu ingin menikmati hiburan yang berbau seksual, ada klub yang menyiadakan penari telanjang satu blok dari sini. Jadi jangan sentuh bokongku lagi kecuali kamu memang mau penismu saya potong terus saya jejalkan ke mulut kamu!” kata Fanny dengan tegas. Pemuda itu akhirnya membiarkan dia pergi.
Setelah kejadian yang tidak mengenakkan itu, Benny mengambil alih hingga jam kerja selesai tepat di
jam 11 malam. Dari sana Fanny merasa jika hidupnya akan jau lebih menarik lagi ke depannya.
What a life! Gadis itu membatin.
__ADS_1